
" Siapa perempuan ini yang berfoto dengan Ardi ini? kenapa mereka terlihat sangat akrab sekali? " Gumam Karin sambil memperhatikan foto di ins*****m Ardi.
" Tidak mungkin kalau saudara nya kan? setahuku Ardi hanya punya satu kakak laki-laki saja dan tidak ada yang lain".
" Apakah mungkin ini pacar Ardi yang tinggal di luar negeri, makanya Ardi pergi untuk menemui nya dan lebih dekat dengan nya" tebak Karin.
Karin menghela nafas panjang lalu menghembuskan nya, setitik air mata mulai keluar dari sudut matanya. Sekarang dia tahu alasan Ardi pergi tanpa memberitahunya karena dia memang sudah memiliki kekasih. Jadi Ardi hanya menganggap nya sebatas teman saja dan tidak lebih. Bodohnya Karin yang sempat berfikir bahwa Ardi mencintai nya hanya karena dia selalu ada untuk nya.
" Oke, mulai sekarang gue bakal lupain Ardi dan fokus menjadi dokter spesialis seperti yang gue inginkan" Karin mencoba menyemangati dirinya sendiri.
***
Kini empat tahun sudah Karin sekolah kedokteran dengan segenap usaha yang tidak sedikit dan telah melewati tahap awal impian nya menjadi Dokter. Setelah wisuda dengan gelar sarjana kedokteran, ia harus menjalani koas atau program profesi dokter, dan ujian sertifikasi dokter lagi untuk mendapatkan gelar dokter nya. Masih banyak lagi tahapan untuk nya mencapai apa yang di inginkan nya.
Pihak kampus sudah mengatur sebuah rumah sakit swasta terbesar di kotanya untuk tempat dia menjalani koas. Karena dia termasuk mahasiswi yang cerdas jadi bisa masuk ke rumah sakit impian nya itu yang tidak sembarang menerima calon dokter muda. Karin adalah salah satu orang beruntung dari sekian banyak murid yang mendaftar.
" Apakah semua peserta koas sudah hadir di sini?" tanya seorang dokter pada beberapa dokter muda di dalam ruangan.
Mereka pun saling melihat untuk memeriksa siapa saja yang tidak ada.
" Maaf dok, dokter Karin belum ada di sini" Ucap Reza teman Karin selama di kampus.
" Ada yang tahu kemana dia? " tanya dokter yang bernama Hendra.
" Mungkin terjebak macet dok" jawab Reza.
Sebenarnya dia khawatir pada nasib teman nya itu karena harus telat di hari pertama koas mereka, dia takut Karin akan di keluarkan dari group mereka.
" Di keluarin saja dok, dokter yang nggak punya disiplin kayak gitu" Stefy mengompori.
" Jika ada yang punya kontaknya silahkan di hubungi, sepuluh menit lagi kalau belum sampai sini juga maka saya akan memberikan hukuman padanya" ucap dokter Hendra dengan tegas.
Reza pun segera mengeluarkan ponselnya dan mencoba menghubungi Karin, tapi tidak ada jawaban dari Karin.
__ADS_1
" Gimana? " tanya Dita yang berada di samping Reza.
" Nggak di angkat" jawab Reza sambil menggelengkan kepalanya.
" Aduuh kemana sih si Karin nih, bisa gawat kalau dia sampai tidak datang kali ini" Dita mulai panik.
Saat mereka sedang menunggu kabar dari Karin, Tiba-tiba alarm di ruangan itu berbunyi yang bertanda ada pasien gawat darurat yang baru tiba.
" Segera ke IGD sekarang juga" perintah dokter Hendra.
Mereka pun gegas mengikuti dokter Hendra ke IGD dengan segera, sesampainya di sana ada suster yang menghampiri dokter Hendra.
" Dua pasien kecelakaan sedang dalam perjalanan ke mari dokter" ucap suster.
Tidak lama kemudian mobil ambulance yang membawa pasien pun tiba di depan pintu. Dokter Hendra serta beberapa dokter muda pun mengikuti nya untuk mendekat dan memeriksa keadaan pasien.
" Bagaimana kondisi vital pasien? " tanya dokter Hendra.
Seorang perempuan muda yang ikut mengantarkan pasien pun segera menjelaskan secara rinci kondisi pasien pada Dokter Hendra. Dokter Hendra mendengarkan apa yang di sampaikan dengan mengecek sendiri kondisi pasien dengan stetoskop di tangan nya.
" Saya Dokter" jawab perempuan tadi.
" Karin !! " Teriak Reza saat tahu Karin lah yang datang dengan pasien kecelakaan itu.
Dokter Hendra dan yang lainnya pun menoleh pada Reza lalu melihat Karin dengan tatapan bertanya.
" Ini Karin, peserta Koas yang belum datang dok" Reza segera menjelaskan pada dokter Hendra. Karin yang sadar jika dokter di depan nya adalah atasan nya selama koas, diapun segera membungkuk dan meminta maaf.
" Maaf dok, saya datang terlambat" Ucap Karin.
" Kalian semua, segera bawa pasien ke dalam". perintah dokter Hendra.
" Baik dok " jawab mereka serentak.
__ADS_1
Tanpa menunggu lama mereka pun segera mendorong pasien ke dalam untuk melakukan tindakan penyelamatan selanjutnya.
sementara Karin masih berdiri dengan menunduk di hadapan dokter Hendra. Dia takut akan di hukum karena datang terlambat di hari pertama koas nya.
" Kamu Karin? " tanya Dokter Hendra.
" Hah!! iya dok saya Karin" Karin sangat gugup saat dokter Hendra menyebut namanya.
" Apakah kamu pernah melakukan prosedur Trakeostomi pada pasien sebelum ini? " tanya Dokter Hendra.
" Saya belum pernah melakukannya secara langsung sebelum nya dok, tapi saya pernah belajar dan melihat langsung sebelumnya" Jawab Karin.
Dulu dia memang pernah melihat saat Robby melakukan itu pada pasien kecelakaan yang mereka temui di jalan. Dan Robby sedikit menjelaskan bagaimana cara yang tepat menangani pasien dengan keadaan yang sama. Karin tidak menyangka jika itu harus dia praktekan sekarang, untungnya dia mempunyai ingatan yang bagus jadi bisa melakukan semua nya.
" Apakah saya salah dok? " tanya Karin panik saat melihat dokter Hendra hanya diam.
" Tidak, apa yang kamu lakukan sudah benar. Saya hanya tidak menyangka ada dokter muda yang berani mengambil resiko besar seperti itu" ucap Dokter Hendra.
Walaupun dia belum pernah bekerja di rumah sakit tapi dulu dia sering ikut Robby melakukan bakti sosial di beberapa daerah terpencil dan banyak belajar dari sana.
" Cepat lah ganti baju dan ikuti teman-teman mu yang lain nya" perintah dokter Hendra.
" Baik, Terima kasih dok". Karin segera berlalu dari hadapan dokter Hendra menuju ke lokernya untuk mengambil jas nya dan berganti baju.
Sepuluh menit kemudian Karin sudah menyusul teman-teman nya yang berada di IGD. Dia ikut menyimak apa yang di sampaikan oleh dokter Hendra tentang gejala yang di alami pasien, cara penanganan hingga obat apa saja yang bisa di berikan.
Hingga tidak terasa sudah memasuki jam makan siang, mereka bergantian pergi ke kantin rumah sakit untuk makan dan beristirahat sejenak. Tidak terkecuali Karin, Reza dan Dita. Mereka bertiga pun pergi ke kantin bersama dan mengobrol tentang kejadian kecelakaan tadi.
" Elo hebat banget Rin bisa ngelakuin itu, kalau gue sih pasti udah panik kali" Ucap Dewi memuji keberanian Karin.
" Iya Rin, sampai-sampai banyak dokter residen yang muji dan kagum sama elo" timpal Reza.
Sementara Karin hanya tertawa mendengar cerita ke dua teman nya, dia juga masih tidak percaya bisa melakukan nya dengan benar tadi meskipun baru pertama kali.
__ADS_1
" Gue beruntung tadi" Lirih Karin pelan.