
Defina hanya mengangguk menjawab pertanyaan dari Ibunya.
Monica tersenyum bahagia dengan keputusan yang di ambil oleh Defina.
Dia akhirnya bisa merasa lega sekarang, setelah Defina menyetujui rencana perjodohan yang dia rencanakan bersama Antonio.
"Akhirnya, kamu akan segera menikah juga ya, Sayang." ucap Monica dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Eh, Nak Rio di mana?" ucap Monica saat baru menyadari jika Rio sudah tidak ada di ruangannya.
Defina menatap Ferdinand dengan tatapan tajam seperti ingin meminta penjelasan.
Defina sudah bisa menebak, jika Ferdinand yang meminta Rio untuk segera pergi dari sana.
"Eh, Itu, Tante. Tadi, tadi ada panggilan tugas. Ya, panggilan tugas." jawab Ferdinand dengan gugup karena merasa takut dengan tatapannya Defina.
"Yahh, padahal Tante ingin berbagi kabar bahagia kepada Nak Rio. Malah gak ada, orangnya." ucap Monica sambil memasang wajah murung
Deg!
Jantung Ferdinand serasa berhenti saat tatapan Defina semakin tajam menatapnya.
Mampus si Rio! Defina pasti bakalan ngamuk lagi! batin Ferdinand.
Setiap datang ke rumah sakit, Ferdinand tidak pernah merasa tenang. Dia selalu saja merasa cemas akan keselamatan sahabatnya, Rio.
"Ibu tenang saja, biar Defina pergi keluar untuk mencari Rio." ucap Defina yang membuat hati Ferdinand semakin berdebar kencang.
Nah, 'kan. Apa 'ku bilang? Si Rio pasti dalam bahaya besar! batin Ferdinand.
Karena takut terjadi apa-apa dengan Rio, akhirnya Ferdinand menawarkan diri untuk pergi sendiri mencarinya.
Tentu saja tawarannya langsung di tolak mentah-mentah oleh Defina, karena dia merasa Ferdinand pasti sengaja ingin menjauhkan Rio darinya.
Setelah beberapa saat mencari, akhirnya Defina menemukan keberadaan Rio. Dia saat ini sedang berada di sebuah kamar pasien, untuk memeriksakan keadaannya.
"Rio!" panggil Defina sambil berjalan mendekat.
"Eh, Fin. Sedang apa kamu di sini?" tanya Rio yang berpura-pura tenang.
"Sengaja, nyariin kamu." jawab Defina datar.
Kaki Rio terasa lemas begitu mendengar Defina sengaja mencarinya.
Melihat Rio yang tampak panik, Defina merasa ingin tertawa di dalam hatinya. Namun sengaja dia tahan, karena masih ingin menggoda sahabatnya itu.
"Ada urusan apa ya, Fin?" tanya Rio sambil berusaha menenangkan diri.
"Kamu di cariin Ibu, katanya mau curhat." celetuk Defina yang membuat Rio semakin panik.
__ADS_1
Waduh, bisa gawat kalau si Defina sampai nyangka yang macam-macam, batin Rio.
"Fin, itu gak seperti yang kamu pikir. Aku dan Tante Monica gak pernah ngomongin kamu, kok! Beneran, fin. Sumpah!" ucap Rio sambil mengangkat dua jarinya sejajar di telinga.
"Ha-ha! Kamu kenapa sih, Rio? Rileks aja, santai, santai!" ucap Defina yang membuat Rio menjadi merasa heran dengan perubahan sikapnya.
Ish, si Defina kenapa? Kesambet hantu rumah sakit kali, ya? Tumben-tumbenan pake acara haha-hihi segala, batin Rio.
Sedangkan Defina malah tampak terlihat tenang, tanpa bereaksi sama sekali. membuat Rio semakin merasa heran dan berkata di dalam hatinya.
Ini tuh benar Defina yang asli, atau bukan?
"Kamu sudah selesai, apa belum? Jika belum, aku akan kembali ke ruangan Ibuku sekarang!" ucap Defina membuyarkan lamunan Rio.
"Eh, aku sudah selesai. Ayo, kita kesana bersama-sama." balas Rio dengan gugup.
Mereka 'pun akhirnya berjalan bersama menuju ruangannya Monica.
Sepanjang perjalanan, Rio secara terus-menerus menoleh ke arah Defina yang masih terlihat kalem.
Dia semakin yakin, jika Defina sedang tidak baik-baik saja sekarang. Defina yang asli, pasti selalu membuat keributan dan tidak setenang sekarang.
"Nak Rio!" sapa Monica saat mereka telah sampai di ruangannya.
"Iya, Tante!" jawab Rio dengan ramah.
"Sini, Nak. Tante mau bicara soal pernikahannya Defina." ucap Monica yang membuat hati Rio menjadi ketar-ketir.
Eh, apa yang terjadi? batin Rio heran.
"Nak Rio, hari ini Tante merasa sangat senang. Putri Tante, Defina, akhirnya mau di jodohkan." terdengar suara Monica dengan jelas di telinga Rio.
Oh, pantas saja si Defina berubah kalem. Ternyata, dia sudah pasrah, batin Rio.
"Nak Rio? Nak Rio dengan 'kan, semua ucapan Tante?" tanya Monica heran karena Rio yang biasanya banyak memberi saran kini malah banyak terdiam.
"Dengar, Tan. Dengar!" jawab Rio tergesa-gesa karena takut Monica merasa curiga jika dia sedang membicarakan Defina di dalam hatinya.
"Menurut Nak Rio, kapan baiknya acara pertunangan di lakukan? Besok, atau lusa? Tapi, Tante maunya mereka langsung menikah saja. Bagaimana?"
Jantung Rio berdegup semakin kencang mendengar pertanyaan dari Monica. Memang benar, Defina sekarang tampak tenang. Tapi siapa tahu, jika di luar sana Defina akan berubah lagi dan menjadikan Rio sasaran kemarahan seperti sebelumnya.
"Tante, sebaiknya kita tanya dulu Defina, dia maunya seperti apa? Tunangan, atau menikah? Mungpung Defina-nya masih ada di sini." jawab Rio dengan sangat hati-hati takut Defina tersinggung lagi nanti.
Monica melirik ke arah Defina yang kini tampak acuh menanggapi percakapan mereka.
"Bagaimana, Fin? Kamu mau 'kan, langsung menikah saja?" tanya Monica blak-blakan.
"Terserah saja, yang penting Ibu bahagia." jawab Defina datar.
__ADS_1
Ferdinand yang berdiri di sampingnya, melirik ke arah Defina seakan tidak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.
Melihat Defina yang tampak tenang, Ferdinand lalu melirik ke arah Rio yang juga sedang menatapnya.
Rio mengangkat sebelah alis, menanyakan kepada Ferdinand menggunakan bahasa isyarat. Namun, hanya di balas dengan gelengan kepala oleh Ferdinand.
"Sudah jam 10 malam, sebaiknya Tante segera beristirahat." ucap Rio sambil merapikan selimutnya Monica.
Setelah Monica mengangguk, semua orang termasuk Defina memutuskan untuk keluar dari kamar rawatnya Monica.
"Fin, kamu serius menerima perjodohan dari Tante Monica?" Rio memberanikan diri bertanya.
"Iya!" jawab Defina singkat.
"Tapi, Fin ...," Ferdinand berusaha ingin memprotes namun segera di hentikan oleh Defina.
"Kalian itu kenapa? Aku nolak, di paksa. Aku nerima, curiga." ucap Defina dengan ketus.
"Bu-bukan begitu ...," bantah Rio dengan gugup.
Rio bukan curiga, namun lebih ke penasaran. Alasan apa yang membuat Defina menerima perjodohan dari Tante Monica. Itu saja!
Namun, Rio tidak mengungkapkan rasa kepenasarannya tersebut. Salah, salah, nanti malah Defina ngamuk lagi. Bisa gawat!
"Sudahlah, aku capek, ingin cepat pulang!" ucap Defina sambil melangkahkan kakinya menuju pintu keluar rumah sakit.
Rio ingin mengatakan sesuatu kepada Ferdinand, namun dia urungkan karena Ferdinand sudah keburu mengikuti langkah kakinya Defina.
"Ah, sudahlah! Buat apa juga aku mikirin masalah ini? Toh, Defina-nya juga sudah setuju." gumam Rio perlahan kepada dirinya sendiri.
Dia juga sama, merasa lelah karena seharian terus bekerja memeriksa keadaan pasiennya.
Ferdinand mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia hanya perlu mengantar Defina untuk sampai di rumahnya dengan selamat, tidak perlu terlalu terburu-buru.
Namun, ketika mobil mereka melewati sebuah cafe Ferdinand terpaksa menginjak remnya dengan paksa hingga membuat Defina yang duduk di kursi belakang menjadi terkejut.
"Kenapa, Fer?" tanya Defina sedikit kesal.
"Itu bukannya anak buah Albert ya, Fin?" tunjuk Ferdinand ke salah satu kursi pengunjung.
"Kau benar, Fer. Mereka anak buahnya Albert! Ayo, kita turun! Kita harus membuat perhitungan dengan mereka berempat." ucap Defina sambil membuka pintu mobil.
Ferdinand 'pun melakukan hal yang sama, meski mereka berdua, mereka pasti bisa melumpuhkan ke empat anak buah Albert sekarang.
Lagian, Defina sekarang sedang dalam keadaan sadar, tidak di pengaruhi oleh minuman seperti terakhir kali di kejar-kejar oleh mereka berempat sebelumnya.
"Tunggu aku, Fin. Kita bersenang-senang bersama!" ucap Ferdinand sambil mempercepat jalannya menyusul Defina yang sudah berada di depan.
BRAKK!
__ADS_1
Defina langsung memukul meja yang sedang di gunakan oleh anak buahnya Albert.
"Sepertinya, kalian sedang berpesta. Bagaimana, jika kami berdua ikut memeriahkan pesta kalian?" ucap Defina dengan tersenyum miring.