
Hari beranjak senja. Matahari berlari menuju peraduannya, warna gelap bergerak menutupi wajah langit.
"Azza, buruan jangan sampai telat. Udah pada datang semua."
Selena melambaikan tangan dari bibir lobby utama perusahaan, dengan membawa buku disain.
Gadis tinggi semampai tergopoh. Dia berjalan setengah terbang dari parkiran, dengan dompet di tangan, tas sandang kepayahan menaiki bahu. Baju pink dan rok span hitam berpadu.
"Iya, tunggu aku."
Mereka melangkah menuju sebuah ruangan, mengambil tempat duduk di belakang. Beberapa pasang mata melempar pandangan heran.
"Sejak kapan, Lena akrab dengan Azza?" Gadis dengan tempat duduk di depan, bersuara.
"Iya, itu juga yang menggangguku." Perempuan di sebelah kirinya, menimpali.
Gadis dengan blus putih mendekat, ingin terjun bergosip.
"Lena itu, wanita berbahaya." Ujarnya dengan ekor mata melirik ke bangku belakang. Kepala dan badan condong ke depan.
Hasrat bergosip ketiganya terhenti, saat terdengar langkah kaki mendekat. Seketika suasana menjadi senyap. Derap langkah semakin keras masuk ke telinga. Dua pria memasuki ruangan.
"Selamat sore." Pak Bram, selaku manager devisi disain membuka pembicaraan. Wajah pria mudah di sebelahnya, melukis senyum ramah.
" Hari ini, ada pengumuman penting." Lanjut manager itu, sambil mempersilahkan pria dengan jas hitam, mengambil alih pembicaraan.
Azzalea yang duduk di belakang memperhatikan. Pandangannya fokus pada pria blasteran yang sedang berbicara di depan.
Deg
Pria itu, sepertinya pernah bertemu.
Sementara Krisna yang sedang bicara, tak mengenali gadis yang duduk di kursi belakang.
Ruangan menjadi riuh, setelah asisten pribadi Azka, menyelesaikan ucapannya, dan melangkah meninggalkan ruangan.
"Lo, dengar Len?. Pesta perusahaan, besok malam. Lena menganggukkan kepala. Sementara perempuan di sampingnya tetiba gelisah.
"Gue, gak suka keramaian." Tambahnya.
"Mesti datang, bukannya tadi begitu pesan dari Presdir." Gadis berambut pirang itu mengingatkan.
"Mesti ya?. Engga mungkin juga diabsen kan Len?.
" Iye juga. Tapi muka lo itu terkenal. Engga datang pasti ketahuan. Beda ama gue."
Sementara gadis dengan tas sandang berwarna maron itu, masih belum bisa ambil keputusan.
"Azza, gue duluan. Mau jalan bareng teman, sekalian cari gaun, untuk besok malam."
"Harus pake gaun, ya?"
Selena menahan dongkol di hati. Umpatan kasar ingin dilontarkan, namun tertahan di tenggorokan.
Dasar, kampungan.
"Masa pesta pake daster?. Kamu ada-ada aja." Dia terkekeh, perempuan di sampingnya nyengir kuda.
"Bye, sampai ketemu besok malam." Lanjutnya, meninggalkan Azzalea yang masih duduk meratapi kebingungan.
Tiga temannya mendekat, dua wanita duduk di kedua sisinya. Wanita dengan blus putih, mengambil tempat duduk di hadapannya.
"Azza, kudu hati-hati, dengan Selena." Perempuan di depannya mengingatkan. Wanita yang diingatkan terbelalak, tercubit rasa penasaran.
"Emang kenape?" Gadis itu dengan polos bertanya.
" Kita semua udah kenal, Selena. Pokoknya wajib mawas diri." Gadis dengan rambut ikal, menjelaskan.
"Besok kalian, juga datang?." Azzalea mengganti topik pembicaraan. Sejatinya dia tidak suka bergosip. Ketiga sahabatnya mengangguk.
"Kalo gitu, kita pulang. Buat persiapan." perempuan di samping kiri memberi saran. Mereka langsung beranjak dari tempat duduknya, dengan tujuan yang berbeda.
***
Sementara, Dirga merasa sakit kepala. Usahanya bertemu dengan owner perusahaan, menuai kegagalan.
__ADS_1
Kakinya mendobrak pintu perusahaan, seorang pria bertubuh tegap mengekor di belakangnya, hingga keduanya berada di ruang kerja Dirga.
"Ada undangan, bos. Besok malam di hotel Ritz Carlton." Pria mengenakan kemeja hitam bicara.
Lelaki berwajah lelah mengamati undangan dengan warna gold, di tangan.
"Pesta perusahaan. Pemiliknya Azka. Benar?" Dia bertanya penuh semangat. seperti baru mendapat wangsit. Pria tegap membenarkan.
"Eeitt, jangan coba-coba. Azka bukan lawan yang mudah." Undangan angkat bicara.
"Bener, ilmu juga masih dangkal. Mau melawan raja. Mana bisa menang." Pulpen di meja, ikutan menghujat.
"Siapkan pakaian, gue. Lo, harus ikut." Perintah laki-laki dengan kepala licin. Pria dengan tato di tangan menyodorkan sebuah amplop.
"Data wanita, yang anda minta."
Pria yang duduk di kursi kerjanya, menyambar berkas yang disodorkan.
"Krek" Pria itu merobek dengan paksa. Jemari tegap mengambil sebuah kertas dari dalam amplop. Senyum puas mengembang di bibirnya.
"Ternyata, gadis ini bekerja di perusahaan Azka." Ujarnya, penuh nada tidak percaya.
Seketika, tawa membahana memenuhi ruangan. Dirga, menatap sesaat kertas di tangannya. Ekspresinya seperti baru saja mendapatkan harta karun.
"Semoga si gadis, lepas dari marabahaya." Tissu di meja, berdoa. Penjepit kertas dan yang lainnya cepat-cepat mengaminkan.
"Ada perintah, bos?" Pria bertato mengajukan pertanyaan.
"Bawa satu orang lagi, bersamamu besok malam. Tunggu perintah dari aku!" Tegasnya.
Pria dengan kemaja hitam itu terdiam. Perasaan tak tega, menggerogoti hatinya, mengingat korbannya gadis yang baik hati. Namun, dengan cepat dia menghabisi perasaan itu.
Azzalea yang masih dilanda kebingungan, menghubungi Raina, sahabatnya sekaligus pemilik salah satu butik di ibu kota.
[PA] Raina......
Sesaat senyap. Gadis itu semakin gelisah tak menentu.
[WC] Perempuan anggun, ada apa?. Wanita cantik sibuk mengurus pelanggan.
[PA] Tolongin, gue.
[PA] Butik, maksudnya?
[WC] Yoi.
[PA] Woke.
Jazz silver dengan plat luar kota, berputar arah, menuju butik sahabatnya.
Selena sedang berdiri di sebuah cermin, di tubuhnya gaun berwarna merah menyala terpasang. Lengan dan punggungnya terbuka, mempertontonkan kulitnya yang putih, model krah tinggi menutup lehernya yang jenjang.
Gaun ini saja.
Wanita itu tersenyum puas, akhirnya dia menemukan gaun yang cocok dengan seleranya.
Tetiba dia teringat dengan upik abu di kantornya.
Azzalea, ada kejutan untukmu, besok malam.
Cermin menggelengkan kepala. Merasa heran dengan wanita di hadapannya. "Dasar, penjahat wanita." Dengan suara tak bisa terdengar oleh Selena.
Gadis dengan mata belok itu, berdiri di depan kasir untuk melakukan pembayaran.
"Terima kasih, semoga berbelanja kembali." Ucap gadis di bagian kasir, dengan rambut dibentuk sanggul. Wanita yang menerima struk belanja hanya memberikan lirikan tajam.
"Wuah, juteknya." Ujar kasir dengan rambut pendek, saat Selena sudah melenggang pergi.
"Mungkin lagi bete." Gadis berponi membela.
"Bisa jadi." Petugas bersanggul berusaha memaklumi. Obrolan mereka terhenti, dengan pelanggan yang masuk ke jalur antrian.
***
Sementara di butik Raina, Azzalea senang memilih beberapa gaun. Pada dasarnya, dia tidak pernah menghadiri pesta, terlebih menggunakan gaun.
__ADS_1
"Sudah?" Raina bertanya sambil memunculkan setengah badan. Tubuhnya terdiam, matanya penuh rasa takjub melihat pemandangan di depan.
Bidadarikah, ini?
"Lo, cantik banget, Azza" Wanita yang di puji tersenyum malu. Warna pipi semerah buah naga.
"Wuaaah....kalo gue laki, udah pasti bakal jadiin, lo pacar."
Sebuah cubitan mendarat di lengannya.
"Auwww" Mulut mungilnya mengadu. Sementara Azzalea terkekeh, merasa senang melihat sahabatnya kesakitan.
"Rasain, habis bercandanya engga lucu." Mulut Raina membentuk kerucut
"Gue bilang apa adanya lho." Sanggahnya dengan ekspresi pura-pura marah. Lalu terkekeh.
"Jadi, lo mau pake yang mana?"
"Ini, cocok?" Sambil menunjuk gaun yang melekat di badan.
"Kalo pilih ini, Lo harus pake high heels 7 cm, biar ujung gaun engga terinjak."
Gadis di depan cermin, makin stress. Terbayang, sakitnya kaki saat mengenakan sepatu yang membuat kedua betisnya semakin jenjang.
"Untuk tampil cantik, terkadang harus ada yang dikorbankan." Raina menghapus stress di wajah sahabatnya.
"Pilihkan yang panjang selutut. Nanti gue pasangin dengan legging." Pintanya.
"Gue rasa, lo bakal cocok dengan model gaun manapun. Bentuk tubuh lo itu, keren."
"Bisa aja." Gadis yang di puji tenggelam dengan rasa malu.
"Sesekali tampil menawan, Biar ada pengalaman.Terus, lo pergi sendirian?"
"Gimana, kalo kamu ikut?" Dia bertanya balik.
"Oke. Kebetulan besok malam aku engga ada jadwal."
"Makasih, sista" Gadis dengan bakat khusus itu, akhirnya bisa menarik napas lega. Sebelumnya merasa kalut, saat berpikir datang ke pesta tanpa pendamping
***
Di lobby utama hotel The Ritz Carlton, terlihat antrian mobil mewah. Sosok pria dan wanita berbalut pakaian mewah, keluar dari mobil yang terparkir sementara, di depan pintu masuk
Beberapa pria berseragam batik, berjaga melakukan pemeriksaan ketat, pada tamu undangan. Memastikan acara berjalan, tanpa gangguan.
Pagar ayu, di dalam hotel berdiri tak jauh dari pintu lobby. Menunggu tamu, memastikan mereka duduk di kursi sesuai dengan undangan yang diterima.
Selena, baru saja tiba bersama karyawan lainnya, mereka berjalan memasuki ballroom dengan kapasitas 5000 orang, berada di lantai satu hotel tersebut.
Suasana megah tampak dari dekorasi ruangan. Makanan dan minuman disesuaikan dengan selerah tamu undangan. Beberapa petugas hotel berpakain putih lalu lalang dengan nampan berisi minuman.
Malam ini, Azzalea mengenakan gaun berwarna biru gelap, dengan bentuk leher sabrina. Leggin berwarna hitam, membungkus kedua kakinya yang jenjang. Kalung berlian menghiasi lehernya yang terlihat putih berkilau.
Raina berjalan di sampingnya, mengenakan gaun berwarna senada dengan kulitnya.
"Raina, gue mau ke toilet."
"Aku temani?"
" Engga usah. Tunggu di lobby aja. Hanya sebentar." Raina menyetujui dengan memberi gerakan jari.
Gadis bergaun biru, setengah berlari menuju toilet. Perutnya sakit, karena menahan hasrat buang air kecil. Untuk menghindari antrian, dia menggunakan toilet khusus VVIP.
Engga apalah, harus bayar mahal.
Asal cairan ini bisa cepat dibuang.
Kepanikan membutakan matanya. Kakinya berlari cepat memasuki toilet pria.
Bug
Tubuhnya menabrak seorang pria yang baru saja muncul dari dalam.
"Braaak" Tas tangan terlempar memuntahkan semua isinya.
__ADS_1
"Auww" Dia mengelus jidatnya yang sakit. Kedua kaki terasa goyah, tubuh bergerak tak seimbang. Saat akan terjatuh membentur lantai. Sepasang tangan kekar meraih tubuh mungilnya, membawa ke dalam dekapan.
"Ceroboh" Suara dingin seorang pria, menembus gendang telinganya.