
Athira dan Aldeen hanya diam tanpa ikut campur dengan urusan mereka, mereka berdua hanya sibuk menyantap hidangan nya.
"Oh iya! kalian besok sekolah loh, jangan sampai ada yang lupa sama barang-barang yang di bawa," ucap bunda mita mengingatkan Aldeen dan Alvin
"Iya, bun." jawab Athira dan Aldeen secara bersamaan
Journey life, Athira ~ Ep. 8
^Jam 5 Pagi, Kamis^
Kini Athira dan Aldeen sedang sibuk dengan kegiatan nya sendiri- sendiri, Athira sedang merapihkan kamar dan menyiapkan seragam nya dan Aldeen, sedangkan Aldeen ia sibuk bermain game online di handphone canggih nya di balcon kamar.
sampai jam 5.30, mereka pun mandi secara bergantian dan bersiap-siap menuju sekolah. Hampir 45 menit mereka bersiap-siap. Kini athira dan aldeen berjalan berjalan menuju lantai bawah untuk sarapan pagi.
Mereka sarapan dengan roti selai dan susu. Disini, keluarga Alfiandra berkumpul untuk melakukan rutinitas setiap hari nya. Sangat canggung bagi Athira yang tak biasa melakukan sarapan pagi ataupun berkumpul dengan keluarga.
di sela sarapan pagi pasti ada saja sempilan- sempilan kata yang berubah menjadi suatu kalimat.
"Thira, setiap hari nya bakal berangkat sama pulang bareng sama aldeen, oke?" kata bunda mita sambil menmoleskan selai coklat pada sehelai roti.
"Ap- i- iyya, bun" balas Athira di sela memakan roti selai nya
Athira yang sedari tadi hanya sibuk menatap dan memakan roti nya, setelah di ajak bicara oleh bunda mita tentu matanya berkeliling dan bertemu tatap dengan Alvin. Raut mukanya sedikit kesal dan tak suka oleh Athira. Dan, Athira memang sudah mengetahui nya dari awal, Alvin seperti selalu menghindar darinya.
Jarum jam kini sudah menunjukan jam 6.16, Dan kini mereka sedang bersiap-siap untuk berangkat ke tujuan nya masing- masing. Aldeen lebih menyukai menggunakan mobil karena merasa tenang dan tak terganggu di bandingkan motor.
Karena jarak kantor A.F group lumayan jauh, Alvin berangkat terlebih dahulu di banding yang lainnya. Selanjutnya Di susul oleh keberangkatan Athira dan Aldeen. Lalu sisanya berangkat setelah Aldeen.
Di perjalanan tak ada satupun yang memulai pembicaraan, melainkan hanya terdengar suara merdu dari radio mobil milik Aldeen. Saat perjalanan mulai dekat, Athira membuka suara nya.
"Ka, turunin Thira sampai sini aja," pinta Athira kepada Aldeen yang masih sibuk menyetir
Tak ada sahutan dari Aldeen, Athira pun mengulangi ucapannya, "Kaa ... Cepat turunin Athira disini." pinta Athira sekali lagi dengan memohon.
Athira terus saja menggerutu minta di berhentiin di pinggir jalan seblum sampai di depan gerbang sekolah, Tapi aldeen sama sekali tidak menggubris ucapan Athira dan ia masih saja melajukkan mobil nya hingga akhirnya sampai di depan gerbang.
Aldeen memakirkan mobil nya di parkiran sekolah, lalu mematikan mesin mobil nya dan melepas tautan Seat belt nya. Aldeen meraih tas sekolah nya di kursi penumpang bagian tengah. Sedangkan, Athira hanya melepas seat belt nya tanpa berniat keluar mobil. Ia masih takut dengan perbuatannnya jika ia keluar dari mobil Aldeen, Apa lagi gosip hari ini yang selalu membuat telinga nya panas.
"Ayo." ajak Aldeen sambil menatap Athira
"Engg ... engga ka, ka Aldeen duluan aja, Thira lagi nunggu temen mungkin sebentar lagi dia lewat." bohong Athira sambil berlagak menatap pintu gerbang mencari seseorang.
Aldeen tak suka jika di bantah, ia keluar dari Mobil nya lalu berjalan mengelilingi setengah mobil nya sampai di depan pintu mobil penumpang samping kursi pengemudi.
Aldeen membuka pintu mobil nya itu, lalu ia mengulangi ucapannya untuk memastikan jika Athira masih tidak mau akan ia lakukan dengan cara paksa.
"Ayo."
"Tu- tunggu ka, sebentar lagi pasti dia lewat,"
Aldeen menarik tangan Athira secara paksa, lalu menutup pintu mobil nya dan mengunci mobil nya lewat kunci mobil secara manual. Ia menggandeng tangan Athira dan mengenggam tangan Athira kuat.
Athira yang diperlakukan secara paksa ini hanya bisa menurut dan pasrah, ia menundukkan kepala nya dan berusaha menutup telinganya yang seketika panas saat mendengar celotehan murid- murid lain kepada Athira dan Aldeen.
Aldeen terus menggenggam tangan Athira, sedangkan Athira hanya menurut dan menundukkan kepala nya sampai akhirnya terdengar suara perempuan memanggil Aldeen dari arah depan, Athira tidak mengenali suara itu dan ia terus saja menundukkan kepala nya tanpa berniat menatap orang- orang yang ada di sekelilingnya.
"Aldeen!!" panggil seseorang tentu saja temen Aldeen. Aldeen menghentikkan langkah nya juga Athira.
Aldeen menaikkan sebelah alisnya isyarat 'ada apa'.
"hari ini tugas kelompok di kumpulin dan lo dah ngerjain tugas lo, kan?" tanya perempuan itu tak sadar bahwa Aldeen datang bersama Athira.
__ADS_1
"Dah." balas singkat Aldeen
"Eh masu- Eh ...? dia siapa??" kata perempuan itu baru menyadari keberadaan
Aldeen mengeratkan genggamannya seolah mengerti dengan keadaan Athira saat ini.
"Pacar." jawab singkat Aldeen menatap datar perempuan itu.
"Wahhh! serius loo?!" seru Perempuan itu histeris sendirian
"Ayo dong kenalin ke gue nama nya siapa kelas berapa" kata perempuan itu.
"Sebentar lagi bel, nanti saja." tolak halus Aldeen.
"Hay, kenalin yaa gue Virda temen kelas Aldeen, nama lo siapa? eh lo orang nya tertutup ya, ko dari tadi cuman nundukk??" kata perempuan yang bernama Virda itu menatap Athira.
Athira terdiam kaku ia tak tahu harus menjawab nya atau tidak, ia tak ingin menambah masalah pada hari pertama sejak 3 hari izin tidak masuk sekolah.
"Duluan, Vir" pamit Aldeen lalu mengajak Athira pergi meninggalkan Virda yang masih berdiri terdiam.
"Anjiran lo, deen" umpat Virda terdengar oleh Telinga Aldeen dan Athira.
entah darimana Aldeen mengetahui dimana kelas Athira, tapi Athira berusaha mungkin melepas genggaman Aldeen tapi Aldeen mengenggam nya terlalu kuat.
Sesampai nya di depan kelas Athira, Aldeen membisikkan sesuatu kepada Athira sebelum athira memauki kelas.
Karena perbuatan Aldeen, banyak orang yang melihat nya dan bahkan salah sangka bahwa Aldeen sedang mengecup pipi Athira padahal hanya memebisikkan suatu kalimat.
Setelah membisikkan suatu Kalimat Aldeen pergi begitu saja tanpa mau tanggung jawab dengan apa yang ia lakukan di depan kelas Athira. kini, Athira berusaha mungkin untuk tetap tegar dan menghadapi semuanya dengan hati ikhlas.
Kringg ...
lonceng Sekolah berbunyi, seluruh murid pun memasuki kelas nya masing- masing untuk menjalankan pelajaran pertamanya.
*Istirahat pertama
Jam ini merupakan jam kebencian Athira selain jamkos, berbeda dengan yang lain yang selalu menantikan jamkos dan jam istirahat. Karena di jam ini Ia harus menghadapi sesuatu yang sudah menjadi rutinitas teman- teman nya dan menjadi kebiasaan Athira untuk menghadapi nya.
Athira sama sekali tidak berniat untuk makan atau pun pergi ke luar kelas, ia hanya ingin diam di kelas menunggu jam masuk berbunyi. Di kelas hanya Ada athira seorang, murid lain pergi ke kantin untuk mengisi perut nya ataupun bercanda ria bersama teman- teman nya.
Athira gabut ia hanya mencoret- coret notebook nya, menuliskan kata- kata yang tak jelas di tulis tapi sangat jelas dalam hati nya. Sesungguhnya perut nya sangat lah lapar dan minta di isi tapi sang empu nya sama sekali tak ada niat untuk mengisi nya.
Athira menyenderkan kepala nya di atas meja sambil terus mencoret- coret tidak jelas. Hingga suara teriakan membuatnya berhenti melakukan aktivitas gabut nya.
"Heh bocah!!" teriak nya begitu jelas dan keras.
Athira menoleh ke arah pintu kelas, disana terdapat 3 perempuan dengan baju nya yang sedikit di ketatkan dan rok span di ngatung- ngatung in. Athira menatap keliling dan yap dia hanya seorang diri di kelas nya.
"*****! lo abis melet dimana??" tanya perempuan berbadan langsing itu berjalan menghampiri Athira diikuti 2 temannya, nada ucapannya seperti merendah kan Athira.
"Me- melet?, Aku? Aku melet apa??" Athira tidak mengerti dengan apa yang di bicarakan nya.
"Yeuh ***** lo! ***** mah udah ***** aja, gausah munafik! gue tau lo melet Aldeen biar deket sama lo kan? Sadar diri lo anjing, udah tau jelek meletin cowo populer di sini. Hah!? dasar." ucap remeh perempuan itu lagi, di nametag baju nya tertera nama nya ' Natasya ventina A.'
"Aku ga melet ka Aldeen sama sekali, ka ..." ucap pelan Athira sedikit tak ada nyali berbicara dengan mereka, tertera di baju bagian lengan atas nya 12, yang berarti mereka kaka kelas nya Athira dan seangkatan dengan Aldeen.
"Jijik gue bangsatt!!" umpat teman nya yang bernama ' Savero anjani'. Sambil menumpahkan air teh kemasan kepada Athira.
Sontak Athira berdiri dari duduk nya dan membiarkan air teh itu mengalir kebawah, sampai tetesan air teh itu mereda Athira menatap kaka kelas nya itu. Baru saja menatap kaka kelas nya itu 1 detik tiba- tiba bahunya di dorong kencang sampai membentur tembok kelas.
"Gue ingetin ya *****, gausah sok ke ganjenan sama cowo, ngaca dulu ****. Bocah kecil, tengil, jelek kaya lo mana ada yang mau!" umpat kasar Savero kepada sampil memainkan ujung rambut Athira lalu menarik nya kasar.
__ADS_1
Athira meringis kesakitan, Sangat sakit. Sungguh, baru saja luka kepala sebelumnya sembuh dan hari ini malah bertambah lagi.
"K- ka, ku mohon berhenti ...." lirih Athira memohon sambil memegang ujung rambut nya yang masih di jambak oleh Savero.
"Hah? lo minta apa?! Seharusnya lo yang berhenti, *****!" umpat Salah satu teman nya lagi yang bernama ' Maria Kartika.'
"Kaa ... ku mohon ...." lirih Athira terus menerus, air mata nya hampir saja jatuh tapi ia berusaha sebisa mungkin agar tak ada satupun tetesan air yang mengalir di pipinya. Murid- murid lain hanya melihat dengan kekepoan nya di depan kelas, bahkan ada saja yang menaiki Jendela kelas agar bisa memperhatikan lebih jelas, ada juga yang dorong- dorongan agar bisa nongkrong di depan kelas memperhatikan dengan seru nya tanpa rasa ingin menolong.
Kelas nya kini menjadi tontonan para murid- murid kelas lain dan keributannnya selalu menarik orang- orang untuk melihat lebih dekat. Jadi sorotan orang- orang, sudah menjadi TENTU jika semua murid telah mengetahui nya.
Wajah Athira memerah menahan sakit, kerah baju nya di tarik oleh Natasya sampai kancing paling atasnya copot. Athira ingin sekali rasanya melawan tapi ia tak bisa, ia benar- benar sudah pasrah dengan apa yang sudah terjadi dan sedang terjadi.
Hingga suara hentakkan kaki berlari mendekat ke Arah Athira, sangat terdengar jelas bahwa orang itu sedang tergesa- gesa. Athira tak bisa melihat siapa orang itu, ia hanya terus menunduk karena jambakan rambut nya tak kunjung selesai.
Brakkk!!
Suara meja terjatuh bersamaan dengan pekikkan seseorang, Athira sama sekali tak tahu dengan apa yang terjadi di dekat nya ia hanya menutup matanya kian rapat sambil menahan sakit.
Hingga akhirnya tangan orang yang menjambak rambut dan menarik kerah baju nya berhenti bersamaan pekikkan orang, terdengar sebuah Tamparan keras di taburi pekik seorang wanita.
Athira yang mendengar suara tamparan itu langsung membuka matanya kian melebar dan mendongak melihat apa yang terjadi di depan nya, seorang lelaki dengan tanda 12 di lengan baju atas nya, pertanda kelas 12 itu menampar 3 perempuan yang telah mencaci maki Athira.
Athira melihat dengan ke terkejutan nya, tanpa ba bi bu lagi Athira langsung mencekal Pergelangan tangan lelaki yang akan menampar ke empat perempuan itu lagi.
"Mereka Wanita! Ga ada hak ataupun ke wajiban untuk menyakiti Wanita!!" pekik Athira menggelegar membuat suara ricuh murid- murid lain terdiam seribu kata dan suasana mulai serius.
"Pengecut! Ga berhak di panggil lelaki jika masih menyakiti Wanita!!" Athira menatap kaka kelas nya yang berada di depan nya dengan tatapan serius, rambut athira masih berantakan karena ulah Savero.
Athira melepas cekalan keras nya dengan Lelaki itu, lalu ia mundur dan menunduk dan berjalan cepat melewati murid- murid lain yang masih diam karena ucapan Athira yang membuat murid- murid lain bungkam.
Athira masih menunduk dan tetap melanjutkan jalan sambil memegangi kerah baju nya yang di mana kancing bagian atas nya copot dan menghilang tak tahu jatuh dimana, ia hanya menatap jalanan sambil menutup telinga nya, ia sudah hafal dimana jalan menuju Toilet perempuan.
Sesampai nya di toilet perempuan ia langsung memasuki dan menutup pintu kamar kecil itu, ia menyender di belakang pintu sambil mendongak ke atas, ia mulai meneteskan air mata nya yang sejak tadi ia tahan. Air mata nya mengalir deras di pipinya, ia menutup mata nya merasakan tetesan air mata nya.
Baru saja 4 menit Athira berada di kamar kecil menghempaskan kesedihan, tiba- tiba bell masuk berbunyi menandakan pelajaran kedua akan di mulai. Athira dengan cepat menghapus Air mata nya sambil benar- benar tak ada jejak bekas air mata, ia mencuci mukanya sampai wajah bekas menangis nya pudar. Masih untung ia tak terlalu menghempaskan nya, jika ia mengehempaskan sampai titik akhirnya bisa- bisa wajah dan mata nya membengkak tak kunjung mereda sampai 1 hari.
ia meraphikan Pakaiannya dan rambut nya, untung ia selalu menaruh sisir kecil bersamaan kunciran di saku rok nya. Dan dengan beruntungnya ia menemukan sebuah peniti di bawah lantai kamar kecil ini, ia langsung mengambil dan mengeringkannya lalu mengapit seragam bagian atas nya yang kehilangan kancing itu.
Setelah siap dan selesai, ia langsung keluar dari kamar kecil dengan jalan setengah lari untuk mengejar waktu karena 2 menit lalu ada bell terakhir pertanda pelajaran ke 2 segera di mulai.
Saat masuk kelas banyak sorotan mata terhadapnya, tapi sebisa mungkin ia hanya berjalan santai tanpa menghirau kan tatapan semua murid dan perkataan yang sangat panas jika Athira dengar. Tak butuh waktu lama Seorang bapak guru memasuki kelas mereka untuk mengajari suatu pelajaran sesuai jadwal.
TBC.
(: Terimakasih yang sudah membaca :)
-Nadiaalyazh
Engga tau kenapa di part ini rasanya asik aja sampai Word nya melebihi Word biasanya, Mwehehe ... Oh ya Jangan lupa follow Instagram Nanad ya, hihi XD
@/nadiaalyaz (Pribadi)
@/nadiaalyazh (Khusus Author)
__ADS_1