
Mencintai artinya menempatkan diri kita, menjadi orang yang tepat, untuk pasangan kita, dan membuatnya bahagia.
Seketika suasana hening, imbas umpatan gadis itu. Pria dengan kemeja kotak-kotak, menatap tajam, wanita di hadapannya.
"Jaga, mulut loe." Ancamnya, dengan mengacungkan jari telunjuk, ke wajah perempuan itu.
Keributan, memancing perhatian. Sebagian tamu restoran, dan scurity, turut ambil bagian
"Ada, apa?" tanya scurity, dengan tampang galak.
Beberapa pasang mata, saling menatap, berbisik, lalu mulai mengukir cerita.
Dirga, yang enggan cari perhatian, langsung hengkang. Sementara wanita berambut merah, masih menjadi pusat perhatian.
"Ada apa, rame-rame?" Manager resto, hadir mengusir kerumunan. Dua gadis dengan tangan, penuh belanjaan, menghampiri Selena.
"Kenapa, Len?" Perempuan dengan maskara tebal di matanya, mengajukan pertanyaan.
"Kita cabut. Entar gue ceritain."
Perempuan itu, mengajak kedua sahabatnya, meninggalkan restoran. Menyisahkan sepasang mata, mengawasi mereka, dari kejauhan.
Di dalam resto, Azzalea tersenyum puas dan merasa bersyukur, dengan hidangan lezat, yang baru saja disantap.
"Kamu suka?" Lelaki di hadapannya, memecah suasana.
Dara cantik, dihadapannya mengangguk, dengan senyum simpul, memunculkan lesung pipitnya.
"Terima kasih. Next time, aku yang gantian traktir."
"Kita bisa kemari lagi, lain waktu." Pria itu, memberi tawaran.
Hatinya, dipenuhi pengharapan, pada gadis, di depannya.
Pelan-pelan, asal kelakon! Tisu diatas meja memberi arahan. Memahami isi hati pemuda itu.
Dia khawatir, didahului orang. Gelas di atas meja menimpali.
Tatapan penuh kekaguman, dari beberapa pasang mata, tertuju pada keduanya.
"Gila, cantik banget." Puji perempuan di salah satu sudut restoran.
"Pria nya, tampan. Pasti nyarinya yang sepadan." Gadis lainnya memberi alasan.
"Kalau, aku perhatikan. Ceweknya, bukan hanya cantik fisik, tapi sifatnya juga, oke."
Perempuan dengan tangan, memegang minumannya, ikut nimbrung. Sebelum menyeruput juice nya.
Gawai Azka, bergetar, minta diperhatikan. Pria itu meraihnya, ibu jarinya menggeser layar.
"Kak. Aku udah di apartemen. Kakak, dimana?" Suara manja, seorang perempuan langsung terdengar.
"Tunggulah, istirahat dulu. Sebentar lagi, aku pulang." Jawab Azka dengan ekspresi datar, lalu menutup hand phonenya.
"Kita pulang." Ajaknya pada gadis di depannya.
Keduanya meninggalkan mall, dengan perasaan yang berbeda, menyusup ke relung hati keduanya.
Hari menjelang senja, warna langit sekuning telur dadar yang baru saja matang.
Setelah kembali dari rumah, Azzalea. Pemuda dengan tubuh tinggi itu, menjalankan mobilnya menuju apartemennya.
Begitu kakinya memasuki kediamannya, seorang wanita cantik menyambutnya.
"Kak Azka, kemana aja?" Tanyanya manja.
"Berapa lama tinggal di Jakarta?" Pria itu balik bertanya, sambil menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Gadis dengan celana pendek, menutup setengah pahanya yang mulus, menyusulnya. Duduk di sampingnya, menempel seperti lem.
"Kak Azka, gak suka ya, Nisa tinggal di sini?"
Perempuan itu bertanya, dengan kedua tangan mulai bergelayut manja di bahu pria itu. Jarak wajah keduanya sepuluh centi.
"Sebaiknya kamu, tinggal di villa. Ada Mba Imah dan lainnya yang akan menyiapkan, semua kebutuhanmu."
Ujarnya sambil menjauh dari tubuh wanita di sampingnya. Perasaan jijik menghampirinya.
Seseorang menekan password pintu apartemen. Beberapa saat kemudian, Krisna muncul setelah pintu terbuka.
Dua pasang mata tertuju padanya. Dia menyapa wanita yang dikenalnya sebagai adik angkat, Azka.
"Hai, Nisa. Apa kabar?"
Wanita di sofa hanya menganggukkan kepala. Merasa kesal, karena terganggu dengan kehadirannya.
"Berkemaslah! Krisna akan mengantarmu ke villa." Perintah Azka.
Wanita di sampingnya, menundukkan kepala. Merasa usahanya mendekati pria tampan di sisinya, menemui jalan buntu.
"Berkemaslah! Krisna, enggak punya banyak waktu."
Perintahnya kembali dengan suara naik satu oktaf.
Gadis itu bergerak kasar dari tempat duduknya. Pergi dengan menghentakkan kedua kaki, bibir membentuk kerucut.
"Bro, ada klien. Minta ketemu di club."
__ADS_1
Krisna bersuara, saat Nisa sudah menghilang, di balik kamar. Dia mengambil duduk, di depan Azka.
"Mesti, di sana ya?"
"Infonya, pemilik club, adalah temannya. Jadi sekalian mau reunian"
"Tapi, loe harus nyusul."
Krisna menyetujui dengan gerakan tangan, dan kedipan sebelah mata.
Anisa, keluar dari kamar, dengan koper dan tas selempang menyilang di tubuhnya.
"Sini, gue bantu!" Krisna menghampiri, bermaksud meraih kopernya.
"Enggak butuh." Ujar gadis itu, angkuh.
Krisna mengangkat kedua bahunya, alisnya meninggi, senyum tipis mengembang di wajahnya.Terbiasa dengan adat wanita itu.
Azka, mengantar keduanya hingga sampai di bibir apartemen.
"Baik-baik selama di Jakarta." Pesannya pada adiknya, sebelum menutup pintu.
Lelaki tampan itu melangkah ke kamarnya, membuka semua pakaiannya, lalu membersihkan dirinya.
Setelah sholat maghrib, dia menuju club, di mana kliennya menunggu.
***
Di rumah Araina, tiga dara duduk santai di teras rumah, dengan minuman segar dan makanan ringan terhidang di atas meja.
"Jadi, loe terima memo, dari gue?" Raina bertanya pada gadis dengan rambut panjang sepinggang.
Wanita itu, mengangguk pelan. Ekspresi wajah bingung, dengan mata menatap lurus gadis di depannya.
"Gue, malah kehilangan loe, Azza." Wanita itu menatap lekat sahabatnya, otaknya terus berputar.
"Sepertinya, ada yang punya niat jahat, sama loe." Neysa yang pendiam, menganalisa.
"Siapa?" Tanya Azzalea, dengan tampang polosnya.
"Enggak ada yang tau pasti, sepertinya pelaku menganggap dirimu, sebagai ancaman baginya." Raina, memberikan tebakannya.
"Atau, yang pernah loe sakiti." Neysa menambahkan.
"Bersyukurnya, dewa penolong datang. Siapa, namanya?"
"Azka. Dia yang pernah gue tolong, saat enam bulan lalu, dia kecelakaan."
Jawab Azza, dengan wajah merah, semerah buah rambutan.
"Dibelikan handphone, ditraktir makan. Mujur banget loe." Raina menggoda sahabatnya.
"Ha ha ha." Suasana ramai, dengan derai tawa.
"Rame banget." Wanita bersongkok, yang baru saja memasuki halaman rumah, bersuara.
Seketika, gelak tawa ketiganya meredah.
"Lanjutkan." Ujar wanita itu sambil melangkah masuk ke ruang tamu, setelah dipersilahkan, oleh suara yang terdengar dari dalam.
"Siapa?" Tanya Azzalea dan Neysa berbarengan.
" Tukang pijat. Mama gue tadi, terjatuh."
"Ohh.." Dua mulut setengah terbuka, kemudian melanjutkan cerita.
"Azza, mungkin pria itu jodoh, loe." Neysa nyeletuk.
Araina membenarkan dengan gerakan anggukan kepala.
"Entahlah. Pria sempurna sepertinya, sulit dijaga." Ujar gadis itu.
"Enggak perlu dijaga. Kalau hatinya memilihmu, semuanya akan lancar." Neysa memberikan pandangan.
"Tapi aku, takut. Gimana kalau kejadian sebelumnya terulang. Dia memilih gue, tapi keluarganya sebaliknya, yang ada gue dihina."
"Kali ini beda orang, Azza."
"Tapi tetap saja, dia ada keluarga, Ney."
"Jalani aja, dulu." Sela Raina.
"Benar, toh baru ketemu pertama. Pria itu juga, belum menyampaikan apapun. Siapa tahu, dia hanya membalas budi, karena pernah diselamatkan sebelumnya."
Neysa menambahkan. Dua wanita dihadapannya, turut membenarkan pendapatnya.
***
Sementara di sebuah club, Selena sedang menikmati wine nya, kemampuan minumnya luar biasa.
"Gue ke toilet dulu."
Ujar gadis dengan pakaian menggoda itu, pada dua sahabatnya.
"Mau di temanin?" Tanya salah satu wanita, karena melihat Selena yang berdiri sempoyongan.
"Enggak usah." Ujarnya sambil berjalan tertatih menuju toilet.
__ADS_1
Seorang pria melihatnya dari salah satu sudut club, kemudian menyelinap menyusulnya.
Malam ini, pengunjung tidak seramai biasanya. Karena besok, adalah hari kerja.
Selena memasuki, toilet yang terlihat sepi. Baru saja kakinya melangkah ke salah satu bilik, seseorang mendorongnya.
Bruuuk
"Aaww..." Jeritnya saat tubuhnya terdorong ke dinding yang dingin.
Sosok pria dengan kelapa lincin muncul di hadapannya. Dengan tubuh berjarak satu centi meter.
"Sialan..." Umpatnya.
Tangannya mendorong lelaki itu, Tenaganya lemah, sehingga sosok di hadapannya, tidak bergerak, sedikitpun.
" Ingat, gue?" Tanya pemuda itu. Sambil tangannya mulai melecehkan.
Selena yang setengah sadar, merasakan
ketidaknyaman. Berusaha melepaskan diri.
Lelaki itu mulai menggerayangi tubuhnya. Dengan kasar meraih bagian-bagian tubuhnya yang tersembunyi, meninggalkan rasa sakit.
Perasaan jijik menghampiri. Kemarahan memberikan kekuatan. Dengan sekuat tenaga, ujung tumitnya menghantam kaki pria itu.
"Aaarrgh.."
Lelaki dengan kemeja biru itu mengerang. Tangannya menjambak rambut, wanita di hadapannya.
"Aawww.."
Wanita itu, menjerit kesakitan, Rasa sakit di kepalanya menderah. Kaki kanannya bergerak cepat, mengarah diantara kedua paha, pria itu.
Dug
Sang pria meraung kesakitan, seluruh jiwanya hampir terbang, karena hantaman keras pada benda berharga miliknya.
Genggaman tangannya pada rambut Selena, melemah, tubuhnya membungkuk di lantai, menahan kesakitan.
Perempuan itu, berlari keluar dari toilet. Meninggalkan Dirga, yang masih menahan penderitaan.
Pengaruh wine, dan rasa takut yang
dialaminya, membuat langkah Selena tak tentu arah. Dia hampir kehilangan kesadaran, dan teduduk di lantai.
Dua pria tampan keluar dari ruang VIP. Keduanya melihat wanita dengan penampilan kacau.
Rambut acak-acakan, pakaian setengah terbuka, menampakkan bagian tubuhnya yang menonjol, kedua mata hitam. Sungguh mengenaskan.
Kedua lelaki, saling pandang, sejenak bingung dengan apa yang hendak dilakukan.
Azka, melepas sweaternya, menutupi sebagian tubuh wanita yang terbuka.
"Bantu dia!" Ujarnya pada Krisna.
Lelaki di sampingnya mengangkat kedua bahunya, meninggikan alisnya, seakan enggan memberikan bantuan.
"Bayangkan, kalau hal yang sama menimpah, adik perempuanmu!" Azka melanjutkan ucapannya.
"Gua bawa dia ke mana?" Akhirnya Krisna menyerah.
"Terserah, loe. Asal jangan bawah ke rumah." Azka menyeringai, menggoda asistennya.
Huuuuekkk
Tetiba wanita itu memuntahkan minuman beracun, yang telah masuk dalam perutnya. Sejenak membuat Krisna, menghentikan langkahnya.
"Ha ha ha" Azka tertawa melihat reaksi sahabatnya.
"Sudahlah, sewa satu kamar hotel. Biarkan wanita itu istirahat di sana." Sarannya.
"Kita berdua, ya bro. Biar gue gak dikira menyiksa anak gadis orang." Pintanya memelas.
Pria di belakangnya mengangguk.Krisna merasa lega, membuatnya yakin untuk menolong perempuan yang bersandar di dinding.
Lima belas menit kemudian, ketiganya berada dalam mobil mewah, yang melaju di jalan raya.
Krisna mengemudikan mobilnya menuju, salah satu hotel terdekat. Wanita di sampingnya membuka mata.
" Gue mau di bawa, ke mana?" Tanyanya dengan suara parau.
Lelaki di belakang kemudi, melirik wanita di sampingnya dengan ekor matanya.
"Udah sadar?" Dia balik bertanya. Pria di kursi belakang hanya diam, menyimak.
"Gue, mau di bawa kemana?" Wanita itu mengulang pertanyaannya, dengan suara naik dua oktaf.
"Mau di buang ke laut." Krisna mendengus kesal, karena kekasaran wanita di sampingnya.
"Nona, mau di antar ke mana?" Pria di belakang bersuara.
Selena mencari pemilik suara. Matanya terkesima, dengan aura bintang pria yang duduk, di kursi belakang.
"Anda, siapa?" Tanyanya sambil membalikkan setengah tubuh ke belakang.
Gerakannya semakin menarik gaunnya hingga ke pangkal pahanya.
__ADS_1
Krisna, merasa mau muntah dengan sikap, perempuan yang tak dikenalnya itu.
Dasar, ganjen!