
Wajah Azka berbinar. Senyum bahagia terukir di bibirnya. Seluruh tubuhnya dialiri energi bahagia. Dampak dari jatuh cinta.
Pria itu baru saja mendapat pesan dari Azzalea, mengajaknya bertemu di sebuah restoran, makan malam bersama. Pucuk dicinta, ulampun tiba.
Terima kasih ya Allah. Semoga pertemuan malam ini, menjadi awal langkah kami untuk hidup bersama.
Beberapa karywan, memandangnya. Penuh tanya. Wajah yang biasa datar, dan suara yang terkesan dingin. Tetiba berubah sebaliknya.
"Ada apa, dengan Bos? Gembira banget."
Tanya seorang pria dengan kemeja putih bergaris, pada wanita di sampingnya.
"Semoga selalu begitu, biar kita juga enggak ngerasa takut setiap hari."
"Loe takut ternyata."
"Ya iyalah. Gimana kalau tiba-tiba gue dipecat, gegara salah bersikap. Bisa amsiong kan."
"Enggak segitunya kali. Bos memang dingin, tapi enggak pernah bertindak semena-mena. Gue udah bertahun-tahun kerja. Selalu nyaman aja." Lelaki itu menjelaskan.
Bila cinta melanda, hati penuh warna warni bunga. Semua yang terlihat, menambah rasa bahagia. Dunia serasa milik sendiri.
"Seneng banget!"
Sapa Krisna, saat melihat Azka, berusaha menyelesaikan dengan cepat pekerjaannya. Dengan senyum senantiasa mengembang di wajahnya.
"Gue mau ketemu, Azzalea." Jawabnya, dengan suara penuh nada bahagia.
Krisna sontak tertegun, alisnya meninggi, kepala condong ke depan. Tetiba energi di tangannya menghilang, dua berkas di genggamannya hampir saja tergelincir.
"He eh."
Azka melirik jam rolex putih berulang kali. Saat menatap ke arah salah satu jarum jam. Telunjuknya sibuk mengetuk-ngetuk.
"Kenapa jam ini lambat sekali sih."
"Memang begitu, rasanya menunggu." Krisna menggodanya.
Azka mengatur laju duduk. Tukar menukar duduk dan berdiri tak cukup tiga kali. Seperti orang ambeyen.
Krisna menyomot kue kering yang ada di meja kerjanya. Melangkah menghampiri Azka. Sementara Azka berdiri di samping sofa.
"Saran gue, loe pulang. Siap-siap."
"Thanks, Bro. Gue titip kantor ya."
Azka meraih jas hitamnya, dengan tergesah meninggalkan ruangannya. Krisna melepas kepergiannya dengan gelengan kepala, dan senyum tipis di bibirnya.
***
Di kantor Azzalea. Gadis itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya, saat Bram berjalan menghampirinya.
"Udah mau pulang?" Tanya Bram, sambil memandang gadis cantik di hadapannya.
Azalea mengatupkan kepala. Menunduk seperti putri malu. Menerima tatapan atasannya.
Di ruangan, hanya mereka berdua. Beberapa karywan lainnya, sudah meninggalkan kantor sepuluh menit yang lalu. Rasa gelisah menjalar di tubuh Azzalea.
"Baik-baik di jalan, ya!"
Bram meninggalkan gadis itu, bertindak cepat, saat menangkap gesture wanita di hadapannya.
"Huh..."
Dia menarik napas lega. Mengambil tas berwarna pink di meja. Mengeluarkan kunci mobil, lalu meninggalkan ruangannya.
Satu jam kemudian. Azzalea melangkah ke kamar untuk bersiap-siap. Mengenakan dress berwarna pink, dengan legin hitam. Dia menghadap ke kaca. memoleskan bedak tipis dan sedikit lipstik berwarna pink ke bibir mungilnya. Lalu melangkah keluar dengan tas sandang hitam di bahunya.
Azka sedang asyik memainkan gawai. Sontak tertegun.
"Mari, Mas!"
Azka masih terdiam
"Mas Azka. Ayo!"
"Kenapa, Mas? Ada yang aneh, ya?"
Mata Azza, mengelilingi lingkaran baju di kanan kiri.
"Enggak. Cantik banget"
Wajah Azka agak memerah seperti kentang rebus saus stroberi. Azzalea tersipu.
Mobil BMW hitam melaju di jalan raya. Mang Ujang, mengintip dua insan di kursi belakang. Melalui spion tengah. Turut bahagia melihat majikan, menemukan tambatan hatinya.
Mereka telah sampai di restoran jepang yang di tuju. Tangan atletis itu menggandeng jemari Azza yang mungil.
Seketika langkah Azza terhenti. Menatap tangan pria itu menggenggam jemarinya.
"Kenapa berhenti?"
Azka menatap gadis di samping kirinya. Azzalea melemparkan tatapan lembutnya.
"Banyak orang lihat, Mas. Entar ada yang marah." ujarnya dengan suara pelan. Azka semakin membenamkan jalinan jemarinya.
"Biar orang tau, kamu wanita milikku!" Azka berkata lirih, sambil mendekatkan bibirnya ke telinga gadis itu.
Deg
Wajah dara itu berwarna merah delima. Debaran halus singgah di jantungnya. Aliran darahnya turun naik. Hawa dingin mengalir di jemari tangannya.
__ADS_1
"Yuk!"
Azka, mengajaknya melangkah ke bibir restoran yang ada di depannya. Pelayan membawa keduanya ke ruang VIP yang telah di reservasi sebelumnya oleh Azka.
***
Di tempat lain, diwaktu bersamaan. Krisna sedang bersama dengan Araina, di sebuah restoran sunda.
"Mereka lagi ketemuan?" Tanya gadis itu pada pria dengan kaos merk lacoste, berwarna coklat.
"He eh."
Krisna memandang gadis manis di hadapannya. Riasan tipis terkesan alami menempel di wajah imut, Araina.
"Semoga keduanya berjodoh."
Araina mengucap doa. Bermohon kebahagiaan menghampiri sahabatnya.
"Apa hubungan Azzalea dengan Adrian?"
Krisna mengajukan pertanyaan. Memuaskan pikirannya yang dilanda penasaran. Araina menghentikan makannya. Menatap Krisna.
Perasaan tak nyaman melanda gadis itu. Mengungkap aib sahabatnya, pada orang yang baru dikenalnya, adalah tindakan tak beretika. Dia menarik napas panjang.
"Adrian, mantan tunangan Azzalea."
Akhirnya wanita itu menjelaskan. Matanya menatap lurus pria di depannya. Mencari sesuatu pada ekspresinya.
"Huuh"
Krisna menghembuskan napas lega. Rasa hangat menjalar di hatinya. Membayangkan sahabatnya, menemukan cinta sejatinya.
"Kalau gitu aman. Enggak ada halangan untuk mereka bersama."
Pria itu kembali meminum jusnya. Araina membelah bistik salmon yang masih menguap.
Sesaat keduanya terbuai dengan nikmatnya makanan yang menari dalam kulumannya. Sesekali Krisna mencuri pandang dara manis di depannya. Hatinya terasa hangat.
"Azka harus sabar, menghadapi Azzalea. Gadis itu tampaknya dekat. Tapi susah meraih hatinya."
Araina memecah kesunyian diantara mereka.
"Maksudnya?"
Krisna terhenyak, tubuh condong ke depan. Dahinya mengernyit. Terdorong rasa penasaran.
"Pengalamannya dengan pria enggak mudah. Beberapa kali hatinya tersakiti. Di hina keluarga calon suami, pernah juga di tinggal mati calon suami.
Krisna menyimak penjelasan Araina, dengan mulut setengah terbuka. Garpu dan bistik mengambang di udara.
"Gue dan Neysa, lagi cari hipnoterapis klinis. Untuk ngebantu menghilangkan traumanya. Tunggu sampai Azzalea membutuhkannya.
Pemuda berdarah arab itu, terdiam mendengar penjelasan Araina. Pikirannya mulai menerka. Menemukan benang merah dari cerita Araina.
"Maaf. Ada tambahan pesan lainnya?" Tanya pelayan itu pada keduanya.
"Air mineral dua ya, Mbak."
Araina menjawab sambil memberikan senyum termanisnya.
Tek!
Suara petikan jari Krisna mengejutkan Araina, yang sedang menyeruput jus jeruknya.
"Azka butuh perempuan lembut dan pengertian. Gue pikir, Azza gadis yang tepat untuknya."
Krisna menyimpulkan hasil analisanya.
Sementara di sebuah restoran jepang. Azka dan Azzalea telah selesai menyantap hidangannya. Jus stroberi di tangan Azzalea.
"Apa tawaran, Mas Azka, masih berlaku?"
Gadis bergaun pink, membuka percakapan. Azka tersedak jus jeruk yang masuk tenggorokannya.
"Huk huk huk"
Pria tampan itu terbatuk beberapa kali. Di dera rasa terkejut. Wajah berubah merah, semerah buah naga.
"Maaf Mas!"
Azzalea terkesiap. Ekspresi wajah merasa bersalah.
Azka menggerakkan tangan kanannya, sambil menahan batuk yang belum reda. Azzalea berjalan ke arahnya, menepuk-nepuk pelan punggungnya. Tangan kanan memberikan aqua.
Sentuhan lembut di pundak Azka, mengurangi rasa sakit di hidung dan tenggorokannya. Seketika batuknyapun menghilang.
"Terima kasih!"
Ujar lelaki tampan itu. Azzalea menarik napas lega. Kembali ke posisi duduknya.
Suasana tetiba menjadi canggung. Azzalea menundukkan kepala. Terjebak rasa malu akan keagresifannya. Azka, menikmati perasaan bahagia. Senyum tipis muncul di bibirnya.
"Aku selalu menunggumu, Azza.
Pria itu bersuara, menghapus jarak yang tercipta diantara keduanya.
"Tapi aku merasa, enggak layak, untuk Mas Azka."
Suara gadis itu terdengar pelan. Hampir tak terdengar oleh Azka.
Jemari kokoh, meraih tangan lembut Azzalea. Memberikan energi penuh cinta. Vibrasinya menenangkan hati sang dara.
__ADS_1
"Kamu sangat layak, sayang"
Azka memberikan keyakinan. Dia menatap Azzalea dengan perasaan sayang yang membuncah.
Gadis itu mengatur laju pikirannya. Bahagia dan khawatir muncul bergantian tak cukup lima kali. Seperti naik roller coaster di dufan.
"Tapi Mas..."
Ucapannya terhenti, dengan gerakan jari telunjuk Azka menyentuh bibirnya yang lembut.
"Saat pertama bertemu kamu. Hatiku, memilihmu!"
Azka menatap wajah lembut Azza. Jemarinya semakin menggenggam jemari lentik, gadis itu.
"Mas Azka, harus tau masa laluku."
Azzalea berharap pria itu mengetahui, semua masa lalunya.
"Kalau aku memilihmu. Maka, aku menerima dirimu seutuhnya sayang."
Jawab Azka. Dengan pandangan tetap pada sepasang mata lembut, di depannya.
"Terima kasih, Mas. Aku akan berusaha menjadi wanita yang tepat, untuk Mas Azka."
"Ikut aku ketemu, Kakek, minggu depan ya!" Ajak Azka, dengan nada penuh harap. Azzalea dilanda kebimbangan. Secepat itukah? dalam hatinya.
"Tapi aku belum siap, menikah Mas."
Azzalea berusaha menghindar. Ketakutan akan masa depan, terbayang di benaknya.
"Hanya ketemu. Enggak ada rencana lainnya."
Lelaki itu berusaha meyakinkan Azzalea.
"Mas yakin? Hanya ketemu?"
Pria itu menganggukkan kepala. Menghalau keresahan gadis yang dicintainya.
"Baiklah. Aku lakukan yang terbaik."
Azka menghela napas lega. Mendengar kesediaan Azzalea.
Perlahan bibirnya mencium lembut punggung tangan wanita di hadapannya.
"Terima kasih, sayang!"
Keduanya meninggalkan restoran, menuju lobby utama. Menunggu jemputan, Mang Ujang.
Tetiba, dua orang gadis menghampiri keduanya. Wanita dengan rok hitam lima centi di atas lutut. Menghampiri Azka.
"Kak Azka, ngapain di sini?"
Sapa wanita itu dengan suara manja. Tatapan tajamnya menghunjam pada Azzalea.
"Nissa. Loe dari mana?"
Azka balik bertanya. Sementara wanita lainnya menghampiri Azzalea.
"Dasar upik abu! Bukan cuma jadi simpenan. Loe juga jual diri ke atasan. Biar cepat naik jabatan?" Selena membisikkan kalimat tajam.
Azka meraih tubuh Azza, mendekat padanya. Instingnya mengatakan, untuk melindungi Azzalea. Seketika amarah menguasai hati Anissa.
"Rubah jelek! Ngapain loe, dekat-dekat, Kak Azka?" Teriaknya lantang.
"Jaga ucapanmu, Anissa!"
Azka menenangkan adiknya. Lengan atletis meraih pinggang ramping Azzalea. Menjaganya.
Selena tak ingin ikut campur. Jaga image di hadapan Azka. Hatinya bertepuk tangan, akan kesialan Azzalea.
Mang Ujang datang menghampiri dengan BMW nya. Azka membawa Azzalea memasuki mobil. Dengan gerakan cepat, Annisa menjambak rambut panjang, Azzalea.
"Dasar wanita udik!"
Geramnya, sambil menarik rambut hitam legam di tangannya.
"Aawww."
Azzalea mengadu kesakitan. Azka memegang tangan Annisa. Kekuatan tekanannya menimbulkan rasa sakit di kulitnya. Dia melepaskan rambut Azzalea.
"Dengar Anissa. Dia calon Kakak iparmu. Bersikaplah sopan padanya!"
Tegas Azka pada Anissa. Seketika tubuh gadis itu gemetaran.
Azka merapikan rambut Azzalea. Mengelus kepala gadis itu. Membimbing tubuh gemetarnya memasuki BMW hitam yang terparkir
"Awas kamu, wanita kampung! Aku akan buat perhitungan denganmu."
Teriak Anissa.
Hatinya dipenuhi kebencian. Merasa diabaikan oleh lelaki idamannya. Ketika melihat BMW hitam meninggalkannya.
-----------‐----------------------------------------------
Salam sehat sejahtera, untuk para readers.
Terima kasih, telah menjadi pembaca, dan memberikan masukan pada Author 🙏🙏🙏.
Ikutin terus ya, kelanjutan ceritanya.
Please, berikan like, komentar, vote dan rate untuk Author ya.
__ADS_1
Terima kasih. 😘🙏🙏