
Pagi ini, seperti biasa Karin berangkat ke sekolah sendiri. Tak ada lagi Ardi yang selalu menunggu nya di parkiran hingga dia datang dan masuk kelas bersama. Entahlah, Karin merasa kalau Ardi sudah benar-benar menjauh darinya. Bahkan jika Karin menyapanya saat mereka berdua tak sengaja berpapasan, Ardi seolah tak mengenal Karin.
Seperti pagi ini di tempat parkir, Karin melihat Ardi yang baru datang dengan motor sport merah kesayangannya. Dia mencoba mendekat dan menyapanya, tapi lagi-lagi Ardi tak menanggapinya.
" Hai Di, tumben jam segini baru dateng.. ". Sapa Karin sambil berjalan menghampiri Ardi. Tapi baru akan sampai di depannya, Ardi sudah pergi seolah tak melihat Karin yang berada di depannya.
" Tunggu Ardi...". Ucap Karin sambil memegang lengan tangan Ardi, berharap dia mau berhenti. Dan ternyata benar saja, Ardi berhenti dan menatapnya dengan tajam tanpa sepatah katapun keluar dari mulutnya. Melihat Ardi yang hanya diam saja, Karin pun segera melanjutkan kalimatnya.
" Elo kenapa kayak ngejauh dari gue Di?, Gue ada salah apa sama elo. Elo ngomong dong biar gue tahu apa yang gak lo suka dari gue. Kenapa harus ngejauhin gue kayak gini sih. Gue minta maaf kalau gue emang ada salah sama lo". Mata Karin sudah berkaca-kaca saat dia mengungkapkan permintaan maaf pada sahabat nya itu.
Tapi bukannya menjawab, Ardi malah melepas pegangan tangan Karin dan berlalu begitu saja tanpa ada satu patah katapun yang keluar. Karin hanya diam mematung melihat kepergian Ardi dengan menahan agar air mata tak menetes di pipinya.
* Kenapa sih Ardi kok kayak benci banget sama gue, apa salah gue sebenarnya *. Gumam Karin dari dalam hati.
Tapi sekuat apapun dia menahan, akhirnya air mata itupun luruh juga dari kedua matanya dan membasahi pipinya.
*****
Di kelas, Karin hanya diam saja tanpa ada semangat untuk belajar. Dia masih memikirkan tentang perubahan sikap Ardi waktu di parkiran tadi pagi.
" Rin.. ". Panggil Andre. Tapi Kinar tak menjawab, dia pun menepuk pundak Karin hingga membuatnya terperanjat karena kaget.
" Haah?, kenapa ndre? ". Ucap Karin di sela keterkejutan nya.
" Rin, elo kenapa sih kok murung mulu dari tadi. Ada masalah ya?, cerita dong sama gue. Siapa tahu gue bisa bantu". Tanya Andre.
" Gue gak papa kok". Jawab Karin memilih untuk berbohong.
"Elo yakin gak papa?". Tanya Andre lagi menyelidiki.
" Iya gak papa kok, cuma lagi mikir buat UN nanti".
" Rin, elo udah nyelesaiin tugas dari pan Zein belum? ". Tanya Andre.
__ADS_1
" Udah kok, kenapa? ". Karin balik bertanya.
" Ooh yaudah kalau gitu". Jawab Andre masih tampak berfikir.
" Elo kenapa sih Ndre?, kok kayaknya mau ngomong sesuatu gitu? ". Ucap Karin.
" Hemmm sebenarnya sih iya Rin, tapi gue gak enak ngomongnya sama kamu".
" Apaan sih Ndre, santai aja lagi. Elo mau ngomong apa emangnya". Tukas Karin.
" Gue boleh minta tolong gak sama kamu? ". Tanya Andre.
" Minta tolong apa Ndre, kalau gue bisa pasti gue bantuin kok". Andre tampak berfikir dan bengong sebentar mendengar ucapan Karin, hingga Karin menepuk pelan lengan Andre.
" Wooy, malah bengong. Mau minta tolong apaan? ". Tanya Karin lagi.
" Boleh gak gue minta tolong sama elo buat pinjemin gue tugas yang dah lo kerjain dari pak Zein. Kemarin gue lupa soalnya ada pertandingan basket". Ucap Andre pada akhirnya. Karin hanya diam saja sambil menautkan alisnya karena heran mendengar ucapan yang terlontar dari mulut lelaki yang berada di sampingnya ini. Hingga Andre jadi salah tingkah dan berucap kembali.
" Kalau gak boleh juga gak papa kok Rin, nanti biar gue ngomong aja sama pak Zein. Siapa tahu beliau bisa ngasih gue keringanan". Ucap Andre dengan lesu.
" Iya gak papa kok Rin, nyantai aja. Mungkin ini udah nasib gue gak dapet nilai dari pak Zein". Andre terlihat putus asa.
" Jangan gitu dong Ndre, kamu bisa gak lulus nanti kalau gak dapet nilai dari pak Zein". Karin merasa tambah bersalah karena tak bisa membantu Andre, tapi dia juga takut kalau sampai ketahuan. Dia gak mau sampai mengulang kelas tiga ini karena gak lulus dari mata pelajaran pak Zein.
" Mau gimana lagi Rin, ini juga salah gue sendiri karena terlalu sibuk dengan tim basket. Semoga aja pak Zein bisa ngasih gue kesempatan sekali lagi". Ucap Andre.
" Hemmm gimana kalau elo kerjain sekarang aja di perpus, kan masih ada waktu istirahat satu jam. Gue bakal bantuin elo kok, tenang aja ya". Mendengar ucapan dari Karin, seketika mata Andre berbinar penuh harap.
"Seriusan elo mau bantuin gue Rin? ".
" Iya Ndre, jadi elo harus semangat ya". Ucap Karin menyemangati dan di balas dengan senyum merekah oleh Andre.
** Di perpus**
__ADS_1
Saat tengah mengerjakan tugas milik Andre, Tiba-tiba ponsel milik Andre berdering. Seketika mereka berdua pun menoleh pada handphone yang tergeletak di meja mereka.
" Rin, gue angkat telpon bentar ya". Izin Andre lalu segera berlalu keluar dari perpus tanpa menunggu jawaban dari Karin.
Lima menit berlalu, Andre pun datang kembali menghampiri Karin dengan wajah lesu.
" Kenapa lagi Ndre, ada masalah? ". Tanya Karin.
" Gimana dong Rin, pelatih basket manggil gue buat latihan sekarang buat persiapan pertandingan final melawan sekolah sebelah". Jawab Andre.
" Terus? ". Hanya itu kalimat yang keluar dari mulut Karin.
" Tadinya sih gue gak mau ikut, tapi gue kan tim ketia tim. Dan pelatih bilang kalau gue gak dateng, gue bakal di coret dari Tim inti". Tukas Andre.
" Hemmm, yaudah deh kamu pergi aja. Lagian ini cuma tinggal ngetik beberapa bab doang kok, kan materinya udah selesai semua". Pada akhirnya Karin hanya bisa mengizinkan Andre pergi karena tak tega jika dia harus di coret dari tim.
" Seriusan Rin?, kamu gak bercanda kan? ". Karin hanya mengangguk saja mendengar pertanyaan Andre.
" Thank you banget Rin, elo emang sahabat gue yang paling pengertian. Gue pergi sekarang ya". Andre pun berlalu meninggalkan Karin seorang diri di perpus mengerjakan tugas miliknya.
.
.
.
Setengah jam kemudian, akhirnya Karin pun menyelesaikan tugas milik Andre.Dia pun melakukan peregangan ringan karena badannya sudah terasa sangat pegal duduk di depan laptop selama satu jam lebih.
" Aah akhirnya selesai juga".
Saat Karin baru saja akan membereskan mejanya, Tiba-tiba ada salah seorang siswa yang berteriak.
" Ada yang berantem di lapangan. Yuk kita lihat sekarang... ".
__ADS_1
Karin yang mendengar ada keributan di lapangan pun seketika teringat dengan Andre yang berada di lapangan.