Jejak Cinta Azzalea

Jejak Cinta Azzalea
Bab 6. Menjaganya.


__ADS_3

Apa, yang akan kamu lakukan, ketika pertama kali bertemu dengan seseorang. Hatimu langsung memilihnya?


Gadis semampai, mengenakan gaun senada dengan warna kulitnya, mondar-mandir di sekitar lokasi pesta, yang baru saja usai.


Ekspresi wajahnya, menunjukkan kekhawatiran. Hingga tamu terakhir keluar dari ruangan, sosok yang dicarinya, belum juga diketemukan.


Dimana, kamu, Azza?


Gadis itu, menggigit bibir bawahnya, berusaha menenangkan diri. Berharap, wanita yang dicarinya, segera datang.


Hotel megah itu, sepertinya tak pernah lekang dari pengunjung. Beberapa belboy sibuk dengan barang bawaannya. Melintas tak jauh dari hadapannya.


Resepsionis, yang bertugas sebelumnya, di gantikan dengan wanita cantik, yang selalu tersenyum ramah, saat memberikan layanan.


Sejauh mata memandang, hotel Ritz Cartlon, benar-benar menawarkan kenyamanan dan ketenangan bagi pengunjung yang datang.


"Udah, ketemu?" Suara pria, terdengar sangat dekat dengannya. Matanya, mencari pemilik suara.


Lelaki blasteran, menghampirinya. Dia mengingatnya. Pria itu, salah satu orang, yang ditemuinya, di lobby utama.


"Belum, bahkan HP nya juga, tidak aktif."


"Udah, coba menghubungi, keluarganya?. Barangkali, teman anda, sudah pulang duluan." Lelaki itu, mencoba memberi saran.


"Keluarganya, ada di luar kota. Mustahil, kalau dia memutuskan, meninggalkanku sendirian, tanpa alasan."


Pria itu mengangguk, mendengar argumen wanita, di hadapannya.


"Gimana, dengan, kamera cctv, apa sudah, di periksa?"


"Gimana, caranya?" Araina, bertanya dengan wajah polosnya.


Krisna, tersenyum. Hatinya semakin tergelitik, dengan sosok wanita di hadapannya.


"Aku, Krisna." Dia memperkenalkan diri.


Araina, terdiam sejenak, sedikit ragu menyambut tangan yang terulur, di depannya. Bagaimanapun, pria itu, masih asing, baginya.


"Araina." Akhirnya, dia memperkenalkan diri.


Lelaki itu, menggenggam erat, tangannya yang lembut.


Deg


Rasa gugup menghampirinya, saat pria tampan di hadapannya, memandang lekat wajahnya, yang bewarna merah jambu.


"Ikut, denganku. Kita cari informasi melalui rekaman, yang ada di hotel ini."


Krisna, mengajak Araina, menemui pengelola hotel. Gadis itu, berjalan di sisinya, dengan detak jantung, tak beraturan.


Keduanya, harus melewati banyak ruangan, serta turis luar negeri di sepanjang jalan. untuk sampai pada ruangan yang dituju.


Rasa cemas yang dirasakan Araina, seketika berjatuhan di lantai, karena bantuan yang ditawarkan pria di sampingnya.


***


Jalanan semakin sepi, hanya satu dua mobil pribadi melintas. Beberapa ojek online masih terlihat ngetem di tempatnya, menunggu orderan.


Langit semakin gelap, di kejauhan bintang kejora menampakkan sinarnya. Seekor burung raksasa melintas di angkasa, membawa ribuan penumpang.


Selena, menumpahkan rasa senangnya, bersama temannya, di sebuah club malam.


"Puas, gue. Kali ini, loe pasti habis, perempuan udik."

__ADS_1


Dia meracau, sambil meneguk wine nya, yang tinggal setengah.


"Kali ini, siapa yang loe, habisin?" Tanya salah satu gadis, setengah berteriak, mengimbangi kerasnya musik yang berjalan.


"Itu, perempuan udik, yang selalu buat gue, dipandang sebelah mata, di kantor."


"Emang loe, aja kali, yang gak mampu." Perempuan di seberangnya, bersuara.


"Maksud loe, gue, loser?" Dia bertanya, dengan perasaan tidak senang.


Nyali, wanita itu mendadak menciut. Dia kudu menyelamatkan diri, dari amukan wanita iblis itu.


"Loe, salah dengar, maksud gue, si gadis udik. Kalau loe, pasti keren. Tak seorangpun, bisa menandingi." Ucap, gadis penjilat.


"Itu, baru bener!" Selena, merasa puas. Tangannya terjulur ke depan mengajak tos.


"Tiiing...."


"Wkwkwkwk" Ketiganya tertawa lepas.


Bartender, di balik meja, menggelengkan kepala, melihat tingkah, tiga wanita muda, di hadapannya.


Dasar, wanita labil!


Semakin malam, pengunjung semakin membludak. Ruang VIP, dipenuhi beberapa pengusaha bertransaksi bisnis.


Pria dan wanita, terlihat menikmati musik, dengan bergoyang di lantai dansa.


***


Sementara, di salah satu kamar, hotel Ritz Carlton.


"Hiks hiks hiks"


Pria muda itu, menghentikan aktifitasnya, beranjak, mendekati ranjang, memperhatikan wajah yang terlihat menderita.


Lelaki itu, menarik kursi, lebih mendekat, dengan gadis yang sedang terbaring.


Dia, membasahi handuk kecil dengan air hangat, menyapu peluh, di dahi gadis itu, dengan penuh kasih sayang.


Tubuh gadis itu bergerak, menghadap ke arahnya. Tangan lembut wanita itu, meraih lengannya.


Darahnya mengalir cepat, ke jantungnya. Sentuhan itu, menghantarkan aliran listrik pada tubuhnya. Seketika keinginan liar, bergejolak dalam dirinya.


Kuatkan, hatimu. Gadis itu harus kamu jaga. malaikat menasehati.


Dia menekan, hasrat kelelakiannya, yang bangkit. Sentuhan lembut di kulitnya barusan, hampir saja, merobohkan pertahanan dirinya.


Tangan kanannya, terperangkap dalam pelukan. Tangan kirinya, terus membasuh peluh, wajah cantik, yang mulai tenang, dalam tidurnya.


Tangisan, wanita itupun berhenti. Dalam mimpi, gadis itu melihat lelaki tampan, mengulurkan tangan, padanya. Mendekapnya penuh kehangatan.


Rasa sakit yang menghunjam di dalam hatinya, perlahan menghilang, oleh perasaan tenang, yang diberikan oleh pria yang memeluknya.


Tidurlah, dengan tenang!


Azka meletakkan badannya di tepi ranjang, ketika rasa kantuk menyerangnya. Dia tertidur, dengan lengan kanan masih dalam lilitan, gadis itu.


Malam berlalu dengan damai. Sepasang insan, terlelap dalam mimpi indah yang berbeda.


Gaun berwarna gold, tergantung, di sudut kamar. Hand bag berwarna merah bata, dengan sepatu senada, berada di dekatnya.


Gaun hasil rancangan, disainer terkenal, cuy! Seekor cicak mengamati benda di hadapannya.

__ADS_1


Tubuh di bawah selimut, bergerak. Azzalea perlahan membuka matanya, melihat dinding kamar yang terasa asing baginya.


Hidungnya, mencium aroma lezat masakan, di atas meja. Seketika cacing di perutnya merontah-rontah, minta dipenuhi.


"Sudah, bangun." Suara bariton, berasal dari pria yang baru saja keluar dari kamar mandi, mengejutkannya.


"Kamu, siapa?. Mengapa, aku bisa di sini?" Gadis itu bertanya, sambil menarik selimut, menutupi hampir seluruh tubuhnya. Kewaspadaannya meningkat.


"Pergi, bersihkan tubuhmu. Setelah itu, baru bicara." Azka, memberi saran. Dia menghempaskan tubuh, di sofa, memeriksa gawainya.


Pria itu, mengenakan kaos berwarna putih, membuatnya terlihat semakin mempesona.


"Pakaian, dan perlengkapannya, sudah disiapkan, sesuai dengan ukuran tubuhmu."


Pria itu, menjelaskan, saat melihat wanita di atas kasur, celingukkan ke sana ke mari. Seperti mencari sesuatu.


"Semua barangmu, ikut terjatuh, saat kamu tenggelam, di kolam renang. Sepertinya, kamu harus membeli hand phone baru." Lelaki itu, melanjutkan.


Azka, berbicara tanpa melihat wanita, di bawah selimut putih, yang menatapnya, dengan kebingungan.


Sang gadis, terdiam sesaat. Mencoba mengingat semua kejadian yang menimpahnya, saat berada di tepi kolam. Seketika, tubuhnya gemetaran.


Pria inikah, yang, menyelamatkanku?


"Mau mandi sendiri, atau aku yang mandikan?"


Pria itu berusaha menggoda, saat melihat wanita di hadapannya, tidak juga bergerak dari tempatnya.


"Dasar, pria mesum." Gadis itu, bergumam, dengan suara hampir tak terdengar.


Dia mendaratkan kedua kakinya, di lantai. Setengah berlari menuju toilet, membersihkan dirinya.


Pria di atas sofa, tersenyum. Hatinya mulai terbiasa dengan kehadiran wanita itu di dekatnya.


Gawainya memanggil, nama adiknya tertera di layar. Jemarinya, bergerak lincah, menjawab panggilan masuk.


"Kak, besok aku nyampek, Jakarta." Wanita di seberang, bersuara.


Annisa, adik perempuan Azka, satu-satunya. Tinggal di Paris, meneruskan sekolah, disain. Kali ini, gadis itu kembali, karena merindukan keluarganya.


"Aku tinggal, dengan Kak Azka, ya!" rengeknya manja.


"Mang Kardi, akan menjemputmu." Pemuda itu, menutup telponnya.


Pandangannya tertuju, pada wanita yang baru saja keluar dari toilet. Gaun berwarna gold, terlihat menyatu dengan kulitnya yang bersih.


Rambut panjang, setengah basah, tergerai indah di punggungnya. Ekspresinya yang lembut, dan keibuan, memberikan kedamaian di hati, Azka.


"Kita sarapan!" Ajaknya, menghalau keinginan dirinya, untuk meraih tubuh lembut itu, dalam dekapannya.


Gadis itu patuh, mengikuti Azka menuju meja kecil, di tengah ruangan, dengan beberapa makanan lezat, terhidang di sana.


"Setelah makan, aku antar, Kamu."


"Uhuk"


Gadis di hadapannya, tersedak. Terkejut dengan apa yang telah di dengarnya.


"Enggak perlu, aku akan naik taxi." Tolak gadis itu.


" Aku, engga suka penolakan." Ujar pria itu, dengan wajah datar.


Gadis di hadapannya, tak bersuara. Tingkahnya serba salah, menghadapi lelaki di depannya.

__ADS_1


Lelaki, arogan!


__ADS_2