Istriku Seorang Boss Mafia

Istriku Seorang Boss Mafia
2. orang misterius


__ADS_3

Defina kembali ke kantor dalam keadaan marah, dia bahkan membanting beberapa berkas yang berada di atas meja kerjanya.


"Rio sialan! Awas kau!" Defina malah menyalahkan sahabatnya karena tidak segera memberitahu dirinya perihal sang Ibu yang ingin menjodohkannya.


Memang, Defina masih belum mau menikah sekarang. Dia merasa, jika kesehatan sang Ibu lebih penting dari pernikahan.


Tok ... tok ... tok ...


Pintu ruangan Defina di ketuk oleh seseorang.


"Masuk!" teriak Defina dengan keras.


"Apa yang terjadi? Mengapa berantakan seperti ini?" yang masuk ternyata adalah Ferdinand asisten sekaligus sahabatnya Defina selain Rio.


"Kenapa? Masalah?" tanya Defina ketus.


"Tidak juga! Sudah biasa!"jawab Ferdinand dengan tenang sambil mengambil tempat duduk di seberang meja Defina.


"Ada laporan apa?"


Defina masih saja bersikap kurang ramah di hadapan Ferdinand.


Namun bagi Ferdinand, sikap Defina memang sudah sering seperti itu.


Sebagai asisten sekaligus sahabatnya Defina, Ferdinand sudah sering menghadapi situasi yang seperti sekarang.


Ini belum seberapa parah, Defina bahkan pernah mengamuk di sebuah restoran mahal, dan Ferdinand yang harus turun tangan membereskan kekacauan.


"Rencana kita sudah berhasil, dan kasino milik si Albert brengsek itu, sudah berhasil kita rebut."


Ferdinand menyodorkan sebuah dokumen yang di dalamnya tertulis pengalihan kepemilikan sebuah kasino, menjadi atas nama Defina.


"Hebat juga ya, idemu!" kekesalan Defina perlahan menghilang dengan adanya laporan Ferdinand.


"Ide kita bersama!" Ferdinand meralat ucapan Defina


Defina mengangguk puas, dengan kinerja sahabatnya tersebut.


Selain pintar, Ferdinand juga sangat loyal. Bahkan, ada beberapa kali saingan bisnis Defina menawarkan sejumlah uang agar Ferdinand mengkhianati dirinya.


Namun pada akhirnya, semua tawaran mereka Ferdinand tolak. Padahal, uang yang mereka tawarkan bukan dalam jumlah yang sedikit.


Trilyunan!


Jika orang lain, mereka pasti sudah menerima tawaran tersebut, dan berbalik menyerang Defina.


Tapi Ferdinand, dia bahkan sering turun tangan memukuli orang-orang yang menawarkannya uang.


"Ambil ini!" Defina melemparkan amplop coklat tebak ke hadapan Ferdinand.


"Apa ini?" tanya Ferdinand penasaran.


"Bonus!"

__ADS_1


Ucapan Defina hampir saja membuat air liur Ferdinand menetes.


"Senang sekali bisa menyelesaikan tugas dari Boss, langsung di kasih bonus." ujar Ferdinand sambil meraih amplop coklat di atas meja.


"Gak di hitung?" tanya Defina heran.


"Tidak perlu, Boss. Jumlahnya pasti aman." balas Ferdinand full senyum.


"Dasar!" Ujar Defina dengan senyuman manis terukir di bibirnya.


Melihat Defina tersenyum, hati Ferdinand menjadi merasa tenang. Dengan begitu, suasana tempat kerja akan kembali aman.


"Oh iya, Fer. Kamu sudah berhasil, menemukan laki-laki yang menyelamatkanku waktu itu?" ucap Defina ketika teringat akan misi yang dia berikan kepada Ferdinand.


Ferdinand menggeleng pasrah, "Belum!" jawabnya.


Ekspresi Defina terlihat kecewa ketika tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan dari sang asisten. Sampai kapan dia harus mencari laki-laki yang sudah menyelamatkan hidupnya?


Flashback on...


"Cepat kejar!" teriak anak buah kepercayaan Albert.


Saat itu, Defina berlari sekencang-kencangnya agar tidak tertangkap dari kejaran anak buah Roberto, atau yang lebih biasa di panggil Albert di kalangan para pebisnis ilegal.


"Di mana perempuan ****** itu?" tanya salah seorang anak buah Albert yang bertindak sebagai ketua pengejaran Defina.


"Sepertinya, gadis itu sudah lolos, Boss!" jawab seseorang dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Sial!" umpat si ketua, sambil menendang kaleng bekas minuman dengan kencang.


"Kita harus bagaimana, Boss?" tanya anak buah Albert yang lain.


"Cari dia sampai dapat! Kalian berdua, cari dia di sana! Dan kamu, ikut aku!" perintah si ketua.


Setelah semua anak buah Albert pergi, Defina keluar dari tempat persembunyiannya.


Kepalanya terasa pusing, karena saat di club malam tadi, di di paksa meminum alkohol oleh Roberto, alias Albert.


Defina lalu berjalan berlawanan arah dengan anak buah Albert, agar tidak berpapasan dengan mereka.


Dasar sial! Defina malah ketahuan, dan langsung di kejar lagi oleh para anak buah Albert.


"Itu dia! Cepat! jangan sampai lolos lagi!" teriakan itu yang di dengar Defina dari kejauhan.


Defina panik, kondisinya sedang tidak bagus sekarang. Mustahil dia bisa bertarung, melawan lima orang sekaligus dengan kondisinya saat ini.


Yang bis Defina lakukan hanya berlari, dan berharap ada keajaiban yang datang padanya.


_Brughh!_


Defina menabrak seseorang di hadapannya, karena dia tidak memperhatikan jalan dengan benar.


"Hati-hati, Nona!" tegur orang yang di tabraknya.

__ADS_1


"Ayo cepat! Kejar!" terdengar suara teriakan yang semakin mendekat.


Orang yang di tabrak Defina juga mendengar teriakan tersebut. Tanpa pikir panjang, orang itu langsung meraih tubuh Defina dan langsung menggendongnya untuk bersembunyi di sudut bangunan, tak jauh dari sana.


"Mau apa kau?!" bentak Defina karena terkejut sekaligus takut orang itu akan menggunakan kesempatan untuk mencelakainya.


"Sstttt! Diam saja, Nona! Kalau tidak, kita pasti akan ketahuan, dan kau akan di tangkap!" ucap orang tersebut setengah berbisik karena orang-orang Albert sudah ada di dekat mereka.


"Kemana dia? Cepat sekali larinya!" ucap anak buah Albert sambil bernafas ngos-ngosan.


"Brengsek! Dia lolos lagi!" umpat salah satu anak buah Albert yang baru datang.


"Kita mau cari kemana lagi, Boss? Di sini sudah masuk dalam kawasan kekuasaannya Ferdinand, jika kita terus bergerak, kita semua bisa tamat!" ucap anak buah yang lain.


Defina memang sengaja berlari ke tempat itu, agar anak buah Alberto menarik diri untuk tidak mengejarnya lagi.


"Sialan! Kita harus mundur, sekarang!" perintah ketua kelompok mereka.


"Kau sudah aman sekarang, Nona!" ucap orang yang menyelamatkan Defina.


"Terima kasih, aku akan membayar jasamu nanti!" ucap Defina lurus.


Orang itu hanya geleng-geleng kepala, ketika mendengar ucapan dari Defina.


Dia menolong karena sisi kemanusiaannya saja, dan juga secara tidak sengaja.


Tapi orang yang di tolongnya, malah salah mengira tentang dirinya.


Defina hampir saja terjatuh, ketika memaksakan diri untuk berjalan. Untung saja, orang yang tadi menolong Defina dengan cekatan menangkap tubuhnya sebelum jatuh ke tanah.


"Tidak perlu! Aku bisa sendiri!" tolak Defina sambil menghempaskan tangan orang tersebut.


Saat mereka masih berdebat, beberapa mobil berwarna hitam, berhenti di depan mereka.


"Nona! Apa kau baik-baik saja?" Ferdinand turun dan langsung berlari menghampiri Defina.


"Aku tidak apa-apa, Fer. Orang-orangnya Albert juga, sudah pergi." jawab Defina sambil meraih tangan Ferdinand yang terulur ke arahnya.


"Albert! Awas kau!" ucap Ferdinand dengan geram.


Apalagi saat melihat kondisi Defina sekarang, membuat Ferdinand semakin merasa marah kepada saingan bisnisnya Defina tersebut.


"Sudahlah, bawa aku pulang! Aku butuh istirahat!" ucap Defina sambil memijit pelipisnya untuk meringankan rasa pusing.


"Buka pintu mobil! Kita akan langsung pergi ke rumah sakit!" perintah Ferdinand tegas.


"Sebentar, Fer! Tolong berikan orang tadi uang, atau apapun yang berharga, karena dia yang telah menyelamatkanku dari kejaran anak buah Albert." ucap Defina sebelum menaiki mobil.


"Orang? Orang yang mana?" tanya Ferdinand heran.


Tadi dia memang sempat melihat Defina sedang bersama seseorang, tapi sekarang, orang itu sudah tidak ada lagi. Bahkan Ferdinand tidak sempat memperhatikan wajah orang tersebut.


"Orang yang tadi bersamaku!" balas Defina cepat.

__ADS_1


"Tidak ada orang di sini, selain dari orang-orang kita semua. Mungkin dia sudah pergi, atau mungkin orang itu bukan manusia." jawab Ferdinand yang mendapat tepukan di kepalanya dari Defina.


Flashback off...


__ADS_2