Jejak Cinta Azzalea

Jejak Cinta Azzalea
Bab 9. Obsesi Selena 2


__ADS_3

Malam semakin larut, diiringi rintik hujan, bercampur angin kencang menyapu debu di sepanjang jalan.


Setelah sholat isya, Azzalea terbaring di atas ranjang, menatap langit-langit kamar. Pikirannya dipenuhi pertanyaan.


Siapa sebenarnya, pria itu?


Mungkinkah, dia lelaki yang di kirim Allah, untuk menjadi imamku?


Suara tangisan bayi tetangga, menyadarkan gadis itu, kembali pada logikanya.


Senyum tipis mengembang di bibir lembutnya, mengingat pikirannya baru saja kembali dari mengembara.


Tidurlah! Besok harus bangun pagi. Bantal dan guling mengajak, gadis itu memejamkan mata.


Di tempat lain, mobil yang dikendarai Krisna, memasuki komplek perumahan mewah.


"Rumah no 9, pagar hitam." Selena, memberi arahan.


Mobil mewah, berhenti tepat di depan rumah yang dimaksud wanita itu. Gonggongan anjing, menyalak galak, menyambut mereka.


Pagar tinggi bergerak otomatis, seorang pria setengah baya, tergopoh menyambut kedatangan sang majikan.


"Mau mampir?" Tawar gadis itu, sambil membuka safety beltnya.


"Kami langsung, balik. Besok, masih harus ngantor."


Krisna menekan tombol otomatis, mempersilahkan, perempuan itu segera keluar.


"Kamu, asisten pribadi Presdir. Perusahaan kontruksi? Ehm, yang datang khusus untuk mengundang karyawan, ke pesta perusahaan, saat itu?" Tanyanya.


Sejenak, perempuan itu, terdiam, sesuatu melintas di pikirannya.


"Dan, Presdir itu, adalaaaahh.....Anda?" Dia bertanya dengan suara penuh kegembiraan.


Tubuhnya memutar ke belakang, mengamati pria tampan, yang duduk anteng di kursinya.


"Turun!" Krisna memerintah dengan suara naik setengah oktaf.


Gadis bergaun rendah, malah cengengesan. Dengan berani menginvasi wajah tampan di hadapannya.


Pintu di sampingnya terbuka, Krisna berdiri mempersilahkan keluar, dengan gerakan tangan.


"Oke....Jangan begitu sama wanita! Entar enggak ada yang mau, baru tau rasa!"


Wanita dengan kaki panjang itu, menyumpahi pria di depannya.


"Enggak ngaruh. Cepetan keluar!"


Krisna, habis kesabaran. Hampir saja dia bertindak kasar, kalau saja Selena masih terbuai dengan keterpanaannya.


"Daaaahh..."


Ujar gadis itu, sambil melambaikan tangannya, pada dua pria di belakangnya.


"Gadis gila...." Krisna mengumpat, saat sudah kembali ke mobilnya.


"Sekarang, bilang wanita itu, gila. Bentar lagi, bilang suka." Azka menggodanya.


"Eits, enggak mungkin. Gue udah menemukan, bidadari kecilku." Krisna menyangkal.


Ekspresi wajah Azka berubah datar. Senyumnya menghilang, kegelisahan mulai menghantuinya.


Apakah yang dimaksud Krisna, adalah Azzalea? Wanita yang telah merebut hatinya?


"Siapa, gadis yang beruntung itu?"


Tanya Azka, tanpa bisa menutupi, rasa penasaran di dalam jiwanya.


Duh, cogan cemburu. Spion depan mengamati wajah, Azka.


Tenang aja! Sepertinya, bukan wanita yang sama.


"Surprise! Entar gue kenalin." Krisna tersenyum, dengan ekspresi penuh rahasia.


Haruskah, aku mengalah?


Hatiku sulit tergerak oleh wanita. Hanya gadis itu satu-satunya.


"Besok, loe ada janji makan siang, dengan klien dari Malaysia."


Pemuda dengan kemeja, abu-abu muda, mengingatkan atasannya. Lelaki di sampingnya hanya mengiyakan, dengan gerakan kepala.


Di rumah Selena, setelah membersihkan dirinya, gadis itu menilai dirinya di kaca. Senyum bahagia terpancar di wajah juteknya.


Tumben, biasanya natap gue dengan sadis!


Kaca mengeluh.


Pahami aja, namanya majikan. Sesukanya dia saja! Cicak tiba-tiba nongol di belakang kaca.

__ADS_1


Selena setengah membanting diri, di ranjang. Menatap langit-langit kamar dengan mata bersinar. Sejenak memandang sweater yang tergolek di sisi ranjang.


Dia harus jadi, milik gue!


Apapun caranya.


Kepenatan membuat matanya perlahan terpejam. Seluruh bagian tubuh yang lelah, beristirahat dengan damai.


***


Matahari bersinar cerah, menyapa bumi dan isinya. Angin sepoi-sepoi berlari riang. Membisikkan nada indah, membuat daun-daun berdansa.


Di salah satu gedung perusahaan, para OB dan OB lalu lalang, membersihkan lobby perusahaan.


Beberapa karyawan, berjalan tergesah, ingin tiba tepat waktu, dari atasan dan karyawan lainnya.


"Pagi semua..." Selena menyapa seluruh ruangan, dengan senyum merekah.


Sikap tak biasanya, menuai tanya, dan kicauan pendek dari karyawan lainnya.


"Kenapa, dia? Enggak biasanya ramah?" Karyawan berbaju coklat bicara.


"Lagi senang, hatinya." Gadis berbaju ungu ikut bersuara.


"Barangkali, baru punya pacar." Wanita dengan map di tangan, juga bersuara.


Departeman disain, di huni kebanyakan oleh kaum wanita, satu-satunya pria di sana, hanya Bram yang bertugas sebagai manager.


Selena tiba di meja kerjanya. Mood nya berubah drastis, saat melihat Azzalea duduk cantik di tempatnya. Tepat di depannya.


Dara cantik, dengan blus pink melekat di tubuhnya, sedang menunduk, tak melihat kehadirannya. Membuat tensinya tinggi.


Kurang ajar


Wanita berambut merah itu, menghampiri Azzalea.


"Pagi Azza." Sapanya ramah.


"Pagi juga. Maaf, aku enggak nyadar, kamu sudah datang."


Gadis itu mendongak, menampakkan ekspresi bersalah. Di mejanya terlihat sebuah disain yang belum rampung.


Hati-hati dengan ular berbisa! keyboardnya bersuara.


Azza, gadis baik. Pastinya Allah alan melindungi. Pulpen di atas meja ikut bicara.


Tapi tetap harus menjaga diri. 'Kan manusia diminta tetap berusaha. Keyboard menimpali.


"Pak Bram, minta beberapa disain. Infonya Presdir, pagi ini melakukan kunjungan. Sekalian ketemu departemen disain."


Gadis polos itu menjelaskan. Tisu di atas meja menepuk jidatnya.


Jujur banget, Neng!


"Serius, loe Za?"


Selena bertanya dengan antusias. Gadis di depannya menganggukkan kepala.


"Oke, thanks infonya ya."


Gadis jutek itu terlihat sumringah. Lalu kembali ke meja kerjanya. Tangannya meraih kaca, membenahi make up di wajahnya.


Dara berbaju ungu meneruskan pekerjaannya. Gesturenya serius, jemarinya lincah menari di atas kertas.


"Bersiaplah! Sepuluh menit lagi, Presdir datang."


Perintah, Bram begitu masuk ke ruangan. Seketika kepanikan melanda.


Sebagian berherak cepat, merapikan meja kerjanya. Lainnya sibuk membenarkan make up, agar terlihat cantik di depan Predirnya.


"Kabar yang beredar, bos kita, masih bujangan." Celetuk gadis berponi.


"Sangat tampan, tapi berhati dingin." Gadis lainnya menimpali.


Bram, menghampiri meja Azzalea. Gadis itu fokus pada disainnya. Jemarinya memberikan sentuhan akhir di sana.


"Gimana, Azza. Sudah kelar semua?"


"Huuuh...."Gadis itu menghembuskan napas legah.


Bram melihat, hasil kerjanya. Senyum puas tergambar di wajahnya.


"Kamu, memang bisa diandalkan. Keren ini, Presdir pasti suka."


Pujinya sambil memasukkan, disain tersebut dalam sebuah map berwarna gold.


"Terima kasih, Azza. Saya sangat terbantu dengan adanya kamu, di departemen ini."


"Terima kasih, untuk kepercayaan yang telah, Bapak berikan pada saya."

__ADS_1


Walau banyak mendapatkan pujian dari rekan dan atasan, gadis itu tetap merendah. Kelebihannya adalah anugerah dari Sang Pencipta.


Suasana senyap, saat terdengar derap langkah memasuki ruangan. Bram menyambut dua pria yang datang.


Azka berjalan mengitari ruangan, dengan Krisna dan Bram berjalan di kedua sisinya. Mata coklatnya menginvasi.


Langkahnya terhenti di meja Azzalea. Gadis di depannya, menghindari tatapannya. Jemarinya saling meremas, menghilangkan kegugupan.


"Namanya Azzalea, Presdir. Salah satu disainer andalan perusahaan." Bram memperkenalkan.


"Selamat pagi, Presdir. Senang melihat Bapak berkunjung ke ruangan kami."


Dara itu menyapa, dengan suara dibuat setenang mungkin.


"Terima kasih." Lanjutnya.


Pria dengan jas berwarna abu-abu gelap itu, menganggukkan kepala. Sebuah ide muncul di pikirannya.


"Kalau begitu, Nona Azza harus membantu saya, mempresentasikan hasil disain ini, pada klien."


Mata gadis itu melebar, mulut setengah terbuka. Wajahnya pucat seketika. Azka menikmati ekspresi wanita di depannya.


Azzalea, terdiam. Otaknya kosong. Mulutnya terkunci, tak bersuara.


Beberapa pasang mata, memberikan pujian. Berbeda dengan Selena, amarahnya memuncak, hatinya dirasuki kedengkian.


"Baik Presdir." Bram, menjawab sopan.


Sementara Krisna mengukir senyum tipis di wajahnya. Memahami cara jitu pria di sampingnya, mengejar gadis itu.


"Oke...semuanya. Terima kasih untuk kerja kerasnya selama ini. Hasil disain kalian luar biasa, cukup diperhitungkan oleh lawan.


Kedepannya, perusahaan akan mengirim karyawan yang berprestasi, ke Paris. Belajar disain lebih dalam lagi.


Jadi, berjuanglah! Agar kamu yang terpilih!"


Tepuk tangan menggemah memenuhi ruangan. Pria bardarah campuran itu, melihat gadis berbaju ungu dengan ekor matanya.


Sangat menarik


"Silahkan kembali bekerja! Jaga kesehatan! Keep spirit!"


Lelaki itu meninggalkan ruangan, dengan hati dipenuhi kuncup bunga bermekaran.


"Selamat ya Azza. Presdir memilihmu." Ujar gadis di sebelahnya.


Azzalea, memberikan senyuman dan anggukan kepalanya. Hatinya seakan tak percaya, dengan fakta yang terjadi barusan.


"Terima kasih" Balasnya dengan suara turun satu oktaf.


Karyawan lainnya mendatangi mejanya, menyampaikan pujian yang sama.


***


"Loe tau, siapa gadis itu?" Tanya Krisna saat keduanya berada dalam mobil, menuju kantor pusat.


Azka menganggukkan kepala. Setengah jiwanya masih tertinggal, pada gadis itu. Senyum bahagia terpancar di wajahnya yang tampan.


"Gadis itu, yang bantu dirimu, saat kecelakaan." Lanjut Krisna.


"Gue tau! Saat pesta perusahaan, seseorang berniat, mencelakainya. Bersyukur, saat itu, gue ada di sana."


"Jodoh, atuh, Den." Mang Kardi, angkat bicara."


Pria paruh baya itu, merasakan bahagia, kalau majikannya bahagia. Dia ingin, Azka kembali ceria seperti masa kecilnya.


"Sepertinya, gue kudu sabar. Gadis itu berbeda dari wanita lainnya." Pria itu sedikit mengeluh.


"Berarti, bidadari kecil gue, sahabatnya gadis itu! Kebetulan sekali." Krisna tampak tak percaya.


[Kak Azka, ajak Nisa jalan-jalan! Bosan di rumah terus] Pesan Nisa, masuk ke gawai, Azka.


[Hari ini sibuk! Besok, di usahakan] Azka, menjawab pesan, adiknya.


Sementara, di villa, Anissa melempar gawainya ke ranjang.


"Selalu aja sibuk!" Dia menggerutu.


Sejenak dia terdiam, kebosanan membuat otaknya jenuh, dia meraih hand phonenya. menghubungi salah satu sahabatnya.


"Len, ini gue, Nisa. Gue lagi di Jakarta." Ujar Gadis itu, saat panggilannya tersambung.


"Ketemuan, yuk." Ajak wanita di seberang.


"Di mana?"


"Di club biasa."


"Oke. Sampai jumpa."

__ADS_1


Anissa menutup telponnya. Dia melangkah menuju lemari, di mana beberapa pakaian mewah tergantung di sana.


Kalau dengan cara ini, aku bisa mencari perhatian, Kak Azka. Maka akan aku lakukan.


__ADS_2