Jejak Cinta Azzalea

Jejak Cinta Azzalea
Bab 10. Pengakuan Azka


__ADS_3

Bila cinta, membuat wanita di dunia bahagia. Bagi Azzalea, tak begitu. Cinta yang menghampirinya, mengorek luka lama di hatinya.


[ Rai, plg kerja. Gue mampir ke butik, ya! ] Raina membaca pesan, dari Azzalea.


[ Siap, gue tunggu ya! ] Dia, membalas pesan sahabatnya.


"Gaunnya cocok, Neng?" Tanya Raina, pada salah satu pelanggannya.


"Model seperti ini. Boleh dibuatkan gaun dengan ukuran S?"


Pinta remaja yang baru beranjak dewasa, di depannya.


"Mau pake, kapan?" Tanya Raina, ramah.


Gadis pemilik butik itu, memberikan service excellent, pada setiap tamu yang datang ke butiknya.


Beberapa wanita, melihat gaun, dan pernak pernik, yang terpajang indah di etalase kaca. Dua karyawan, ngobrol dengan tamu yang duduk di sofa.


"Satu minggu, bisa Mbak?" Perempuan bercelana jeans biru memberi tenggat waktu.


"Boleh, tapi sebelumnya, harus fitting." Raina menegaskan.


Walau Raina pemilik usaha, dia tak keberatan terjun langsung menghandle customer yang datang.


Remaja yang ditanganinya, mudah diajak kompromi.


Pemilihan warna, model, aksesoris yang digunakan, dipilih gadis itu. Sehingga mempermudah kerja, Araina.


"Untuk harga, cocok?" Gadis itu, memastikan kedua kalinya.


Salah satu cara yang membuat pengunjungnya terpuaskan, adalah biaya yang disepakati bersama.


"Enggak masalah, Mbak. Asal hasilnya sepadan." Gadis itu berkompromi.


"Deal!.." Wanita pemilik butik itu, menjabat tangan tamunya.


Dara manis itu tersenyum puas, dengan sikap profesional, yang ditunjukkan Araina.


***


Di fakultas kedokteran, Neysa fokus menyimak pemaparan dari salah satu nara sumber, yang ada di depan


"Anak yang dibesarkan dalam keluarga, yang selalu bertengkar. Maka besar kemungkinan, ketika dewasa, takut berkeluarga"


"Maksud, Bapak?" Tanya mahasiswi dengan rambut sebahu.


"Pikiran bawah sadarnya menangkap pesan, berumah tangga, membuat hidup lebih susah, tidak bahagia.


Program itu, terinstall, saat dia melihat dengan jelas pertengkaran kedua orang tuanya.


Ingat! pikiran bawah sadar, 90% lebih kuat pengaruhnya, dibandingkan dengan pikiran sadar."


Pria muda itu, menjelaskan panjang lebar, Neysa mengangkat tangan.


"Bagaimana, cara merubah program yang ada di pikiran bawah sadar, Pak?"


Gadis cerdas itu sangat penasaran. Seketika sosok Azzalea berkelebat, di pikirannya.


"Salah satunya dengan terapi. Itu yang kami lakukan saat berada di ruang praktik."


Ujar lelaki di depan, sambil melihat jam tangannya. Sesi tanya jawab selesai. Pria itu mengakhiri materinya.


Pemateri, adalah hipnoterapis klinis, dari salah satu lembaga terkenal, di kota tersebut.


"Semangat banget, Ney!" Seorang pria dengan tubuh tinggi, menghampiri gadis itu.


"Ho oh. Menarik, pembahasannya."


Dara manis itu memberikan alasan, sambil memasukkan bukunya ke dalam tas.


"Mau pulang bareng? Kita searahkan?" Pemuda itu memberikan penawaran.


"Maaf, gue bawa mobil. Next tima ya! Bareng aja, ke parkiran!" Ajaknya.


Lelaki di depannya mengangguk senang, hatinya mengenggam, setetes pengharapan.


Semangat, Bro! Tas ransel menyemangati.


***


Di sebuah restoran mewah, tiga pria tampan berbeda usia, menuju parkiran.


Gadis berambut panjang, dengan baju berwarna pink, berjalan anggun, di sisi pria tampan, dengan cambang tipis di dagunya.


"Terima kasih, untuk jamuannya." Ujar pria berkaca mata, dengan logat malaysia.


"Terima kasih juga, untuk kunjungannya."


Azka melempar senyum ramah. Menjabat erat tangan yang terulur di hadapannya.


Azzalea, memberi cindera mata. Bingkisan berbentuk empat persegi, bersampul gold, beralih tangan.


"Nona, Azza. Senang bisa mengenal, Anda! Lain waktu, saya undang ke Malaysia!"


Lelaki itu, menatap gadis di hadapannya, penuh ekspresi memuja.


Perempuan lembut itu, tersenyum manis, semanis madu di campur gula. menggemaskan. Lelaki di samping, terpana.

__ADS_1


Krisna, bertugas mengantar tamu kembali ke hotel. Azka, mengendarai mobil, tanpa supir, Azzalea, bersamanya.


"Langsung pulang ke rumah?" Tanya pria itu.


"Mau ke butik, teman." Gadis di sebelah kirinya, bersuara.


"Aku antar! Tunjukkan jalannya!" Lelaki itu, mengurangi kecepatan, laju mobilnya.


"Tidak usah, Pak Azka. Bapak banyak kerjaan. Saya naik taksi aja." Tolak wanita itu.


"Sore ini, tidak ada meeting. Aku ada waktu luang." Pemuda itu, berkilah.


Untuk Azzalea selalu ada waktu, jam tangannya menyelah.


"Kalau lagi berdua, kamu panggil nama saja."


Pria beda usia dua tahun itu, memandang gadis di sampingnya.


Obrolan sore itu bikin canggung. Bukan jarak yang memisahkan, tapi keadaan.


Azzalea menghela napas panjang. Berusaha lebih tenang. Mengunci kegugupan yang menghadang.


Laju mobil semakin cepat. Ketenangan jalan, menambah keberanian di hati Azka.


"Azzalea....." Pria itu berhenti sejenak.


Gadis di sampingnya, memandangnya penuh tanya. Duduknya mulai gelisah.


"Maukah jadi ibu, dari anak-anakku?"


Huuh! Akhirnya......


Deg!


Keheningan menciptakan jarak. Gadis itu mengalihkan pandangan pada kesepuluh jemarinya yang tampak gemetar.


Dadanya bergemuruh, darahnya berlari lebih cepat menuju jantungnya. Kepanikan membuat bibirnya terkunci rapat.


"Tidak buru-buru. Aku tunggu sampai kamu siap!"


Keren, Boss! Spion di depan memuji.


"Mas Azka, kita belum kenal lama. Aku enggak berani menjawab, pertanyaan barusan.


Pernikahan, bagiku sakral. Jadi harus dipikirkan dengan matang!"


Dara berkulit putih bersih itu, menjawab dengan sura pelan, hampir tak terdengar.


"Iya, enggak perlu buru-buru. Aku merasa, kamu wanita yang tepat, untukku."


"Mungkin karena, Mas, pengin balas budi? "


Azka terdiam, perkataan gadis itu menghentikan sesaat harapannya.


Mobil berhenti di gedung berwarna abu-abu.


"Kenalkan Aku, pada sahabatmu!"


Suhu tubuh gadis itu, naik turun, pikirannya berkecamuk, saat pria tampan itu, mengikutinya memasuki gedung.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam."


Wanita paruh baya, mengenakan kerudung berwarna biru, berjalan mendekat.


"Neng Azza.....mari masuk!"


Perempuan itu, mempersilahkan dengan gerakan tangan. Ibu jari mengarah ke ruang tamu.


Ekor mata, tertuju pada pria blasteran.


Duh....Gantengnya!


Sofa berwarna coklat, menyambut kedatangan keduanya.


"Neng Raina, masih ada tamu. Silahkan ditunggu!"


Azzalea, menghempaskan diri di sofa. Duduknya berjarak tiga puluh centi, dengan pria itu.


"Silahkan, Neng!"


Dua jus jeruk terhidang, menggoda kerongkongan yang telah tersiksa menahan dahaga.


"Azza, permintaan saya, abaikan saja! Anggap saya enggak pernah bicara."


Glek!


Azza menelan ludah walau tak kering kerongkongannya. Gelisah.


"Iya, Mas."


Bagai elang yang mengincar mangsanya. Azka merasakan kegelisahan gadis di depannya.


"Kita, masih bisa berteman, kan?"


Ada penghatapan dalam pertanyaan. Azka menatap gadis yang terdiam di sampingnya.

__ADS_1


"Pasti Mas."


Senyum Azka merekah, bagai semangka merah yang terbelah. Menyegarkan.


***


"Neng, mau kemana?"


Bik Imah tergopoh, menuju garasi. Anissa berdiri di samping mobil merah.


"Ketemu teman, Bik."


Gadis dengan rok hitam, tiga puluh centi diatas lutut, membuka pintu mobil. High heels merah menghiasai kakinya yang jenjang.


"Mang Ujang, antar, ya Neng!"


Pria dengan kaos putih, mendekati mobil.


"Mang Ujang, jaga rumah!"


Kedua pengurus rumah, saling menatap. Memberi isyarat anggukkan kepala.


"Baik-baik di jalan, ya Neng!"


Zzeeeezz


Bruuuum


Mesin mobil menyala, keluar bagasi, memasuki jalan raya. Menyisahkan pengurus rumah yang mengelus dada.


"Hai....maaf. Baru kelar dengan pelanggan."


Gadis dengan rambut ikal sebahu, menyapa Azka. Memperkenalkan dirinya.


"Araina."


Tangan atletis, menyambut tangannya. Memberikan genggaman yang akrab.


"Azka" Pria tampan itu, memperkenalkan dirinya.


Ganteng banget!


Sesaat suasana hening, Araina memangdang dua orang di depannya, bergantian.


"Tadi menjamu klien. Baru kemari."


Azzalea menetralkan suasana. Wajah gadis itu, berubah merah jambu. Tersipu.


Mbak Lastri, datang membawa nampan, berisi tiga botol aqua. Tak lupa setoples cemilan.


"Mas Azka, atasanku, Rai."


Azzalea memperkenalkan. Rasa gugup tetiba mendera.


"Assalamu'alaikum." Suara lembut dari bibir lobby, mengalihkan perhatian.


"Wa'alaikumussalam." Ketiganya menjawab berbarengan.


Gadis mengenakan tas sandang, dua makalah di tangan. Muncul di sana.


"Neysaaaaaa..." Teriak Araina.


"Yesss...Surprise! Kebetulan gue ada waktu, main sesekali."


Tatapannya, tertuju pada pria tinggi di sana.


"Terpana, dengan ketampanannya?" Araina menggodanya.


" Ho oh."


"Ha ha ha..."


Spontan, gelak tawa memenuhi ruangan. Wajah Neysa, berwarna merah delima.


Kebahagiaan itu menular, menari-nari di pikiran, menghangatkan jiwa.


"Gue, pengin. Loe kasih pelajaran buat cewek ini!"


Dirga memberikan selembar foto, pada pria berkemeja hitam, dengan tatto di tangan kanan.


Lelaki itu, menatap foto gadis berambut merah, dengan rambut sebahu.


"Gadis itu, sering main di club."


Pemuda berkepala plontos, menyebutkan sebuah alamat.


"Ini, gadis selanjutnya." Lelaki itu melempar foto kedua, ke atas meja.


Gadis berambut panjang, sedang memberikan sweater, pada seorang pria, yang mengalami luka di dahinya.


Taakk!


Tiga gepok, uang berwarna merah, tergolek di meja.


"Sisahnya, setelah tugas loe, selesai! Ingat, hilangkan jejak!"


Tangan bertatto, mengambil bayaran, serta dua lembar foto di meja.

__ADS_1


"Oke, Boss!"


Bayangan hitam menghilang, dengan tas ransel menaiki bahunya yang kekar.


__ADS_2