
Pagi itu, tepat hari jadi Azzalea yang ke-25. Semburat cahaya kuning dari timur memancarkan aura kuning.
Tangan putih, menyirami tanaman hias, yang bermekaran, di halaman rumah. Seekor kucing, berlari ketakutan, terkena cipratan air.
Maaf, enggak lihat, ada kamu di sana.
Wanita itu, menatap hewan manja berwarna putih, dengan penuh rasa sesal. Sepasang mata kekuningan, menelisik wajah cantik di kejauhan.
Gadis itu, enggak sengaja. Seekor nyamuk melintas di depan kucing.
Tatapan penuh kasih, mengubah mood hewan yang di landa kesal, kembali seperti semula.
Nah, gitu dong! Ulat merambat di dedaunan, memuji hewan jinak itu.
Mobil HRV berwarna hitam, berhenti tepat di depan rumah. Dua gadis cantik muncul di sana.
"Rainaaa!....Neysaaaa!..."
Teriak Azzalea melompat kegirangan, seperti anak kecil baru mendapatkan mainan.
"Kejutaaaan...."
Dua wanita dengan pakaian casual, serempak menjawab. Gadis dengan selang air di tangan, merasakan kehangatan menjalar ke hatinya. Terharu.
Walau tak satupun keluarga mengingatnya, dua sahabat serasa saudara itu, selalu menjadi pengobat kesepiannya.
"Mandilah!....Hari ini kita makan siang bareng. Dua minggu lalu, loe janjikan traktir kami makan siang."
Raina bersuara, sambil mengedipkan sebelah mata, pada gadis di sampingnya.
"Iya. Gue nagih janji, nih!"
Neysa yang biasanya enggak banyak bicara, kali ini ikut beracting.
"Tunggu ya."
Gadis dengan rambut panjang diikat ke belakang, berjalan cepat menuju toilet. Handuk dan jubah mandi berwarna senada, berada di tangan.
"Kalau, kita ajak Azka. Gimana menurutmu?"
Tetiba, ide gila muncul di kepala, gadis berambut ikal. Neysa, terdiam sejenak, memikirkan rencana Araina.
"Boleh, tapi harus disetting seperti kebetulan. Biar Azza, enggak tersinggung."
"Beres. Itu mah, gampang."
Jemari lentik, menekan sebuah nomor di layar.
Syukur, kemarin sempat tukeran nomor hand phone.
"Raina. Ada apa?"
Suara pria di seberang, menjawab panggilan. Nadanya tersirat rasa penasaran.
Gadis bermake up tipis itu, menceritakan rencananya, dengan suara pelan. Agar tak terdengar oleh pemilik rumah, bila tiba-tiba muncul, di hadapannya.
"Jam berapa?"
Lelaki di seberang, bertanya sebelum Araina, menutup telponnya.Terdengar bunyi grendel pintu toilet terbuka.
"Jam 11, ya!"
Gadis itu langsung menutup telponnya, tepat saat Azzalea, muncul di pintu. Handuk putih melilit rambutnya yang basah.
"Lama banget mandinya, Azza." Araina menutupi kegugupannya.
"Gue sekalian, keramas. Maaf ya." Azzalea pasang wajah memelas.
"Touch up ya, Azza." Neysa menggoda sahabatnya.
Ucapannya di jawab dengan senyuman, oleh gadis yang sedang memilah pakaian.
Di lapangan golf, Azka baru saja menyelesaikan permainan akhirnya.Tubuh atletis, basah oleh buliran keringat, berpadu dengan matahari pagi.Terasa segar.
Topi berwarna senada dengan sepatunya, menutupi sebagian wajahnya yang tampan.
Pria itu meraih gawainya, ibu jarinya menekan salah satu nomor di sana.
"Ya, Azka. Gue lagi main dengan kucing."
".........."
"Mau ketemu, dengan bidadari kecil?"
Sejenak, tak ada jawaban di seberang. Lelaki dengan stelan olah raga itu, menahan senyum licik di bibirnya.
__ADS_1
"Jam 10. Jemput gue di apartemen!"
Pemuda berkulit kuning langsat itu, melanjutkan. Tak menunggu respon dari Krisna, langsung menutup panggilannya.
"Lihatlah, black! Boss, selalu sesukanya. Menganggu jadwal bermain kita."
Pria berdarah arab itu, menggerutu.
Tangannya mengelus lembut kepala kucing berwarna hitam.
Bekerja dengan orang, memang begitulah. Black mencoba bersikap bijaksana.
Kucing berwarna putih melompat ke pelukan Krisna. Mendekap dada bidang. Kucing hitam bergerak menjauh. Waktu bermanjanya telah selesai.
"Sweety. Makin hari, kamu semakin cantik."
Puji pria itu, sambil memeluk erat hewan berwarna putih. Tangan kucing itu, menyentuh wajah lelaki yang memeluknya.
"Mmmuachhh... Nanti kita main lagi ya. Kak Krisna, pergi dulu."
Pria dengan kaos berwarna putih, melepas kucingnya. Hewan penurut itu menatapnya. Seakan ingin bermanja lebih lama.
Mau cari kakak ipar, buat kita. Seekor kucing berwarna abu-abu menghiburnya.
Hewan berwarna putih mengerlingkan mata, menerima dengan ikhlas, rasa tak puas yang menderanya.
Krisna bergegas membersihkan diri. Dia harus berangkat lebih cepat tiga puluh menit, bila tak ingin terjebak kemacetan.
***
Di ujung jalan di dekat rumah bercat hijau semangka. Tak jauh dari rumah Azzalea. Seorang pria mengenakan jacket kulit, berwarna hitam. Duduk di motor balapnya.
"Boss. Gadis itu, mau pergi bareng temannya."
Pria itu mengontek seseorang. Minta petunjuk pada lelaki yang di telpon.
"Pasti ada jalan. Ikuti terus." Pria di seberang memberi semangat.
Lelaki dengan helm hitam, menganggukkan kepala.
Sebenarnya gue enggak tega, euy. Cewek itu cakep banget.
Kaktus tersenyum, melihat preman berhati dangdut di hadapannya.
Lelaki berkaca mata hitam itu, menatap rumah berwarna kuning, di ujung blok. HRV mulai melaju meninggalkan komplek. Motor balap berwarna biru, bergerak membuntuti.
"Neng, bangun!"
Suara Bik Imah bergemah di telinga, gadis yang tertidur pulas, berbalut selimut tebal. Tubuh gadis itu tak bergerak.
"Neng Nisa, bangun!" Suara wanita itu, naik satu oktaf.
"Mmmm...masih ngantuk, Bik."
Gadis itu, baru tidur jam 2 malam, dengan pakaian beraroma wine. Berharap ulahnya mendapat perhatian. Namun Azka, bersikap tak peduli.
Anissa, yatim piatu, dibesarkan kakek Azka. Agar cucunya memiliki teman, bermain bersama.
Pertambahan usia, mengubah orientasi gadis itu. Dia menggenggam sebuah pengharapan, pada Azka. Ingin memilikinya.
Sebagian pria, sulit tergerak pada sembarang wanita. Azka, salah satunya. Ingatan masa lalunya, membuat hatinya sulit dijinakkan.
Wanita itu, mengambil beberapa pakaian berserak di lantai. Meninggalkan Anissa yang terlelap di ranjang.
***
Krisna tiba di lobby utama aparteman. Azka mengambil duduk di kursi depan. Pria tampan itu, mengenakan kaos berwarna coklat dan jins biru. Ekspresi wajah, tampak bahagia.
"Kemana, Bro?"
Pria di belakang kemudi, memandang lelaki di samping kirinya.
"Casablanca."
"Ngapain?" Kejar pria berkaos biru.
"Ketemu bidadari kecil. Loe suka?" Azka mempermainkan sahabatnya.
"Gue serius!" Krisna mulai emosi.
"Emang serius. Loe pikir, gue bercanda?" Azka tak mau kalah.
Ngalah, aja! Jam tangannya mengingatkan, pada pria yang lagi mengemudi.
"Loe, jelasinlah. Biar gue, paham. Ada acara apa?" Krisna semakin penasaran.
__ADS_1
Pria di sampingnya terkekeh, dengan tangan kanan menyentuh bahu kiri sahabatnya.
"Azzalea, ultah. Raina, minta gue ikutan. Tanpa sepengetahuan yang punya acara."
"Kejutan, maksudnya?"
"Lebih tepatnya, dirancang seperti kebetulan."
Azka menjelaskan, ada perasaan tak puas, di hatinya. Dia, berniat memberi kado spesial untuk wanita yang telah merebut hatinya.
"Kebetulan, maksudnya?" Krisna masih belum paham.
"Azzalea, enggak nyaman, ultahnya dihadiri orang lain. Jadi kita ada di sana, hanya kebetulan berada di tempat yang sama.
Pemuda itu menjelaskan, ada rasa pedih, menjalar ke seluruh sendi. Menusuk ke hatinya.
"Sabar, Bro. Azza, gadis yang perlu perlakuan khusus."
"Gue tau."
Tiga dara cantik, berada di restoran jepang. Mengambil tempat duduk, kapasitas enam orang.
"Enggak kebesaran, mejanya?"
Azzalea bertanya pada Raina, yang pertama mengusulkan.
"Biar luas."
Jawab gadis itu sekenanya. Senyum misteri mengembang di wajahnya yang manis.
Seorang gadis berseragam, mendekat. Memberikan dua buku menu berwarna hitam, pada tiga gadis yang tampak seumuran.
"Makan sepuasnya. Kali ini, gue yang traktir."
Gadis berambut panjang bicara, sambil bergerak dari tempat duduknya.
"Gue ke toilet dulu ya."
Dia melangkah pergi. Dua gadis yang tinggal, merapatkan diri. Saling berbisik melemparkan sebuah ide.
Seorang lelaki menyelinap pergi, mengikuti arah, wanita berbaju kuning menghilang. Kaki panjang itu, berjalan dengan setengah keyakinan.
Gue bener, enggak tega! Tapi gue juga butuh duit.
Bro, loe juga ada anak. Karma tetap berlaku. Jacket menyela.
Keraguan, membuat kedua kakinya maju mundur. Dengan tangan bersedakep, dan gigi menggigit ibu jari.
"Bapak mau ke toilet?"
Suara lembut seorang wanita, menghentikan langkahnya. Matanya melebar, melihat gadis yang diincarnya berdiri di hadapannya.
" Eh ...ehm." Pria itu terbata.
"Bapak jalan terus, ada persimpangan, belok kiri. Nanti ada bacaan, toilet pria."
Azzalea, melanjutkan. Sementara lelaki bertatto, terkesima dengan kecantikan, gadis di depannya.
Duh Gusti.....Ayunee, bocah iki.
"Saya tinggal ya Pak!"
Azzalea bergegas meninggalkannya. Pria itu terpaku menatapnya.
Udahlah, cari kerjaan yang halal. Mumpung masih sehat. Tatto ditanganya menasehati.
Bener. Selama mau berusaha, rezeki selalu ada. Gawainya ikut bicara.
"Boss, uang gue kembalikan!"
Ujar lelaki itu, saat panggilannya terhubung, pada pria di kejauhan.
"Maksud loe?"
"Gue kembalikan uangnya. Kerjasama kita batalkan."
Lelaki itu mengulang penjelasannya. Lalu menutup telponnya.
Braaak
Dirga melempar hand phone di tangannya. Iphone dengan edisi terbaru, tercerai berai, di lantai.
Sial!....
Sepertinya, gue harus lalukan sendiri.
__ADS_1