
Pagi ini Karin bangun terlambat karena semalaman dia tidak bisa tidur, dia masih sangat khawatir dengan Sahabatnya Ardi. Pasalnya sudah beberapa hari dia tidak berangkat ke sekolah.
Seperti pagi sebelumnya Karin selalu berdiri di depan gerbang untuk menunggu kedatangan Ardi. Tapi lagi-lagi Karin harus menelan kekecewaan nya karena yang di tunggu pun tak terlihat batang hidung nya.
" Kemana Sita, Dimas dan Rafi, kenapa mereka juga gak kelihatan. Atau sudah masuk terlebih dahulu? " Gumam Karin.
Karin pun memutuskan untuk ke kelas karena bel masuk sudah berbunyi. Karin menyempatkan diri lewat ke depan kelas Ardi untuk melihat siapa tahu Ardi sudah berangkat sebelum dia.
" Tuh kan gak ada" Gerutu Karin saat tak melihat Ardi di kelas.
" Eeh Rita, tahu nggak kemana Ardi? " Tanya Karin pada salah satu teman sekelas Ardi.
Rita tampak mengerutkan kening sambil melihat Karin dengan wajah bingung.
" Bukannya Ardi udah pindah sekolah ya? " Tanya Rita.
" Apa..!!!! " Seru Karin.
" Emang elo gak tahu ya? " Karin hanya menggeleng kan kepala mendengar pertanyaan Rita.
" Kok aneh banget sih, bukannya kalian bersahabat ya. Sita, Dimas dan Rafi juga izin nggak masuk hari buat nganterin Ardi ke bandara" ucap Rita.
" Ke bandara? " Tanya Karin bingung.
" Iya ke bandara, kan Ardi mau pindah sekolah ke luar negeri " Bagai tersambar petir hati Karin mendengar penuturan dari teman nya itu.
" Elo tahu nggak kapan Ardi berangkat" Tanya Karin dengan penuh harap.
" Sorry Rin, gue gak tahu kalau soal itu" jawab Rita.
" Oke makasih ya info nya Ta"
Karin segera berlari kencang di lorong kelas hingga menabrak salah seorang guru.
" Mau kemana kamu, kelas sudah mau di mulai cepetan masuk" Perintah pak guru.
" Maaf Pak" Karin berlari ke luar lagi tanpa menghiraukan perintah dan panggilan dari sang guru.
__ADS_1
Dia tidak memikirkan hal lain lagi selain segera bertemu dengan Ardi.
Sesampainya di depan rumah Ardi Karin segera turun dari mobil dan menekan bel. Tidak lama setelahnya terlihat pak Yanto membukakan gerbang.
" Pak Yanto, Ardi masih ada di rumah kan? " Tanya Karin dengan panik.
" Den Ardi nya barusan pergi ke bandara non " Jawab pak Yanto.
Tanpa menunggu lama Karin pun segera melajukan kembali mobilnya menuju ke bandara. Di tengah jalan dia terjebak macet yang membuat Karin semakin stress.
Dua puluh menit kemudian Karin pun sampai di bandara, Dia segera berlari mencari di setiap pintu keberangkatan karena dia tidak tahu kemana tujuan Ardi pergi.
Sepuluh menit mencari Karin akhirnya melihat sahabatnya berdiri sambil melambaikan tangan. Karin pun segera mendekat untuk melihat Ardi.
" Ardi.. Ardi.. . !!! " Teriak Karin saat melihat punggung Ardi yang mulai menjauh.
Dimas, Sita dan Rafi pun menoleh seketika dan melihat Karin di belakang mereka dengan nafas yang memburu.
Karin berlari mendekat saat tak melihat Ardi di sana, dia berusaha masuk tetapi di halau oleh petugas bandara.
" Pak, tolong izinkan saya masuk lima menit saja" Pinta Karin sambil menangkup kan kedua telapak tangannya di depan dada.
Sekuat apapun usaha Karin untuk masuk, dia tetap tidak di izinkan oleh para petugas. Karin terduduk di lantai dengan pandangan kosong, para sahabat pun mendekat untuk menenangkan Karin.
" Rin bangun Rin" Sita memegang lengan Karin dan berusaha untuk membantu Karin berdiri.
Tapi di luar fikiran mereka kalau Karin akan mengibaskan tangan Sita yang memegang lengannya.
" Lepasin gue.. !!! " Teriak Karin yang membuat Sita dan lainnya tersentak kaget. Pasalanya setelah sekian lama mereka mengenal Karin, baru kali ini melihat Karin yang semarah ini.
Sita pun seketika melepaskan tangannya dari lengan Karin. Karin memandang mereka dengan tatapan tajam dan menakutkan hingga membuat Sita dan yang lain tanpa sadar berjalan mundur.
" Rin, kita bisa jelasin tapi nggak di sini. Ayo ikut kami dulu" Rafi mencoba membujuk Karin. Karin menyeringai kemudian menatap Rafi dengan lekat.
" Apalagi alasan yang bakalan kalian kasih ke gue, semua udah jelas sekarang" Ucap Karin dengan sinis.
" Ini semua gak seperti yang elo bayangin Rin" Sita masih berusaha menenangkan Karin.
__ADS_1
" Emang kalian tahu apa yang gue bayangin? " cibir Karin.
" Ayolah Rin jangan kekanak-kanakan an, kita cari tempat untuk bicarakan ini semua dengan tenang" Dimas mulai tidak sabar.
Sita menyenggol lengan Dimas karena tidak suka dengan cara bicara Dimas. Sementara Karin tertawa sinis mendengar ucapan Dimas yang mengatai nya kekanak-kanakan.
" Iya gue emang kayak anak kecil yang mudah di bohongin. Sampai-sampai orang yang udah gue anggap seperti saudara sendiri malah tega bohongin gue kayak gini" cibir Karin yang membuat ke tiga sahabat nya itu diam.
" Pantas saja beberapa hari ini sikap kalian begitu cuek dan sinis sama gue. dan bodohnya gue yang masih berfikir bahwa kalian mungkin lagi gak mood aja" Karin tersenyum setelah mengucapkan isi hatinya. Tapi senyum Karin membuat Dimas, sita dan Rafi bergidik ngeri.
" Maafin kita Rin" Sita memberanikan diri untuk meminta maaf.
Karin hanya diam dan tidak menanggapi permintaan maaf dari Sita, Dia berjalan menjauh meninggalkan ketiga sahabatnya itu.
Saat melihat Karin pergi, Sita menjadi khawatir karena takut terjadi apa-apa dengan Karin.
" Ayo kita ikutin Karin, gue takut dia ngebut di jalan dan terjadi sesuatu yang buruk" Sita segera berlari di ikuti oleh Dimas dan Rafi mencari keberadaan Karin.
" Karin tunggu!!! " Seru Sita saat melihat Karin sudah di dekat mobilnya.
" Ada apa lagi? " Ucap Karin tanpa menoleh.
" Rin, kita anterin elo pulang ya" Bujuk Sita.
" Hah, untuk apa? " tanya Karin.
" Kita khawatir sama elo Rin. Please pulang bareng kita aja ya" Sita berharap Karin mau mendengarkannya kali ini.
" Gue gak butuh temen yang gak bisa jujur dan suka bohong" Karin langsung masuk ke dalam mobil dan melajukannya dengan kencang.
" Gimana dong kalau terjadi apa-apa sama Karin. Mana kita gak bawa kendaran sendiri lagi" Sita mulai panik.
" Udah tenang aja, Karin gak akan berbuat hal bodoh yang bisa mencelakai dirinya sendiri" Ucap Dimas.
" Elo lupa gimana kehidupan Karin di rumah, dia udah kecewa sama ortunya karena gak pernah luangin waktu buat dia. Dia hanya deket sama kita sekarang, dan sekarang dia juga udah kecewa sama kita" Sita mulai emosi karena Dimas seperti tak menganggap serius masalah ini.
Sementara di jalan Karin mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi karena jalanan yang di lalui sedang lengang. Dia menangis hingga membuat matanya menjadi sedikit kabur dan tidak bisa melihat dengan jelas.
__ADS_1
Dan ketika dia sampai di persimpangan jalan, dia tidak melihat bahwa di depannya ada sebuah mobil putih yang sedang melintas. Dia membelokkan dengan tajam kemudi mobilnya untuk menghindari tabrakan dengan mobil itu.
" Aaaaaaahhh... !!!!! " Teriak Karin.