Jejak Cinta Azzalea

Jejak Cinta Azzalea
Bab 15. Bertemu Adrian


__ADS_3

Pagi itu, suasana kantor menjadi riuh. Kedekatan Azzalea dengan Azka. Menjadi topik utama perbincangan. Seakan tak ada akhirnya, untuk dibicarakan.


Selena, mondar mandir ala setrikaan. Di ruang kerjanya. Pikirannya penuh dengan bayangan Azzalea dan Azka. Vibrasi negatif mempengaruhi fisik dan mentalnya.


Kenapa gue selalu tertinggal satu langkah, dengan gadis udik itu.


"Gelisah banget, Len. Kenapa?"


Tanya salah satu wanita, teman kantornya. Selena menghembuskan napas, menghilangkan rasa sesak dalam dadanya.


"Loe, lihat Azza?"


Selena bertanya, sambil mendekat beberapa langkah. Gadis dengan map di tangan, mengerutkan dahinya.


"Kalian, kan satu tim. Harusnya loe, lebih tau."


Selena mengabaikan gadis itu, kembali ke meja kerjanya. Melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Azzalea, berada di ruangan atasannya. Bram menatap lurus wajah lembut di hadapannya. Gadis itu menundukkan kepalanya. Menghindari tatapan lelaki itu.


"Ikut dengan saya, makan malam bareng klien. Malam ini!"


Sesaat Azza terdiam, memikirkan cara menghindar. Bram melihat keraguan di wajahnya.


"Gimana, kalau kali ini, Selena yang temani, Pak Bram?"


Gadis itu memberikan pilihan. Berharap kali ini, terbebas dari tugas lemburnya. Tetiba ide cerdas muncul dipikirannya.


"Baiklah! Lain kali enggak boleh nolak ya!" Pria berkulit hitam manis itu, berkata lembut, dengan senyum ramah mengembang di wajahnya.


"Terima kasih, Pak Bram. Semoga makan malamnya berjalan lancar."


Wanita dengan dress berwarna toska itu, membungkukkan setengah badannya. Meninggalkan Bram, yang memendam rasa kecewa.


"Huuhh...Syukurlah."


Azzalea menarik napas lega. Gadis itu melangkah menuju pantry. Langkahnya terhenti, saat seseorang memanggil namanya.


Selena, berjalan tergesah menghampirinya. Azzalea merasakan aura tak biasa, terpancar dari gadis berambut pirang itu. Sikapnya waspada.


"Ada apa, Len?"


"Loe, kemana aja?"


Tanya Selena dengan sengitnya. Sorot mata menusuk lawan bicara. Gadis di hadapannya terlihat tetap bersahaja.


"Gue dari ruangan, Pak Bram."


Azza menjawab dengan senyum kalemnya. Mempersiapkan segala kemungkinan yang ada, berhadapan dengan wanita berhati iblis di depan matanya.


"Enggak cukup, dengan menjilat bos besar? Masih perlu dukungan, Pak Bram, juga? Benar-benar mengerikan."


Tuduh Selena. Iri, dengki membanjiri aliran darahnya.


"Enggak seperti, yang loe, pikirkan!"


Azzalea menanggapi dengan sikap tenang. Faktanya, semua tuduhan, hanya kesalapahaman belaka.


"Munafik, loe!"


Dengan cepat, kedua tangan Selena menghentak bahu ramping, Azzalea. Tubuh gadis itu terdorong beberapa langkah. Membentur tembok, di belakangnya.


"Selenaaaa!"


Gadis itu berteriak. Toleransinya telah mencapai batas. Azzalea melontarkan sikap protesnya, karena diperlakukan semena-mena.


Jeritannya mengundang rasa penasaran, beberapa karyawan yang lalu lalang. Selena membelalakkan mata.Tak menduga tindakan spontannya, berbalik mempermalukannya.


"Dasar kampungan!"


Selena mendengus kesal. Azzalea membalasnya dengan tatapan tajam.


"Dengar ya, Selena. Kalau loe, bertindak semaunya. Gue juga, bisa membalasnya!"


Gadis itu menegaskan suaranya, ekspresinya penuh ancaman.


"Loe pikir, gue takut?"


Selena menantang balik. Beberapa karywan mulai berdatangan. Azzalea melirik susana di sekelilingnya. Dia mesti mengakhiri aktingnya.


"Ingat! Apa yang loe udah lakuin. Semuanya pasti berbalik, padamu. Jadi, bersiaplah!"


Azzalea mendekatkan bibirnya ke telinga Selena. Gadis itu meninggalkannya, dengan mulut setengah menganga.


"Loe, gak papa, Len? Seorang perempuan menyentuh tangan Selena. Memberikan penghiburan. Selena menatapnya, dengan ekspresi kesal.


"Apaan, sih!"


Selena menghentakkan tangan gadis itu. Setengah berlari meninggalkan kerumunan. Rasa kesal, marah dan benci bercampur jadi satu. Mulai memprovokasi keimanannya.


*********


"Neysa, tungguin!"

__ADS_1


Seorang pria berkaca mata, berlari setengah terbang dari parkiran. Dua diktat di tangan, tas ransel kepayahan menaiki bahunya.


Neysa menghentikah langkahnya. Membalik badan, menatap Ivan menghampirinya dengan napas ngos-ngosan.


"Cepetan! Dosennya killer. Entar terlambat, susah dapat nilai A."


Neysa mempercepat kembali langkahnya. Ivan mensejajarkan dirinya.


"Jangan gitu dong, Ney. Gue pengin dapat hadiah dari mama, kalau dapat nilai A, di semua mata kuliah."


Ivan menanggapi dengan napas memburuh.


"Yuuk, cepetan."


Neysa setengah berlari, mencapai bibir kelas. Beberapa pasang mata mengikuti bayangan keduanya, saat melangkah menuju kursi paling belakang.


"Ney, duduk depan, dong!"


Seorang pria dengan kemeja abu-abu, bersuara. Neysa mengalihkan pandangannya. Menatap wajah memelas, di baris paling depan.


"Sama aja, duduk dimanapun."


Gadis itu mengambil posisi duduk di tempatnya. Ivan duduk di samping kanannya.


"Selamat sore!"


Seorang pria muda, mengenakan kaca mata. Muncul di tengah bibir kelas. Kemeja navy, dengan celana hitam berpadu. Tangan kiri menenteng sebuah buku.


"Selamat sore, dokter Aditia."


Rasa senang dan bahagia, terpancar di wajah para wanita. Ekspresi waspada, menghantui para mahasiswa di sana. Tersaingi dengan ketampanan Aditia.


Anissa, baru saja tiba di kantor Azka. Sekretaris tak mampu menghadang langkahnya. Tak ingin cari masalah dengan pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


Gadis berambut sebahu itu, langsung membuka pintu, tanpa salam pembuka. Empat pasang mata langsung menatap kehadirannya.


"Ups!"


Ujarnya tanpa rasa sesal. Lalu dengan santai menuju ruang khusus, yang selalu digunakan Azka, beristirahat saat merasa lelah, ditengah kesibukan bekerja.


Empat pria melanjutkan obrolannya. Mengabaikan kehadiran Anissa. Terdengar samar suara krisna, membacakan beberapa poin penting, hasil meeting satu jam sebelumnya.


Meeting selesai. Dua pria keluar dari ruangan. Krisna menghampiri, Anissa yang duduk santai, sambil mengoperasikan gawainya. Azka meneruskan pekerjaannya.


"Sore, Anissa!"


Krisna menyapanya. Anissa masih fokus menatap gawainya. Tak memperhatikan kehadiran Krisna.


"Maaf! Ada yang bisa saya bantu, Nis?"


Kali ini lelaki itu meninggikan suaranya. Berharap wanita itu, menyadari kehadirannya.


Anissa, menatap Krisna.


"Gue, mau ajak, Kak Azka. Makan malam bersama."


Anissa mengembalikan majalah ke asalnya. Melintasi krisna yang berdiri tak jauh darinya.


"Azka, ada meeting dengan beberapa kolega. Enggak tau jam berapa kelarnya."


Krisna menjelaskan, sambil menghadang langkah, Anissa. Gadis itu menatapnya dengan pandangan tak suka.


"Loe cuma karyawan. Sadar diri dong! Enggak perlu ijin dari kamu, hanya untuk makan malam aja."


Anissa memukulkan hand bagnya ke dada Krisna. Pria itu terpaku di tempatnya.


"Keterlaluan kamu, Anissa!"


Tetiba Azka berdiri tak jauh dari keduanya. Mata tajam dengan iris coklat, menatap Anissa yang terdiam di tempatnya.


"Sikap inikah, yang kamu pelajari selama tinggal di Prancis? Tak ada toleransi, sama sekali. Sangat di sayangkan!"


Anissa, menundukkan kepalanya. Perasaan malu menjalar ke wajahnya.


"Gue, mau ngajak, Kak Azka."


Gadis itu bersuara. Tak selantang biasanya. Pria di hadapannya, mampu mengalahkan kesombongan dirinya.


"Perlu, Kak Azka ulangi, apa yang telah disampaikan Krisna, barusan?"


Pria itu, semakin menegaskan ucapan dan tatapannya.


"Anissa, sampai kapanpun, hubungan kita, hanya sebatas kakak dan adik. Jangan terlalu banyak berpikir!"


Azka menyilangkan kedua tangan di depan dada.


Anissa, menghentakkan kedua kakinya di lantai. Tas sandang terlempar di pojok ruangan. Bibirnya cemberut, bagai anak kecil tak mendapatkan mainan.


"Aku antar, pulang?"


Krisna memecahkan suasana canggung yang tercipta. Pria itu memberikan isyarat pada Azka, melalui gerakan kepala. Agar tak melanjutkan ucapannya.


"Aaargghh...."

__ADS_1


Anissa berteriak, melampiaskan kekecewaannya. Menghempaskan tubuhnya di atas sofa. Menendang meja kaca di hadapannya.


Di tempat lain. Setelah menyelesaikan shalat asharnya. Azzalea meninggalkan kantornya lebih awal. Hari itu, dia tak perlu lembur. Wanita itu, menghentikan mobilnya di sebuah butik.


Dua petugas wanita menyambutnya ramah. Seorang gadis dengan lipstik berwarna pink, menghampirinya.


"Nona, membutuhkan bantuan?"


"Saya butuh gaun, untuk acara makan malam. Model simple."


Azzalea menjelaskan benda yang di carinya.


Gadis berseragam bergerak lincah, menuju salah satu etalasi kaca. Berbagai model gaun, dengan warna yang beragam. Terpajang di dalamnya.


"Silahkan, dilihat, Nona. Jika ada yang sesuai, katakan saja."


Petugas wanita melayaninya dengan ramah. Azzalea terbuai dengan pemandangan indah di hadapannya.


"Azzalea...."


Seseorang memanggil namanya. Menghentikan tangan mungilnya, saat ingin mengambil salah satu gaun. Mata indahnya mencari asal suara.


Seorang pria dengan kemeja coklat, berdiri tak jauh darinya. Memandangnya dengan ekspresi bahagia. Seketika kehadiran pria itu, mengubah moodnya berbelanja.


"Mas Adrian, sendirian aja?"


Ada kekhawatiran di nada suaranya. Teringat kejadian dua bulan lalu, saat wajah mulusnya terluka dengan sebuah tamparan. Gadis itu, menginvasi kondisi di sekitarnya.


"Gue sendirian."


Adrian berkata, menghilangkan keresahan di hati Azzalea.


"Gue duluan, Mas."


Tiba-tiba gadis itu membatalkan niatnya, mencari sebuah gaun. Berjalan tergesah meninggalkan butik tersebut. Adrian mengerjarnya.


"Azza, bolehkah kita bicara?"


Pria itu menghadang langkah Azzalea. Seketika langkah gadis itu terhenti. Dia menatap tajam, wajah memelas di depannya.


"Mas Adrian, hubungan kita sudah berakhir, lima tahun yang lalu."


Adrian meraih pergelangan tangan, Azzalea. Gadis itu tersentak, spontan menarik tangannya.


Gadis itu berbalik, mangambil jalan lain untuk menghindar. Namun Adrian, terus mengejarnya.


"Azza, aku masih mencintaimu."


Langkah gadis itu, terhenti. Senyum sinis muncul di wajahnya.


"Ha ha ha"


Gadis itu tak kuasa menahan tawanya. Pengakuan Adrian, sangat menggelitik perasaannya. Pria yang dulu menghinanya, sekarang berbalik mencintainya.


"Kenapa kamu, tertawa?"


Adrian menggaruk kepalanya yang tak gatal. Tawa gadis itu terhenti seletika, saat melihat wajah Adrian berubah merah, seperti buah delima.


Tak jauh dari keduanya, seorang pria dengan kaca mata hitam, berdiri di seberang trotoar. Mengawasi gerak-gerik keduanya. Dia bergerak saat melihat Azzalea, meninggalkan Adrian, yang terbengong sendirian, di tepi jalan.


Lelaki itu berjalan mengikuti Azzalea, menuju parkiran, mempercepat langkahnya, ketika gadis itu hampir tiba di sisi mobilnya.


"Loe, yang namanya, Azzalea?"


Pertanyaan pria itu, menghentikan gerakan gadis itu, membuka pintu mobilnya. Azzalea membalikkan tubuhnya. Pria itu, bersandar di badan mobilnya.


"Loe, jauhin, Adrian"


Pria itu berkata, sambil menghisap si garet merah di bibirnya. Azzalea mengerutkan dahinya. Seketika otaknya berputar mencari jawaban yang tepat.


"Gue, enggak ada hubungan dengannya. Pertemuan tadi tak sengaja. Tolong sampaikan pada Adrian, agar tak mengangguku."


Pria berkaca mata hitam terdiam. Memandang wajah cantik di hadapannya. Tak menemukan kebohongan diucapannya.


"Jangan khawatir, gue cukup tau diri."


Azzalea membungkukkan setengan badan, berpamitan padanya.


"Gue duluan."


Ucapnya, saat hendak menjalankan mobilnya menuju jalan raya. Meninggalkan pria dengan kemeja hitam, terpaku di parkiran.


------------------------------------------------------------------


Salam sehat, sukses , sejahtera, untuk para Readers tercinta. 🤗🤗😍.


Terima kasih, untuk dukungannya, pada Author.🙏🙏🙏.


Please, berikan like, rate, vote dan komentarnya, pada novel ini. Author, membutuhkannya. Untuk perbaikan isi cerita. 🙏🙏🙏.


Salam


Aisyah Mumtazh

__ADS_1


__ADS_2