Istriku Seorang Boss Mafia

Istriku Seorang Boss Mafia
9. Deva Digjaya.


__ADS_3

"Hey, lihat! Si wanita ******, akhirnya datang sendiri kepada kita!" ucap ketua dari anak buha Albert.


BRAKK!


Baru saja ucapan si ketua selesai, dia sudah jatuh pingsan karena Defina langsung memukul kepalanya dengan botol kaca.


"Seorang bajingan sebaiknya diam!" ucap Defina sarkastik.


Ketiga anak buah Albert yang tersisa, menjadi terkejut begitu melihat kepala ketuanya berlumuran darah dan pingsan.


"Kurang ajar! Berani cari mati kau, ya?" teriak salah satu dari ketiga orang tersebut.


Bughh!


Tinju Ferdinand langsung mendarat di wajah orang yang tadi berteriak.


"Sialan!" Kedua yang lainnya langsung meradang.


Mereka bersiap menerjang ke arah Defina dan juga Ferdinand.


Bughh!


Bughh!


Defina tak tinggal diam, sebagai Boss pebisnis hitam, dia juga memiliki kemampuan beladiri yang mumpuni.


Aghhh!


Kedua orang tersebut meringis kesakitan, tendangan dan pukulan Defina yang keras terlalu sangat susah untuk di hindarkan.


"Fin, biar aku saja!" ucap Ferdinand sambil langsung melayangkan kaki menendang kedua orang tersebut yang masih linglung.


BRAKK!


Kursi pengunjung hancur berantakan saat tubuh kedua anak buah Albert jatuh di atasnya.


"Kalian pikir, aku ini perempuan lemah. Hah? Dulu, kalian beruntung karena aku masih dalam pengaruh alkohol. Sekarang, jangan harap bisa selamat!" ancam Defina sambil memberi isyarat kepada Ferdinand.


Ferdinand menyalakan ponselnya, lalu menelpon seseorang. Dalam beberapa menit, empat orang berjas hitam langsung datang dan membawa ke empat anak buahnya Albert.


"Kita pulang!" ajak Defina sambil berjalan memasuki mobil yang pintunya masih terbuka lebar.


Di salah satu sudut cafe, Antonio memegangi gelasnya dengan tangan gemetar.


Dia tidak menyangka, jika Putrinya Monica memiliki perangai yang buruk, dan suka sekali berkelahi.


"Fin, jangan lupa besok. Ada meeting penting!" ucap Ferdinand saat Defina berjalan memasuki rumahnya.


"Ya, aku tahu!" jawab Defina dengan acuh.


Setelah Defina tak terlihat lagi, Ferdinand kembali mengendarai mobilnya dengan kencang membelah gelapnya malam.


Keesokan harinya, Ferdinand sudah standby di depan gerbang rumahnya Defina.

__ADS_1


"Pagi, Fin!" sapa Ferdinand saat Defina memasuki mobil.


"Hem!" jawab Defina dengan malas.


Mobil melaju dengan tenang di jalanan yang masih tampak sepi. Sesekali, Defina akan melirik ke arah jendela menyaksikan para pejalan kaki yang berlalu lalang di kanan dan kiri jalan.


Tak senagaja, mata Defina menangkap sosok Daniel yang sedang berbincang dengan seorang gadis yang sangat cantik.


"Ck, sama saja!" gumam Defina perlahan.


"Kenapa, Fin?" tanya Ferdinand penasaran.


"Tidak ada! Lanjut saja!" jawab Defina dengan ketus.


Entah kenapa hati Defina merasa kesal saat melihat Daniel terlihat akrab dengan gadis tersebut.


"Dasar brengsek!" secara tak sadar Defina mengumpat dengan kasar.


Ferdinand yang penasaran, langsung menghentikan laju mobilnya.


"Kamu tidak apa-apa 'kan, Fin?" tanya Ferdinand merasa cemas.


Hari ini, adalah hari pertemuan penting mereka dengan klien. Jika Defina sedang dalam mood yang tidak baik, bisa hancur acara pertemuan mereka.


"Jalan saja! Aku tidak apa-apa!" ucap Defina dengan kesal.


Ferdinand di buat kebingungan dengan sikap Defina pagi ini. Tidak biasanya Defina bertingkah aneh, dan nyeleneh seperti sekarang.


Tapi sekarang? Defina seperti enggan!


Saat memasuki area parkir, Ferdinand dengan marah membunyikan klakson dengan sangat keras.


Dia merasa kesal, karena ada sebuah mobil yang sengaja di parkir melintang untuk menghalangi jalannya.


Plokk! .... plokk! .... plokk! ....


Albert turun dari mobil sambil bertepuk tangan dengan keras.


"Sedang apa si brengsek itu di sini?" ucap Defina dengan geram.


Dia berniat turun dari mobil, namun Ferdinand keburu melarangnya.


"Jangan, Fin. Bahaya!" tegas Ferdinand yang tidak di gubris sama sekali oleh Defina.


"Singkirkan mobil jelekmu itu!" bentak Defina sambil berdiri dengan satu kaki di lantai, satu kaki lagi menginjak dasbor mobil.


"Defina, Defina! Berani sekali kau menganggu bisnisku!" cibir Albert.


"Ck, itu hanya permulaan saja!" balas Defina dengan tenang.


Ferdinand turun, dan berjaga-jaga untuk melindungi Defina.


Untungnya, sebelum turun, Ferdinand sudah menghubungi semua anak buahnya. Dan meminta mereka untuk segera datang ke area parkir perusahaannya Defina.

__ADS_1


"Kurang ajar! Jika kau berani lagi mengganggu bisnisku, akan 'ku pastikan kau akan menyesal, Defina!" teriak Albert murka sambil mengacungkan telunjuknya ke arah Defina.


"Bukankah kau sendiri, yang mencari gara-gara duluan? Aku hanya merampas apa yang harus menjadi milikku!"


"Dasar wanita ******!" teriak Albert dengan geram.


Dia lalu berusaha untuk maju menerjang Defina yang masih berdiri dengan satu kaki masih berada di dasbor mobil.


Baru juga Albert berjalan beberapa langkah, anak buah Ferdinand sudah keburu mengurungnya.


"Jhon Roberto! Kau pikir aku tidak memiliki kekuatan? Hah! Kau pikir, aku berani merebut bisnismu tanpa memiliki persiapan? Dasar picik!" cibir Defina yang membuat muka Albert merah padam karena marah.


"Awas kau, ******!" ancam Albert dengan menunjuk lurus ke arah wajah Defina.


Defina berdecih, jujur saja dia tidak menyukai perangai Albert. Tapi setelah melihat hal tersebut, bukan hanya tidak suka, dia kini semakin membenci sikapnya.


"Tahan dia!" perintah Defina kepada seluruh anak buah Ferdinand.


Dua orang dari mereka maju membekuk kanan kiri tangan Albert.


"Lepaskan! Lepaskan aku!" Albert berusaha memberontak namun salah satu anak buah Ferdinand menodongkan sebuah pistol di kepalanya.


Mau tidak mau, Albert hanya bisa pasrah di bekuk dan paksa berlutut dengan kasar di hadapan Defina.


Bugghhh!


Defina memberikan bogem mentah di pipi kanan Albert hingga dari sudut bibirnya mengeluarkan setetes darah.


Bugghhh!


Sekali lagi, dia meninju wajah Albert, kali ini di bagian pipi kirinya.


BAMM!


Defina menendang perut Albert dengan keras, bahkan Albert memuntahkan seteguk darah segar saking kerasnya tendangan yang di berikan Defina.


"Bawa dia, dan buang di depan markasnya sendiri." perintah Defina dengan tegas.


Tubuh Albert di seret masuk ke dalam mobil anak buahnya Ferdinand.


Albert yang setengah pingsan, hanya bisa pasrah ketika tubuhnya terasa perih bergesekan dengan tembok parkiran yang keras.


"Ayo!" Defina langsung mengajak pergi Ferdinand ke ruang meeting.


Mereka hari ini sedikit terlambat, tapi Defina merasa itu tidak akan mempengaruhi kesepakatannya dengan si klien.


Lagipula, jika pihak investor merasa tersinggung dan membatalkan kontrak, itu juga tidak masalah bagi Defina. Masih banyak investor lain yang ingin menanamkan modal di perusahaannya.


Sesampainya di ruang meeting, Defina justru di kagetkan dengan orang yang menjadi investornya.


"Hallo, Defina! Masih ingat dengan saya?" tanya orang tersebut yang bukan lain adalah Deva, teman kuliah Defina di Amerika.


"Tentu, mana mungkin aku bisa lupa dengan seorang Deva Digjaya. Orang yang paling terkenal di kampus, dan di perebutkan oleh banyak perempuan cantik." ucap Defina dengan tenang.

__ADS_1


__ADS_2