JODOHKU TERNYATA SAHABATKU

JODOHKU TERNYATA SAHABATKU
Bab 10


__ADS_3

" Cengeng amat sih nangis kok di tempat umum kayak gini" Ucap seseorang dari arah belakang Karin.


Karin pun menoleh dan melihat seorang pria mendekat ke arahnya.


" Bukan urusan lo" Jawab Karin sambil menghapus air matanya.


Setelah pria itu berada tepat di sebelahnya, Karin memperhatikan wajah yang tidak asing itu, Karin diam sambil mengingat dimana dia pernah bertemu dengan pria ini.


" Sudah lupa dengan gue ? ternyata ingatan mu buruk juga" Ucap lelaki itu menyindir Karin.


" Kamu...?? " ucap Karin menunjuk lelaki itu sambil terus mengingat.


" Baru juga beberapa jam yang lalu kita ketemu dan elo udah lupa? " tebak nya.


" Hah!!! yang hampir aku tabrak tadi? " Teriak Karin.


" Akhirnya inget juga lo" Jawab sangat lelaki sambil tersenyum.


" Bukannya gak inget, tadi emang gue gak terlalu memperhatiin elo. Jadinya ya gue lupa gitu aja" Karin membela diri.


" Boleh gue duduk di sini" Ucap nya sambil menunjuk tempat di samping Karin.


" Boleh, silahkan" Jawab Karin sambil menggeser sedikit tubuhnya ke samping memberikan tempat untuk dia duduk.


" Ada masalah apa? " Tanya lelaki itu sok akrab.


" gue kan gak kenal sama elo, jadi gak usah sok akrab gitu deh" ucap Karin sedikit sewot.


" Kenalin, gue Robby " Lelaki yang bernama Robby itu memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan nya.


" Gue Karin" Jawab Karin menyambut uluran tangan Robby.


" Nama yang cantik " puji Robby yang membuat Karin agak salah tingkah.


" By the way, maaf ya soal kejadian tadi". Karin mengalihkan pembicaraan karena tidak mau ketahuan Robby kalau dirinya sedang salting di puji Robby.

__ADS_1


" Iya nggak papa, lain kali hati-hati jika berkendara. Kalau ada masalah lebih baik minta di temani agar tidak lepas kendali seperti tadi" Nasihat Robby.


" Gue gak tau mau minta di temani siapa, gue udah gak punya siapa-siapa lagi. Satu-satunya sahabat yang selalu ada dia saat gue sedih udah pergi ninggalin gue tanpa pamit" Tidak terasa Karin menceritakan masalah nya pada Robby sambil meneteskan air mata.


" Elo cuma seorang sahabat doang? " Tanya Robby lagi.


" Sebenarnya gue punya tiga sahabat lainnya lagi, tapi mereka udah bikin gue kecewa karena merahasiakan kepergian sahabat gue dari gue. Itu tadi yang membuat gue jadi hampir nabrak elo" jelas Karin.


" Elo kecewa sama temen elo karena gak ngasih tahu atau elo kecewa karena sahabat lo pergi tanpa pamit sama elo? " Tanya Robby.


" Gue.... " Karin tidak menyelesaikan ucapan nya karena sebenarnya dia kecewa dengan Ardi, dan melampiaskan semuanya ke Sita, Dimas dan Rafi karena mereka ikut membohongi nya.


" Elo ada perasaan sama sahabat elo itu kan? " Tebak Robby.


" Dari mana kamu tahu? " Teriak Karin.


" Udah jelas banget kali dari sorot mata dan cara bicara elo, dan gue rasa sahabat elo juga memendam perasaan yang sama " lanjutnya.


" Nggak mungkin dia suka sama gue, kalau emang dia ada rasa sama gue, nggak mungkin dia ninggalin gue tanpa ngasih tahu dulu sebelum nya" Karin mencoba menyangkal pemikiran Robby.


" Justru itu, karena dia sayang sama elo jadi dia gak sanggup buat ngasih tahu elo". kata Robby meyakinkan Karin.


" Mungkin dia takut lo tolak dan bakalan ngerusak persahabatan yang kalian jalin"


Karin diam dan mencerna kata-kata yang di ucap kan Robby, memang selama ini Ardi selalu menunjukkan perhatian lebih padanya. Dia yang selalu menemani nya saat kedua orang tua nya terlalu sibuk dengan pekerjaan mereka hingga mengabaikan nya. Ardi lah yang pertama menghapus air matanya saat dia menangis dan membela Karin jika ada seseorang yang mengganggu nya.


" Kenapa gue nggak nyadarin ini dari dulu kalau ternyata Ardi cinta sama gue " Lirih Karin.


" Mungkin dengan cara ini kalian berdua bisa menyadari perasaan kalian satu sama lain nya" Ucap Robby.


" Tapi apa gunanya menyadari nya sekarang, kita tidak akan bisa berama lagi" kata Karin.


" Jika kalian berdua sudah di takdir kan untuk bersama, suatu saat nanti pasti kalian akan di pertemukan kembali" Robby mencoba meyakinkan Karin.


Cukup lama Karin dan Robby berbincang hingga tidak terasa hari sudah semakin sore. Karin pun memutuskan untuk balik ke rumah karena takut mbok Minah khawatir kalau dia pulang pulang.

__ADS_1


" Terima kasih kak karena sudah mau dengerin curhatan gue" Ucap Karin tulus.


Karin memanggil Robby kakak karena tahu bahwa Robby lebih tua darinya dan sekarang sedang kuliah jurusan Kedokteran di universitas yang ternama di Indonesia.


" Iya Sama-sama, kalau butuh temen curhat lagi kamu bisa hubungi kakak. Jika kakak sedang tidak sibuk pasti bakal temenin kamu lagi"


" Janji kan kakak akan selalu ada buat Karin jika Karin butuh temen curhat? "


" Iya kakak janji, tapi jika kakak sedang tidak sibuk ya"


" Iya deh tahu yang calon dokter pasti sibuk banget" Canda Karin.


" Yaudah sana cepetan balik, udah hampir gelap ini"


" Karin pulang dulu kak, bye" Ucap Karin sambil melambaikan tangannya pada Robby.


***


Sesampainya di rumah mbok Minah segera menghampiri dan menanyai nya dengan berbagai pertanyaan.


" Aduh neng kemana aja, mbok khawatir neng belum pulang juga sampai sore. Mana handphone nya juga nggak bisa di hubungi" Ucap Mbok Minah dengan khawatir.


" Maaf mbok, handphone Karin mati dari siang" Karin merasa bersalah karena sudah membuat mbok Minah yang merawatnya dari kecil itu panik.


" Yasudah kalau begitu neng sekarang mandi terus makan"


" Iya mbok, Karin ke kamar dulu ya" Pamit Karin.


" Ooh iya neng, tadi neng Sita dan dua temen nya pada ke sini nyariin Eneng" Karin menghentikan langkah nya mendengar nama Sita di sebut.


" Nanti biar Karin hubungi mereka mbok" Karin pun melanjutkan langkah nya menuju ke kamar.


Sementara di tempat lain Robby yang baru saja tiba di rumah nya mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan memanggil seseorang.


" Iya tadi gue udah ketemu sama dia"

__ADS_1


"...... "


" Lagian elo jahat banget nggak ngasih tahu dia, dia sampai hampir nabrak tadi".


__ADS_2