Jejak Cinta Azzalea

Jejak Cinta Azzalea
Bab 13. Gosip Membawa Berkah.


__ADS_3

Cinta bukan hanya sekedar ucapan, tapi


penerimaan seutuhnya, pada orang yang dicintai beserta seluruh masa lalunya.


Hari itu, genap setahun Azzalea bekerja sebagai disainer, di perusahaan tersebut. Gadis itu duduk di meja kerjanya, menatap layar komputer yang terbuka. Pikirannya resah.


Cahaya mata nanar, kedua tangan tumpang tindih dii atas meja. Rambut panjang tergerai indah di balik punggung ramping. Baju berwarna pastel, menambah kesenduan ekspresi wajahnya.


Tiga AC terpasang di ruangan, menambah energi udara. Namun tak mempengaruhi gosip panas yang sedang beredar, diantara kerumunan.


Beberapa pasang mata menatap Azzalea. Bukan tatapan ekspresi ramah seperti biasa, tapi penuh ekspresi menghina.


"Beneran, Azza wanita simpanan?"


Seorang gadis di seberang bertanya pada wanita di sampingnya.


Tangan putih wanita di sebelahnya, berhenti sementara, saat jemarinya menemukan maskara yang dicarinya


"Gosip yang beredar, begitu." Gadis itu menjawab, sambil mengenakan maskara.


"Memang sumbernya, dari mana?" Gadis yang berambut keriting, ikutan nimbrung.


Maskara berhenti di udara, mata dengan setengah terpejam, menatap gadis yang baru saja bergabung.


"Namanya gosip. Sumbernya enggak jelas." Jawabnya dengan wajah masih berada di depan kaca dengan ukuran mini.


"Kalau begitu, abaikan saja! Andai berita itu tak benar, kita sudah menyebar fitnah. Itu lebih kejam dari pembunuhan." Gadis bijak bersuara.


Tiga pasang mata, menampakkan ekspresi tertegun. Wajah merah semerah buah saga. Malu tertangkap basah bicara tanpa fakta.


Tetiba atsmosfir ruangan berubah, semua mulut terkunci rapat, tersireb kata mujarab. Takut dosa.


Wajar saja, penghuni neraka banyakan kaum hawa. Seekor tikus di bawah meja manganggukkan kepala, seakan mengerti sesuatu**.


Ruangan itu di isi oleh 10 orang karyawan wanita. Berita sekecil apapun, tersulap menjadi bara api, menyulut emosi.


"Pasti benarlah. Kehidupannya penuh misteri. Enggak pernah ada keluarga yang datang. Tinggal juga sendirian. Hidup serba kecukupan."


Selena, berjalan mendekat. Membangkitkan kembali hasrat bergosip yang baru saja padam.


"Loe, jangan sembarangan! Enggak pernah gue lihat, Azza berbuat yang amoral." Wanita bijak, kembali mengingatkan.


Dua wanita adu argumen. Gadis berhati putih seputih kapas, menghadang langkah Selena. Memberikan tatapan peringatan.


"Gue punya buktinya. Kebetulan ada teman yang kenal dekat, dengan Azza dan kekuarganya."


"Boleh aja dekat, tapi belum tentu tau pasti yang sebenarnya."


Gadis bijak menangkis ucapan Selena. Lalu melihat wajah-wajah penasaran, di sekitarnya.


"Menurut gue. Setiap orang berhak memilih jalan hidupnya. Kita enggak dibenarkan melakukan justifikasi." Gadis itu melanjutkan.


Beberapa gadis terbuai hasutan Selena. Melontarkan isi pikirannya.


"Tapi kalau ada buktinya, gue percaya." Salah satu gadis menyelah.


"Gue juga percaya. Berarti selama ini, Azza munafik." Gadis lainnya menimpali.


Selena tersenyum puas. Sepertinya kali ini, rencananya berjalan lancar.


Rasain, gadis udik! Gue matikan image loe, di kantor.


"Loe yakin, Len?" Salah satu gadis bertanya.


"Sebegitu tidak percayakah, kamu padaku?" Tantang Selena pada gadis itu.


"Maksud gue, kalau ada bukti nyata. Kita bisa mengatur langkah selanjutnya, saat menghadapi Azzalea.


"Nih!" Selena menunjukkan sosial media seorang wanita.


Kekepohanpun terjadi. Tergoda dengan bukti nyata, yang terpampang di sana.


Di meja Azzalea, seorang gadis dengan rambut dikepang menghampirinya.


"Loe, enggak mau klarifikasi ke mereka?" Tanyanya. Menatap gadis itu, dengan rasa iba.


Azzalea memandang wajah gadis berkepang, senyum tipis mengembang di wajahnya yang sendu.


"Enggak guna. Entar juga, selesai dengan sendirinya."


Gadis itu menjawab keresahan, wanita berkepang. Hatinya bersyukur, selalu ada sahabat yang menguatkan hatinya.

__ADS_1


"Gue keluar sebentar ya, mau cari udara segar. Pengap di sini."


Azzalea berpamitan, berjalan menyeberangi ruangan, diikuti tatapan mencibir di belakangnya. Menuju taman di belakang kantor.


Beberapa kaki ramping, setengah berlari menghampiri selena, terdorong rasa penasaran yang melanda, melihat langsung barang bukti yang ada.


***


Di sebuah gedung perkantoran di lantai 9. Terdengar rengekan seorang gadis, dari salah satu ruangan.


"Kak Dirga, tolong Rina. Gue enggak mau, gadis kampung itu merebut Mas Adrian." Pintanya manja.


Pria di depannya mengernyitkan dahi, menahan rasa kesal di hati. Dirga menatap adik perempuan satu-satunya.


Rina, berdiri di depan mejanya, dengan wajah terlihat menderita.


"Kalau gitu, cepatlah menikah!" Sarannya.


"Udah Kak. Tapi Mas Adrian belum siap. Tunggu mapan. Begitulah alasannya."


"Tinggalkan! Cari yang lain!"


Rina terbelalak, mendengar jawaban dari Dirga yang tak memperhitungkan perasaannya.


"Kakak....."


"Berhentilah mengangguku! Aku mau kerja. Malam kita bicarakan lagi."


"Tapi Kaaak..."


"Siapa gadis itu?" Tanya pria itu akhirnya.


Dia tak bisa mengelak lagi, permintaan adiknya.


"Namanya, Azzalea. Nih!" Rina memberikan selembar foto yang telah dicetak sebelumnya.


Lelaki yang duduk di kursi kerjanya, melihat benda yang disodorkan padanya. Seketika emosinya bertambah.


Sial! Kenapa selalu gadis ini.


Jemari kokoh mengambil gambar itu, menyimpannya di dalam laci kerjanya.


"Pulanglah! Gadis itu, biar gue urus."


"Mmmuachhhh..."


Mencium pipi gembul kakaknya. Kemudian, kaki langsing itu melangkah meninggalkan Dirga yang masih terpaku sendirian di meja kerjanya.


"Reno, loe ke ruangan gue sekarang!"


Dirga berkata pada seseorang, setelah telponnya tersambung. Sesaat kemudian, terdengar suara ketukan di bibir ruangannya.


"Loe urus wanita ini!"


Perintahnya sambil memberikan foto Azzalea, saat lelaki dengan wajah tegas berdiri di hadapannya.


"Mau diapain, bos?"


"Loe kasih pelajaranlah. Beri peringatan, untuk menjauhi Adrian!"


Reno mengangguk, lalu undur diri dari ruangan. Dirgapun melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda.


Di kantor Azka, pria itu baru saja keluar dari ruang rapat utama. Melangkah menuju ruangannya. Krisna berjalan di sisi kirinya.


"Kakek, lusa tiba di Jakarta, Azka." Krisna bicara, setelah keduanya duduk di atas sofa.


Perpaduan warna hitam dan coklat, dengan beberapa perabot mewah terbuat dari kayu jati, asli buatan dalam negeri. Semakin menambah energi udara.


"Apa kali ini, Kakek datang sendiri?"


"Sepertinya sendiri, dan langsung menuju villa." Krisna menjelaskan.


"Syukurlah, gue enggak diributin terus, olehnya."


"Ha ha ha" Tetiba asisten pribadinya itu tertawa.


Azka, membereng pria di sampingnya. Pikirannya mulai bercampur dengan rasa curiga. Menangkap senyum puas sahabatnya.


"Justru kali ini, Kakek minta, Kamu mengundang wanita pilihanmu. Agar diperkenalkan padanya."


Pria berdarah turki itu terdiam. Pikirannya sejenak berhenti. Hatinya dipenuhi rasa bimbang. Kali ini strategi apalagi yang harus dilakukannya.

__ADS_1


Sesosok wajah cantik muncul di pikirannya. Sebuah fantasi langsung terukir di angannya. Bibirnya tersenyum simpul, namun kemudian logikanya menghapusnya.


"Lagi mikirin, Azzalea?" Tebak Krisna. Pria yang ditanya menganggukkan kepala.


"Gue belum begitu mengenalnya. Tapi hati gue, udah memilihnya." Akhirnya Azka, bersuara. Mengakui isi hatinya.


"Kalau gitu, ajak dia ketemu dengan Kakek." Krisna memberi saran.


Pria tampan itu terdiam, pikirannya gundah. memikirkan cara bagaimana menempatkan dirinya, di hati Azzalea.


"Itulah masalahnya. Gue enggak tau cara menyampaikannya."


"Perlu bantuanku?"


"Emang bisa?" Matanya menatap asistennya, hatinya menggenggam sebuah asa.


"Gampang, serahkan sama gue." Krisna menepuk pundak sahabatnya. Menguatkan tekad Azka.


"Pria yang di restoran kemarin. Gue penasaran, lelaki itu, siapanya Azza."


"Itu hanya masa lalunya. Sekarang Azzalea, belum milik siapapun. Loe belum ada saingan."


Azka berdiri dari duduknya. Berdiri di dinding kantornya. Di luar flamboyan bergerak tertiup angin. Seperti nada tak beraturan yang terbentuk dalam hatinya.


"Kenapa gue merasa, gadis itu sulit di dekati, Kris."


Mata dengan iris coklat itu beralih ke asistennya. Rasa pesimis tiba-tiba menghantuinya.


"Bersabarlah. Butuh waktu membuat hatinya percaya dengan kehadiran pria."


Krisna memberikan wejangannya. Dia menghampiri Azka, sambil jemarinya menghubungi seseorang di luar sana.


"Ya Krisna." Suara lembut seorang wanita terdengar di telinganya.


"Raina, gue pengin ketemu. Malam ini, kita makan bareng ya! Gue yang traktir." Ajak Krisna.


"Serius?"


"Yup. Entar gue jemput di butik ya."


"Ok."


Krisna menutup telponnya. Memandang Azka yang sedang melihat padanya.


***


Sementara Azzalea yang sudah kembali melanjutkan pekerjaannya, merasakan perubahan sikap beberapa teman kantornya.


Hati gadis itu tetap tenang, setenang air kolam saat tengah malam. Tanpa riak gelombang.


Tak tak tak


Suara langkah kaki mendekatinya. Wangi parfum aroma mind, menusuk hidungnya. Dia menganal pemiliknya. Gadis itu membalikkan badannya, tepat saat Selena berada di dekatnya.


"Loe kenal Adrian, Azza?" Gadis itu bertanya langsung, tanpa ada kata pembuka.


Azzalea menganggukkan kepala. Tatapannya menyelidik wanita di depannya. Menunggu kata selanjutnya yang akan meluncur dari bibir merah pemiliknya.


"Gue teman dekat, Rina, calon istrinya." Bibir dengan lipstik merah menyala, melanjutkan uacapannya.


"Oh." Gadis berambut sepinggang, merespon sekedarnya. Membuat geram Selena.


"Maksud gue, loe jauhin Adrian. Jangan sakitin sahabat gue!" Suara Selena mulai meninggi.


"Adrian dan gue, enggak ada hubungan apapun."


Azzalea memberikan jawaban setenang mungkin.


"Loe jangan munafik."


"Dia dulu memang tunangan gue, Len. Tapi sekarang, kami tidak ada hubungan lagi."


Azzalea memberikan jawaban, sambil memberikan tatapan tajam, pada Selena.


"Gue pegang ucapan, loe." Ujar Selena, dengan wajah galak. Lalu pergi meninggalkan Azzalea.


Azzalea hanya mampu menganggukkan kepalanya. Jantungnya berdetak lebih kencang, napasnya sedikit memburuh. Menahan amarah.


Apa aku harus menerima tawaran dari Azka?


Lalu apa kabar dengan hatinya? Kasih kesempatan Azka, untuk mengisi hari-harimu, Azzalea. Hatinya bersuara.

__ADS_1


Jemari lentik mengambil gawainya, mencari salah satu kontak nama. Mengirimkan satu pesan singkat, pada pemilik nama.


[ Mas Azka, apa kabar? ] Pesan singkat dari Azzalea.


__ADS_2