JODOHKU TERNYATA SAHABATKU

JODOHKU TERNYATA SAHABATKU
Bab 7 Tak ada kabar dari Ardi


__ADS_3

Keesokan harinya Karin sengaja berangkat lebih awal karena berencana menemui Ardi terlebih dahulu dan meminta penjelasan padanya.


Tapi sudah hampir satu jam dia menunggu Ardi tak menampakkan barang hidung nya. Hanya Dimas, Rafi dan Sita yang datang secara bersamaan.


" Dimana Ardi? " Tanya Karin sambil celingukan mencari keberadaan Ardi.


" Emang dia belum nyampe? " Tanya Rafi balik.


" Belum ada, gue kira bareng sama kalian " Raut wajah Karin menjadi sendu karena rencana nya untuk bertemu dengan Ardi pupus sudah.


"Yaudah yuk kita ke kelas, bentar lagi bel masuk" Ajak Sita.


Karin mau tidak mau berjalan mengikuti ke tiga sahabatnya itu menuju ke kelas karena memang sudah hampir jam masuk pelajaran.


Setibanya di kelas Karin menemukan bahwa Andre berpindah tempat duduk dan tidak lagi duduk sebangku dengan dirinya.


Saat lewat di sebelah Andre Karin menyapanya dan memberikan senyuman pada Andre tapi dia hanya melengos dan mengacuhkannya.


" Apa gue punya salah sama Andre juga, kenapa dia jadi berubah cuek gitu sama gue" Batin Karin.


Waktu jam istirahat pun tiba, Karin berencana akan bertanya pada Andre tentang masalah kemarin di lapangan. Dia pun s gera berdiri dan menghampiri Andre di tempat duduk nya.


" Andre... " Tapi baru saja Karin akan bicara, Andre sudah berdiri dan meninggalkan kelas.


Karin terpaku di tempat melihat Andre yang mengabaikan nya.


" Sebenarnya apa salah gue, kenapa Andre dan Ardi kompakan gitu nyuekin gue " Gumam Karin pelan.


Karin memutuskan untuk ke kantin saja karena dia sudah sangat lapar. Setelah memesan makanan dia pun bergabung dengan teman satu geng nya yang sudah berada di kantin terlebih dahulu.


" Kok kalian gak nungguin gue sih malah ke sini duluan" ucap Karin saat dia telah duduk di samping Sahabat nya.


" Kirain elo bakal ngantin bareng gebetan lo" Jawab Rafi dengan ketus.


" Gebetan apaan dah" jawabku sambil mumukul lengan Rafi pelan.


" Lah itu yang kemarin berantem sama Ardi" Kini giliran Dimas yang menyahut.


" Si Andre? dia mah cuma temen doang kali" Aku pun tertawa menanggapi ucapan Dimas.


" Temen tapi demen" timpal Rafi.

__ADS_1


Aku berhenti tertawa ketika menyadari bahwa hanya aku saja yang tertawa sedangkan mereka hanya diam saja.


Entah cuma perasaan ku saja atau memang benar, tapi aku merasa sikap mereka berubah padaku. Tapi saat ku tanyakan pada mereka bukan jawaban yang ku terima malah ucapan sinis dan menyakitkan hati yang aku terima.


***


Sepulang sekolah aku menyempatkan diri ke rumah Ardi lagi, hatiku masih gelisah karena sejak kemarin Ardi tidak membalas satupun pesan yang aku kirimkan.


Tin.. Tin...


Pak yanto segera keluar dan menemuiku setelah aku mengklakson mobilku.


" Eeh non Karin lagi, cari den Ardi ya? " Tanya pak Yanto saat melihat aku turun dari mobil.


" Iya Pak, Ardi nya ada di rumah? "


" Ee..anu non, ee.. den Ardi nya pergi non. Iya pergi"


Pak yanto seperti panik saat aku bertanya, bicaranya pun mulai gugup dan terkesan banyak berbohong. Tapi aku tidak bisa memaksa jika memang dia tidak mau memberi tahu.


" Baiklah pak saya pulang dulu kalau gitu" Aku pun memilih untuk pulang dengan membawa kekecewaan.


" Iya non, mau titip pesan sama den Ardi? nanti Bapak sampaikan kalau sudah pulang" Tawar pak Yanto.


" Hati-hati di jalan non"


Aku segera mengangguk kan kepala dan tersenyum sebagai jawaban atas ucapan pak Yanto.


Kukendarai mobil dengan kecepatan tinggi, ingin rasanya aku segera sampai ke rumah dan membaringkan tubuhku. Kepalaku rasanya sangat berat dan lemas karena dari kemarin aku tak begitu nafsu makan memikirkan perubahan sikap Ardi padaku.


***


Sementara di dalam rumah Ardi, sedang berkumpul para sahabatnya yakni Dimas, Rafi dan Sita.


" Elo beneran nggak akan biarin Karin masuk? " Tanya Rafi setelah melihat Karin dari jendela kamar Ardi, Terlihat Karin sedang berbicara dengan pak Yanto.


" Nggak" Jawab Ardi cuek.


" Kasian tahu Karin dari tadi pagi kayak gelisah gitu nyariin kamu" Ucap Sita menimpali.


Tapi tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Ardi.

__ADS_1


" Setidaknya elo pamitan sama dia sebelum pergi Di" kata Dimas.


" Nggak perlu, lebih baik emang kita nggak usah ketemu sampai gue pergi. Itu akan lebih baik untuk gue dan juga Karin tentunya" Lirih Ardi.


Terlihat jelas raut kesedihan di wajah Ardi saat mengatakan itu.


" Elo yakin gak akan ngasih tahu tentang perasaan elo sama dia? " kata Rafi.


" Untuk apa? lebih baik dia tidak pernah tahu tentang perasaanku padanya. Gue takut gak sanggup buat pergi jika melihat dia lagi" Ucap Ardi.


" Baiklah kalau itu emang udah jadi keputusan elo, kita akan tetap dukung" Dimas menepuk pundak Ardi.


" kapan rencananya mau berangkat? " tanya Sita.


" Besok " Jawab Ardi.


" Hah.. !!! " mereka bertiga pun menoleh ke arah Ardi.


" Seriusan lo? " Teriak Rafi dengan memegang pundak Ardi.


" iya, lagian lebih cepat lebih baik. Nyokap gue juga ada janji sama dokter minggu ini" Lirih Ardi.


" Kita-kita bakalan kangen banget sama lo Di, pasti beda banget jika kita ngumpul tanpa kehadiran lo" kata Dimas.


" Lama-lama juga terbiasa nanti, gue akan usahain pulang jika liburan buat ketemu sama kalian" Ardi tersenyum menatap ketiga sahabatnya yang terlihat sedih itu.


" Janji ya elo bakal sering-sering balik indo buat nemuin kita" Suara Dimas sedikit bergetar karena menahan tangis.


" Ngapain lo nangis, gue cuma pergi ke luar negeri bukan mau mati. Lagian gak pantes banget badan gede tapi cengeng gitu" Kelakar Ardi yang di sambut tawa riuh dari Sita dan Rafi.


" Elo beneran nangis Dim" Sita ikut meledek Dimas.


" Enggak, mana ada gue nangis. Kelilipan nih mata gue" Bela Dimas sambil mengusap air mata yang menetes di pipinya.


" Masih ngelak aja lo Dim, Jelas-jelas itu lo lagi nangis" teriak Rafi dengan di iringi tawa mereka mereka semua.


Malam ini Dimas dan Rafi memutuskan untuk menginap di rumah Ardi, sementara Sita pulang karena takut di marahi oleh mamanya.


" Gue pamit pulang dulu ya Di, besok gue bakal usahain buat nganterin elo ke bandara" Pamit Sita pada Ardi.


" Makasih ya Ta udah mau main ke rumah gue" ucap Ardi tulus.

__ADS_1


" It's oke Di, gue tahu lo lagi galau makanya gue temenin" kelakar Sita.


" Sialan lo" Ardi memasang wajah marah mendengar ucapan dari Sita.


__ADS_2