
Pagi ini pagi yang begitu menyedihkan bagi Chayra, nggak ada angin nggak ada hujan tiba - tiba ayahnya membuat keputusan tanpa persetujuan terlebih dahulu dari anaknya, Chayra merasa tidak di hargai, pendapatnya tidak di dengar lagi oleh ayahnya.
"Ayah, kenapa ayah membuat keputusan tanpa persetujuan dari Chayra, Chayra tetap anak ayah kan?" protes Chayra yang tidak menyetujui keputusan ayahnya untuk pindah rumah ke bandung.
"Chayra, ayah di pindahkan tugas di Bandung kurun waktu yang cukup lama, ayah tidak mungkin bolak balik dari jakarta ke bandung, ayah juga tidak tega meninggalkanmu terlalu lama sayang, ayah fikir jika kita pindah rumah apa salahnya?" perkataan ayahnya yang membuat Chayra bingung harus berbuat apa.
"Tapi ayah.. sungguh banyak kenangan di rumah ini, Chayra nggak mau pindah rumah, ini rumah kita kenapa harus pindah? lagi pula Chayra sudah kelas 3 SMA sebentar lagi kan pelulusan ayah, masa Chayra harus pindah sekolah?" protes Chayra yang tidak ingin di bujuk lagi oleh Ayahnya.
"Sudah kamu jangan protes lagi.. puteri ayah memang sudah dewasa, tapi kamu tau kan Chayra tidak ada yang bisa menentang keputusan ayah, lagi pula ayah juga tidak menjual rumah ini, liburan kita bisa balik lagi ke rumah ini." kata - kata tegas Pak Fandi mampu membuat Chayra tertegun, dirinya tidak bisa menolak keinginan ayahnya, karena memang ayahnya sangat tegas, jika sudah memberikan keputusan, tidak ada yang bisa menentangnya termasuk puteri kandungnya sendiri.
"Ya sudah lebih baik sekarang cepat kemasi barang kamu, 1 jam lagi kita berangkat." perintah Pak Fandi yang hanya di balas anggukan oleh Chayra.
Chayra langsung masuk ke dalam kamarnya, dia menangis sesenggukan sembari memeluk boneka kesayangannya.
"Ma.. Chayra nggak mau pindah rumah, banyak kenangan terindah di sini bersama mama, mama juga pasti gak mau kan kalau ayah dan Chayra pindah dari sini. ma.. Chayra takut.. Chayra gak bisa melihat ayah marah ma.. apa yang harus Chayra lakukan? huhuhuhu..." ucap Chayra sembari menangis ia tumpahkan air matanya di boneka kesayangannya, hingga boneka itu basah oleh air mata Chayra.
Tiba - tiba pintu kamar Chayra ada yang membukanya..
"Chayra cepat kemasi barang kamu kalau kamu mau ikut bersama kami, jika kamu tidak mau ikut ya sudah, silahkan kamu tinggal di rumah ini sendirian dan siapa yang akan peduli sama kamu." gertak Bu zafana, ibu tiri Chayra.
"Jika itu lebih baik bagiku, aku akan tetap tinggal di sini, entah ada yang peduli padaku atau tidak itu bukan urusanmu." jawab Chaira menimpali perkataan ibu tirinya. Chayra sama sekali tidak takut dengan gertakan wanita licik yang sedang berdiri di hadapannya itu.
"Dasar kamu ini anak keras kepala.. baiklah kalau itu mau kamu, biarlah ayahmu akan semakin marah dengan sikapmu ini Chayra dan jangan salahkan aku jika ayahmu lebih sayang denganku dan saudara - saudara tirimu, aku akan membuat ayahmu tidak perduli lagi denganmu hahahahahaha..."
"Aku tidak takut dengan semua ucapanmu, akan lebih baik jika kau diam, aku akan berkemas." ucap Chayra tanpa basa basi, dia tidak ingin berdebat dengan ibu tirinya. kali ini memang dirinya di haruskan untuk jadi anak penurut.
Bu Zafana lagsung keluar dengan menahan amarah, sedangkan Chayra mulai beberes barang - barang yang akan dia bawa pindah ke Bandung.
"Lihat saja nanti, tak akan aku biarkan kau merebut segalanya dariku, termasuk kasih sayang ayah terhadapku." gerutu Chayra merasa kesal dengan ucapan ibu tirinya.
"Chayra..." panggil Pak Fandi yang sedari tadi menunggu Chayra di ruang tamu, namun puterinya itu tak kunjung keluar dari kamar.
"Anakmu itu keras kepala, masih saja dia membantah, bahkan sekarang dia sudah berani membantahmu, bukan aku yang salah mendidiknya, aku sudah berusaha keras untuk membuatnya berubah menjadi gadis yang lemah lembut, tapi lihat saja dia masih saja tidak menganggapku ibu." ucap ibu tiri Chayra kepada suaminya.
__ADS_1
"Aku tidak menyalahkanmu, aku tau usahamu selama ini yang berusaha menyayangi Chayra, puteriku juga tidak bersalah, aku memahami perasaannya, sejak dia di tinggal ibunya aku faham betul puteriku sangat terpuruk, maaf jika puteriku menyusahkanmu." perkataan Pak Fandi yang lembut kepada istrinya, istri yang selalu berpura - pura baik terhadap puteri semata wayangnya itu.
Chayra pun keluar kamar dan menghampiri ayahnya
"Ayah aku sudah siap.. maaf membuat ayah menunggu terlalu lama, begitu banyak barang yang ingin aku bawa, apalagi ini mendadak sekali, aku tidak mau barang pemberian mama ada yang tertinggal." ucap Chayra yang sudah siap di ajak oleh ayahnya pindah ke bandung.
"Ya sudah ayo kita berangkat nanti keburu siang jalanan akan lebih macet lagi."
Mereka pun berangkat ke bandung, di sepanjang jalan Chayra termenung tanpa senyuman, memikirkan bagaimana nanti dirinya di bandung, pasti Chayra akan sangat merindukan kota jakarta, pasti dia juga akan merindukan sahabat - sahabatnya.
"Gisela, Sindy aku pasti rindu kalian.." gumam Chayra dalam hati. teringat dirinya belum memberi kabar kepada sahabat - sahabatnya itu.
Chayra mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk sahabat - sahabatnya, terpaksa dirinya harus mengikuti kemauan ayahnya untuk pindah ke bandung.
"Gengs, sorry yaa aku harus pindah ke bandung, aku pasti sangat merindukan kalian, aku janji liburan nanti aku pasti kembali ke Jakarta untuk bertemu dengan kalian.. Miss u gengs.." isi pesan dari Chayra untuk sahabat terbaiknya.
Di kejauhan sang sahabat merasa sangat sedih menerima pesan perpisahan sementara dengan Chayra. kebetulan mereka lagi kumpul di sekolah.
Mendapat pesan dari Chayra yang mendadak pergi ke bandung membuat mereka menangis tersedu - sedu, mereka tidak ingin berjauhan dengan Chayra, nanti siapa yang menenagkan Chayra saat Chayra sedang emosi, lalu siapa yang akan menolong Chayra saat Chayra mendapatkan perlakuan kasar dari ibu tiri dan saudara - saudara tirinya. Gisela dan Sindy merasa cemas dengan kepergian Chayra ke bandung, sungguh ini pukulan berat bagi mereka harus berpisah jarak dengan Chayra.
Sore hari mereka baru sampai di bandung, karena sering terjebak macet. mereka semua turun dari mobil dan di suguhi oleh pemandangan yang indah, rumah mewah yang terlihat bersih mengkilat, dan taman bunga yang indah, bunga bermerkaran dengan indahnya, saudara - saudara tiri Chayra terlihat senang mereka bisa menikmati kesejukan yang melepas kepenatan tinggal di ibu kota yang baginya terasa panas dan banyak polusi.
"Wah bagus banget rumahnya, ternyata lebih gede dari rumah kita yang ada di jakarta ya mom." ucap Lilian anak pertama dari ibu tiri Chayra.
"Iya dong sayang, kalian pasti betah deh tinggal di sini.." jawab ibu tiri
"Eh Chayra.. jangan harap nanti lo bisa seenaknya ya disini, mentang - mentang ayah akan sering berada di rumah." ujar Lelian anak ragil dari ibu tiri Chayra adik dari Lilian yang usia mereka hanya terpaut 1 tahun.
"Apaan sih.." jawab Chayra dengan sorot mata tajam dan langsung beranjak masuk ke dalam rumah, merasa malas sekali mendengarkan celotehan dari saudara - saudara tirinya.
"Eh gue kan belum selesei ngomong, udah pergi gitu aja tuh anak, ga sopan banget sih." gerutu Lelian yang merasa kesal perkataannya tidak di gubris oleh Chayra.
"Sudah ayo masuk, kalian jangan berisik." ujar ibu tiri.
"Oke mom." jawab saudara - saudara tiri Chayra serempak dan langsung saja melangkah masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Baru saja mereka semua masuk ke dalam rumah, tapi rumah seakan rame dengan perdebatan, pertengkaran rebutan kamar dan akhirnya yang harus mengalah adalah Chayra.
"Iihh apaan sih lo Chayra, ini itu kamar gue, kamar ini yang paling besar, gue kan anak pertama di sini, jadi gue yang harusnya nempatin kamar ini." ujar Lilian
"Enak aja, lo emang anak tertua di sini, tapi bukan berarti lo menang, gue gak akan ngebiarin lo rebut apa yang menjadi milik gue. ngerti itu!" jawab Chayra yang tak ingin kalah dari saudara tirinya yang menyebalkan itu.
"Eh udah deh mendingan lo itu cari kamar lain aja, lagian lo itu gak pantes nempatin kamar sebesar dan sebagus ini upik abu.." sahut Lelian dengan ketusnya membuat Chayra semakin emosi di buatnya.
"Apa lo gak salah sebut gue upik abu, yang Upik abu sebenarnya di sini itu siapa? gue apa lo? lo dan Lilian serta nyokap lo itu kan cuman numpang disini, apa lo pantes ngomong kayak gitu.." ucap Chayra dengan nada yang agak keras sampai terdengar oleh ayahnya.
"Chayra.. ayah belum pernah mendengar kamu berkata seperti itu dengan saudari - saudari tiri kamu, jangan di ulangi lagi, ayah tidak suka kamu berkata kasar seperti itu, Chayra kamu itu perempuan harus bersikap lemah lembut jangan kasar begini, jangan membuat ayah kecewa!" ujar Pak Fandi yang tegas terhadap Chayra tanpa mencari tahu akar masalahnya.
Chayra hanya tertuduk tanpa berkata satu patah katapun, tanpa ia sadari air matanya pun jatuh menetes ke lantai, ia usap air mata itu, ia tidak ingin ayahnya melihatnya menangis, meski perkataan tegas dari ayahnya mampu membuatnya menangis.
"Kalian jangan berebut kamar lagi, Lilian kalau kamu ingin menempati kamar ini, cepat masukkan barang - barang kamu dan tata tapi, untuk Lelian kamu menempati kamar di samping kamar ayah dan ibu, dan untuk kamu Chayra karena kamu sudah berbuat kasar terhadap saudara - saudara tiri kamu, terpaksa ayah menghukummu, kamu tidur di kamar pojok sana dekat dengan gudang." ujar Pak Fandi kepada puteri - puterinya.
Chayra menuruti perintah ayahnya, karena hanya itu yang bisa ia lakukan.
Di dalam kamar yang kecil Chayra menata rapi semua barang - barangnya, dia sudah terbiasa mandiri sejak di tinggal mamanya. semua keperluannya dia kerjakan sendiri, tak pernah ia mengeluh dengan apa yang ia kerjakan, ia suka kemandirian, dengan kesibukannya mampu membuatnya lupa akan kesedihan yang ia rasakan.
Selesei menata rapi semua barang - barang termasuk pakaiannya, Chayra pun tertidur karena kecapekan perjalanan dari jakarta ke bandung, apalagi sempat terjebak macet membuatnya sangat lelah, belum lagi emosinya sedari tadi terpancing oleh perkataan ibu tiri dan saudara - saudara tirinya.
Di meja makan telah terhidangkan makan malam, bukan tanpa alasan Pak Fandi mengajak istri dan anak - anaknya pindah ke Bandung dan yang menjadi alasan utamanya berhubungan dengan masa depan Chayra. tanpa Chayra ketahui ayahnya telah membuat rencana masa depannya, Chayra fikir ayahnya mengajaknya pindah ke bandung hanya karena urusan pekerjaan, tapi ada alasan lain di balik itu.
Di rumah baru inilah kehidupan baru Chayra di mulai, kehidupan yang penuh dengan kesedihan, canda tawa, kebahagiaan juga cinta. cinta yang belum pernah Chayra rasakan sebelumnya, cinta yang menjabaknya dalam hubungan yang rumit namun tanpa ia sesali karena baginya hal itu adalah hal terindah.
Pindah rumah, pindah sekolah..
lagi - lagi Chayra tidak bisa memilih tempat dia menuntut ilmu, semua telah di persiapkan oleh ayahnya, Chayra hanya bisa menurut, tanpa bisa menolaknya, karena percuma juga semakin dia membantah akan semakin terasa jauh juga dirinya dengan ayahnya, dia tidak ingin membuat ayahnya kecewa lagi.
"Hanya nurut, hanya nurut.. kenapa semua jadi serumit ini sih." gerutu Chayra
Sementara Lilian dan Lelian sangat senang pindah sekolah, mereka fikir mereka akan mendapatkan teman baru dengan mudah.
Semua terasa beda, semua baru bagi Chayra, harus beradaptasi lagi dengan lingkungan, harus cari teman baru lagi, padahal dia sudah mempunyai 2 sahabat baik yang selalu ada di saat senang maupun susah, akankan Chayra menemukan sahabat baik lagi di sekolahnya yang baru nanti, sungguh hal ini membuat Chayra berfikir keras.
__ADS_1