
ia merapihkan Pakaiannya dan rambut nya, untung ia selalu menaruh sisir kecil bersamaan kunciran di saku rok nya. Dan dengan beruntungnya ia menemukan sebuah peniti di bawah lantai kamar kecil ini, ia langsung mengambil dan mengeringkannya lalu mengapit seragam bagian atas nya yang kehilangan kancing itu.
Setelah siap dan selesai, ia langsung keluar dari kamar kecil dengan jalan setengah lari untuk mengejar waktu karena 2 menit lalu ada bell terakhir pertanda pelajaran ke 2 segera di mulai.
Saat masuk kelas banyak sorotan mata terhadapnya, tapi sebisa mungkin ia hanya berjalan santai tanpa menghirau kan tatapan semua murid dan perkataan yang sangat panas jika Athira dengar. Tak butuh waktu lama Seorang bapak guru memasuki kelas mereka untuk mengajari suatu pelajaran sesuai jadwal.
Journey Life, Athira ~ Ep. 9
* Sepulang Sekolah.
Kini Athira sedang berjalan melewati koridor yang sudah sepi sejak bell pulang sekolah 45 menit yang lalu. Yap! seperti biasanya ia akan pulang sekolah setelah sekolah telah sepi. Ia berjalan menuju gerbang sekolah, tapi ia terkejut bukan main ia telah melupakan sesuatu yang sangat penting dan darurat. Aldeen!!
Apakah dia masih menungguku? apa dia sudah pulang duluan?. itulah yang sedang menghantui benak Athira saat ini. Ia celingak- celinguk mencari mobil ataupun Aldeen seorang, ia berjalan tergesa- gesa mencari Aldeen, kesana kemari ia mencari Aldeen. Tapi, ia tak menemukan batang hidungnya sama sekali, sebenarnya ia tidak masalah jika Aldeen sudah pulang, tapi ... yang jadi masalah nya adalah bagaimana nanti saat sampai dirumah??
Ia masih celingak celinguk mencari Aldeen berharap menemukan nya, tapi tiba- tiba tangan nya di tarik seseorang sampai dirinya berbalik badan dan menghadap ke orang itu, Athira tentu saja terkejut, tapi perlahan ia lega saat orang yang di cari nya kini telah muncul di hadapannya.
"Darimana saja?!" tanya Aldeen dengan nada kesal, ia telah menunggu Athira selama 45 menit dan baru menemukannya di 47 menit.
Athira tidak menghiraukan pertanyaan Aldeen melainkan ia malah memeluk Aldeen dan membenamkan kepala nya di dada Aldeen. Ia lega jika Aldeen masih di sekolah.
Apasih kebalik tau seharusnya Aldeen yang meluk! ~ Author
Aldeen hanya diam tanpa niat untuk membalas pelukan Athira
"Ma- maafin Thira, ka ...." kata Athira melepas pelukannya lalu menunduk, ia tak berani untuk menatap Aldeen.
Aldeen menghela nafasnya lalu mengenggam tangan Athira dan mengajak nya ke tempat parkiran.
Athira dan Aldeen pun pulang, kini jam telah menunjukan waktu 16.37 Waktu indonesia barat. Seharusnya mereka sampai rumah pukul 15.10
Sesampai nya dirumah, mereka langsung memasuki kamar dan membersihkan diri masing- masing.
Sekarang, Aldeen sedang membersihkan diri di kamar mandi yang tersedia di dalam kamar mereka, sedangkan Athira kini ia sudah terlelap dalam alam mimpinya, ia sudah mandi duluan sebelum Aldeen makanya sekarang ia tinggal istirahat. Sebenarnya tidak baik tidur di sore hari, tapi karena kondisi capek dan lelah nya di sekolah kini ia tidur terlelap.
Cklek ...
Aldeen keluar dari kamar mandi dengan Kaus putih ber gambar planet jupiter di tengah- tengah nya dengan celana pendek selutut berwarna krem. Ia melihat Athira yang tidur terlelap di atas ranjang dengan kaus berwarna biru laut dan celana legging warna hitam. Terlihat dari wajah nya yang damai menandakan sangat lelap, Aldeen sangat mengetahui apa yang terjadi pada Athira hari ini di sekolah nya, ia hendak menolong tapi posisi Aldeen saat itu sedang mengerjakan tugas bersama kelompok nya di perpustakaan dan saat waktu luang ia malah di dahului oleh seorang lelaki se angkatannya.
Cup ...
Aldeen mengecup kening mulus milik Athira, lalu berucap, "Jangan menyerah, aku tahu kau bisa bertahan."
Aldeen tersenyum tipis kepada Athira yang masih tidur, ia sengaja melakukannya diam- diam tanpa ingin di ketahui Athira. Bahwa, dirinya telah memperhatikan Athira sejak Hari dimana Athira tidak sengaja menabrak nya dengan tubuh yang basah oleh air kotor.
Ya, Orang yang waktu itu Athira tabrak di saat tubuh nya di lumuri air kotor bekas pel an adalah Aldeen Alfiandra.
^8 malam, Rumah.^
KIni Athira sedang sibuk berkutat dengan buku- buku pelajarannya dengan sebuah pulpen di genggamannya dan laptop di hadapannya. Ya, dia sedang mengerjakan tugas kelompok yang dimana harus nya di kerjakan secara berkelompok, tapi malah ia seorang diri yang harus mengerjakan, ini sudah biasa bagi Athira. Pertama kali ia menolak mengerjakan sendiri dan menulis bahwa diri nya yang hanya bekerja dan yang lainnya hanya menunmpang nama. Tetapi, hasilnya malah ia yang dituduh tidak mengerjakan dan ia harus mendapati nilai D di pelajaran IPA secara berkelompok.
Karena ia tak suka jika nilai nya anjlok hanya karena masalah kecil selagi ia masih sanggup ia akan melakukan nya agar nilai nya di atas rata- rata. Di bawah langit malam yang dingin, ia masih fokus dengan tugas nya tanpa mengetahui bahwa Seseorang dari dalam kamar terus melihat nya.
Di lantai dasar, Ruang tengah. Di ruang tengah ada Ayah al bersama sang istri bunda mita, mereka sedang menonton film di televisi canggih nya.
Pintu utama terbuka menampilkan seorang lelaki dewasa dengan pakaian kantor yang dimana dasi nya sudah di longgarkan setengah.
"Eh? Alvin akhir nya kamu pulang juga, kamu ini memang nya ada apa sih dengan sekretaris mu itu sampai masih mengurusi nya," celoteh bunda mita sambil melepas jas dan dasi Alvin yang masih bertendar di tubuh Alvin.
"Alvin berhak bertanggung jawab atas masalah ini, dia sekretaris Alvin." balas Alvin sambil mengecup punggung tangan Sang bunda lalu berjalan menghampiri sang ayah dan duduk di sampingnya.
"Siapin air putih aja," kata Alvin inisiatif terhadap pembantu nya, karena sudah menjadi kebiasaan sang pembantu jika Alvin atau Ayah nya pulang kerja selalu di siapkan minuman.
__ADS_1
Sang pembantu menurut dan mengambilkan segelas air putih untuk Alvin.
"Jangan terlalu di prioritaskan, Alvin," sanggah ayah Al sebelum alvin mengatakan sesuatu.
"Fokus saja dengan pekerjaan mu, untuk apa sekretaris pertama mu di pekerjakan, pasti dia juga sedang mengatasi nya. Jangan terlalu fokus pada masalah, Sekretaris pertama mu juga yang akan menanggung semuanya," ujar sang ayah kepada anak sulungnya
Alvin mengehela nafasnya berat, perkataan ayah nya benar ...
Aldeen melangkah kan kaki nya mendekati Ayah, bunda dan sang kaka nya.
"Athira lagi apa?" tanya bunda mita memprioritaskan Athira di banding anak nya sendiri.
"Kerja tugas," balas Aldeen simpel lalu duduk di samping kaka nya, aldeen memanggil alvin abang.
"Cinta buta." ucapan singkat Aldeen itu membuat Alvin membulatkan matanya, di ikuti ayah dan bunda nya.
"ngomong apa sih kamu, deen?" tanya bunda nya
"Jangan terlalu di mabuk kan," ucap absurd Aldeen tanpa menatap orang yang ia sindir.
"Apasih gajelas, *****" umpat Alvin
Aldeen menatap abang nya dengan tatapan datar.
"Tapi good luck, bang" kata Aldeen mencomot jus jeruk milik sang bunda tanpa izin.
"Hey! itu punya bunda," geram bunda mita dengan kelakuan Aldeen.
"Masih banyak," kata Aldeen lalu menghabiskan segelas jus jeruk tersebut.
bunda mita mendumel- dumel geram dengan Aldeen lalu menyuruh kembali sang pembantu untuk membuatkan nya lagi.
"Oh ya jadi gimana tadi di sekolah?" tanya sang ayah, ia baru menanyakan nya karena Sang ayah baru pulang kerja sejak jam 7 malam tadi.
"Oh iya! ya ampun hampir aja lupa ngasih tau, besok siang bunda sama ayah mau pergi ke solo, ngehadirin di kondangan temen nya bunda, cuman semalem besok nya lagi juga pasti pulang," ucap bunda mita memberitahu.
Aldeen hanya memasang wajah datar nya sedangkan abang nya Alvin, menampilkan wajah terkejut dan sedikit kecewa.
Alvin ini punya sifat cuek tapi di belakang ia punya sifat yang manja banget, kalau udah serius dia bakal serius dan kalau lagi bercanda keluar lah sifat humoris dan manja nya. Jadi, kayak perpaduan gitu. Yah ... kalau Aldeen jelas cuek dan dingin dan di belakang paling cuman Perhatian dan pengertian.
"Yaudah Alvin istirahat dulu sana, mandi dulu baru istirahat." tutur bunda mita kepada Alvin, sedangkan Aldeen ia masih terduduk diam sambil menyemil cemilan yang berada di meja.
"Aldeen ngapain??" tanya sang ayah kepada Aldeen setelah Alvin mengundurkan diri.
Aldeen menaikan sebelah alis nya sambil menaik kan sebuah keripik singkong isyarat ' menurut ayah?'
"Bawa ke kamar aja gapapa," kata bunda mita mengusir lembut Aldeen.
Aldeen menggeleng kepalanya 2 kali dan tetap melanjutkan aktivitas nyemil nya sambil menonton film yang tayang di televisi.
Sabar ya bunda, ayah ~ Author
^9 Malam^
Kini Athira sedang memegang kepala nya yang terasa sakit di depan cermin lebar di kamar, ia sesekali mengerang kesakitan ketika tak sengaja mengenai titik kesakitannya, Dia berharap kepala nya tetap kuat meski kena benturan ataupun kekerasan. Yahh Athira sangat berharap kepalanya tak sakit parah.
dan mungkin sebaiknya jika ia di caci ia harus menjaga kepalanya karena tak mau lagi kepala nya tersakiti, masih mending tangan nya luka ataupun patah tak sebanding deh sama kepala, jika kepala patah bisa saja sudah tak ada harapan hidup.
Kini ia sedang mengoles kan sebuah salep yang Athira sering beli untuk mengobati seluruh luka nya, ia kebingungan dimana luka nya dan saat ketemu malah tak sengaja kepencet dan membuat bulu kuduk nya berdiri karena merasakan sakit.
Saking seriusnya ia mengolesi salep di kepalanya, sampai- sampai ia tak sadar jika Aldeen baru saja masuk kamar dan menatap nya.
__ADS_1
"Awshh!!" ringis Athira ketika sedang mengolesi kepala nya. Ia memejamkan Matanya menahan sakit, air matanya hampir menetes.
Belum saja rasa sakit nya mereda tiba- tiba seseorang mengambil alih salep yang ada di genggaman Athira, Athira yang masih merasa cenat- cenut di kepala nya perlahan membuka matanya dan melihat dari pantulan cermin dan yap! Aldeen lah yang mengambil alih salep itu.
Aldeen mendorong kursi tempat biasanya ia bermain game online dan mempersilahkan Athira untuk duduk di kursi tersebut, "Duduk," perintah Aldeen berada di belakang kursi itu.
"Ga- gausah ka, sini Thira bisa sendiri tad-"
"Aku tak suka mengulang ucapan ku." peringat Aldeen sambil menampilkan wajah dingin nya, Athira melihat nya takut lalu dengan cepat ia menuruti ucapan Aldeen.
Athira menudukan kepala nya tak berani menatap dirinya dari pantulan cermin, tanpa sepengtahuan Athira kini aldeen sedang tersenyum kecil menlihat kelakuan Athira.
Kembali ke niat! Kini aldeen menatap puncak kepala athira dan disana lah ia melihat banyak tanda merah keunguan di banyak sisi kepala Athira, aldeen sungguh tak percaya jika ada banyak bekas kekerasan ataupun benturan di kepala Athira.
perlahan dengan halus nan lembut aldeen menyisihkan rambut- rambut athira ke samping agar dirinya bisa mengolesi salep nya tepat di dekat lukanya.
"Ahh, kaa pelan- pelannn. Ka pelann!!" jerit Athira, padahal aldeen belum mengolesi salep ataupun menyentuh daerah luka athira, ia baru menyisihkan rambut kepala athira.
Athira meremas ujung baju nya erat seakan akan terjadi sesuatu yang buruk
Dengan pelan, tulus, dan hati- hati Aldeen mengoleskan salep itu, Athira terus saja meringis, menjerit dan melirih kesakitan. 20 menit berlalu, akhirnya Aldeen selesai mengolesi salep di kepala Athira yang luka akibat ulah kaka kelas nya sendiri.
Athira masih memejam kan matanya, ia benar- benar tak peracya jika luka kepalanya benar- benar sakit sekali.
Aldeen mematikan lampu kamar lalu menyalakan lampu tidur kamar nya, bersiap akan tidur dan menanti hari esok. Athira mendengar suara lampu tidur nya menyala tanda saklar lampunya di nyalakan, ia mengerjapkan matanya sambil berjalan sempoyongan menuju ranjang tidur, terlihat disana Aldeen sudah berbaring dan memjamkan matanya.
Athira pun ikut tidur di samping Aldeen, dengan perlahan ia mulai merebahkan dirinya di samping Aldeen, untung nya Bantal di kamar ini berisi kapas maka ia tak usah khawatir akan kesakitan. Karena, Bantal kamar nya dulu berisi kapuk.
Mereka pun terlelap di alam bawah sadar nya masing- masing ....
^6 pagi, Jumat^
Suara ketukan sedari pagi subuh telah membuat suara bising di lantai Atas, tapi orang yang berada di balik pintu yang di ketukan itu sama sekali belum sadar.
Hingga akhirnya Alvin membuka pintu kamar yang tak terkunci itu, dan menatap dua insan yang berbeda jenis kelamin masih tertidur lelap.
Yap! Athira dan Aldeen telah bangun kesiangan, entah apa yang membuat mereka sampai telat bangun dari jam biasanya.
"Oyy!!!"pekik Alvin menggelegar berharap dua insan itu bangun dan tersadar dari alam mimpinya.
Alvin menggoyang- goyangkan bahu Aldeen kian cepat sampai sang empu terganggu dan mulai sadar dari alam mimpinya.
"Bangun ****, udah jam 6 wuoyy" peringat Alvin kepada Aldeen yang kini masih terduduk di senderan ranjang sambil mengumpulkan nyawa.
Aldeen terbelalak ia langsung bangkit dan mengambil handuk nya dalam kamar mandi lalu kembali keluar lalu di ambang pintu kamar, "Bangunkan dia," kata Aldeen, meskipun dirinya terburu- buru tapi nada ucapannya sama dengan wajah nya masih lempeng, datar. Aldeen pun pergi meninggalkan kamar, ia akan mandi di kamar mandi umum lantai 2..
Alvin membangunkan Athira dengan menggunakan guling yang ia goyang- goyang kan di bahu milik Athira, tak butuh waktu lama Athira langsung mengerjap- ngerjap kan matanya, dan menyesuaikan cahaya yang masuk memaksa dirinya agar cepat terbangun.
Athira menatap balcon dan seketika ia langsung bangun dan menatap Alvin, kaka ipar nya dengan mata membelalak. Tanpa ingin basa basi ia menatap jarum jam dinding dan langsung bergegas mandi, ia tak tahu dimana Aldeen, yang ia cemaskan adalah tugas kelompok nya di kumpulkan dan di presentasi kan di jam pertama.
setelah bergegas secepat mungkin, akhirnya mereka masih bisa mengejar waktu dan kini mereka sampai di sekolah pada jam 6.58 di mana 2 menit lagi pintu gerbang akan ditutup dan bell masuk akan berdering.
"Aldeen? Athira?"
TBC.
(: Terimakasih yang sudah membaca :)
-Nadiaalyazh
Baru bisa up sekarang nih, mumpung besok sabtu dan ujian nya libur jadi cuss dehh up, mwehehe Kumohon tinggalkan jejak yaa^_^
__ADS_1