Jejak Cinta Azzalea

Jejak Cinta Azzalea
Bab 12. Bertemu Mantan


__ADS_3

Jika cinta senantiasa membuktikan ketulusannya. Seberapa jauh, kamu akan menghindar darinya.


Pria yang mengenakan jacket hitam, keluar dari restoran. Dengan tergesah dia menuju parkiran. Wajah istri dan anak perempuan satu-satunya muncul di pikirannya.


Lelaki ini, ingin segera bertemu dengan keluarganya.


Alhamdulillah, ya Allah...


Engkau berikan hidayah padaku, saat tangan ini hendak melakukan kesalahan.


Beberapa tanaman hias, mengucap syukur berbarengan. Melihat satu jiwa tercerahkan oleh kebenaran.


Flamboyan menebarkan khabar gembira melalui angin yang menerpanya.


Diwaktu bersamaan, Azzalea berjalan menuju restoran. Semua menu yang dipesan, telah terhidang. Tiga wanita cantik menikmati makanannya.


Di ruangan yang sama di salah satu sudut, dua pasang mata tertuju pada tiga dara yang sedang asyik bercengkrama.


"Honey, gadis yang berambut panjang, bukankah dia, mantan tunanganmu?"


Wanita dengan gaun hitam, bertanya pada pria di samping kirinya. Pria dengan rambut cepak ala tentara, menganggukkan kepalanya.


"Penampilannya berubah, jauh lebih cantik. Kamu enggak menyesal, meninggalkannya?"


Gadis itu, melanjutkan ucapannya, ada kekhawatiran dalam suaranya, ketika matanya melihat gadis udik yang dulu dikenalnya, berubah menjadi cinderella.


Bagaimana bila Adrian, kembali lagi padanya?


Rasa takut kehilangan, mulai menghantuinya. Dia melirik pria di sisinya, tepat saat mata pria itu, tertuju pada wanita di depannya. Rasa cemburu mulai merasukinya.


Pemuda dengan kemeja putih, masih terbuai dengan pesona yang dipancarkan wanita yang telah menjadi mantannya.


Mestinya, Aku enggak meninggalkannya. Azzalea, kamu cantik sekali.


Tatapan penuh kekaguman pada dara cantik, yang sedang tertawa di depannya. Mengundang amarah wanita yang duduk di sampingnya.


"Jangan bilang, kamu jatuh cinta lagi padanya!"


Perempuan itu menyindir tajam, kekasihnya. Lelaki di sampingnya terkesiap. Lalu tiba-tiba, beranjak dari duduknya.


"Kamu ngomong apa sih, sayang." Suara pria itu turun dua oktaf, menutupi isi hatinya.


"Pokoknya, gue engggak mau, Mas Adrian dekat-dekat dengan perempuan udik itu."


Ujar gadis itu manja, sambil menempelkan tangannya pada lengan kekar di hadapannya.


"Hatiku, hanya untukmu sayang." Adrian mencoba menenangkan gadis itu.


"Kalau gitu, buktikan sekarang."


Wanita itu pindah duduk, menempelkan tubuhnya pada tubuh atletis itu. Jemari putih mulai menyentuh bibir berwarna gelap di depannya. Menggodanya.


"Gue mau ke toilet!" Adrian bangkit dari duduknya.


Dia tergesah melangkah pergi, tanpa menunggu persetujuan dari wanita di sampingnya.


Kurang ajar! Enggak akan gue biarin, loe balikan lagi dengan perempuan kampung itu.


Dua pria, memasuki restoran. Busana santai yang dikenakan, tak menutupi ketampanan keduanya. Tubuh atletis mengundang tatapan kekaguman.


"Cuit cuit "


Seorang gadis tanggung, mengekspresikan kekagumaannya. Seketika mengundang rasa penasaran tiga dara, di salah satu meja.


"Azka" Teriak Araina, sambil melambaikan tangannya


Kedua lelaki menghampiri, tiga gadis cantik di sana.


"Loe undang mereka, Rai?" Azzalea bebisik, di telinganya, ekspresinya menunjukkan ketidaknyamanan.


"Enggak kok, hanya menyapa aja." Gadis berambut sebahu itu berkilah.


"Hei, putri kecil."


Kali ini, Krisna bersemangat menyapa. Saat matanya menemukan sosok Araina. Neysa mengulum senyum di bibirnya. Azzalea semakin menundukkan, kepalanya.


"Boleh gabung?"


Azka menyelah. Pandangannya tertuju pada Azzalea. Gerakan tangan Raina menyadarkan gadis itu dari lamunannya.


"Jawab dong! Ditanyain, Azka, tuh!


"Boleh, gabung aja."

__ADS_1


Azzalea akhirnya bersuara. Rasa gugup menghampirinya. Membuat nafsu makannya sirna. Azka mengambil tempat duduk di sampingnya.


"Kita, ketemu lagi, putri kecil." Krisna memecahkan suasana.


"Gue, bukan anak kecil. Sembarangan aja!" Raina pasang aksi memanyunkan bibirnya.


"Bagiku, kamu adalah putri kecilku."


Pria berdarah arab itu, mengelus kepala Araina dengan lembutnya, sambil mengambil tempat duduk, di samping gadis itu.


"Sering makan siang, di sini?" Neysa mulai mencairkan suasana.


"Sesekali. Kalau lagi malas masak." Krisna bersuara, sambil mengedipkan mata.


"Emang, kamu bisa masak?" Araina memelototkan mata, pada pria disampingnya.


"Putri kecil, mau dimasakin apa?" Krisna balik bertanya, dengan ekpresi menggoda.


Gadis berkulit ekskotis itu, mengalihkan wajah. Warna pipih menjadi merah buah naga.


Atmosfirpun berubah, menjadikan suasana menjadi lebih bersahabat.


Tak tak tak


Suara langkah kaki mendekat. Seorang wanita mengenakan gaun berwarna hitam, menghampiri mereka. Lima pasang mata, memandangnya.


"Wuah, keren. Pantesan loe berubah, perempuan udik. Loe jadi simpenan, laki-laki kaya." Ejek perempuan itu.


"Maaf, maksudnya apa ya Mbak?" Neysa berdiri dari duduknya.


"Maksud gue, perempuan kampung ini!" Ujar wanita itu, dengan jari telunjuk mengarah ke Azzalea.


"Gue? Emang kita saling kenal?"


Kali ini, gadis yang sederhana itu, mengangkat kepala. Berbalik ke arah wanita di depannya.


"Pura-pura lupa lagi. Loe pikir dengan ngerubah penampilan, gue enggak akan kenal. Naif banget!"


"Mbak, mungkin salah orang." Azzalea masih bersikap ramah.


"Loe, gadis kampung yang dicampakkan, oleh tunangannya. Masih belum ingat, siapa gue?"


Perempuan itu kembali bertanya, sambil mendekatkan wajahnya, pada Azzalea.


Plaaak


Sebuah tamparan mendarat di pipi gadis berkulit putih itu.


"Aawww...." Dara berambut panjang sepinggang, meringis kesakitan.


Semua mata tertuju pada mereka. Beberapa pelayan berlari ke sumber keributan. Namun akhirnya kembali pada pekerjaannya.


Beberapa tamu, tak ambil pusing dengan keributan. Terus menikmati santapan di atas mejanya.


Araina bergerak cepat memasang badan. Memberi jarak antara perempuan itu dan Azzalea.


"Bicara baik-baik, enggak perlu kasar begitu." Ujarnya, sambil mendorong tubuh di hadapannya, menjauh.


Kaki panjang itu, terdesak ke belakang. Hampir saja terjatuh, tapi diselamatkan oleh sebuah tangan kekar, meraih tubuhnya.


"Mas Adrian, mereka menyakitiku." Dengan manja, wanita itu mengadu pada kekasihnya.


Adrian, melempar pandang pada Azzalea. Gadis itu meringis kesakitan menahan rasa nyeri di pipi kirinya.


"Loe, enggak apa-apa?"


Neysa mendekati Azzalea. Gadis itu menggelengkan kepala, menahan sesak di dada. Pandangannya tertuju pada pria masa lalunya.


"Mas Adrian, tolong didik wanita itu, agar lebih beretika." Pintanya dengan nada tajam.


Adrian menatap Azzalea. Jaring-jaring lembut menjalar di hatinya. Sejenak dia terdiam, rasa gugup mengunci langkahnya.


Gadis di dekatnya, merasakan sebuah ancaman dari atmosfir yang dipancarkan keduanya.


"Azzalea, gue ingetin loe ya. Jangan pernah berpikir, ngerebut Adrian, dari gue."


Teriaknya lantang, dengan napas tersengal menahan kemarahan. Lelaki di sampingnya menenangkannya, dan membawanya keluar dari restoran.


"Pake ini!"


Azka menempelkan benda di tangannya, pada pipi Azzalea. Hawa dingin mengurangi rasa sakit di wajahnya.


"Terima kasih."

__ADS_1


Ujar gadis itu, sambil mengambil benda di tangan Azka. Hatinya dipenuhi kehangatan dengan perhatian pria berhati lembut itu.


"Siapa, perempuan gila, barusan?" Tanya Neysa pada Azzalea.


"Gue enggak kenal."


"Bukannya tadi, Adrian?" Kejar Neysa.


Azzalea, menganggukkan kepalanya. Sambil menahan rasa malu yang masih parkir, di pikirannya. Tak sanggup berkata-kata.


"Aku antar ke rumah sakit?" Azka menawakan diri.


"Enggak usah, Entar juga baikan." Tolak gadis itu dengan ramah.


Pria itu ingin meraih tubuh gadis mungil itu dalam dekapannya. Memberikan ketenangan dan perlindungan padanya.


"Kalau ketemu lagi. Gue hajar wanita itu!" Raina menggeram. Ekspresinya penuh ancaman.


Krisna tersenyum, melihat ekspresi wanita itu yang lucu, saat di landa amarah.


"Berarti Adrian, tinggal di Jakarta sekarang, Azza. Loe kudu jaga diri! Jangan sampai, dia memporakporandakan hidup loe, lagi." Raina menasehati.


Azzalea hanya menundukkan kepala, Raina menutup mulutnya, saat sadar sudah keceplosan.


"Loe, lapar Kris?" Azka memecah suasana.


"Pastilah"


Krisna menjawab dengan mengelus perutnya yang rata. Sambil menunjukkan wajah jenaka.


Seketika lima wajah kembali ceriah.


"Nih!" Azka menyerahkan buku menu.


Jes jeruk, di depan Azza menggoda. Lengan atletis meraih gelas itu, menenggaknya.


Seketika empat pasang mata menatapnya. Tak menduga tindakan konyol, yang dilakukan Azka.


"Gue haus, entar pesan lagi ya!"


Pria itu bersuara, dengan mengerlingkan kedua mata pada pemiliknya.


"Ha ha ha ha" Suara gelak tawa membahana seketika.


***


"Gue, udah enggak ada hubungan lagi, sama Azzalea." Adrian memberi penjelasan pada kekasihnya.


Wanita di sampingnya, terdiam dengan wajah dipenuhi amarah.


"Kalau gitu, tentukan kapan kita nikah!"


Perempuan itu berkata, sambil menatap wajah di sampingnya. Ingin melihat keseriusan pria di sisinya.


"Kalau itu, tunggu gue mapan dulu, Rin."


"Selalu aja, begitu. Nunggu mapan, sampe kapan Mas? Gimana gue enggak khawatir."


"Sabar ya, sayang!" Adrian berusaha menenangkan Rina.


Kedua tangannya terulur ke bahu wanita itu, kemudian membawa kepala gadis itu ke bahunya.


Maafkan Aku, Rin.


Belakangan, hatiku ragu untuk menikahimu.


Rina merasakan kedua matanya hangat, rasa sesak menjalar di dadanya. Dia melepaskan diri dari rengkuhan pria itu.


"Gue, mau pergi sama teman. Mas Adrian, balik duluan saja!"


"Tapi, Rin. Gue udah janji, ngantar kamu, ke manapun hari ini."


"Hati gue, lagi enggak nyaman, di temanin Mas Adrian. Pulanglah, Mas!"


Wanita itu, keluar dari mobil berwarna hitam. Meninggalkan Adrian di sana. Hatinya ingin pria itu membujuknya.


"Yaudah kalau gitu. Gue tinggal ya."


Pria itupun berlalu, meninggalkan Rini yang sedang merutuki diri.


Lihat saja, Mas Adrian. Kalau aku enggak bisa miliki kamu. Maka tak ada satupun gadis yang menikah denganmu.


Kaki langsing itu menghentak ke bumi. Melampiaskan kekesalan. Dia meninggalkan parkiran, dengan hati dipenuhi amarah.

__ADS_1


__ADS_2