
Tanpa menunggu Ferdinand, Defina membalikkan badan dan langsung berjalan menuju mobil dengan penuh amarah.
Keinginannya untuk memberikan pelajaran kepada Alber semakin menggebu-gebu tanpa ada orang yang akan bisa menahannya.
"Fin, tunggu!" teriak Ferdinand yang menjadi cemas dengan keselamatan Defina.
"Di, hubungi semua anak buah kamu. Kita pergi ke tempatnya Albert, sekarang!" perintah Ferdinand.
Setelah mengatakan hal tersebut, Ferdinand bergegas menyusul Defina yang sudah terlebih dahulu menaiki mobil.
Tidak tanggung-tanggung, Defina bahkan duduk di jok depan berniat menyetir sendiri untuk ugal-ugalan di jalan raya.
"Aku aja yang nyetir, Fin!" ucap Ferdinand.
"Aku saja!" tolak Defina keras.
Ferdinand mengalah, dia duduk di jok depan di sebelahnya Defina.
Bukan tidak bisa memaksa, namun situasinya sedang tidak baik sekarang. Jika dia terus meminta Defina untuk pindah tempat duduk, bukan tidak mungkin jika Defina akan semakin merasa tidak senang. Dan situasinya akan semakin rumit.
Defina menyalakan mesin mobil, lalu melajukannya dengan kecepatan maksimal.
Ferdinand memang menyukai kecepatan dalam berkendara, namun saat ini, Ferdinand justru merasa takut setengah mati karena Defina membawa mobil dengan emosi yang meledak-ledak.
Braakkk!
Pintu ruang kerja Albert di tendang dengan keras oleh Defina hingga hancur berantakan.
Kemampuan Defina dalam ilmu beladiri bukanlah hal yang perlu di ragukan lagi. Jadi wajar saja, jika pintu di tendang olehnya akan hancur tak bersisa.
Di tingkat karate, Defina sudah resmi menyandang gelar Shodan. Tingkatan paling pertama, yang sangat langka sekali perempuan sepertinya akan sampai ke tingkatan seperti itu.
"Di mana Albert?" bentak Defina kepada salah seorang anak buah Albert yang dia cengkeram lehernya.
"Bo-Boss, se-sedang, keluar!" jawab orang tersebut dengan penuh ketakutan.
"Bicara yang jujur!" bentak Defina kasar.
Cengkraman di lehernya semakin kuat, tentu saja anak buah Albert menjadi panik. Siapapun, jika di hadapkan dengan kematian pasti akan berubah pikiran untuk bisa menyelamatkan hidupnya.
"Boss, ada di-di ...,"
"Di mana?" Ferdinand ikut kesal dan ikut membentak orang tersebut.
"Di gudang belakang!"
Bugghhh!
Defina menghempaskan tubuh anak buah Albert sampai terhenyak jatuh di atas lantai yang keras.
"Agghhh!" anak buah Albert merintih menahan sakit.
"Jika masih ingin selamat, pergi sekarang juga!" ancam Ferdinand.
Tanpa menunggu lama, orang yang di ancam 'pun langsung lari terbirit-birit dengan menahan kesakitan di tulang rusuknya.
Defina berjalan penuh kemarahan memasuki setiap lorong yang ada di markas Albert yang dia datangi saat ini.
__ADS_1
Langkahnya mantap menuju gudang belakang tempat persembunyian musuhnya.
Bugghhh!
Bugghhh!
Bugghhh!
Kaki dan tangan Defina dengan gesitnya memukul dan menangkis serangan dari anak buah Albert yang berusaha menghalangi jalannya.
Tidak hanya dia saja, Ferdinand juga gencar memukuli anak buah Albert tanpa belas kasihan.
Braakkk!
Defina menendang pintu ruangan yang tertutup. Di duga, Albert sedang berada di dalam karena bersembunyi dari amukan Defina.
"Kamu?!" Albert seperti terkejut dengan kemunculan dari Defina.
"Kenapa? Terkejut?" ucap Defina penuh dengan aura intimidasi yang tak ayal membuat tubuh lawannya gemetar karena ketakutan.
"Apa yang kamu lakukan di tempatku?!" teriak Albert berusaha menenangkan dirinya yang mulai panik.
Defina tertawa keras, meskipun parasnya sangat cantik, namun aura yang keluar dari tubuhnya terasa mengerikan bagi semua orang yang berada di sana.
"Roberto, Roberto! Jangan berpura-pura tidak tahu ya, kamu!" kata Defina penuh penekanan.
Roberto atau yang biasa di panggil Albert, bergidik ketika mendengar ucapan dari Defina.
Tentu saja dia tahu apa yang di maksudkan olehnya, Defina pasti datang untuk membalas karena dirinya telah membakar gudang penyimpanan milik perusahaan dari Defina Corporation.
Meskipun begitu, Defina tetap tidak mengalihkan tatapan kebenciannya kepada Albert.
Bughh!
Tanpa banyak basa-basi lagi, Defina langsung meninju wajah Albert hingga gigi depannya langsung tanggal akibat kerasnya bogem mentah Defina.
"Kamu ...," Albert membelalakkan mata sambil menunjuk ke arah Defina.
Dia tidak menyangka, jika Defina akan memberikannya tinjuan secara tiba-tiba.
"Apa? Masih kurang?" bentak Defina garang.
Dalam sekali gerakan, Defina kembali melayangkan tinjunya ke arah muka Roberto atau Albert.
Namun sayangnya, pukulan dari Defina bisa Albert tahan dengan sekuat tenaga.
Bughh!
"Agghhh!"
Tinjuan ke wajahnya mungkin bisa Albert hindari, namun sebelah tangan Defina yang masih bebas bisa dengan mudah bergerak menyerang perutnya.
Tak ayal pukulan Defina yang kedua, membuat tubuh Albert terdorong beberapa langkah ke belakang.
Bugghhh!
Tak mau berhenti sampai di situ saja, Defina kini menggerakkan kakinya menendang Albert dengan sangat keras.
__ADS_1
Brukk!
Tubuh Albert terjengkang ke belakang, hingga kepalanya membentur tembok.
Dengan susah payah Albert bangkit, lalu berusaha bergerak untuk menghindari tendangan Defina yang selanjutnya.
Bugghhh!
Defina melakukan tendangan memutar, layaknya dia sedang berlatih karate.
Brukk!
"Agghhh!"
Albert jatuh dan jatuh lagi menerima serangan dari Defina yang membabi buta.
Hingga sebuah tendangan terakhir, membuat tubuhnya limbung dan tak bisa di gerakkan lagi.
Albert pingsan, karena tak sanggup menhan kesakitan akibat pukulan dan tendangan dari Defina.
Defina berjalan perlahan mendekati tubuh Albert yang meringkuk di atas lantai.
Krakkk!
Kakinya bergerak, dan tulang tangan Albert hancur setelah di injak dengan keras oleh Defina.
Seandainya Albert tidak sedang pingsan, mungkin ia akan berteriak dengan kencang saking kerasnya injakan yang di berikan Defina.
Bahkan, semua orang yang berada di sana merasa ketakutan dengan tindakan Defina yang kejam.
Pantas saja, nama Defina sangat di takuti di kalangan pebisnis hitam. Ternyata, kekejamannya persis seperti yang di rumorkan oleh banyak orang.
"Kau, kemari!" perintah Defina kepada salah seorang anak buah Albert yang sedang di tahan oleh orang-orang bayaran Ferdinand.
Setelah orang tersebut menghampirinya dengan tubuh yang gemetar, Defina lalu mencengkeram kerah baju orang tersebut.
"Beritahu majikanmu, jangan berani-berani mengusik perusahaanku lagi. Jika dia masih berani melakukannya, jangankan tulang tangan, tulang lehernya 'pun pasti akan aku patahkan. Mengerti?!"
Saking merasa takutnya orang tersebut dengan ancaman Defina, hingga tak sadar dirinya sedang mengencingi celananya sendiri.
Ferdinand menutup hidungnya, karena merasa tidak tahan dengan bau pesing yang mengganggu indera penciumannya.
"Menjijikkan!" Defina menghempaskan tubuh si anak buah Albert ke belakang.
"Ayo, kita kembali!" ajak Defina kepada Ferdinand dan para anak buahnya.
Setelah gudang menjadi sepi kembali, anak buah Albert yang tadi tidak bisa berkutik. Kini mulai memberanikan diri mendekati tubuh majikan mereka untuk di bawa ke rumah sakit.
Sedangkan rombongan yang di pimpin Defina, kini melanjutkan perjalanan menuju perusahaan yang tadi sempat tertunda.
"Fin, kamu yakin si Albert gak bakalan lagi berbuat macam-macam?" tanya Ferdinand dengan ragu.
Bukan tanpa alasan dia menanyakan hal tersebut kepada Defina. Ferdinand sudah mengenal Albert sejak lama, dia juga tahu sedikit banyaknya karakter orang seperti Albert yang suka berbuat nekad untuk membalas musuh-musuhnya.
"Kita lihat saja nanti, Fer! Kalau dia masih berani macam-macam, aku juga tidak akan pernah diam!"
Defina mengatakan hal tersebut dengan raut muka yang sangat datar. Tidak nampak ketakutan, ataupun kepanikan di setiap nada ucapannya.
__ADS_1