Jejak Cinta Azzalea

Jejak Cinta Azzalea
Bab 5. Rencana Selena


__ADS_3

Ketika dua hati ditakdirkan, untuk saling melengkapi. Cinta yang diberikan, mampu menyembuhkan.


Lengan kekar, merengkuh tubuh dara berlesung pipit, ke dalam dekapannya. Sesaat, tubuh mungil memberontak. Namun, aroma tubuh lelaki itu, berhasil menenangkannya.


Tangan atletis, semakin memeluk erat. seakan enggan berpisah. Tubuh lembut, sang gadis, membuat jiwanya, merasakan kehangatan.


"Maaf." Ujar gadis itu, dengan gugup.


Azzalea, berusaha melepaskan diri, namun tubuh tegap, tak bergeming. Hingga kemudian, terdengar tarikan napas panjang, disertai suara berat, penuh permohonan.


"Biarkan seperti ini, sebentar saja." pria itu bersuara.


Entah mengapa, dia merasakan kehangatan, perlahan masuk ke dalam hatinya, dengan gadis itu, berada dalam pelukannya.


"Pria mesum." Gadis itu, berkata dengan berani.


Azka, tersentak, kembali pada kenyataan. Dengan cepat melepaskan sang gadis. Tubuhnya membeku, karena keterpanaan. Logikanya, perlahan mengambil alih.


Apa, yang barusan, aku lakukan?.


Azzalea, merapikan rambut dan pakaiannya, lalu memungut barangnya yang terjatuh.


Mata coklat itu, masih mengawasi dirinya, saat mondar mandir, mengambil barang di lantai. Hingga, menghilang di balik pintu keluar.


"Lama banget, Azza!" Gue hampir ubanan, menunggu." Araina, langsung nyerocos, begitu Azzalea, menghampirinya.


"Huuuh...huuuh...huuuh." Gadis itu tiba di lobby, masih dengan napas ngos-ngosan.


"Iya, maaf. Ada kejadian, tak terduga." Jawabnya, dengan tenaga tinggal setengah.


"Jangan bilang, loe, ketemu dengan cowok ganteng, lagi."


"Ho oh. Yuuuk buruan, jamuannya sudah mulai."


Azzalea menggandeng tangan sahabatnya, memasuki ruang perjamuan.


Sepasang mata, di balik pilar, mengawasi keduanya dari kejauhan.


Jantungku, berdetak lebih kencang.


Hatiku, merasakan kedamaian, ketika memeluknya. Ada apa, denganku?


Lelaki dengan jas berwarna, abu-abu gelap, menyentuh dadanya. Merasakan debaran halus di sana. Sesuatu yang hangat, menyusup ke relung hatinya.


Dia, memasuki ballroom menggunakan pintu khusus, sehingga tak terlihat, oleh siapapun. Langsung menuju tempat, di mana Krisna berada.


"Waduh, bro. Gue pikir, loe, menghilang."


"............."


"Cepetan, beberapa tamu penting, menunggu. Mereka ingin mengenal, tuan rumah."


Krisna, memperkenalkan, Azka, pada tamu yang hadir. Dua pria menawan, mengelilingi hampir seluruh ruang pesta. Menyapa, melempar senyum ramah.


Beberapa mata, terpesona. Decak kekaguman, terlontarkan melalui pujian, ketika menatap kedua pria, berjalan di tengah kerumunan.


"Wow.....tampan, luar biasa." Puji, gadis bergaun ungu. Saat keduanya melintas, di hadapannya.


"Tampan dan kaya. Sungguh, sangat sempurna." Wanita di sampingnya, menimpali.


"Pria begini, biasanya berhati dingin. Sulit, ditaklukkan." Ujar, Selena, yang tiba-tiba muncul di antara keduanya.


Dua wanita, memandang bersamaan, pada sumber suara.


"Loe, kenal?" Tanya, gadis dengan tubuh langsing.


"Keluarga, kami cukup, dekat." Selena, berdusta.


Dua wanita saling pandang. Gadis dengan tubuh langsing, membisikkan sesuatu, di telinga, temannya. Keduanya, lalu pergi meninggalkan Selena, yang terpaku di sana. Dia merasa diabaikan.


Selena, berdiri tegak, di sisi kanan ruangan. Pandangannya, menyapu setiap sudut, mencari seseorang, yang tampaknya, sangat dia nantikan.


Kena, kamu upik abu.

__ADS_1


Pandangannya terhenti, pada gadis bergaun biru, berdiri sendirian. Senyum sinis, muncul di wajahnya yang memerah. Ketika, menemukan sasarannya.


Tangannya, terulur meraih hand phonenya, membuka layar chat, memberi perintah, pada seseorang.


Sementara, Azka, berbaur dengan beberapa pria dengan jas mewah, di tengah riuhnya pesta, dengan Krisna, yang selalu setia mendampinginya.


Suasana pesta, semakin meriah dengan canda dan gelak tawa, dari wanita dan pria, yang hadir di sana. Minuman dan makanan, selalu tersedia tanpa habis-habisnya.


***


"Silahkan, Non, diambil, minumannya!"


Seorang pria, dengan seragam hitam putih. menghampiri, Azzalea. Raina tidak bersama dengan gadis itu.


"Aku, mau juice."


Petugas, memberikan juice jeruk, pada gadis itu. "Silahkan!"


"Terima kasih."


Pemuda, dengan baki di tangan, mengangguk. Kemudian, melenggang pergi.


Azzalea, menyesap minumannya. Dia berdiri di salah satu sudut ruangan. Matanya, mencari keberadaan Araina, yang tak kunjung datang.


"Nona, Azza?" Seorang pria, mengenakan jas hitam, menghampirinya.


"Yaaa."


"Teman, Nona, memintaku menyampaikan ini!"


Pria itu memberikan, kertas putih, berukuran kecil, di lipat menjadi dua bagian.


".........."


Jemarinya menerima, kertas yang disodorkan. Tertulis pesan singkat di sana, dan nama Araina, diakhir kalimat.


Aneh, ngapain Araina, memintaku menemuinya, di kolam renang?


"Saya, hanya diminta, menyampaikan pesan ini, pada Anda."


Ujar, pria itu, saat Azzalea bertanya padanya. Lalu, meninggalkan Azzalea dengan rasa bingung, yang melanda.


Dia menghabiskan minumannya, tak urung kakinya melangkah menuju, meja resepsionis.


"Pemisi, kolam renang, di mana, ya?" Tanyanya, pada pria di balik meja.


Pria mengenakan seragam hotel, memberikan arahan, sambil menggerakkan tangan, agar gadis itu, bisa mengerti dengan cepat.


"Terima kasih."


Azzalea, berjalan sesuai dengan petunjuk, yang diberikan. Langkahnya hampir sampai, di tepi kolam renang, tetiba rasa pusing menyerang.


Dia berjalan, sempoyongan, menyusuri sisi kolam. Matanya mencari Araina, yang belum kelihatan, batang hidungnya.


"Araaiinaa" Panggilnya dengan, suara lemah, menahan rasa sakit, di kepalanya.


Sebuah bayangan, melesat cepat, ke arahnya. Dengan gerakan, tak terlihat oleh kasat mata, dia mendorong, tubuh sempoyongan itu, masuk ke dalam kolam renang.


Byuuuuuur..


Tubuh gadis itu, tercebur ke air yang dingin. Hawa dingin menusuk kulitnya, menimbulkan rasa sakit di kepalanya, semakin bertambah.


"Tooloong. Teriaknya, tak jelas, karena bercampur dengan air, yang masuk ke dalam, tenggorokannya.


Gravitasi bumi, menarik tubuhnya, ke dasar kolam. Kesadarannya perlahan, menghilang, tenaganya melemah, sehingga, semakin tenggelam.


Sepasang lengan, menarik tubuhnya, membawanya mencapai permukaan. Dia menatap, wajah gadis, dengan seluruh tubuh basah, di lengannya.


"Kamu?" Mata itu, terpana, melihat wajah wanita yang baru saja, ditolongnya.


Tubuh, gadis itu menggigil, dengan gigi beradu, wajah cantik semakin pucat, tertutup oleh rambutnya yang basah.


Pria itu, membalut tubuhnya dengan jas tebal miliknya. Kemudian, membawanya, menuju salah satu kamar president suite, di hotel tersebut

__ADS_1


Sementara, di salah satu sudut hotel, Selena berdiri anggun, dengan gawai, bersandar di telinganya.


"Gimana?" Tanyanya, dengan suara dingin, pada pria di seberang.


"Beres, gadis itu tenggelam, dalam kondisi mabuk. Sulit baginya, untuk selamat."


"Kerja bagus, aku akan transfer, sisah uangnya." Gadis bergaun merah tersenyum puas.


Dengan cepat, dia menutup panggilannya. Tak jauh dari tempatnya. Pria dengan kaca mata hitam, mendengar semua pembicaraannya.


Ternyata, bukan hanya aku, yang ingin mencelakainya.


Pria itu berlalu, dari tempat persembunyiannya, berjalan dengan langkah lebar, sambil mengontak seseorang


"Jemput aku, di lobby utama!" Perintahnya dengan tegas.


Langkah kaki membawanya tiba di lobby, bertepatan dengan beberapa beberapa tamu, berjalan ke arah yang sama, di temani oleh, Krisna.


Seketika, pikirannya menjadi rumit, melihat pemandangan, di hadapannya.


Azka, aku, akan membalas, semua yang telah engkau lakukan, padaku.


Ekspresi wajahnya, berubah dingin. Rasa marah mulai menghasutnya, hatinya berubah menjadi hitam, karena sebuah dendam.


Tak lama kemudian, mercedes hitam terparkir, di pintu lobby utama. Seorang pria, membukakan pintu untuknya. Mobil itu, melaju, membawanya menjauhi hotel.


"Permisi, Anda melihat, gadis dengan gaun biru?.


Raina bertanya pada Krisna yang baru saja, selesai mengantar beberapa tamu undangan.


Pemuda itu, terpana melihat gadis yang tiba-tiba muncul, di hadapannya.


"Apa, Anda, melihat, gadis berambut panjang, dengan gaun berwarna biru?" Raina mengulang pertanyaan yang sama.


Pria, dihadapannya menggeleng. Matanya tetap masih di wajah, Raina. Membuat rasa dingin ditubuh gadis itu, menghilang. Berganti dengan rasa hangat menjalar di wajahnya.


"Maaf, sudah menganggu." Gadis itu meninggalkan Krisna, dengan mulut setengah terbuka.


***


Seorang wanita, tertidur lelap, di bawah selimut tebal, setelah mendapatkan perawatan dari dokter, yang dipanggil langsung, oleh Azka.


"Kondisinya, akan pulih, setelah beristirahat beberapa jam." Dokter Aditia menjelaskan, pada pria yang sedang menatap wajah gadis, yang terbaring di atas kasur.


Pria itu mengangguk, dengan pandangan tak teralihkan dari sana. Aditia, melihat sikap Azka yang tak biasa.


Siapa, gadis ini? Bisa merubah Azka, menjadi seperti itu.


"Siapa dia?" Aditia, bertanya. Tak mampu menyembunyikan rasa, ingin tahunya.


"Aku, juga tak mengenalnya." Pria yang di tanya menjawab.


"Sepertinya, ada yang ingin, mencelakainya."


Azka melanjutkan ucapannya.


Flashback


Dia, menyusup keluar dari suasana pesta, ingin mencari udara segar, di tepi kolam renang, yang tampak indah, di tengah malam.


Seorang wanita, berjalan sempoyongan, di sepanjang sisi kolam. Dengan mulut ngedumel.


Tiba-tiba, seseorang bergerak cepat, mendorong, gadis itu, sehingga terpeleset ke dalam kolam.


Pria itu, berlari cepat, sambil melepaskan, jas yang melekat di tubuhnya. Langsung masuk ke dalam kolam.


Sentuhan, di lengannya, membawa pikirannya kembali, dari lamunanya.


"Tunggu, sampai dia sadar. Aku, akan membawanya kembali ke rumahnya."


Aditia, mengangguk. Dia memberikan beberapa resep obat, pada pria itu. Kemudian, beranjak ke luar.


Siapa, sebenarnya, kamu? Mengapa selalu mendekat, padaku?

__ADS_1


__ADS_2