
\*Happy reading\*
"Sepurane nggih mas, Mila wau ting peken riyen,wangsule ting ndalan ketemu mas iki mlebu parit, mboten mbeto HP dadi mboten saget ngabari tiang omah. "
(maaf ya mas, Mila tadi ke pasar dulu,pulangnya di jalan ketemu mas ini masuk selokan, tidak bawa HP jadi tidak bisa ngabari orang rumah.) jelas Mila sedangkan kakaknya langsung menoleh kearah lelaki dari ujung kaki dia melihat bersepatu sport, bercelana jins panjang berhenti di bagian bawah lutut yang celananya robek dan kotor sebelah ,lanjut lagi melihat ke atas memakai baju kasual saat melihat wajahnya.
Dahi kakak Niken mengkerut seperti mengingat-ingat sesuatu, Niken pun heran melihat kakaknya.
"kenapa toh mas? " tanya Niken
"Nda dek, iki lho rasa-rasane koyo kenal karo arek iki! "
__ADS_1
(tidak dik, ini lho rasa-rasanya kaya kenal sama anak ini!) jawab kakak Niken.
Niken langsung memperhatikan wajah Zidan , lamat-lamat dia memperhatikan dahinya sampai mengkerut tanpa sadar dia hanyut memandang dan membuat jantungnya berdebar-debar mungkin orang yang pendengarannya tajam bisa mendengar suara detak jantungnya.
"Oh yo kamu Zidan kan cucunya mbah Sum, baru inget aku, terakhir ketemu kayanya 1 tahun lalu. "
Zidan hanya mengangguk dan tersenyum tipis, sedangkan Niken tersadar dari lamunannya
"Aduuh Mila inget kamu sudah ada Naufal, liat cowo bening dikit aja langsung deg-degan. " gumam Niken sambil nepuk-nepuk keningnya tanpa dia sadari dua lelaki memperhatikankannya.
(kenapa toh dik, sakit nanti keningnya) ujar Dimas heran
__ADS_1
"eh ndak apa-apa mas. " ucap Niken sambil meringis melihat ke arah 2 lelaki di dekatnya, sedangkan Zidan menaikkan sebelah alis nya dia tahu Niken menggerutu setelah menatapnya.
"Mas ayo muleh ,Mila ndak kuat iki kesuen ngadek sing di papah luweh ageng nimbang Mila. Lagian iki sampun ajeng maghrib mas,ibu nunggu lawas ting nggrio mangkeh. "
(Mas ayo pulang, Mila tidak kuat ini kelamaan berdiri yang di papah lebih besar dari pada Mila. lagian ini sudah mau maghrib mas, ibu nunggu lama di rumah nanti) ucap Niken karena memang hampir seperempat jam mereka berdiri hanya karena kakaknya mengingat sesuatu.
"oh iyo, ben gantian mas sing ngeter muleh, adek muleh sek yo ben ibu ndak khawatir. "
(oh iya, biar gantian mas yang ngantar pulang, adik pulang dulu ya biar ibu tidak khawatir) ucap Dimas baru menyadari dan langsung mengambil alih Zidan dari papahan Niken, dia pun langsung mengangguk ke Dimas dan mengambil tempat kuenya yang di bawa Zidan tadi , sedangkan Zidan langsung mengerucutkan bibir saat dia beralih di papah Dimas. Niken berjalan di depan kakaknya dan Zidan.
"Kok iso aku mau melamun pas merhatikke raine wong iku, emm sopo mau putune mbah Sum deg... "
__ADS_1
(kok bisa aku tadi melamun pas merhatikan wajah orang itu, emm siapa tadi cucunya mbah Sum deg....) seakan tersadar dia saat mengingat Zidan dia langsung menoleh kebelakang, saat dia menoleh kebelakang dia langsung bertatapan dengan Zidan yang juga menatapnya seketika Niken langsung salah tingkah dan menatap kedepan lagi meneruskan jalannya.
"Nanti kalau sudah sampai rumah istirahat aja, tak panggilkan tukang pijet nanti biar keseleomu langsung di tangani jangan sampai membekak. " ucap Dimas