
Krisna, berjalan mondar-mandir di ruang khusus gawat darurat untuk pasien VVIP. Ekspresinya dipenuhi kecemasan. Pikirannya fokus tertuju, ke pintu ruang gawat darurat yang ada di ujung lorong rumah sakit tersebut.
Kegelisahan, mulai menjalar masuk ke dalam hatinya. Otaknya berpikir keras, menganalisa segala kemungkinan, penyebab kecelakaan yang baru saja menimpah Azka.
Azka, bukan orang yang suka ngebut, di jalan.
Apakah ini direncanakan oleh seseorang?
"Minuman, yang anda pesan, Tuan" Salah satu petugas berseragam biru, meletakkan kopi panas di atas meja, dekat dengan posisinya
"Terima kasih" Ujar Krisna, sebelum menikmati aroma kopi yang semakin menggoda. Seorang dokter dengan paras cantik, melintas di depannya. Melempar senyum manisnya. Rasa kopi yang masuk ke dalam tenggorokannya menjadi semakin nikmat.
Siapa gerangan yang telah disinggung, oleh Azka?
Baru saja, sebuah nama terlintas di pikirannya. Pintu ruang gawat darurat terbuka, seorang dokter mengenakan kaca mata dengan stetoskop melingkar di leher, menghampirinya. Tiga perawat yang bersamanya berbelok menuju ruang yang berbeda.
Dokter dihadapannya tersenyum lega, seakan baru saja terbebas dari benda yang menghimpit di dadanya.
"Alhamdulillah, Azka sudah melewati masa kritis. Hanya butuh waktu satu minggu, rawat inap untuk pemulihan.
"Bersyukur, Allah membantu kita menjaga, Azka. Sehingga pertolongan pertama bisa menyelamatkan nyawanya."
"Terima kasih, dokter Aditia."
"Sudah kewajiban saya, sebagai dokter pribadinya." Pria dengan jas putih itu merendah. Keheningan menciptakan jarak diantara keduanya.
"Krisna...." Dengan suara pelan, hampir tak terdengar, dia ingin menyampaikan sesuatu pada Krisna. Ucapannya terhenti saat terdengar langkah tergesah menghampiri keduanya.
"Dokter, Aditia. Seorang pasien wanita, menunggu di ruangan. Gadis itu mengatakan, sudah memiliki janji, dengan dokter. " Pria berseragam putih menjelaskan panjang lebar.
Aditia tersentak, hampir saja dia lupa dengan janjinya. Senyum bahagia mengembang di wajahnya.
"Pacar, dok?" Krisna menggodanya. melihat perubahan ekspresi di wajah, dokter muda itu.
"Wanita yang spesial." Jawabnya, dengan semburat merah di wajah.
"Saya akan segera menemuinya." Dia memberikan jawaban pada pria di sebelah kanannya. Sambil memberi isyarat, agar perawat itu meninggalkannya.
Pandangannya kembali pada pria di hadapannya. Ekspresinya berubah serius, menekan rasa kehawatiran yang membuncah dalam hatinya.
"Tolong, jaga Azka!" Pintanya.
"Apakah, ada seseorang yang telah tersinggung, karena Azka?" Dia melanjutkan bertanya.
"Kemungkinan itu, bisa saja terjadi. Sikap Azka, yang selalu tegas tak suka berkompromi. Perusahan yang semakin berkembang di bawah kendalinya, memungkinkan, akan ada lawan menganggap keberadaannya, sebagai ancaman.
Aditia menganggukkan kepala, seakan mulai memahami sesuatu.
"Hanya kamu satu-satunya, yang selalu ada di sisinya. Bantu Azka, untuk melewati semuanya. Hatinya masih menyimpan luka.
"Krisnaaa." Aditia kembali memohon pada pria yang mengenakan kemeja biru, di hadapannya. Instingnya mengatakan, pria ini bisa diandalkan. Krisna menganggukkan kepala.
"Saya pamit dulu ya. Lanjut kerja."
"Oke, dokter Aditia." Dengan pandangan matanya, Krisna mengantar kepergian pria itu hingga menghilang di balik pintu sebuah ruangan.
"Serius amat mikirnya." Bunga kaktus di meja menggeleng kepala. Lima ekor semut di dinding mengangguk sambil berjalan tenang beriringan
"Sahabat, sekaligus orang kepercayaannya. Kalian harus memahami perasaannya." Gelas di atas meja, menjadi penengah.
Krisna menghempaskan dirinya ke sofa, dengan wajah ditekuk, dia mengeluarkan HP dari saku celana. Jemarinya membuka layar, mencari sebuah nama. Kemudian melakukan panggilan. Seseorang di seberang, menjawab panggilannya.
"Rio..., cari informasi, lokasi kejadian saat Presdir mengalami kecelakaan. Gunakan para ahli dan satelit, untuk meretas kamera CCTV. Mulai dari Presdir keluar gedung perkantoran, hingga lokasi kejadian."
"Siap, Tuan." Pria di seberang menjawab penuh keyakinan.
"Cari data pelaku, periksa siapa saja yang berhubungan dengannya, dan keluarganya dalam satu minggu terakhir. sekaligus aliran dana yang masuk ke rekeningnya.
"Baik...."
__ADS_1
"Dalam tiga hari, Kamu serahkan datanya." Krisna memberi tenggat waktu.
"Siap 86, Tuan."
Krisna menutup telponnya. Lalu dengan sigap jemarinya mengirim pesan pada seseorang.
[KA] Tarik semua pemberitaan, yang berisi kecelakan Presdir.
[AM] Terkecuali, Presdir dirawat?
[KA] Semuanya.
[AM] Siap.
Krisna menutup chatnya, lalu melangkah menuju ke sebuah ruangan, dimana Azka berada. Dua bodyguard yang berjaga di depan ruangan, mempersilahkannya masuk.
Dia berdiri di samping ranjang. memandang pria yang tertidur lelap, dibawah pengaruh antibiotik. Dengan perban melilit kepala, selang inpus di tangan kirinya. Wajah tampannya terlihat pucat. Ekspresi wajah Krisna berubah muram, seperti seluruh dunia sedang berhutang padanya.
Tidak satupun media yang berani merelease, kondisi Azka saat itu. Jika ada yang berani melakukannya, maka bersiap keesokan harinya media tersebut, terhapus dari peredaran.
***
Traaang....
Braakk....
Suara pecahan kaca, terdengar berasal dari dalam kamar president suite, di salah satu hotel terkenal. Pria mengenakan kemeja merah maron, baru saja menghempaskan gelas di atas meja. Permukaan meja, membentuk jaring laba-laba.
"Sadis." Jam dinding menggelengkan kepala.
Sementara, pecahan gelas menyebar di lantai, beberapa menusuk telapak tangannya. Pria itu, menahan rasa nyeri karena terluka
Wajahnya merah, dengan napas tak beraturan, tampak melalui gerakan dadanya yang bidang. Kedua mata menyorot tajam. seluruh tubuh bergetar.
Kali ini kamu selamat, Azka. Lain kali, aku akan membereskanmu dengan tanganku sendiri.
Kemenangan team Azka, dalam tender terakhir, memicu amarahnya hingga mencapai klimaks. Dia mengatur sebuah kecelakaan untuk membereskan, Azka.
Bila Azka tiada. Maka dengan mudah dia menjadi pemain tunggal di lapangan. Jadi semua proyek besar, berada di genggamannya.
Suara ketukan di pintu, membuat pikiran liarnya terhenti seketika. Pria dengan kedua mata sipit, berjalan membuka pintu.
Sosok wanita cantik, muncul setelah pintu terbuka. Gadis itu, langsung bergelayut manja di tubuh Dirga. Tubuh seksi dengan pakaian sedikit terbuka di bagian dada, menempel langsung pada tubuhnya.
Pria itu, berusaha melepas kedua tangan yang melingkar di lehernya. Namun gadis itu semakin mempererat lilitannya.
Kelembutan kulit dan aroma tubuh yang dimiliki gadis itu, membuat seluruh tubuhnya dijalari rasa panas. Sesuatu, yang terbungkus pada pakaian dalamnya menegang, karena gesekan yang dilakukan oleh pinggul wanita tersebut.
Dia meraih dagu wanita cantik itu, mengangkat kepalanya, membenamkan bibirnya pada bibir menggoda dihadapannya. Napas keduanyapun mulai memburuh
Dirga, membawa gadis itu menuju ke dalam kamar. menghempaskan tubuh mungil itu di atas kasur dan menindihnya.
Sesaat kemudian tubuh keduanya polos, tanpa sehelai benang menutupi. Seluruh tubuh bermandikan keringat, dengan napas berkejaran satu sama lain.
Keduanya terhanyut dalam hasrat birahi yang menghampiri. Bermain sepuasnya, hingga kelelahan melanda, membuat keduanya akhirnya tertidur lelap.
***
"Selesaaaaiii..."
Azzalea, menatap dengan puas hasil disainnya. Sebuah disain busana kerja two piece, terlihat di seketsanya. Menampilkan sebuah kesan profesional. Dia menyimpan hasil karyanya dengan hati-hati di laptop, juga dalam sebuah flasdisk berwarna hitam.
"Keren gambarnya." Flashdisk memuji hasil kerjanya. Laptop mengangguk, membenarkan sambil menerima perintah shutdown dari jemari mungil pemiliknya.
Gadis lembut itu, melangkah ke toilet. menggosok gigi, membersihkan wajahnya lalu mengambil air wudhu.
__ADS_1
Beberapa tahapan perawatan wajah untuk malam hari, dia gunakan. Wanita muda ini, sangat teliti merawat kulit wajahnya yang halus.
Setelah sholat isya, tiba-tiba ingatannya kembali pada laki-laki yang mengalami kecelakaan, beberapa jam yang lalu. Tangan kiri memegang dada, saat debaran halus menyusup jantungnya.
Perasaan apa ini? Mungkinkah, aku menyukainya?. Bagaimana mungkin?, jangankan nama, alamatnya juga, tak tahu dimana.
Azzalea menenangkan hatinya. Lalu mengakhiri ritualnya dengan doa.
Rabb, sucikan hatiku. Jernihkan pikiranku. Mudahkanlah langkahku.
Setelah berdoa, dia menuju tempat tidur. Tubuhnya sejenak menggeliat, dengan bantal guling berada dalam pelukannya. Gadis itu, akhirnya memasuki tidur lelapnya.
Keesokan harinya, Azzalea berdiri di hadapan beberapa petinggi, serta tiga orang utusan perusahaan lain.
Hasil disain yang bagus, ditambah dengan kelihaiannya dalam mempresentasikan, membuat beberapa wajah di hadapannya terpana.
"Gadis yang pintar." Puji pria setengah baya berkacamata.
"Juga sangat cantik." Pria muda di sampingnya menambahi.
"Lembut dan bersahaja." Wanita diantara keduanya, mengutarakan kesannya pada Azzalea.
Serentak ketiganya menganggukkan kepala, karena memiliki penilaian yang sama pada wanita di depan mereka.
Akhirnya, kedua perusahaan mencapai kesepakatan kerjasama. Kontrak kerjapun telah ditanda tangani oleh keduanya.
"Good job, Azza." Pria berkemeja kotak-kotak, memujinya.
Gadis cantik itu tersenyum, menerima pujian dari atasannya.
Seorang wanita berambut pirang, duduk disalah satu sudut ruangan. Menatap dengan tajam ke wanita yang ada di depan. dia sangat membenci gadis itu.
Langkahnya merasa terhalangi dengan kehadiran Azzalea, masuk ke perusahaan. Dia berpikir semua keberuntungan menjauh darinya, sejak kehadiran gadis itu.
Suatu saat, aku akan membuatmu terjatuh.
Pikiran jahat, begitu saja melintas di pikirannya. Menyusup dengan halus ke dalam hatinya.
Benih racun, mulai bersemi. Signal kebencian yang terpancar, ditangkap oleh otaknya. Beberapa rencana jahat mulai bermunculan di pikirannya.
"Jangan dengki, Neng." Kursi di sebelahnya menasehati.
"Hatinya mulai beracun." Meja menimpali.
Ekspresi wajah gadis itu berubah manis, saat Azzalea menghampirinya.
"Bermuka dua." Meja memberikan penilaian.
"Nanti juga, akan ketahuan." Kursi memberikan prediksinya.
"Habis ini, kita makan bareng yuk, Len." Ajak Azalea pada Selena.
"Maaf, Azza. Aku ada janji dengan teman-temanku. Next time, ya." Jawabnya, berdusta.
"Yaudah, lain kali aku traktir ya."
"Okey. Gue duluan ya." Selena memasukkan peralatannya, ke dalam tas. Beranjak dari duduknya, meninggalkan Azzalea sendirian, yang masih berdiri terpaku di tempatnya. Ada apa dengannya?. Batinnya
Sudah waktunya ashar, pikirnya sambil melihat jam tangan. Dia bergegas ke mushola, melaksanakan shalat ashar.
"Sungguh, gadis yang taat." Sajadah memuji, ketika melihat wajah cantik dihadapannya.
Sementara Selena yang berjalan di samping jalan raya. Menghubungi beberapa temannya, mengajak bertemu di sebuah club. Gadis itu berjalan dengan wajah kesal.
Azzaleaaaa.....mulutnya berteriak keras.
Beberapa pejalan kaki, menatapnya. Dia semakin kesal.
"Apa?" Tanyanya dengan nada kesal pada wanita bertubuh kurus yang berjalan di dekatnya. Gadis kurus itu berjalan menghindarinya. Khawatir menjadi sasaran kemarahan. Beberapa tanaman hias di tepi jalan mengelus dada.
__ADS_1