JODOHKU TERNYATA SAHABATKU

JODOHKU TERNYATA SAHABATKU
Bab 9


__ADS_3

Dan ketika dia sampai di persimpangan jalan, dia tidak melihat bahwa di depannya ada sebuah mobil putih yang sedang melintas. Dia membelokkan dengan tajam kemudi mobilnya untuk menghindari tabrakan dengan mobil itu.


" Aaaaaaahhh... !!!!! " Teriak Karin.


Untung saja Karin sempat menginjak pedal rem mobil yang dia kemudikan sehingga berhenti tepat sebelum menabrak mobil itu, Karin diam karena masih syok dengan apa yang dia alami barusan. Kedua tangan nya gemetaran dan derak jantung nya berpacu dengan cepat.


Tok.. tok... tok...


" Hei keluar kamu!!! ".


Karin tersadar saat seseorang mengetuk kaca jendela mobilnya dengan keras, dia pun menoleh dan melihat seorang lelaki sedang berdiri di samping mobilnya. Dia pun segera membuka pintu mobilnya dan segera keluar.


" Kamu mau cari mati ya? kalau mau mati jangan di jalan raya, membahayakan orang lain saja" Teriak lelaki itu yang membuat Karin bergidik ngeri.


" Maaf mas, tadi aku nggak sengaja" Lirik Karin dengan pelan.


" Nggak sengaja, nggak sengaja, tahu nggak ketidak sengajaan kamu itu bisa membahayakan nyawa orang lain"


Lelaki itu masih saja memarahi Karin. Sedangkan Karin hanya menangis dalam keterdiamnanya. Dia baru saja merasakan kehilangan sahabat terbaiknya dan di hianati oleh sahabat nya yang lain di waktu yang bersamaan. Tidak tahu lagi bagaimana hancur daan kecewa nya Karin saat ini.


Karin semakin menundukkan kepalanya dan air mata mengalir di kedua pipinya, Lelaki itu pun berhenti marah saat melihat Karin menangis dan terlihat sangat ketakutan. Terlihat jelas dari matanya jika Karin sedang tidak baik-baik saja dan mengalami masalah yang cukup berat buat nya.


" Yasudah, sekarang kamu pergilah. Seberat apapun masalah nya kamu harus berani hadapi, jangan sampai salah langkah seperti hari ini yang tidak hanya membahayakan mu tapi juga nyawa orang lain" Nasihat pria itu dengan suara yang lebih lembut.


Tadi nya dia ingin bertanya pada Karin tentang masalah nya, tapi dia urungkan karena merasa itu bukan hak nya untuk mencampuri masalah orang yang lain yang belum dia kenal. Jadi dia memutuskan untuk pergi saja.


Lelaki itu pun pergi dengan mobilnya meninggalkan Karin yang masih terpaku di tempatnya. Untung saja jalanan sedang tidak ramai, jadi dia tidak menyebabkan kemacetan.

__ADS_1


" Apa lelaki tadi berfikir kalau gue mencoba bunuh diri? " Gumam Karin setelah kembali sadar.


" Gue gak serapuh itu kali, hanya karena masalah kayak gitu. Gue udah biasa hidup sendiri tanpa bergantung pada siapapun. Jadi gue juga pasti bisa tanpa temen penghianat seperti mereka" Umpat Karin saat mengingat ke tiga temannya lagi.


Hari ini Karin memutuskan untuk pergi ke taman yang sering dia kunjungi saat sedang galau. Karena dia juga malas kembali ke rumah yang sepi itu.


Setelah memarkirkan mobilnya dia pun turun dan duduk di sebuah kursi panjang yang ada di tengah taman. Di sana hanya ada beberapa orang yang sedang bersantai karena memang hari juga masih siang. Biasanya taman itu akan ramai di sore hingga malam hari, terutama muda mudi yang sedang berpacaran atau hanya sekedar ngumpul dengan teman-teman.


Sementara di tempat lain Sita, Dimas dan Rafi sedang menuju ke kediaman Karin. Mereka ingin memastikan kalau keadaan Karin baik-baik saja.


Sesampainya di depan rumah Karin mereka pun menekan belum rumah. Selang beberapa menit, nampak seorang perempuan paruh baya keluar membukakan pintu.


" Eeh ada neng Sita, ada apa neng? " Sapa mbok Minah dengan ramah.


" Karin nya ada nggak mbok? " tanya Sita.


" Jadi Karin belum pulang mbok? " Teriak Rafi.


" Belum den " jawab mbok Minah.


" Yaudah kalau gitu kami pamit pulang dulu ya mbok" Ucap Sita.


" Nggak masuk dulu neng, biar mbok buatin minum" tawar mbok Minah tapi langsung di tolak oleh Sita.


" Nggak usah mbok, lain kali aja kita ke sini lagi" Jawab Sita. Pasalnya dia tidak ingin berlama-lama dan akan mencari Karin lagi.


" Iya neng hati-hati di jalan"

__ADS_1


Mereka bertiga pun masuk lagi ke dalam mobil Dimas dengan lesu. Kini mereka bingung harus mencari Karin kemana karena selama ini Ardi lah yang tahu tempat yang karin kunjungi saat sedang sedih.


" Kemana si Karin nih, gue khawatir terjadi sesuatu sama dia di jalan" Ucap Sita dengan gelisah.


" Karin nggak akan bertindak bodoh yang akan membahayakan dirinya sendiri" Dimas mencoba berfikir positif.


" Tapi yang namanya orang kecewa, sedih dan marah itu nggak bisa ngontrol emosinya sendiri" Rafi menimpali.


" Elo jangan ngomong gitu dong Fi, gue kan jadi makin khawatir nih" Balas Sita.


" Lagian juga dari awal gue udah bilang sama Ardi buat ngasih tahu Karin aja, tapi elo malah dukung Ardi buat nggak ngasih tahu tentang kepindahan Ardi. Kalau sudah gini kan kita juga yang repot, iya kalau Karin mau maafin kita. Kalau nggak gimana? " Rafi pun mulai emosi.


" Kok elo nyalahin gue sih Fi, gue kan gak tahu kalau Karin tahu bakalan semarah ini" Sita membela diri.


" Karin bukan anak bodoh, dia punya mulut pasti nanya ke anak-anak yang lain. Lagian temen sekelas Ardi juga udah pada tahu tentang kepindahan Ardi. Dia pasti tambah kecewa karena tahu dari orang lain, bukan dari Ardi sendiri ataupun kita sahabat nya" tambah Rafi.


" Udah deh nggak usah ribut nyalahin satu sama lain, yang penting kita cari Karin dulu sampai ketemu" Dimas menengahi pertengkaran antara Sita dan Rafi. Mereka berdua pun diam dan tak berdebat lagi.


***


"Aaah ternyata asyik juga ke taman ini siang hari" Ucap Karin sambil merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara yang begitu sejuk.


" Di, biasanya elo yang selalu nemenin gue kalau lagi ada masalah atau hanya sekedar gabut pengen keluar. Kalau elo pergi, ntar siapa yang bakalan nemenin gue Di" Lirih Karin saat mengingat Ardi kembali.


" Elo jahat banget tau nggak Di, beberapa hari nyuekin gue terus tiba-tiba elo pergi dan gak ngasih tau gue lagi. Gue kira selama ini elo sayang sama gue Di, seperti gue yang sayang dan cinta sama elo".


" Gue baru sadar kalau ternyata kehadiran elo itu spesial buat gue, selama beberapa hari aja elo nggak ngasih kabar gue jadi sedih dan takut banget kehilangan elo. Gue sadar kalau gue cinta sama elo Di Tapi kenapa elo ninggalin gue saat cinta gue ke elo mulai tumbuh " Air mata Karin pun mulai menetes di pipinya.

__ADS_1


" Cengeng amat sih nangis sampai di tempat umum kayak gini" Ucap seseorang dari arah belakang Karin.


__ADS_2