
Tubuh wanita terbalut selimut putih itu menggeliat. Matanya terbuka, saat merasakan sinar matahari, menembus tirai yang menutupi jendela kamar hotel. Perlahan dia memandang wajah pria, di depan hidungnya.
"Bangun sayang." Bisiknya, sambil memberikan kecupan lembut di hidung mancung pria itu.
"Sebentar lagi." Pria dengan rambut acak-acakan menjawab dengan nada enggan.
"Sudah jam 4 sore."
Pria di dalam selimut menggerakkan tubuhnya, memberikan kecupan di pipi Friska yang halus. "Kamu sangat hebat, honey." Pujinya.
Perempuan itu tersipu malu, merasakan hawa panas menjalar di kedua pipinya.
"Mandi bareng?" Dirga menggoda wanita dalam pelukannya. Perempuan tersebut menggelengkan kepala, dengan senyum manja.
"Aku, duluan." Ujarnya, sambil meraih sehelai pakaian yang berserak di lantai. Dirga membiarkan wanitanya berjalan ke toilet, untuk membersihkan tubuhnya.
Rasa puas sesaat, tidak membuat pikirannya melupakan keberadaan Azka. Dia meraih HP nya, lalu membuka galery. Seorang gadis, sedang memberikan sweaternya pada Azka, muncul di layar.
Sial, andai saja wanita ini tidak menolongnya. Azka pasti menemui ajalnya. Perempuan, lihat saja, apa yang akan aku lakukan padamu.
Dirga menghubungi seseorang , memintanya mencari informasi wanita yang ada di layar. Jemarinya mengirimkan gambar, pada pria di seberang, setelah selesai bernegosiasi.
"Siap Bos" Jawab pria di seberang, saat menerima arahan dari Dirga.
Pria di atas tempat tidur menutup telponnya, bersamaan dengan kemunculan Friska, dari dalam toilet.
"Sekarang, mandilah." Wanita dengan rambut setengah basah itu memberi saran, pada pria yang duduk di atas dipan. Pria itu, mengangguk, mendaratkan kakinya di lantai, berjalan menuju toilet
Beberapa saat kemudian, keduanya meninggalkan hotel, menuju sebuah restoran mahal.
***
Satu minggu kemudian.
Azka, telah diperbolehkan kembali ke rumah, oleh dokter pribadinya. Krisna langsung yang menjemputnya, menggunakan sebuah mobil buatan eropah, dengan tempat duduk yang nyaman, serta sistem keamanan yang tinggi.
Setelah terjadi kecelakaan, penjagaan terhadap keselamatan Azka, ditingkatkan. Mulai dengan memasang cctv, di tempat tinggalnya hingga meningkatkan sistem keamanan di kantor. Termasuk transfortasi yang digunakan.
"Gadis yang menolongku, saat kecelakaan. Apakah, kamu mengenalnya?" Azka bertanya,
memecahkan kebisuan diantara mereka.
" Aku memberikan kartu nama, padanya. Namun lupa meminta kontaknya." Krisna menjawab, sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Gadis cantik?" Mang Kardi menyela.
" Banget." Azka menjawab dengan bersemangat. Senyum tipis menghiasi wajah arabnya. Dia mengingat kembali pertemuannya dengan gadis cantik itu.
"Tapi, gue ingat namanya. A-azzaaa, Azzalea." Dia berteriak kegirangan saat bisa menyebut nama gadis itu."Aaahhh....gue, juga lupa tanya alamatnya." Sesalnya.
"Kalau jodoh, pasti bakal ketemu, Den." lelaki dari suku sunda itu, memberi pengharapan.
Azka di kursi belakang berdehem, membuat dua pria di kursi depan, merasa canggung.
"Tuh kan, bos jadi protes. Gadis cantik itu, miliknya." Kursi yang di duduki Mang Kardi bersuara.
"Den Azka, mau sekalian singgah di restoran, untuk makan siang?" Mang Kardi mencairkan suasana.
Kali ini Krisna yang menjawab dengan cepat "Kita mampir di restoran padang, pagi sore." Sarannya pada Mang Kardi. Sementara pria di kursi belakang, hanya diam saja.
Krisna, adalah sahabat Azka. Sejak kecil mereka tumbuh bersama. Hingga sekarang, pria berdarah arab itu, memutuskan mengikuti dan membantu Azka, di perusahaannya.
Kedua orang tua Krisna memiliki perusahaan sendiri di daerah Arab, berharap anaknya kelak akan meneruskan bisnis keluarganya. Namun Krisna memilih untuk mandiri.
Azka, memberinya kepercayaan, sebagai asisten pribadinya. Dengan gaji yang tinggi, serta bonus tahunan yang cukup besar. Beberapa saham perusahaan, diberikan pria dingin itu kepadanya.
Ketika Presdir dari perusahaan terkenal itu, berhalangan tampil di depan umum. Maka Krisna sebagai orang nomor dua, secara otomatis akan mengambil alih.
Keduanya sudah seperti saudara. Bila yang satu sakit, lainnya turut merasakannya.
"Azka, gue udah temukan beberapa bukti, saat kamu mengalami kecelakaan." Krisna memulai pembicaraan, ketika mereka selesai makan. Sementara Mang Kardi, sedang sholat di musholah yang ada di restoran tersebut.
Pria yang diajak bicara, sedang fokus menatap tiga orang gadis yang baru saja memasuki pintu restoran.
"Heiii, Bro" Krisna mengeraskan panggilannya. Merasa pria di hadapannya, tidak mendengar suaranya.
"Gimana?" Pria di depan balik bertanya.
__ADS_1
" Gue, udah dapat bukti, siapa orang yang berada di balik layar, ketika dirimu mengalami kecelakaan.
"Siapa?" Tanyanya dengan dingin.
"Dirga."
"Gue engga pernah, buat dia tersinggung." Azka masih menanggapi dengan sifat cueknya.
"Nah, itu juga yang buat aku bingung."
"Cari informasi tentang dia. Proyek-proyeknya yang sedang dalam penawaran. Kasih pelajaran padanya, biar kedepannya, tidak berbuat sesukanya." Azka memberi perintah.
Mendengar itu, Krisna pun paham apa yang harus dilakukannya.
"Kita balik." Ujar Azka, saat Mang Kardi sudah bergabung kembali dengan keduanya. Pria yang baru selesai shalat mendahului keduanya. Sementara Azka dan Krisna berjalan di belakangnya sambil terus melanjutkan obrolannya.
***
Sementara di ruang yang berbeda di restoran tersebut. Azzalea, bersama dengan dua sahabatnya, sedang menikmati makan siangnya.
"Azza, bantuin Gue di butik. Belakangan pelanggan membludak. Gua butuh disainer tambahan." Araina, gadis berkulit eksotis itu berkeluh kesah.
"Bayaran Gue, mahaaaall." Jawab Azzalea, di hatinya sedikit timbul rasa ingin menggoda sahabatnya itu.
"Raina, pasti sanggup bayar dirimu, Za" Neysa ikutan nimbrung, sebelum brokoli di ujung garpu masuk ke mulutnya. Gadis berdarah cina itu memiliki mata sipit.
Raina cepat-cepat membenarkan ucapan Neysa " Bener banget, Gue bakal bersikap profesional kalau menyangkut pekerjaan. Makanya bisa sampe seperti ini.
"Cieeeee......yang udah jadi pengusaha sukses." Azzalea dan Neysa berbarengan menanggapi.
" Ha...ha...ha..." Ketiganya tertawa bersama.
" Aamiin YRA." Terima kasih doanya. Raina menggoyang tubuh dan kepalanya, layak penari bali sedang beraksi, sambil menyatukan telapak tangan di dada. Seketika hatinya berwarna pink.
"Gue, minggu lalu ketemu cowok ganteng." Tetiba Azzalea curhat, pada dua wanita di hadapannya.
Dua mulut menganga, setengah tidak percaya mendengarnya
" Sumpeh, lo?" Neysa langsung pindah duduk di samping Azzalea, saking penasarannya. Terlihat anggukan kepala dari gadis yang lagi curhat itu.
"Next" Raina menanggapi, hasrat bergosip dalam dirinya tiba-tiba muncul.
"Lo, tau namanya?" Tanya gadis berkuncir kuda, sambil mencondongkan setengah badannya. Azzalea menggelengkan kepala.
"Yang ada, malah sweater gue terbawa olehnya."
"Jadi nyesel nih, udah ngebantu cowok itu?" Goda Raina.
"Ya engga lah."
"Moga aja, sweaternya bakal dibalikin langsung, sama si tampan." Neysa, memberikan penghiburan.
"Ngaaarep..." Ketiganya serentak berkata, kemudian tertawa lepas.
"By the way, anyway, busway....dirimu udah siap buka hati lagi?" Raina bertanya menyelidik. Wanita yang ditanya mengalihkan pandangan ke depan. Terlihat Neysa, memberi semangat dengan gerakan tangan.
"Entahlah, perasaan takut terus menghantuiku."
"Kalo gitu, lo harus dibantu oleh profesional, buat ngilangin trauma dalam dirimu." Neysa bertindak bijak menasehati.
"Yoi, Gue setuju." Raina menimpali. Gadis yang dinasehati, masih tetap tenggelam dengan perasaannya.
Neysa dengan tatapan seriusnya, mengajukan diri menawarkan bantuan. "Gue, carikan info ya, terapis profesional yang bisa bantu."
"Kalian pikir, Gue sakit?" Azzalea mulai merasa gak nyaman. Kedua sahabatnya saling memandang.
"Tuh kan....si Azza tersinggung. Kudu pinter-pinter masuknya." Garpu di piring memberi saran.
"Bukan kamu yang sakit Azza. Tapi bagian dirimu yang terluka. Ada luka di masa lalu yang membuat dirimu, menolak setiap laki-laki yang mendekati." Kali ini Raina memberanikan diri bicara.
Seketika suasana menjadi terasa mencekam. Ketiganya tenggelam dalam opininya masing-masing.
"Gini aja, Kalau lo ngerasa butuh, kita akan bantu. Gue hanya pengen kamu bahagia." Neysa mencairkan suasana.
Raina menganggukkan kepala, mendengar penjelasan Neysa. Azzalea merasa suasana hatinya sudah kembali normal.
"Demi kebahagiaanmu, cinnnnn...." Vas bunga di atas meja turut menasehati.
__ADS_1
***
Mobil yang membawa Azka, memasuki halaman parkir sebuah aparteman mewah, perlahan memasuki lobby utama.
"Mang, tolong antar Krisna. Dua kotak di bagasi, nanti berikan pada kedua orang tuanya.
"Ngerepotin aja." Krisna merasa sungkan dengan perlakuan Azka pada keluarganya.
"Mereka juga, udah Gue anggep sebagai orang tua. Engga perlu sungkan." Kalo dirimu, apa lo nganggep Gue orang lain, Bro?" Goda Azka pada sahabatnya.
"Gue cinta mati sama lo." Krisna balik menggoda.
"Ha... ha... ha... ha...." Keduanya tertawa serentak. Mang Kardi yang melihat kedua majikannya bahagia, turut merasakannya.
Bersyukur dapat majikan baek hati.
"Daaaah...." Krisna melambaikan tangan pada sahabatnya, ketika Mang Kardi membawanya kembali ke apartemennya.
Azka yang ditinggal sendirian, melangkah memasuki lobby utama.
Ting
Suara lift membuka, dia melangkah masuk, setelah dua orang pria melangkah keluar. Jemarinya menekan nomor 9, seketika lift bergerak menuju kediamannya.
Sejenak, pria si dalam lift, termenung seperti mengingat sesuatu. Kedua tangannya membuka tas yang tergantung di bahunya, sweater berwarna pink terlipat rapi di dalamnya.
Apakah ini, milik gadis itu?
Aku akan menemukanmu, untuk mengucapkan terima kasih, karena telah menolongku.
Dia meraih sweater, lalu mendekapnya. Perasaan hangat menyusup ke dalam sanubarinya, perlahan membantu mengisi ruang kosong di hatinya.
Begitu sampai di apartemennya, pria berdarah campuran itu melangkah ke ruang kerja.
Sebuah bingkai foto, tergantung dengan indah di tengah ruangan. seorang wanita cantik mengenakan pakaian kebangsaan turki, tersenyum dalam bingkai foto.
Pria dengan iris mata coklat gelap itu, memandang wanita dalam foto. Seketika ekspresi sedih tergambar di wajahnya yang tampan.
Tenaganya tiba-tiba melemah, tubuhnya jatuh terduduk di lantai. Rasa sesak terasa memenuhi rongga dadanya. Kedua matanya dipenuhi dengan buliran bening.
Dalam sekejab keheningan dipenuhi dengan suara tangisan. Pria itu menangis melepaskan kesedihan yang memenuhi hatinya.
***
Dirga yang berada dalam sebuah club, sedang menyesap wine di tangannya. Wanita bertubuh seksi, duduk di atas pangkuannya. Dia baru saja terbuai dengan belaian tangan gadis nakal itu, HP nya bergetar.
Sebuah nama muncul di layar. Jemarinya menggeser ke kanan, menjawab panggilan.
"Bos, gawat. Seluruh proyek yang akan tanda tangan kontrak dengan kita, tiba-tiba membatalkan niatnya." Spontan Dirga bangkit dari duduknya. Wanita di pangkuannya terjatuh dengan lutut membentur sudut meja.
"Auwww..." Pekiknya kesakitan. Sementara pria yang dipujanya, bersikap tak perduli, terus melangkah tergesah meninggalkan ruangan. Mencari tempat aman, agar bisa berbicara dengan nyaman.
"Apa, kamu bilang?" Tanyanya sekali lagi, pada penelpon.
"Beberapa perusahaan, tiba-tiba membatalkan kontrak, bos. Mereka bahkan bersedia membayar finalty."
"Kenapa, bisa begitu?" Dengan penuh kepanikan, Dirga mengajukan pertanyaan.
"Menurut mereka, perusahaan kita tidak cukup kompeten, untuk di ajak kerjasama."
Dirga mengumpat dalam hati. Otaknya bekerja mencari jakan keluar.
"Lo cari info, siapa yang sedang bermain dengan kita. Gue langsung akan hubungi beberapa pemilik perusahaan yang berkhianat itu." Dengan kesal dia menutup telponnya. Pria yang menelpon, mulai bekerja sesuai perintah atasannya.
Buugh
Dirga memukul tembok putih di dekatnya. Seketika tangannya mengeluarkan darah, melalui kulit yang terluka.
"Plok" Cicak yang terkejut, jatuh menimpah kepala pria pemarah.
"Karma itu, Gan" Dinding berwarna putih angkat bicara. Lalu tekekeh berbarengan dengan cicak yang terjebak di kepala botak.
Dengan gerakan cepat, pria yang sedang frustasi itu, melakukan panggilan kepada beberapa pemilik perusahaan yang membatalkan kontrak. Namun tak satupun berhasil dikonfirmasi.
"Sial....."
"Istighfar, Bos" Jam tangannya mencoba menenangkan.
__ADS_1
Pria itu, setengah berlari menuju parkiran. Aku harus temuin satu-satu. Pikirannya menawarkan solusi.
Lelaki dengan mobil sedan berwarna merah itu, meninggalkan club dengan membawa serta kemarahan di dalam dada.