
"Bukankah itu Ardi?, ngapain dia di sini?". Gumam Karin saat melihat Sahabat nya Ardi sedang mengikuti suster mendorong pasien di kursi roda.
" Ardi.. Aduuh!!! ". Baru akan memanggil Ardi, dia bertabrakan dengan seseorang di depannya.
" Mbak gak papa kan?, maaf ya tadi saya buru-buru. Jadinya gak ngelihat ada mbak di depan saya". Ucap lelaki yang menabrak Karin.
" Iya gak papa mas, saya juga minta maaf karena tadi juga agak meleng". Jawab Karin.
Saat menengok ke arah di mana dia melihat Ardi tadi, sudah tidak ada lagi orang di sana. Dia pun segera berlalu untuk segera pulang karena hari sudah mulai larut malam.
**Di jalan**
" Apa tadi gue salah lihat ya, tapi gue yakin banget kalau itu Ardi. Tapi kalau bener itu Ardi, ngapain dia di rumah sakit? terus yang tadi di duduk di kursi roda siapa? ". Karin masih memikirkan kejadian di lobby rumah sakit tadi.
" Aah sudahlah, lebih baik besok aku tanyain langsung saja ke Ardi".
Jam sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam ketika dia memasuki pagar rumah nya. Terlihat mobil mamanya sudah ada di garasi.
" Tumben mereka udah pulang jam segini".
Karin pun segera mengunci kembali pagar dan masuk ke dalam rumah. Lampu sudah di matikan dan keadaan sudah sepi.
" Apa mereka sudah tidur ya, aduh.. mana laper lagi. terpaksa deh makan sendiri lagi".
Karin pun berjalan ke arah meja makan dan membuka tudung saji. Tak ada apapun di sana.
" Mbok minah belum sempet masak tadi, makan apa dong gue. kalau pesen online kelamaan. Yaudah deh masak mie instan aja".
Segera dia mengambil sebungkus mie instan dan satu butir telur untuk dia makan malam.
Sepuluh menit kemudian, mie instan buatannya sudah matang. Di bawanya ke meja makan dan menikmatinya sambil membuka handphone miliknya.
.
.
.
__ADS_1
Di kamar, Kinar masih belum memejamkan matanya karena keasyikan menonton drama Korea favorit nya. padahal jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari.
" Mampus gue, udah jam satu lagi. Mana besok harus berangkat pagi". Kinar pun meletakkan handphone nya setelah sebelum nya menyetel alarm terlebih dahulu.
***
" Aduuh gawat nih, udah terlambat lagi. mana pelajaran pertama pak zein lagi". Karin pun berlari sekuat tenaga agar cepat sampai di kelas.
Saat tiba di depan kelas, dia berhenti dan mengatur nafas yang ngos-ngosan. Dia mengintip melalui jendela, tak terlihat pak Zein ada di sana.
" kok pak Zein belum ada ya". Gumam Karin merasa heran dengan guru matematika nya itu. Pasalnya beliau tidak pernah sekalipun telat masuk ke kelas.
Karin pun masuk ke dalam kelas dan duduk di bangkunya.
"Tumben lo telat Rin? ". Tanya Andre saat Karin baru saja duduk di bangku nya.
" Iya nih, ge kesiangan gara-gara semalem begadang nonton drakor". Jawab Karin dengan masih mengatur nafasnya.
" Emang gak ada yang bangunin pagi? ". Tanya Andre lagi.
" Gak ada, Mbok yang biasa bangunin gue lagi nungguin anaknya di rumah sakit".
" Udah berangkat dari subuh buat ke toko". Andre hanya ber-oh saja mendengar jawaban Karin.
" Ooh iya, btw pak Zein kemana? tumben banget jam segini belum dateng". Tanya Karin penasaran.
" Gak masuk, katanya lagi ada urusan". Mendengar jawaban Andre, Karin merasa begitu lega karena tak jadi menerima hukuman dari guru matematika nya itu karena ketahuan terlambat masuk kelas.
***
Waktu istirahat pun tiba, semua siswa berhamburan keluar dari kelas. Ada yang ke kantin, taman, perpus bahkan ada yang memilih ke lapangan untuk melihat anak-anak basket latihan.
Tak terkecuali Karin, dia memilih pergi ke kantin dengan sahabatnya Sita. Dia sudah lapar karena tadi pagi tidak sempat sarapan.
" Eeh itu ada Ardi, Rafi sama Dimas di sana. Yuk gabung sama mereka aja, dah lama kita gak nongkrong bareng". Karin menunjuk ketiga sahabatnya yang tengah menikmati makan siang mereka.
Sita hanya mengangguk dan mengikuti Karin yang sudah berjalan ke arah Kawan-kawannya.
__ADS_1
" Hei, Ke kantin kok gak nungguin kita sih kalian". Rafi dan Dimas menoleh ke arah Kinar dan Sita yang baru datang. Sementara Ardi hanya diam saja tanpa menoleh ke arah Karin.
" Elo juga sibuk pacaran mulu". Sindir Rafi.
" Kapan gue pacaran? pacar aja gak punya mau pacaran sama siapa? ". Jawab Karin.
" Lah itu yang kapten basket, semua siswa juga udah tahu kali". Ucap Dimas.
" Gue gak pacaran kali sama Andre, cuma temen doang kok".
" Tumben lo ke kantin?, gak nungguin gebetan lo main basket". Ardi melirik tajam ketika mendengar ucapan Dimas. Dia pun kemudian berdiri dan pamit pergi.
" Gue balik ke kelas dulu ya, ada urusan". Mereka pun menatap kepergian Ardi lalu Dimas dan Rafi pun ikut menyusul kepergian Ardi.
" Kita pergi dulu ya, kalian terusin aja makannya". ucap Rafi kepada Karin dan Sita.
" Di, tungguin kita... ". Dimas berlari sambil memanggil nama Ardi.
Karin tampak heran dengan sikap Ardi yang terkesan dingin dan cuek padanya.
" Ardi kenapa sih?". Tanya karin, Sita hanya menghendikkan bahu dan geleng-geleng kepala.
Mereka pun akhirnya makan hanya berdua saja, sejenak Karin melupakan tentang keanehan yang terjadi pada sahabatnya itu. Dengan lahap memakan makanan pesanannya karena dia sudah sangat lapar.
" Elo beneran gak ada hubungan apapun sama Andre?, kayaknya Ardi cemburu sama kedekatan kamu dengan Andre ". Tanya Sita tiba-tiba hingga membuat Karin tersedak karena kaget dengan pertanyaan temannya itu.
" Uhuuk.. uhuuk.. ".
" Makanya kalau makan pelan-pelan, gak ada yang mau minta juga. Buku-buku amat sih lo". Ucap Sita sambil memberikan segelas jus jeruk yang di pesan Karin.
Karin pun segera mengambil gelas yang di sodorkan Sita padanya dan meminum hampir setengah nya.
" Elo tu kalau ngomong yang bener aja dong, yakali Ardi cemburu. Emang dia pacar gue? ". Jawab Karin menanggapi pertanyaan Sita.
" Kalau di lihat sih sepertinya dia emang naksir sama elo, Lo nya aja yang gak peka". Ucap Sita santai.
" Ya gak mungkin lah, lagian kita sahabatan udah lama. Gue juga gak masuk kriteria cewek yang di sukai Ardi, jadi ya gak mungkin lah kalau dia beneran naksir gue!!!! ".
__ADS_1
Sebenarnya Karin juga memikirkan apa yang di katakan Sita ada benarnya juga. Pasalnya akhir-akhir ini sikap Ardi ke dia sedikit berbeda, dan lebih perhatian. Tapi setelah dia dekat dengan Andre, sekarang Ardi seolah kian menjauh darinya.