JODOHKU TERNYATA SAHABATKU

JODOHKU TERNYATA SAHABATKU
Bab 6 Ternyata Ardi dan Andre


__ADS_3

Karin pun segera berlari ke lapangan untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi. sesampainya di sana, sudah banyak Siswa yang berkerumun di pinggir lapangan. Dengan susah payah Karin menelusup di antara puluhan orang yang terus berdesak-desakan.


Hingga ada suara yang menyebutkan nama yang begitu di kenalnya.


" Ardi, udah Di".


" Wooii, kalian bantu pegangin Andre juga dong".


"Ardi dan Andre? mereka berdua berantem? atau siswa lain yang kebetulan memiliki nama yang sama saja? ". Batin Karin.


Dia pun semakin berusaha untuk maju ke depan, memastikan sendiri bahwa itu bukan Ardi dan Andre yang dia kenal.


Tapi betapa terkejutnya Karin saat melihat Ardi sahabatnya, tengah di pegangi oleh Rafi dan Dimas. Sementara Andre, di pegang oleh teman-teman satu club basketnya.


"Tapi tunggu dulu, kenapa Andre tidak memakai seragam basket? tapi masih pakai seragam yang terakhir kali dia pakai tadi?. Apakah latihannya sudah selesai". Batin Karin.


Semua siswa bersorak memanggil nama yang mereka dukung, sebagain meneriakkan nama Andre dan tak sedikit juga yang meneriakkan nama Ardi yang membuat suasana semakin ramai.


Hingga tiba dua orang guru yang melerai mereka berdua.


" Berhenti kalian berdua". Teriak guru yang di ketahui sebagai guru BK itu.


" Apa-apa an kalian berdua ini, sudah kelas tiga bukannya mikir masalah ujian malah ribut kayak gini. Buat contoh yang buruk buat adik kelas kalian". Maki pak Zein yang datang bersama guru Bk tadi.


Semua siswa yang tadi bersorak pun diam seketika, tak ada yang berani bersuara sedikit pun. Begitupun dengan Andre dan Ardi, mereka berdua saling diam. Tapi tatapan mata keduanya menyiratkan sebuah kebencian satu sama lain,


" Kalian berdua, ikut bapak ke ruang BK sekarang juga. Dan untuk siswa lainnya, masuk ke kelas kalian masing-masing ". Ucap guru BK itu kemudian berjalan meninggalkan lapangan di susul oleh pak Zein.


Semua siswa pun bubar meninggalkan lapangan sesuai dengan instruksi dari guru BK tadi. Sementara Ardi, Andre, Karin, dan teman-temannya masih tetap berdiri di sana.


" Elo gak papa kan kalau ke sana sendiri Di? ". Tanya Dimas kepada Sahabat nya itu.


" Iya gue gak papa, mendingan kalian cepet balik ke kelas sebelum kalian juga kena hukuman". Tukas Ardi sambil tersenyum ke arah ke dua sahabatnya.


" Yaudah, kita berdua ke kelas duluan ya. Kabarin kita kalau butuh bantuan apapun itu" ucap Rafi.

__ADS_1


" Thankyou ya, kalian emang sahabat terbaik gue. Gue beruntung banget bisa kenal sama kalian " ucap Ardi tulus.


" Sama-sama Di, kita berdua juga lebih beruntung bisa temenan sama lo" Rafi dan Dimas bergantian menepuk pundak Ardi.


Dimas dan Rafi pun berlalu meninggalkan Ardi di sana, begitupun dengan teman-teman Andre. Kini tinggal lah mereka bertiga berada di tengah lapangan itu dengan suasana hening.


Karin masih memandang ke arah Ardi dan Andre secara bergantian. Berharap salah satu dari mereka ada yang menjelaskan padanya tentang masalah yang terjadi sekarang.


Andre berlalu begitu saja dengan melirik tajam ke arah Ardi, begitu pun sebaliknya. Saat Ardi juga akan meninggalkan lapangan, Karin meraih lengan Ardi hingga diapun berhenti tanpa menoleh ke arah sahabatnya itu.


" Bisa lo jelasin Di, ada masalah apa sebenarnya antara elo dan Andre? ". tanya Karin.


Tapi bukannya menjawab, Ardi malah menyentakkan tangan Karin hingga terlepas dan pergi berlalu begitu saja menuju ke ruang BK.


***


Karin duduk termenung di kursinya sambil memikirkan apa yang terjadi pada Ardi dan Andre. Bagaimana dengan nasib ke duanya?, apakah mereka akan di skors?. Padahal Ujian Nasional tinggal dua minggu lagi.


Tak lama setelah itu, Andre datang mengambil tas dan berlalu meninggalkan kelas. Semua siswa menatap kepergian Andre tanpa ada yang berani bertanya. Begitu pun dengan Karin yang hanya diam saja dan tak mencoba bertanya sepatah katapun pada Andre.


Tut...


Tut...


Tut...


Beberapa panggilan Karin tak ada yang di jawab oleh Ardi sekalipun. Hingga Karin berinisiatif untuk mengirim pesan saja.


[ Di, Are u okay ]


[ Please dong Di, jangan bikin gue khawatir ]


[ Elo masih marah sama gue Di?, Gue minta maaf, tapi please dong Di jangan cuekin gue kayak gini ]


[ Sakit tahu nggak Di, Tiba-tiba di diemin kayak gini tanpa tahu kesalahan nya apa ]

__ADS_1


[ Seenggaknya elo kasih tahu gue letak kesalahan gue tu dimana, jangan kayak gini dong ]


[ Mana janji lo yang katanya gak bakal biarin ada siapapun yang nyakitin gue, tapi kenapa malah elo sendiri yang bikin gue sedih kayak gini Di? ]


[ Elo jahat banget tau gak Di ]


Semua pesan yang di kirim Karin tak ada sekalipun balasan yang dia Terima dari Ardi. Itu membuat Karin semakin khawatir dan tak sadar meneteskan air mata mengingat sikap Ardi yang begitu cuek padanya.


***


Bel pulang sekolah pun berbunyi, Karin berinisiatif ingin mengunjungi rumah Ardi siang ini. Dia pun menuju ke parkiran dan mengendari mobilnya menuju ke perumahan tempat tinggal Ardi.


Tin... tin...


Karin membunyikan klakson nya hingga seorang satpam terlihat membuka pintu dan Dia pun membuka kaca jendela mobilnya.


" Eh non Karin, bapak kira siapa. Mau cari den Ardi ya? ". Tanya pak satpam yang bernama yanto itu.


Memang ini bukan kali pertamanya Karin mengunjungi rumah Ardi, dia sudah sering main ke sini dengan teman-teman nya yang lain. Jadi tak heran bila satpam di sini sudah mengenalnya.


" Iya pak yanto, Ardi nya ada di rumah gak pak". Tanya Karin dengan senyuman.


" Den Ardi nya belum pulang non, emang tadi gak janjian dulu di sekolah atau telpon dulu sebelum. mau ke sini ? ". tanya pak Yanto balik.


" Nggak pak, tadi gak sempet ketemu soalnya". Jawab Karin.


" Mau nunggu di dalem atau gimana non". tawar pak Yanto.


" Gak usah pak, saya pulang aja. Nanti kapan-kapan saya main ke sini lagi. Bilangin aja sama Ardi kalau saya ke sini ". Karin pun berlalu meninggalkan rumah Ardi setelah sebelumnya berpatmitan dengan pak Yanto.


Karin melajukan mobilnya menuju ke rumah, selama di jalan fikiran nya jadi tak tenang. Kemana Ardi pergi, kenapa dia belum pulang juga?.


Hingga dia sampai di rumah pun, fikirannya tetap saja tak tenang. Panggilan telpon bahkan pesan tak ada satu pun yang di balas oleh Ardi.


" Di, elo kenapa sih kok jadi berubah gini. Gue sedih banget tau nggak" Lirih Karin sambil melihat ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2