
Setelah selang infus kembali terpasang, akhirnya Monica di biarkan sendirian di ruangannya agar lebih banyak beristirahat.
"Fin, coba ceritakan, siapa pria malang yang ingin di nikahkan denganmu itu?" tanya Ferdinand yang membuat Defina mendengus kasar.
"Sialan kau, Fer! Yang malang itu bukan dia, tapi aku!" bentak Defina karena emosi.
"Jangan berisik, ini rumah sakit! Ingat!" ucap Rio yang membuat Defina mendelik ke arahnya.
"Benar tuh ucapan Rio, Fin. Ini rumah sakit, jangan main bentak-bentak aja. Rileks! Rileks!"
Di luar kantor, memang Ferdinand memang selalu bersikap santai kepada Defina. Tidak seperti saat bekerja, Ferdinand akan bersikap profesional.
Walaupun, Defina sudah memintanya bersikap biasa saja, namun Ferdinand tetap membatasi sikapnya hanya sebatas Boss dan anak buah.
"Sialan, kalian!" umpat Defina kasar.
Di meja resepsionis, seorang pria paruh baya dan Putranya, sedang menanyakan keberadaan kamarnya Monica.
Dialah Antonio, yang ternyata adalah teman masa kuliahnya Monica.
Dia datang bersama Daniel, karena mendapat kabar bahwa temannya Monica sedang kritis dan di rawat di rumah sakit ini.
"Kamarnya di ruang VVIP nomor tiga, Pak!" jawab si resepsionis dengan sopan.
"Terima kasih!" ucap Antonio lalu berjalan bersama Putranya ke ruangan yang di sebutkan.
"Ayah yakin, Tante Monica di rawat di sini?" tanya Daniel sambil matanya menatap sekeliling.
Rumah sakitnya sangat mewah, pasti biayanya sangat mahal jika di rawat di sini, pikir Daniel.
"Kamu tidak mendengar tadi, apa kata resepsionisnya? Nama Monica ada, dan dia di rawat di ruangan VVIP! Ayah pernah bilang, bukan? Jika Monica itu bukan perempuan sembarangan!" ucap Antonio sambil terus memperhatikan setiap ruangan. Antonio takut, jika ruangan Monica sampai terlewatkan olehnya.
"Tapi 'kan kita malu, Yah! Kita bukan dari kalangan orang kaya! Bagaimana kalau keluarganya Tante Monica, tidak memperbolehkan kita untuk menjenguknya." ucap Daniel was-was.
Dia memang sudah mengenal sosok Monica sejak lama, sosok perempuan yang sangat ramah dan baik menurut Daniel. Tapi, dengan keluarganya Monica, Daniel belum pernah mengenal satu orangpun juga.
"Monica buka tipe perempuan yang seperti itu, Nak! Sejak kuliah, Monica itu sudah ramah kepada semua orang. Maka dari itu, Ayah sangat betah menjadi temannya Monica. Bahkan sampai sekarang!" ucap Antonio sambil matanya terus melirik ke setiap pintu yang dia lewati.
"Sebelah sana, Yah!" Daniel menunjuk sebuah pintu yang bertuliskan ruang VVIP nomor tiga.
Dia dan Antonio 'pun, lantas menuju ruangan tempat Monica di rawat.
__ADS_1
Saat ingin mendorong pintu, aksi Antonio di cegah oleh Defina yang sedang berkumpul dengan para sahabatnya.
"Eh, maaf! Siapa anda? Mengapa anda ingin memasuki ruangan Ibu saya?" Meskipun heran Defina tetap bersikap sopan.
"Jadi kamu, Putrinya Monica?" ucap Antonio dengan perasaan senang karena akhirnya dia bisa bertemu dengan Putri temannya tersebut.
Nona ini, bukannya sama dengan gadis yang aku tolong dulu, ya? batin Daniel.
Dia masih ingat, dengan raut wajah gadis yang pernah di tolongnya waktu malam-malam beberapa tahun yang lalu. Meskipun saat itu kurang jelas, karena posisi mereka berada di dalam gang kecil. Namun Daniel yakin, jika gadis yang di depannya 'lah yang dia tolong dulu.
Walaupun begitu, Daniel tidak mau gegabah, dia tetap bungkam. Apalagi pas dia melirik ke arah Ferdinand, dia ingat benar waktu itu, jika Ferdinand membawa beberapa anak buah yang membawa senjata api saat menjemput gadis di depannya.
"Om ini, siapa?" tanya Defina sambil melirik ke arah Daniel yang berdiri di belakang Antonio.
"Nama Om, Antonio. Dan ini Putra Om, namanya Daniel." jawan Antonio dengan ramah.
Entah kenapa Defina menjadi gugup saat melirik ke arah Daniel yang berdiri di belakang Antonio.
"Ibu baru saja minum obat, Om. Tapi, jika Om mau menunggu, silahkan saja, masuk!" jawab Defina sambil menundukkan kepala.
Setelah Antonio dan Daniel masuk, Ferdinand dan juga Rio datang menghampiri sahabatnya, Defina.
"Kamu kenapa, Fin? Tumben, tadi enggak garang seperti biasanya!" tegur Rio yang membuat Defina menjadi kesal.
"Sudah, sudah! Ingat! Di sini rumah sakit, banyak pasien yang butuh ketenangan!"
Sebelum Rio menjawab, Ferdinand sudah berusaha melerai agar tidak terjadi perang antar sahabat.
Namun, yang namanya Rio selalu suka membuat masalah dengan sahabat perempuan mereka.
Jadi, secara tenang, Rio menjawab pertanyaan dari Defina, "Garang, mirip macan betina lepas dari kandang." celetuk Rio tanpa merasa berdosa sama sekali.
Bahkan, Rio tidak ingin memperhatikan, wajah Defina yang merah padam karena menahan amarahnya karena ucapan Rio.
"Rio, kamu sengaja ya, bicara seperti itu?" ucap Defina setengah berteriak.
Mungkin jika tidak ada Ferdinand, Defina sudah pasti akan mengacak-acak wajah Rio, yang mirip opa-opa korea tersebut.
"Aku?! Sengaja?! Tidak! Itu 'kan kenyataan!" ucap Rio datar dan tanpa ekspresi.
"Rio!" bentak Defina hingga semua orang menoleh ke arahnya.
__ADS_1
"Maaf, Mbak! Di sini rumah sakit, jadi jangan bicara terlalu keras!" tegur salah satu keluarga pasien yang merasa terganggu dengan teriakan Defina.
"Dengar, 'kan?" ucap Rio sambil salah satu jari menyentuh kupingnya sendiri.
Saking merasa kesalnya, Defina sampai tidak mau berada dekat dengan Rio. Dia duduk berjauhan, dan tak sedikitpun menoleh ke arah sahabatnya tersebut.
"Rio, jangan keterlaluan seperti itu! Kasihan Defina, dia lagi pusing mikirin permintaannya Tante Monica." tegur Ferdinand kepada Rio yang duduk di dekatnya.
"Aku tahu, Fer. Justru aku bersikap seperti ini tuh, buat kebaikannya dia." dali Rio yang membuat Ferdinand merasa heran.
"Apa maksudnya?" tanya Ferdinand kepada Rio sambil memicingkan matanya.
Rio mulai menceritakan kejadian tadi pagi kepada Ferdinand yang saat ini mendengarkannya secara seksama.
Di mana Defina menjadikan dirinya pelampiasan atas kekesalan terhadap permintaan Ibunya, Monica.
Menurut Rio, sikap Defina itu salah. Jika tidak mau, ya tinggal bilang saja. Jangan melimpahkan kesalahan, kepada orang lain.
Ferdinand akhirnya mengerti, mengapa Rio mengucapkan kata-kata yang memancing kemarahan Defina. Rupanya, karena masalah itu.
"Aku mengerti, kamu pasti merasa tersinggung, Rio. Tapi tolong, jangan sampai perasaan itu merusak hubungan pertemanan kita." ucap Ferdinand sambil menepuk pelan bahunya Rio.
"Jangan salah sangka dulu, Fer. Aku melakukan ini, bukan untuk membalas perbuatan Defina." balas Rio dengan wajah yang mulai serius.
"Lalu?!" ucap Ferdinand merasa penasaran.
"Aku hanya tidak ingin, Defina membiarkan emosinya meledak-ledak terus. Ya, siapa tahu, dengan adanya ucapanku tadi, Defina bisa merubah sikapnya." ujar Rio sambil melirik ke arah Defina yang saat ini menatapnya dengan tatapan tajam.
Ferdinand bangkit, lalu kembali menepuk bahu sahabat karibnya tersebut.
"Semoga berhasil ya, Rio! Aku tidak mau terlibat, di dalam rencanamu itu! Aku tahu Defina, dia tidak akan dengan mudah memaafkanmu!" ucap Ferdinand yang tiba-tiba merasa kasihan dengan nasib Rio.
"Fer, apa katamu tadi? Kamu tidak mau membantu? Tolonglah, Fer!" ucap Rio yang menjadi panik.
Bukan tanpa alasan Rio panik seperti itu, Defina adalah ketua gangster, semua orang sudah tahu sepak terjangnya Defina.
Meskipun seorang perempuan, di kalangan para pebisnis hitam, nama Defina sangat terkenal.
Dia kejam, bengis, dan tak berperasaan jika sedang menghukum musuh-musuhnya.
Dan sekarang, Rio malah masuk ke dalam kandang macan betina lapar? Entah bagaimana nasibnya nanti, pikir Rio.
__ADS_1
"Fin, ada apa?" tanya Rio saat Defina berdiri di hadapannya.
Jujur, jantung Rio deg-degan sekarang. Entah itu panik, atau takut, Rio tidak bisa membedakannya.