Istriku Seorang Boss Mafia

Istriku Seorang Boss Mafia
11. Kebakaran gudang.


__ADS_3

Setelah pembicaraan selesai, Antonio berpamitan pulang bersama Putranya kepada Monica.


Dia beralasan jika dirinya kurang enak badan, sehingga dirinya tidak bisa berlama-lama lagi berada di sana.


"Ayah, ada denganmu hari ini?" tanya Daniel heran dengan perubahan sikap sang Ayah.


Biasanya, Ayahnya akan merasa bersemangat ketika membahas tentang pernikahannya dengan Putrinya Tante Monica.


Tapi hari ini, sang Ayah seakan enggan untuk membahas hal tersebut.


Bahkan, ketika hari pernikahan sudah di putuskan. Daniel melihat jika Ayahnya tampak tidak merasa senang dengan keputusan tersebut.


"Ayah rasa, Putrinya Tante Monica bukanlah seorang gadis baik-baik." ucap Antonio setelah menarik nafas panjang terlebih dahulu.


Daniel terkejut, dua hari yang lalu Ayahnya masih menyebut-nyebut Defina sebagai Putri yang penurut.


Tapi sekarang?


"Ayah! Apa Ayah sadar, dengan apa yang Ayah ucapkan?" tanya Daniel setengah berteriak.


"Tentu saja Ayah sadar, Nak!" kata Antonio sambil matanya menatap ruang hampa.


"Malam itu, di cafe, Ayah menyaksikan dengan mata kepala Ayah sendiri Putrinya Monica memukul kepala orang dengan botol kaca. Kepalanya sampai berdarah banyak sekali, Ayah takut, Ayah tidak mau kamu mengalami hal seperti itu, Daniel." lanjut Antonio sambil memeluk sang Putra dan airmata yang jatuh berderai membasahi pipinya.


Daniel menepuk-nepuk punggung sang Ayah perlahan, lalu berbicara untuk menguatkan hatinya.


"Ayah tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa dengan Daniel."


"Tapi Nak ...," Antonio ingin berbicara lagi namun sebuah suara telah mengejutkannya.


"Semua yang anda lihat, semua hanya kesalahpahaman saja, Om. Orang yang di cafe malam itu, adalah orang jahat. Saya tidak akan pernah melakukan hal kejam, kepada orang yang memiliki hati baik."


Antonio menatap Defina dengan tatapan penuh ketakutan. Namun, ketakutannya segera menghilang setelah Defina duduk dan mencium punggung tangannya.


"Defina janji, akan menjadi Istri yang baik untuk Putranya, Om."


Antonio akhirnya merasa lega, ternyata ketakutannya dua hari terakhir ini tidaklah memiliki alasan kuat.


Ferdinand tersenyum di balik dinding pembatas yang memisahkan antara dia dan tempat Defina berada sekarang bersama Daniel dan Ayahnya.


Sudah sejak lama sekali Ferdinand merasa khawatir jika memikirkan tentang jodohnya Defina.


Ferdinand takut, jika sahabat sekaligus Boss-nya tersebut akan terus melajang sepanjang hidupnya.

__ADS_1


Bagaimana tidak merasa khawatir Ferdinand, Defina sangat keras kepala. Setiap pria yang berusaha mendekati dirinya selaku dia tolak.


Contohnya Albert, dia dulu juga menyukai Defina pada awalnya. Tapi setelah secara terus menerus di tolak, Albert berubah menjadi pria jahat yang selalu berusaha mencelakai Defina dan perusahaannya.


Belum lagi beberapa pria yang Defina pukuli hingga babak belur dan masuk rumah sakit.


Ferdinand masih ingat, sewaktu Defina pergi menyetir sendiri ketika pergi keluar kota. Tahu-tahu, Ferdinand mendapat telpon dari relasi bisnisnya jika Defina telah memukuli orang sampai pingsan karena kehilangan banyak darah.


Tapi sekarang, setelah bertemu dengan Daniel. Perubahan besar terjadi kepada Defina. Bukan hanya menerima perjodohan, Defina bahkan rela datang kesini dan membujuk Antonio untuk memberikan restu kepadanya.


Ajaib! Benar-benar ajaib!


Mulai dari situ, pandangan Ferdinand kepada Daniel akhirnya berbeda. Dari yang semula biasa, kini menjadi hormat karena telah berhasil membuat Defina menjadi berubah.


Setelah meras Antonio tidak lagi menaruh curiga kepadanya, Defina 'pun meminta undur diri untuk kembali ke perusahaannya.


"Fer, kamu kenapa?" tanya Defina yang melihat Ferdinand sedang tersenyum sambil menatapnya di kaca depan.


"Aku senang, Fin. Akhirnya, sebentar lagi kamu akan menikah." ucap Ferdinand dengan tersenyum lebar.


"Oh!" jawab Defina singkat lalu kembali menyandarkan punggungnya sambil melihat jalanan yang ramai.


Bip ... Bip ...


"Apa?!" teriak Ferdinand sambil menghentikan mobilnya secara tiba-tiba.


"Fin, gawat! Gudang kita yang berada di pinggiran timur kota telah terbakar. Di duga, ada orang yang telah membakarnya dengan sengaja." ucap Ferdinand sambil menoleh ke arah jok belakang.


Defina terkejut, namun dia berusaha untuk tetap bersikap tenang dan langsung meminta Ferdinand untuk membawanya melihat lokasi kejadian.


Sesampainya di sana, Defina langsung menuruni mobil dan menghampiri anak buahnya yang sedang berbicara dengan petugas kepolisian.


"Boss!" sapa anak buahnya dengan hormat.


"Apa yang terjadi di sini? Katakan!" ucapnya tanpa basa-basi sama sekali.


"Saya juga kurang jelas, Boss. Semua cctv tiba-tiba rusak, jadi sangat sulit untuk mengetahui kejadian yang sebenarnya." lapor anak buah tersebut.


Ferdinand meradang, dia lalu mencengkeram kerah si anak buahnya hingga kedua kakinya terangkat.


"Kamu kerjanya apa saja? Hah!" bentak Ferdinand.


Petugas polisi yang berdiri di samping, segera menengahi keributan.

__ADS_1


"Sabar, Pak. Ini semua, bukan salah anak buah Bapak dan Ibu." ucap si petugas polisi tersebut.


Ferdinand melirik ke arahnya, lalu memicingkan mata tajam.


"Lalu, salah siapa, Pak?" tanya Ferdinand berusaha menekan rasa amarahnya.


"Menurut warga, ada sebuah mobil tangki berisi BBM yang lepas kendali dan akhirnya menabrak gudang besar Bapak dan Ibu." tutur si petugas kepolisian.


"Warga?!" Ferdinand dan juga Defina saling bertukar pandangan.


Sejak kapan di dekat gudangnya ada warga yang berkeliaran? Gudangnya sangat jauh dari pemukiman, dan tidak mungkin akan ada warga di sekitaran sana.


"Bisa saya bertemu dengan saksi matanya, Pak?" tanya Defina yang penasaran.


"Tentu, saat ini saksi mata sedang berada di dalam mobil saya, Bu. Di sebelah sana!" ucap petugas sambil menunjuk ke mobil dinas miliknya.


Defina lalu pergi di dampingi oleh Ferdinand, dan juga si petugas itu sendiri.


"Nah, ini dia orangnya, Bu." ucap si petugas sambil menuntun seorang pria yang bertumbuh pendek.


Defina menatap pria pendek tersebut dengan tatapan penuh selidik.


Mendapat tatapan seperti itu, tak ayal membuat si pria yang menjadi saksi mata menjadi gemetar ketakutan.


"Bisa anda terangkan, bagaimana awal mula kejadiannya?" tanya Defina dengan tegas.


Dengan wajah yang menunduk, si pria pendek tersebut menjawab dengan gugup pertanyaan yang di ajukan oleh Defina.


"Sa-saya sedang mencari rumput di sekitaran sini, Bu. Tiba-tiba, ada mobil yang berjalan dengan cepat lalu menabrak gedung di sana."


"Apa Bapak lihat, ada supir atau tidak di dalam mobilnya?" kini giliran Ferdinand yang bertanya.


"Sa-saya, tidak tahu!" jawabnya.


Defina mengangkat kepala, dia lalu memperhatikan area sekitarnya. Lalu tatapannya beralih kembali kepada si pria pendek saksi mata.


"Katanya Bapak sedang mencari rumput, di mana alat-alatnya?" tanya Defina sambil memicingkan mata.


Si pria pendek menjadi gelisah, kepalanya menoleh ke arah kanan dan juga kiri. Entah apa yang sedang dia pikirkan sekarang, yang jelas, sikap si pria pendek tersebut sudah membuat Defina dan juga Ferdinand merasa curiga.


Si petugas kepolisian juga menangkap ada sebuah kejanggalan dari kesaksian si pria tersebut.


Oleh karena hal itu, si petugas langsung berinisiatif meminta si pria menerangkan lebih jelas. Jika ternyata dia berusaha berbohong dan menipu petugas, maka si pria terpaksa harus dia tahan.

__ADS_1


__ADS_2