Istriku Seorang Boss Mafia

Istriku Seorang Boss Mafia
14. Kepalang basah.


__ADS_3

"Sayang, kamu dari mana saja?" pekik Monica saat Defina baru memasuki ruang kerjanya.


"Ibu! Sejak kapan, Ibu datang?" tanya Defina yang heran melihat keberadaan sang Ibu.


Tanpa menjawab, Monica menuntun Putrinya untuk duduk di sofa yang di sediakan di sana.


"Ibu sengaja menyusul kamu kesini, Fin. Ibu khawatir, karena kamu belum sempat sarapan." tutur Monica dengan raut wajah sedih.


Defina menghela nafas pasrah, Ibunya memang selalu memperlakukannya seperti anak kecil.


Selalu saja dia merasa resah, jika dia pulang terlambat, ataupun tidak mau makan di rumah.


"Bu, aku sudah dewasa, hanya tidak sarapan saja bukan berarti aku akan menjadi lemah." dalih Defina.


Jika saja Ibunya tahu yang baru saja dia lakukan, mungkin sang Ibu akan terkejut, bukan hanya tidak lemah dirinya bahkan lebih kuat dari yang di bayangkan orang-orang.


Jangankan hanya melewatkan sarapan, tidak makan seharian 'pun, Defina masih sanggup memukuli beberapa orang lagi.


"Fin, ini ada berkas yang harus kamu ta- ...," ucapan Ferdinand terputus karena dia merasa terkejut dengan kehadirannya Monica.


"Tante! Sedang apa, Tante di sini? Eh, maksudku, sudah berapa lama Tante menunggu kami?" Ferdinand mengulangi pertanyaannya.


Monica tersenyum, lalu membuka suara untuk menjawab pertanyaan asisten sekaligus sahabat sang Putri.


"Belum lama, mungkin beberapa menit lebih cepat dari kalian!" ucapnya santai.


Ferdinand melirik ke arah Defina, yang seakan merasa tertekan dengan kedatangan Ibunya.


"Bu, Rio bilang, Ibu masih harus bed rest. Jangan terlalu capek, apalagi Ibu malah harus meninggalkan rumah. Belum boleh, Bu!" tegur Defina lembut.


Melihat kekhawatiran di wajah Putrinya, membuat Monica menghela nafas panjang karena merasa tidak berdaya untuk menyangkal setiap ucapannya.


"Ibu hanya tidak ingin kamu sakit, Sayang! Makanya, Ibu secara khusus datang membawakan kamu makanan." tutur Monica sambil mengeluarkan setiap kotak makan yang dia bawa di dalam tas.


"Nak Fer, sekalian ikut makan juga, ya. Soalnya, Tante bawa lumayan banyak." ucap Monica yang membuat mata Ferdinand berbinar.


Kebetulan sekali pikirnya, Ferdinand memang belum sempat sarapan karena harus menjemput Defina pagi-pagi sekali ke rumahnya.


Niatnya, Ferdinand ingin makan di kantin setelah sampai kantor. Namun apa daya, dia harus pergi mendadak untuk memberi pelajaran kepada pihak Albert yang telah membakar gudang induk perusahaan mereka.


"Ayo, Nak Fer! Jangan sungkan!" panggil Monica.


Tak menunggu lama, Ferdinand langsung mencuci tangan di wastafel yang masih berada di ruang kerjanya Defina. Setelah itu, dia mengambil nasi yang telah lengkap di tambah lauk pauk oleh Monica


"Apa masih kurang?" tanya Monica saat melihat selera makan Ferdinand yang lahap.


"Cukup-cukup, Tante! Terima kasih!" tolak Ferdinand saat Monica ingin menambahkan nasi ke piringnya.

__ADS_1


"Kamu mau nambah, Fin?" tanya Monica setelah Defina menghabiskan makanannya.


"No, thank's!" tolaknya.


Setelah keduanya selesai makan, Defina lalu meminta karyawan bagian kebersihan untuk merapikan mejanya yang berantakan.


Karena masih banyak sekali makanan yang tersisa, Defina lalu meminta agar si karyawan membagi-bagikan makanan tersebut kepada teman-temannya.


Kebetulan, Monica membawa sekali berbagai macam masakan untuknya makan. Dan beberapa hidangan, belum sama sekali tersentuh olehnya. Maka dari itulah, Defina memberikannya daripada harus di buang dengan sia-sia. Mubazir!


"Fin, Ibu pulang dulu! Kamu 'kan sudah selesai makan, jadi Ibu sudah merasa tenang sekarang."


Defina mengangguk, lalu mencium tangan dan kedua pipi Monica sebelum berpisah.


"Terima kasih ya, Bu! Ibu sudah rela datang jauh-jauh, hanya untuk mengantarkan makanan Defina." ucap Defina terharu dengan kasih sayang sang Ibu.


"Sudah seharusnya, Sayang." timpal Monica.


Defina berpesan kepada supir yang membawa Ibunya agar tidak berkendara dengan ngebut di jalan.


Selain masih lemah, Defina tahu, jika sang Ibu tidak suka jika ada orang yang ugal-ugalan di jalanan.


"Hati-hati ya, Pak!" ucap Defina saat mesin mobil di nyalakan.


"Fer, minta beberapa orang untuk mengikuti mobilnya Ibu." perintah Defina yang entah mengapa dirinya tiba-tiba mencemaskan keselamatan Monica.


Kecemasan Defina memang sangatlah wajar, musuh bisnisnya semakin banyak. Dan bukan hal yang mustahil, jika mereka menghalalkan segala cara untuk menjatuhkan perusahaan milik Defina.


"Bagaimana masalah gudang? Sudah di urus?" tanya Defina sambil mengayunkan langkahnya memasuki


gedung perusahaan.


"Sudah, Fin! Pelaku kebakaran juga, sudah di tangkap oleh pihak kepolisian." jawab Ferdinand.


Defina mendorong pintu ruangannya, dan lalu menghempaskan tubuhnya di kursi kebesaran.


"Mana dokumen yang harus aku tanda tangani?" tanya Defina sambil mengulurkan tangannya.


"Yang ini ...," Ferdinand menyodorkan dokumennya.


Setelah penandatanganan dokumen selesai, Ferdinand segera kembali ke ruangannya sendiri karena masih banyak tugas yang harus dia kerjakan.


'Fin, ini nomornya Daniel. Barangkali kamu ingin menghubunginya, dan mengajaknya berjalan-jalan'


Monica mengirimkan sebuah pesan teks dan juga sebuah nomor yang tertera nama Daniel di atasnya.


Ck, masa aku yang harus ngajak jalan sih, Bu! batinnya Defina.

__ADS_1


Defina lalu menambahkan nomor Daniel ke dalam kontak di ponselnya.


Jam makan siang, saat semua orang berlomba-lomba mencari hidangan untuk mengisi perut mereka. Defina malah duduk di ruang kerjanya, dengan bermalas-malasan.


"Fin, kamu mau makan siang di mana?" tanya Ferdinand yang datang ingin mengajak Defina makan di luar.


"Kamu saja sendiri, Fer. Aku sedang malas!'' jawab Defina datar.


Ferdinand menggendikkan bahu, lalu pergi meninggalkan Defina sendirian di ruangannya.


Defina mengotak-atik laya ponselnya untuk mengusir kebosanan, secara tak sengaja, dia malah memencet layar yang bertuliskan Daniel.


"Hallo!" ucap suara dari seberang.


Defina bimbang, antara ingin menjawab suara tersebut atau tidaknya. Namun karena panggilan sudah tersambung, dengan terpaksa Defina akhirnya menempelkan ponselnya di telinga.


"Iya, hallo!" ucapnya dengan perlahan.


"Maaf, ini dari mana? Bagaimana anda mengetahui nomor, pribadi saya?" tanya suara di seberang sana.


Defina bingung, tidak mungkin 'kan dia jawab salah pencet. Bisa malu dia nanti!


"Ini, ini aku Defina!" niat hati ingin langsung mengakhiri panggilan, Defina malah keceplosan menyebutkan namanya.


Ish, bodoh! batin Defina.


Defina menepuk-nepuk keningnya sendiri saat dia malah memberitahukan namanya kepada Daniel.


"Oh, Putrinya Tante Monica! Ada keperluan apa, ya?"


Huh, sombong sekali! Pake nanya, ada apa- ada apa, segala! batin Defina.


"Tidak ada! Hanya ngecek saja, nomornya aktif, apa tidak?!" cetus Defina yang sedikit kesal dengan sikap jaimnya Daniel.


"Oh, hanya itu? Aku pikir, kamu mau ngajakin aku jalan seperti yang Tante Monica katakan." balas Daniel yang membuat Defina langsung tercengang.


"Apa?! Kapan, kapan Ibuku bilang seperti itu?!" pekik Defina terkejut.


"Lima belas menit yang lalu, katanya, kamu ingin mengajakku untuk makan siang bersama. Tapi jika tidak juga, tak masalah!" balas Daniel yang membuat pipi Defina bersemu merah.


Untung saja mereka saat ini hanya berbicara via telepon, bukan berbicara langsung. Jika itu terjadi, mau di simpan di mana wajah Defina saat bertemu dengan Daniel.


"Aku memang ingin melakukannya, tapi saat ini, aku sedang sibuk!" kilah Defina agar dia tidak terlalu merasa malu.


Kepalang tanggung, malu-malu sekalian, pikir Defina yang langsung mengakui perkataan Daniel.


"Terserah kamu aja sih, aku tidak memaksa!" balas Daniel lagi dari sana.

__ADS_1


"Bagaimana, jika kita bertemu nanti malam? Apa bisa?" tanya Defina yang entah mendapatkan keberanian dari mana berbicara seperti barusan.


__ADS_2