Istriku Seorang Boss Mafia

Istriku Seorang Boss Mafia
3. Permintaan Ibunya Defina.


__ADS_3

"Aku tidak mau tahu, kamu harus menemukan laki-laki itu!" tegas Defina sambil menatap ke arah Ferdinand.


Ferdinand mengangguk, setelah itu dia pamit untuk kembali ke ruangannya.


"Agghhh! Mengapa jadi serumit ini?" gumam Defina sambil mencubit ruang di antara alisnya.


Defina tidak biasa berhutang, makanya dia lebih mencari laki-laki yang telah menyelamatkan nyawanya waktu itu untuk membalas hutang jasa yang dia pinjam. Defina tidak terbebani dengan hutang jasa ini. Dia berharap, akan segera menemukan keberadaan laki-laki tersebut.


Andai saja waktu itu dia tidak terlalu mabuk, mungkin dia akan bisa mengenali wajah lelaki itu dengan jelas. Tidak seperti sekarang, Defina hanya bisa mencari lelaki itu hanya dengan menyebutkan ciri-cirinya saja kepada Ferdinand. Akibatnya, pencarian sangat susah di lakukan, hingga sekarang.


Semua gara-gara Albert, seandainya si Albert tidak memaksa Defina untuk minum alkohol banyak, mungkin Defina akan dengan mudah mengenali laki-laki tersebut. Bukan hanya itu, si Albert juga malam itu memaksa Defina untuk berhubungan badan dengannya.


Untung saja Defina bisa melarikan diri, dan lepas dari kejaran anak buah Albert. Meskipun Defina harus terbebani dengan hutang jasa kepada laki-laki yang menolongnya. Tapi tidak apa-apa, selama masih bisa di cari, Defina akan menemukannya suatu hari nanti.


"Awas kau, Albert! Aku akan membuatmu membayar semuanya!" ucap Defina dengan geram.


Kriinnggg~ Kriinnggg~


Telepon di meja Defina berbunyi, "Hallo!" Meskipun merasa malas, Defina tetap mengangkatnya.


"Maaf, Boss! Ada telepon dari rumah sakit, katanya, Ibu anda memaksa untuk pulang hari ini!" ucap Siska asisten perempuan Defina dari seberang telepon.


"Bilang pada pihak rumah sakit, aku akan kesana sekarang!" jawab Defina sambil menutup teleponnya setelah Siska mengiyakan perkataannya.


"Kenapa sih, Bu? Sampai kapan Ibu keras kepala seperti ini?" gumam Defina seraya bangkit dan merapikan pakaiannya yang sedikit kusut.


Ketika membuka pintu, Defina secara tak sengaja berpapasan dengan Ferdinand yang ingin masuk ke dalam ruangannya.


"Loh, mau kemana, Fin?" tanya Ferdinand heran soalnya Defina sudah mau berangkat lagi.


"Ke rumah sakit!" jawab Defina sambil terus berjalan melewati Ferdinand.


"Memangnya kenapa? Apa Ibumu kambuh lagi, penyakitnya?" tanya Ferdinand penasaran.


Sedangkan Defina semakin mempercepat langkah kakinya. Ferdinand 'pun tak mau mengalah, dia akan pergi menemani Boss, sekaligus sahabatnya itu.


"Fin! Jawab aku!" kata Ferdinand karena Defina dari tadi hanya terdiam.


"Kalau mau ikut, ya ikut aja, Fer! Jangan banyak tanya, aku pusing!" jawab Defina di sela-sela langkah kakinya.

__ADS_1


Sesampainya mereka di rumah sakit, Defina langsung menuju kamar Monica.


"Fin! Akhirnya kamu datang juga!" sapa Rio yang sudah kewalahan menghadapi sikapnya Ibu Defina.


"Kenapa sih, Bu? Kok, tiba-tiba Ibu minta pulang?" tanya Defina lembut kepada Monica.


Orang yang di tanya hanya diam saja, Monica bahkan seperti tidak ingin menatap ke arah Defina.


"Bu ...," panggil Defina penuh kelembutan.


Monica tidak bergeming, dia tetap bungkam dan menatap ke arah lain.


Defina melirik ke arah Ferdinand, biasanya, sang sangat dekat dengan sahabatnya itu. Ibunya juga sering mendengarkan nasehat Ferdinand, tak jarang pula Ibunya sering menuruti apa yang di ucapkan sahabatnya itu.


Siapa tahu juga sekarang Ibunya akan melakukan hal yang sama, mendengarkan nasehat sahabatnya!


Setelah mendapat isyarat, Ferdinand perlahan mendekati ranjang tempat Ibunya Defina berada.


"Tante! Sebaiknya, Tante tetap di rawat untuk sementara waktu di sini. Kesehatan Tante sedang kurang bagus, tidak baik jika pulang sekarang." bujuk Ferdinand dengan lembut.


"Nak Fer, Tante mau pulang saja. Tante tidak mau tinggal di rumah sakit!" tolak Monica masih bersikukuh dengan keinginannya untuk pulang.


"Belum bisa, Tante. Harus nunggu Tante sembuh dulu, baru boleh pulang." ucap Ferdinand masih mempertahankan kelembutannya.


"Tante mau pulang! Tante, tidak mau sembuh! Percuma juga sembuh, kalau Defina tidak menyayangi Tante lagi!" ucap Monica hingga membuat semua orang di sana menoleh ke arah Defina yang tampak kebingungan.


"Ibu bilang apa, sih? Defina pastinya sangat sayang sama Ibu!" ujar Defina sambil berjalan mendekati ranjang Monica.


Namun sang Ibu, malah membuang muka dan tak ingin menatap ke arahnya.


Defina akhirnya mengalah, dia mundur lagi ke tempatnya semula.


"Tante! Darimana anda tahu, jika Defina tidak menyayangi anda?" tanya Ferdinand dengan heran.


"Jika memang sayang, dia pasti nurutin permintaan terakhir Tante, Nak Fer!" ucap Monica sambil beruraian airmata.


"Memangnya, apa permintaan Tante Monica?" Ferdinand bertanya lagi dengan heran.


Sedangkan Rio, sekarang mencari selamat karena takut Defina marah lagi padanya. Dia mundur teratur, dan berniat meninggalkan ruangan tempat Monica di rawat, namun Defina langsung menarik tangannya agar tetap berdiri bersamanya di sana.

__ADS_1


"Jangan kemana-mana!" ancam Defina sambil memelototkan mata.


"Aku mau ke toilet, Fin!" balas Rio dengan gugup.


Rio malas berdebat terus, dengan sahabatnya yang keras kepala tersebut. Dia lebih baik cari aman, agar tidak menjadi kambing hitam dan menjadi pelampiasan kemarahannya Defina.


"Tidak boleh! Kamu harus tetap di sini!" tegas Defina.


Monica tidak buru-buru menjawab, dia hanya menatap ke arah laci kecil, di samping tempat tidurnya.


"Tante ...," panggil Ferdinand lembut sambil menggoyangkan perlahan tangan Monica.


"Tante mau, Defina menikah! Itu saja!"


Ferdinand terbelalak, sedangkan Rio memijit pelipisnya karena tiba-tiba merasa pusing.


"Menikah?!" ucap Ferdinand perlahan sambil bolak-balik menatap antara Monica, dan Defina.


"Iya, menikah, Nak Fer!" jawab Monica pasti.


"Tapi Tan ...,"


"Tante sudah menduga, Nak Fer pasti membela Putri Tante! Jadi lebih baik, Tante pulang saja, tidak ada gunanya lagi Tante di rawat di sini!" jawab Monica sambil mulai mencabut selang infus di tangannya.


"Ja-jangan Tante! Aku janji, bujuk Defina sampai dia setuju menikah sesuai dengan permintaan, Tante!" ucap Ferdinand dengan gugup ketika darah mulai menetes di tangan Monica bekas selang infus yang di cabut paksa.


"Nak Fer, tidak bohong, 'kan?" tanya Monica ingin memastikan.


"Tidak, Tante!" Ferdinand menjawab dengan gugup.


Monica tersenyum, lalu melirik ke arah Rio yang berdiri di samping Putrinya.


"Nak Rio! Tolong, pasang lagi selang infus Tante!" ucap Monica tanpa beban.


Rio 'pun melangkah, sambil menatap lurus ke arah depan. Dia sengaja melakukannya, karena tak ingin berpapasan dengan tatapan membunuh Defina.


Namun, sikap Rio malah di salah artikan oleh Ferdinand yang menatapnya dengan heran.


"Kamu kenapa, Rio? Salah bantal?" tanya Ferdinand dengan polos.

__ADS_1


"Diam kau, Fer!" balas Rio sambil menggeram ke arah sahabatnya.


Jika saja dia sedang tidak bertugas sekarang, mungkin Rio akan memukul kepala Ferdinand karena telah berani menanyakan hal memalukan seperti itu kepadanya.


__ADS_2