Istriku Seorang Boss Mafia

Istriku Seorang Boss Mafia
12. Dalang di balik kebakaran gudang.


__ADS_3

"Saya, saya ...," si pria tampak gelagapan saat di tatap sedemikian rupa oleh Defina.


Defina berjalan menghampiri pria pendek tersebut, lalu mencengkeram kerah bajunya.


"Jika kau terbukti membohongiku dengan kesaksian palsumu, maka jangan salahkan aku jika kau tidak akan pernah lagi menghirup dunia luar!" ucap Defina lalu menghempaskan si pria tersebut hingga terjengkang ke belakang.


"Ferdinand! Selidiki dengan benar, apa yang sebenarnya terjadi di gudang kita!" teriak Defina yang membuat tubuh si pria menggigil ketakutan.


Ferdinand mengangguk patuh, lalu mengeluarkan ponsel dan menelpon beberapa anak buahnya untuk di minta memulai penyelidikan.


Tak lama, beberapa mobil hitam datang ke tempat kejadian. Semua orang yang berada di dalamnya langsung turun, dan berjalan menghampiri ke arah Defina dan juga Ferdinand.


"Selamat siang, Boss. Kami semua sudah siap untuk menjalankan perintah." ucap salah seorang dari mereka yang bertindak sebagai ketua.


"Selidiki tentang masalah gudang yang kebakaran, jangan sampai ada yang terlewatkan!" perintah Defina yang langsung di iyakan oleh semua pria berbaju serba hitam.


"Satu hal lagi!" Defina menjeda ucapannya sejenak sambil melirik si pria pendek yang sedang di pegangi petugas polisi.


"Selidiki juga identitas orang ini, jika ada yang mencurigakan darinya segera bereskan!"


Si pria bergetar tubuhnya semakin kencang begitu mendengar perintah Defina kepada anak buahnya.


Apalagi setelah melihat tampang semua anak buah Defina yang terlihat seram dan juga menakutkan.


"Ayo Fer, kita pergi dari sini!" ajak Defina sambil membalikkan badannya tanpa menoleh lagi ke arah belakang dia menuju mobilnya yang terparkir di depan gudang yang kini apinya telah di padamkan.


"Menurut kamu, pria tadi itu pelakunya apa bukan sih?" tanya Ferdinand dengan sangat penasaran.


"Aku tidak tahu, Fer. Tapi yang jelas, dia pasti tahu sesuatu. Aku yakin itu!" ucap Defina sambil menyandarkan dirinya kasar ke jok belakang.


Mobil yang di kendarai Ferdinand akhirnya keluar dari jalur jalan pribadi memasuki jalanan besar yang menghubungkan antara dua propinsi.


Tidak ada lagi percakapan di antara mereka, keduanya kini di sibuk dengan pikiran masing-masing dengan berbagai macam pertanyaan yang tak ada jawabannya.


Sementara itu, di sebuah ruangan yang tertutup seorang pria sedang menerima panggilan telepon hingga membuatnya tertawa dengan terbahak-bahak


"Ha-ha-ha! Bagus-bagus, pastika semuanya berjalan dengan lancar. Aku sudah tidak sabar, ingin menunggu kehancuran perusahaannya." ucap pria tersebut dengan muka garang.


Sambungan telepon berakhir, si pria lalu memanggil anak buahnya yang lain yang sedang berjaga di depan pintu untuk pengamanan.


"Charlie! Kemarilah!" panggilnya dengan suara yang menggelegar.

__ADS_1


"Ada apa, Boss?" balas Charlie saat sudah memasuki ruangan Tuannya.


"Kamu suruh orang-orangmu yang lain, untuk membebaskan si Beni dari penjara hari ini juga."


Tanpa banyak bicara, Charlie 'pun pergi mengerjakan perintah dari orang yang dia panggil Boss.


"Rasakan itu Defina! Itulah akibatnya kalau kamu berani bermain-main denganku!" ucap si pria yang ternyata adalah Albert dengan geram.


Pipi kanan kiri Albert masih terlihat lebam akibat pukulan dari Defina beberapa hari yang lalu.


Bahkan, jika di perhatikan lebih dekat lagi, ada beberapa gigi yang patah dan sengaja belum di betulkan oleh Albert mungkin untuk mengingat kejadian waktu dirinya di hajar sampai habis-habisan oleh Defina.


Keesokan harinya, mobil Ferdinand sudah standby di depan rumahnya Defina untuk melakukan pekerjaan rutin berangkat ke perusahaan bersama-sama.


"Bagaimana? Sudah ada perkembangan?" tanya Defina sesaat setelah duduk di jok belakang.


Ferdinand menggeleng, lalu menjawab dengan muka suram.


"Belum, Fin!"


Defina membuang nafas dengan kasar, dia benci jika harus di hadapkan dengan situasi rumit seperti ini.


Kriinnggg... Kriinnggg...


"Fin, Ibu kamu ...," ucap Ferdinand sambil mengacungkan ponselnya ke atas.


"Kamu saja!" balas Defina malas.


Ferdinand lalu menggeser tombol hijau untuk memulai percakapan bersama Monica melalui sambungan seluler.


"Hallo, Tante!"


"Nak Fer, itu kenapa ya, Defina tidak mau memakan sarapannya pagi ini?" ucap suara Monica di ponsel milik Ferdinand dengan nada khawatir.


"Eh, itu ...," Ferdinand melirik ke arah Defina karena merasa bingung untuk menjawab pertanyaan dari Ibu sahabatnya tersebut.


Defina meraih ponsel Ferdinand, lalu menjawab pertanyaan dari Ibunya karena takut Monica akan bertambah cemas jika dia tidak melakukan hal itu.


"Bu, Defina harus buru-buru pergi ke perusahaan, jadi maaf ya, sarapannya belum sempat Defina makan."


"Oh, jadi begitu ya, Sayang! Ibu cuma takut kamu kenapa-napa, 'kan sebentar lagi kamu akan menikah, jadi harus menjaga pola makan biar tetap bugar." tutur Monica yang sontak membuat Ferdinand mengulum senyum setelah mendengarnya.

__ADS_1


"Iya Bu, Defina nanti sarapan di kantor saja. Maaf ya, Bu!" balas Defina lalu mematikan sambungan telepon dari sang Ibu.


Defina lalu menyerahkan ponsel kepada Ferdinand yang langsung menerimanya, dan memasukkan ponsel tersebut ke dalam saku jasnya.


Baru saja dia ingin menyalakan mesin mobil, ponsel Ferdinand sudah berbunyi kembali.


Kriinnggg... Kriinnggg...


"Ibu lagi??" tanya Defina penasaran.


Ferdinand yang memperhatikan layar ponsel, langsung menggelengkan kepala perlahan.


"Bukan!" jawabnya sambil menggeser tombol hijau di layar.


"Iya, ada apa?" tanya Ferdinand datar kepada orang di seberang telepon.


Setelah mendengar jawaban si penelepon, wajah Ferdinand tiba-tiba berubah suram.


"Kamu harus cari tahu, di mana tempat persembunyian mereka semuanya saat ini!"


Tuttt... Tuttt...


Ferdinand langsung mematikan layar ponselnya setelah sambungan telepon terputus.


"Ada masalah apa?" tanya Defina dingin.


"Huhh!" Ferdinand membuang nafas panjang, lalu melirik ke arah Defina yang sedang menatapnya dengan penuh selidik


"Barusan Rendi bilang, jika orang yang memberikan kesaksian palsu kemarin, hari ini telah di bebaskan dari penjara dengan jaminan." tutur Ferdinand yang membuat Defina menjadi geram.


"Sialan!" umpatnya kasar.


Mobil Ferdinand kini melaju dengan kencang menuju ke arah sisa gudang yang terbakar. Rencana semula ingin pergi ke perusahaan, langsung Defina batalkan setelah mendengar berita yang tidak mengenakkan tersebut.


Defina sengaja pergi ke gudangnya yang terbakar kemarin, karena ingin mencari tahu lebih jauh tentang bukti apa saja yang bisa dia temukan di area gudang sana.


Siapa tahu ada petunjuk yang akan membawa mereka ke si pelaku yang asli. Atau dalang, di balik kejadian terbakarnya gudang besar milik perusahaan yang di kelolanya.


"Andi! Apa ada penemuan baru?" tanya Ferdinand saat telah sampai di lokasi.


"Ini, Boss!" ucap Andi sambil menyodorkan kartu tanda pengenal sebuah perusahaan.

__ADS_1


Defina langsung merebut tanda pengenal dari tangan Ferdinand. Matanya kian memerah saat membaca perusahaan yang tertera di kartu tanda pengenal tersebut. Apalagi, saat melihat foto pria pendek yang mengaku menjadi saksi kemarin siang.


"Albert sialan! Belum cukup sepertinya pukulanku tempo hari. Baik, baiklah kalau begitu. Aku akan datang, dan memberikan pukulan yang lebih menyakitkan. Jangankan membalas, kamu bahkan tidak akan pernah bisa lagi mengangkat kepalamu untuk melawanku!" ucap Defina dengan geram.


__ADS_2