
Jangan terlalu bernafsu mengejarnya, karena akan membuatnya menjauh. Lakukan perlahan, hingga hatinya, siap menerima kehadiranmu.
Suara ketukan di pintu kamar, membangunkan Neysa dari tidur lelapnya.
Dia berjalan, setengah sadar, membuka pintu.
Araina muncul di sana, dengan wajah terlihat lelah.
"Napa, wajah loe?" Sapa Neysa, dengan suara turun dua oktaf, karena baru bangun tidur.
"Enggak bisa tidur, gue. Azza, belum ketemu." Gadis itu nyelonong masuk kamar.
Bantal guling, dan kasur yang empuk, menggodanya.
" Udah, gede. Entar juga pulang." Timpal, gadis yang mulai sadar.
Di toilet, si mbak sedang mencuci pakaian. Seorang laki-laki tanggung, bermain game di ruang tengah. Kedua orang tua Neysa, sedang berjemur di halaman belakang.
"Masalahnya, kita enggak tau, di mana dia sekarang, Ney." Gadis itu berkata, dengan mata terpejam.
"Mungkin, ada urusan mendesak. Dia enggak sempat kasih info." Wanita dengan daster bunga-bunga, berpikir positif.
"Ehm ehm...." Gadis itu pun tertidur lelap.
Neysa, membasuh muka dan menggosok gigi. Setelah shalat shubuh, dia melanjutkan tidur kembali. Terbangun, karena ketukan di pintu kamarnya.
"Pecal..., pecalnya, Neng!" Suara, ibu berkerudung, di depan rumah, menawarkan dagangannya.
Neysa tergopoh, dengan dompet, di tangannya. Bu Narsih, berdiri di samping sepedanya, membuka penutup bakulnya.
"Loe, mau dek?" Gadis itu bertanya, kepalanya, mengintip dari balik pintu.
Laki-laki remaja itu mengangguk, dengan mata fokus pada layar teve.
"Libur, Neng?" Tanya, ibu penjual pecal.
"Iya, Bu." Gadis itu menjawab kalem.
"Mau berapa bungkus, Neng?"
"Kalau diborong, semuanya. Berapa, Bu?"
Gadis itu, balik bertanya.
"Lima puluh ribu, Neng."
Kalau rezeki, gak kemana!
"Ini uangnya, Bu." Gadis itu memberi uang kertas berwarna merah.
"Besar amat, Neng. Belum ada kembaliannya." Bu Narsih, nyengir kuda.
"Buat, Ibu aja."
"Subhanallah, Neng. Semoga rezeki lancar, ya Neng."
"Aamin"
Pecalpun berpindah tangan. Gadis mahasiswa spesialis kedokteran itu, memasuki rumah besarnya.
Sementara, Bu Narsih, mengayuh sepedanya menuju kediamannya, dengan tenaga bagai kuda. Hatinya dipenuhi bunga, warna-warni.
Neysa, gadis yang sedikit pendiam. Bicara seperlunya. Namun bila berkumpul dengan dua sahabatnya, pribadinya langsung berubah, konyol.
***
Terlihat awan cerah menggumpal di langit yang biru. Azka menggantungkan setetes asa di benaknya.
Azzalea, tak mampu menolak, saat pria itu berniat mengantarnya. Bagai abdi yang patuh pada rajanya. Kini, dia duduk, dalam mobil mewah.
"Namaku, Azka." Suara lelaki itu memecah kesunyian. Ekor matanya, melirik wanita di sampingnya.
"Azza...Azzalea." Dengan gugup, dara itu menyebut namanya.
Lelaki di belakang kemudi, refleks membanting stir ke kiri, dan menginjak rem.
__ADS_1
Ciiiit....
Tubuh, gadis itu tertarik ke airbag, hand bag di pangkuannya, terjatuh.
"Kamu,...." Pria di sampingnya melepas, safety beltnya, kemudian memeluk gadis yang masih setengah linglung, di sampingnya.
"Syukurlah, aku lebih cepat, menemukanmu!" Ujar pria itu, ditengah rasa bahagia yang mengharu biru.
Lelaki itu semakin memeluknya erat. Gadis itu, merasa sesak napas.
"Lepasin dong, gue gak bisa napas." Jeritnya.
Pemuda itu, melepaskan pelukannya. Namun tangan atletis menggenggam jemari kecil, Azza.
Di luar, sepasang remaja memperhatikan mobil mewah yang terparkir.
Orang kaya, mobilnya juga mewah.
Beberapa burung bergerak membentuk barisan, melintas di udara. Azza semakin merasa resah.
Mestinya, gadis itu merasa bangga. Pria tampan, kaya raya, idola semua wanita, menggenggam tangannya.
Bukannya bahagia, Sang gadis mulai dirayapi perasaan gelisah.
"Kamu, menyelamatkan aku."
Gadis di hadapannya, terlihat bingung. Jaka sembung, bawa golok, belum nyambung bok.
"Enam bulan lalu, aku kecelakaan. Kamu menolongku dengan memanggil, temanku, serta mobil ambulan."
Pria itu, kembali menjelaskan, hingga wanita di hadapannya, mengerti.
"Kalau gitu, sweaterku, masih ada?"
"Ha ha ha ha." Pria itu tertawa, tidak menduga reaksi gadis itu, terhadap penjelasannya.
"Apa yang lucu?" Tanya gadis itu, polos.
Pria dengan cambang tipis itu, menatap mata indah di hadapannya. Semakin menarik. Batinnya.
"Boleh, pinjam HP?. Aku mau kontak, temenku, agar mereka tidak khawatir."
Azka, memberikan gawainya, pada gadis itu. Jemari lentik, menekan sebelas angka, di layar, yang tampaknya, sudah di luar kepala.
"Hallo...." Wanita di seberang menjawab panggilannya.
"Raina, gue Azza. Maaf, baru kasih kabar."
Gadis itu menyapa, tiba-tiba perasaan bersalah, menghakiminya. Pria di sampingnya, mengamatinya dalam diam.
"Azza, loe kemana aja?. Gue, gak bisa tidur, mikirin loe." Raina, bertanya dengan sedikit kesal.
"Maaf. Entar gue ceritain, semuanya."
"Sekarang, loe, di mana?"
"Dalam perjalanan, ke rumah. Nanti kita kumpul ya, gue yang traktir."
Bujuk gadis itu, menghilangkan kedongkolan sahabatnya. Pria di sampingnya, tersenyum simpul, mendengarnya.
***
"Siapa?" Tanya Neysa, melihat Araina terbangun, karena panggilan hand phone nya.
"Azza, tapi pake nomor beda."
"Alhamdulillah, dia dalam keadaan sehat." Gadis pendiam itu, mengucap syukur.
Araina mengendus, mencium aroma lezat masakan dari dapur.
"Kamu, pasti lapar ya?. Aku memang, mau bangunin, untuk makan siang bareng."
Gadis di atas kasur terkekeh, hingga tubuhnya terguncang. Hormon ghrelin, bereaksi dalam tubuhnya. Membuat cacing dalam perutnya bernyanyi.
"Suka, masakannya?." Tanya wanita paruh baya, di meja makan.
__ADS_1
"Raina, enggak pilih makanan, Tante. Apapun masuk. Kecuali meja dan kursi, itupun karena keeerasss."
Gadis itu, menirukan logat bicara khas temannya, yang berasal dari Sumatera.
"Ha ha ha ha"
Seketika ruang makan, dipenuhi gelak tawa, dengan kekonyolannya.
"Butiknya, rame?" Tanya, pria dengan kupiah di kepala.
"Alhamdulillah, Om. Lagi cari tenaga tambahan."
Seekor kucing menempel manja, di kaki gadis itu. Membelai kulitnya dengan buluhnya yang lembut.
"Hiii hiii hii" Spontan gadis itu mengangkat kakinya di atas kursi. Hewan manja itupun, berlari menjauh.
"Pasti takut kucing?" Pria remaja di hadapannya bicara, sambil terkekeh
"Ho oh."
Serentak, semua yang di meja makan tertawa. Mbak, di dapur pun, ikutan tertawa, melihat kegilaan yang terjadi di sana.
***
Mobil mewah, memasuki parkiran VIP, di sebuah mall terkenal.
"Kita ambil Hp, lalu ke grapari." Azka, memberitahu, wanita di sampingnya.
Gadis dengan rambut panjang, yang dibiarkan tergerai indah itu, memandang pria di sampingnya, dengan wajah penuh tanya.
"Biar, cepat bisa komunikasi." Lelaki itu, mengelak. Sebenarnya, otaknya memikirkan cara, untuk tetap berkomunikasi dengan dara cantik itu.
Gadis, yang telah membuat hatinya jungkir balik.
"Nih!" Dia memberikan iphone, edisi terbaru, pada gadis itu.
Azzalea, terbengong di tempatnya. Semua tindakan pria itu, di luar jangkauan otaknya.
Pria bertubuh tinggi itu, mengajak Azzalea memasuki grafari. Baru saja masuk, namanya disebut, oleh customer services.
Apa yang tidak bisa dilakukan, oleh orang kaya?
Lelaki tampan itu, menunggu di sofa. Beberapa pasang mata, tertuju padanya.
"Pasangan yang serasi." Gadis remaja, dengan baju merah memuja.
"Andai, aku juga bisa." Wanita di sebelahnya menimpali.
Dua orang wanita hamil, mengelus perutnya. Berdoa memiliki anak tampan, cantik dan sempurna.
"Suaminya, Mbak?" Tanya, customer service wanita, pada Azzalea, setelah selesai mengaktifkan nomornya kembali.
Gadis yang di tanya, wajahnya semerah buah naga. Pandanganya, beralih pada pria yang duduk dengan gagah, di sofa.
Bolehkah, aku menggenggamnya?
Azka, meraih tangan mungil itu, membawanya memasuki sebuah restoran mewah. Gadis di sampingnya begitu penurut.
***
Selena, baru saja keluar dari sebuah toko, yang menjual pakaian dalam, khusus wanita. Dua wanita teman dekatnya, serasa saudara, berjalan di kedua sisinya.
Mendadak, gadis itu menghentikan langkahnya. Tubuhnya tegang, bagai tersengat aliran listrik.
Upik abu. Benarkah yang tadi masuk ke restoran itu, adalah dia?
"Napa, Len?" Wanita dengan rok di atas lutut, bertanya.
Selena menggelengkan kepala. Semua belanjaannya kini, berpindah tangan, pada dua wanita di dekatnya.
Dia berjalan tergesah, seperti ada binatang buas, di belakangnya. Kaki panjangnya hampir mencapai restoran yang di tuju.
Bruuuuk
Tubuhnya, bertabrakan dengan seorang pria yang baru saja, keluar dari restoran tersebut.
__ADS_1
"Sial!. Kalau jalan pake mata!" Umpatnya pada pria berkepala licin, di hadapannya.