Jodohku Dari Pulau Seberang

Jodohku Dari Pulau Seberang
10.Membuang Gengsi


__ADS_3

*Happy Reading*


"Oh ya jangan heran RT sini memang terkenal sunyi karena itu.... "Zidan mengikuti arah pandang Niken seketika dia memucat, iya dia memang lelaki , untuk siang hari dia memang tidak akan takut tapi ini senja.


Entah perempuan ,lelaki atau muda, tua kalau sudah di hadapkan itu pasti langsung merinding, ya mereka sekarang berada di jalan gang masuk Pemakaman umun di jalan itu ada 2 cabang satu ke pemakaman umum satunya masuk penduduk Rt10 , sedangkan Zidan terjatuh pas cabang jalan ke pemakaman umum karena dia baru dan jalan tanpa melihat kanan kiri jadi dia terjatuh masuk selokan. Saat Niken sudah beberapa langkah berjalan..


" Tunggu... tolong bantu saya sepertinya saya tidak bisa jalan . "ucap akhirnya dia membuang gengsi meminta tolong ke perempuan yang baru saja dia temui.


" Emm ... "Niken mengangguk dan berbalik mendekati Zidan.


" Tempat Wadaimu biar saya bawa"ucap Zidan

__ADS_1


"Wadai? "dahi Niken mengkerut


"ckk maksudnya tempat kuemu. " jelas Zidan pura-pura kesal, padahal dalam hati dia sangat senang kalau benar perempuan yang ada di hadapannya benar yang dia maksud dia tidak akan melepas kannya.


"ooohh.... nih. " Niken hanya beroh ria sambil menyerahkan tempat kue yang berisi belanjaannya tadi.


Niken memapah Zidan kakinya memang keseleo dia berjalan dengan kaki pincang sebelah, karena tinggi yang tidak sama jadi tangan Niken di pinggang Zidan dan tangan Zidan di pundak Niken mereka meninggalkan tempat itu dan berjalan melewati RT itu.


"Harumnya" ucap Zidan di dalam hati ketika tidak sengaja dia mencium bau tubuh Niken saat berdekatan .


"Masih lewat daerah ini lagi masuk gang satunya yang berbelok kiri" jelas Zidan

__ADS_1


"eehh masuk gang rumah saya toh ternyata, rumah sampean dimananya, ujung gang lagi atau tengah-tengah apa masuknya. " tanya Niken panjang lebar.


"Jalan saja tidak usah cerewet. " ucap Zidan tanpa menjawab pertanyaan Niken, sedangkan Niken mengerucutkan bibirnya.


Niken juga heran biasanya dia dengan orang yang baru dia kenal atau teman lelakinya tidak mudah mengeluarkan kata-kata terlalu panjang atau cerewet kecuali ke kakaknya, tapi entah dengan lelaki ini berbeda.


"Mila...!! teriak sesorang di ujung gang, dan dia berlari menghampiri Niken


" Saking pundi dek Ya Allah, mas luru ndak nemu-nemu, di nteni ndak wangsul-wangsul, mas lan ibu khawatir mpun arep magrib Mila ndak ning omah."


(dari mana dik Ya Allah, mas cari tidak ketemu-ketemu, di tungguin tidak pulang-pulang, mas dan ibu khawatir sudah mau maghrib Mila tidak di rumah.) ucap mas Mila, ya dia Dimas kakak Mila

__ADS_1


"Sepurane nggih mas, Mila wau ting peken riyen,wangsule ting ndalan ketemu mas iki mlebu parit, mboten mbeto HP dadi mboten saget ngabari tiang omah. "


(maaf ya mas, Mila tadi ke pasar dulu,pulangnya di jalan ketemu mas ini masuk selokan, tidak bawa HP jadi tidak bisa ngabari orang rumah.) jelas Mila sedangkan kakaknya langsung menoleh kearah lelaki dari ujung kaki dia melihat bersepatu sport, bercelana jins panjang berhenti di bagian bawah lutut yang celananya robek dan kotor sebelah ,lanjut lagi melihat ke atas memakai baju kasual saat melihat wajahnya.


__ADS_2