
Tidak terasa ujian pun telah usai, sudah beberapa pekan belakangan ini dia juga tidak bertemu atau berkomunikasi lagi dengan ke tiga sahabat nya karena ingin fokus dengan ujian nya dan masuk universitas kedokteran seperti impian nya.
Karin akhirnya lulus dengan nilai yang cukup memuaskan, dia juga mendapat nilai tertinggi di antara teman-teman nya yang lain.
" Selamat ya Karin".
Ucapan selamat datang dari semua teman-teman nya saat nama Karin di sebut sebagai siswa paling berprestasi. Tak hentinya Karin menyunggingkan senyum bahagia nya. Bukan karena dia mendapat nilai terbaik tapi karena untuk pertama kalinya kedua orang tuanya hadir ke acara yang di adakan sekolah.
Senyum bangga juga tampak terukir dari wajah mama dan papa Karin menyaksikan putri mereka naik ke atas panggung untuk menerima tropi. Ucapan selamat juga di dapatkan dari wali murid yang duduk tidak jauh dari orang tua Karin.
" Sayang, papa bangga sekali padamu. Kamu sudah bekerja keras untuk mendapatkan semua ini " ucap papa Karin saat mereka keluar dari tempat acara.
" Makasih ya pa, ma udah mau dateng nemenin Karin" Raut bahagia terpancar jelas dari wajah Karin.
" Sekarang kamu minta hadiah apa untuk kelulusan kamu kali ini? " Tawar sang papa.
Karin hanya tersenyum sekilas lalu menjawab. " Karin nggak minta apa-apa ma, pa, Karin hanya minta papa dan mama mengizinkan Karin untuk kuliah kedokteran".
Melihat tidak ada respon dari kedua orang tuanya, Karin pun segera melanjutkan lagi bicaranya.
" Mama sama papa nggak usah khawatir, Karin sudah daftar beasiswa dan karin mendapatkannya. Jadi mama sama papa nggak perlu lagi khawatir dengan biaya yang tinggi" Ucap Karin.
Mamanya pun tersenyum lalu menarik Karin ke dalam pelukan nya.
" Maaf kan mama ya nak, karena nggak pernah ada buat kamu selama ini. Mama merasa bersalah karena tidak pernah punya waktu untuk mendampingi mu hingga sebesar ini. Mama janji akan meluang kan waktu lebih banyak untuk menemanimu mulai sekarang"
Karin memandang lekat mamanya dan meneteskan air mata bahagia. Dia tidak menyangka kalau mama nya akan berkata seperti itu.
" Terima kasih ma, pa" Lirik Karin dengan mata berkaca-kaca.
" Dan untuk kuliah kamu mama sama papa sudah memutuskan untuk menyetujui apapun keputusan mu. Asalkan itu yang terbaik buat kamu, dan kamu mau bertanggung jawab atas pilihan mu sendiri" Papa Karin ikut menimpali.
__ADS_1
" Papa sama mama serius ngizinin Karin sekolah kedokteran? " Teriak Karin karena saking tidak percaya nya dengan apa yang di dengarnya barusan.
" Iya sayang, mama sama setuju" Jawab mama Karin.
" aaah Terima kasih ma, pa. Karin seneng banget hari ini" Karin memeluk kedua orang tuanya dengan gembira.
" Kamu daftar di kampus mana Rin? " Tanya papa nya.
" Karin daftar di tiga kampus dan semuanya ketrima pa, satu di Aussie dan dua di indonesia" Jawab Karin.
" Kamu mau kuliah di luar negeri? " Kali ini giliran mama nya yang terkejut.
" Tadi nya sih gitu ma, tapi setelah Karin pikir-pikir lagi kayaknya pilih di Indonesia aja deh. Karin nggak yakin bakalan kuat tinggal di luar negeri sendiri untuk waktu yang lama" Ucap Karin.
Mama dan papanya merasa lega karena Karin tidak akan meninggalkan mereka.
" Karin.... ".panggil seseorang.
" selamat ya Rin, jadi lulusan terbaik" Sita memberi selamat di susul oleh Rafi dan Dimas.
" Selamat Karin, tante nggak nyangka pas nama kamu di panggil. Kamu pasti rajin ya belajar nya, nggak kayak anak tante yang kerjaan nya main mulu. Bisa lulus aja udah syukur" Ucap mama Sita sambil melirik putrinya.
" Makasih tante" Ucap Karin tidak mau menanggapi candaan dari mama nya Sita.
"Selamat pak Chandra, anda pasti bangga dengan putri anda yang satu ini" Kali ini giliran papa dari Dimas yang memberikan selamat kepada Papa Karin.
Para orang tua sibuk bercanda dan bercengkrama dengan hangat menanyakan kabar masing-masing dan membicarakan bisnis mereka. Karin hanya bicara saat di tanya saja dan selebihnya dia lebih banyak diam.
" Kami mau pergi makan-makan untuk merayakan kelulusan anak-anak kita, apa pak Chandra mau bergabung dengan kami sekalian? " Tawar papa dari Rafi.
Baru saja papa akan menjawab, Karin sudah lebih dulu menyelanya.
__ADS_1
" Maaf om, kami sekeluarga sudah ada rencana lain " Ucap Karin.
Papa dan mama nya hanya menoleh pada Karin yang seolah berkata "nanti aku jelaskan" dari sorot matanya.
" Maaf ya kami tidak bisa bergabung kali ini, lain kali kita atur waktu lagi untuk makan bersama" Pak Chandra akhirnya mengikuti kemauan Karin.
Meskipun papa dan mama Karin heran dengan tingkah Karin yang lebih banyak diam kali ini, mereka tidak langsung menanyakan pada Karin di depan semua orang. Padahal setahu mereka Sita, Dimas,Rafi dan Ardi adalah sahabat baik Karin sejak mereka masih kelas satu SMA. Tapi tunggu dulu, kemana Ardi? kenapa dia tidak terlihat di perayaan kelulusan tadi, batin kedua orang tua Karin.
***
Karin dan mama papanya kini sudah berada di dalam mobil, sejak ketemu dengan teman nya tadi hingga kini Karin masih saja diam. Padahal mama dan papanya sedang menunggu penjelasan dari Karin tentang kejadian tadi di sekolah.
" Karin, sebenarnya apa yang terjadi? " Tanya mama Karin.
" Karin hanya sedang ingin menghabiskan waktu dengan mama papa saja" ucap Karin yang hanya menoleh pada mamanya sekilas lalu melihat ke arah jendela lagi.
" Tapi menurut pandangan mama kejadian nya tidak sesimple itu" Mama Karin merasa kalau putrinya menyembunyikan sesuatu.
" Beneran ma, lagian kita nggak pernah kan pergi makan keluar bareng kayak gini" Karin mencari alasan lain.
Menurut nya masalah yang terjadi antara dirinya dan sahabat nya tidak perlu sampai di ketahui orang tua masing-masing.
" Ooh iya Rin, kenapa Papa tadi tidak melihat Ardi teman kamu itu ya? " Tanya Papa Karin.
" Dia sudah pindah pa" jawab Karin singkat.
" Hah!!! pindah kemana? " mama Karin gantian bertanya.
" Kita bahas lain kali saja ya ma, Karin capek mau tidur sebentar" Tanpa menunggu jawban dari orang tuanya, Karin pun memejam kan mata nya.
Dia tidak benar-benar sedang tidur, Karin hanya mencegah air matanya keluar lagi di depan orang tuanya. Dia benar-benar sedang merindukan Ardi sekarang, sejak kepergian nya tidak pernah sekalipun Ardi menghubungi nya sekedar menanyakan kabar atau menjelaskan alasan kepergian nya pada dia.
__ADS_1