
Karin merebahkan tubuhnya di atas ranjang saat sampai di dalam kamar, dia pun seketika ingat jika dia tidak memeriksa ponselnya sejak siang tadi. Karin pun membuka tasnya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam nya.
" Yaah ternyata abis baterai" Ujar Karin saat melihat ponselnya sudah mati.
" Yaudah deh tinggal mandi dulu" Karin pun segera mencharger ponselnya lalu pergi ke kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian Karin telah selesai mandi dan berganti pakaian, tak lama mbok Minah pun memanggil untuk makan malam.
" Neng, makan malam dulu. Sudah di tunggu sama papa dan mama nya neng" Ucap mbok Minah dari luar pintu kamar.
Karin yang mendengar nama papa dan namanya di sebut pun segera berlari ke pintu untuk bertanya pada mbok Minah.
Ceklek....
" Mbok" Panggil Karin saat melihat mbok Minah sudah berjalan pergi.
" Iya neng ada apa? " Tanya mbok Minah berbalik dan menghentikan langkahnya.
" Papa sama mama udah pulang ya mbok? "
" Sudah non, baru saja nyampe terus nyuruh mbok buat panggil neng makan malam" Ucap mbok Minah.
" Yaudah mbok bilangin bentar lagi Karin turun" Karin segera masuk ke dalam kamar nya dan menyisir rambutnya di depan cermin.
" Tumben banget mereka jam segini udah pulang" Gumam Karin heran.
Pasalanya selama ini mama dan papa nya selalu pulang di atas jam sepuluh malam dan berangkat pagi buta sebelum sempat bertemu Karin lagi.
" malam pa, ma " Sapa Karin saat melihat mama dan papa nya sudah menunggu di meja makan.
" Malam sayang " jawab papa dan mama nya.
__ADS_1
" Kok tumben banget mama sama papa udah pulang jam segini" tanya Karin.
" Kenapa? kamu nggak suka mama sama papa pulang cepet" jawab mama nya sedikit tidak senang.
" Bukan begitu, Karin seneng kok. Seneng banget malah, cuma ya nggak biasanya aja gitu" ucap Karin.
" Sudah sudah ayo cepetan makan, malah pada ribut sendiri" Papa Karin menengahi.
Mereka bertiga pun makan dalam diam, hanya ada suara sendok dan piring mereka bertiga yang saling beradu.
selesai makan Karin dan orang tuanya pun berkumpul di ruang tengah untuk menonton TV, Karin hanya diam saja dan hanya berbicara saat papa atau mamanya bertanya padanya.
" Gimana sekolah kamu Rin? " Tanya papa Karin.
" Baik pa" Jawab Karin singkat.
" Sebentar lagi kan kamu ujian, sudah ada rencana mau melanjutkan kuliah dimana? " Tanya papa lagi.
" Loh kok kedokteran!!! kenapa nggak ambil management aja biar nanti setelah lulus bisa lanjutin usaha mama sama papa" protes mama Karin.
" Nggak bisa gitu dong ma, Karin juga pengen ngejar cita-cita Karin. Mama kan tahu kalau dari dulu Karin pengen jadi Dokter. Ooh atau emang mama nggak pernah tau apa yang Karin pengenin? " Ucap Karin menyindir mama nya.
" Kamu mau kurang ajar sama orang tua? " Bentak mama nya.
" Sudah ma tenang, biarin saja Karin memilih masa depan nya sendiri akan menjadi apa. Kita sebagai orang tua wajib mendukung dan memfasilitasi saja" kata papa Karin.
" Nggak bisa gitu dong pa, kita itu hanya punya satu anak. Kalau bukan Karin yang melanjutkan bisnis keluarga kita terus siapa lagi" Mama nya masih saja tidak terima.
" Kan kita berdua masih bisa mengurus usaha kita ma, jangan libatkan Karin jika memang dia tidak mau" papa Karin masih membela Karin.
" Pokoknya mama nggak akan setuju, kamu kuliah management atau nggak sama sekali". Mama Karin memang selalu keras kepala, apa yang dia inginkan harus itu yang terjadi.
__ADS_1
" Mama emang egois, nggak pernah mau ngertiin perasaan Karin. Selalu saja mama mama dan mama yang selalu harus di dengar dan di nomor satukan. Mama nggak pernah nanya apa keinginan Karin dan apa yang Karin butuhin" Karin meluapkan semua emosinya dan berlari menuju kamarnya.
Karin menangis di dalam kamarnya, dia tidak tahu sudah berapa kali hari ini dia menangis. Dia sudah sangat kecewa pada sikap mamanya yang terlalu mengatur kehidupan nya tanpa ingin tahu apa yang dia inginkan.
Di bawah masih terdengar mama dan papanya bertengkar karena papa nya membela Karin tetapi mama nya masih saja tetap pada pendirian nya.
Karin tidak ingin lagi mendengar pertengkaran orang tuanya dan memilih mendengarkan musik dengan handphone nya. Di ambilnya ponsel yang tadi dia charger dan menghidupkan nya. Begitu ponselnya nyala, ratusan notifikasi pesan dan panggilang masuk secara bersamaan.
" Ngapain juga mereka masih khawatir sama gue, mereka aja gak perduli perasaan gue saat bohongin gue" Ucap Karin saat membaca isi pesan dari Sita, Dimas dan juga Rafi.
" Mereka udah jahat banget sama gue, terutama Ardi. Elo semua udah ngecewain gue tau nggak" Air mata Karin menetes dengan deras nya. Belum selesai masalah dengan kedua orang tuanya kini dia harus teringat lagi dengan masalah sahabat nya.
" Oke sudah cukup kamu menangis hari ini Karin, sekarang saat nya kamu mulai menata masa depan" ucap karin menyemangati diri nya sendiri.
Karin memasang earphones dan mendengarkan lagu dengan kencang agar tidak lagi mendengar suara ribut kedua orang tuanya. Dia lalu membuka laptop untuk mencari informasi tentang sekolah kedokteran yang dia inginkan dan mulai mencatat apa saja yang perlu di persiapkan.
Karin termasuk siswi yang cerdas dan sering dipilih untuk lomba cerdas cermat mewakili sekolah nya dari SD hingga SMA, dia juga langganan rangking satu di kelas nya.
" Ada program beasiswa nih, coba ikut daftar deh. Siapa tahu bisa lolos" Karin begitu gembira saat melihat pengumuman beasiswa untuk mahasiswa baru jurusan kedokteran.
" Hooaaamm" Karin menguap dan merasakan kantuk di matanya.
Karena terlalu sibuk menyiapkan berkas untuk mendaftarkan ke Universitas yang dia inginkan, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan tengah malam.
" Tidur dulu deh, besok lanjut lagi untuk mendaftar. Semoga saja pengajuan beasiswa gue bisa lolos" harap Karin.
***
Keesokan harinya seperti biasa kedua orang tuanya sudah pergi saat dia akan berangkat ke sekolah. Dia mengendarai mobilnya dan melaju ke sekolah nya, minggu depan dia sudah harus menjalani ujian. Dan tidak lama lagi dia akan menyandang status sebagai mahasiswa.
Sesampainya di sekolah, Karin melihat ke tiga sahabat nya sudah menunggu nya di parkiran. Karin keluar dari mobil dan berjalan melewati Sita, Dimas dan Rafi begitu saja dan mengabaikan panggilan ke tiga nya.
__ADS_1
Dia hanya ingin fokus belajar dan tidak mau terganggu dengan masalah nya kemarin. Itu sebab nya dia memilih menghindari ketiga nya dari pada dia badmood dan menjadi tidak semangat dalam belajar.