Journey Life,Athira

Journey Life,Athira
Episode 4


__ADS_3

^Senin^


Semenjak acara hari sabtu itu, Athira tidak lagi dekat dengan dua kembar adik nya. Orangtua Athira melarang agar Athira bisa terbiasa tanpa kembar, dan kini rumah mereka ke datangan baby sitter dan pembantu. Sungguh, Athira benar-benar tidak percaya bahwa ia sungguh akan menikah di umur muda, tetapi Athira bingung di sebabkan apa dia harus menikah dengan aldeen?


Kini Athira sedang duduk termenung di taman belakang nya, sambil menunggu kapan berhentinya tetesan air hujan yang sedari pagi buta tak kunjung mereda. Melihat pagi-pagi sudah berlumuran air hujan Athira jadi sedih, tak lama lagi ia akan menikah dan pergi dari rumah ini. Walau, di rumah ini Athira sering menangis dan hati nya selalu sakit bahkan senyum manis nya pun pudar, Athira tetap saja tak ingin angkat kaki dari rumah ini.


saat sedang termenung sedih, tiba- tiba Athira merasa bahwa baru saja ada orang yang duduk di kursi sebelahnya. Athira pun menengok ke arah samping kanan nya.


"Ehh??" sontak Athira terkejut saat melihat calon suami nya lah yang menduduki kursi.


Athira masih tidak percaya bahwa yang ia lihat sekarang adalah calon suami nya, ia mengedip- ngedip kan mata ia cengo melihat bahwa ia benar-benar melihat calon suami nya. benar-benar ganteng...


"Ka Aldeen ngapain?" kini Athira bertanya, ngapain juga pagi-pagi gini Aldeen datang


Aldeen menoleh ke arah Athira, ia mengangkat sebelah alis nya dengan wajah datar asli bawaan lahir. seolah ia bertanya 'Menurutmu?'


"Th-thir-thira eng- enggak tau," entah apa yang merasuki Athira, ia malah gugup bicara dengan Aldeen yang datar, dingin, dan menyeramkan


Aldeen menghembuskan nafas nya kasar, lalu ia kembali menatap layar ponsel nya.


Daripada pusing, kini Athira khawatir jika ia harus bolos sekolah hanya karena menunggu hujan reda. Walau jarak rumah nya dengan sekolah lumayan jauh tapi ia kekeuh akan masuk sekolah di tengah hujan deras seperti ini, ia akan menggunakan payung sambil menunggu angkot di depan komplek nya.  Athira bangkit dari duduk nya dan mengambil setongkat payung yang ada di balik pintu, ia meraih nya lalu berjalan, tapi tertahan saat lengan nya di tahan oleh aldeen.


Aldeen menatap Athira tajam, Athira takut dengan tatapan tajam nya Aldeen ia pun menunduk.


"Bareng pake mobil gue," ucap ny datar tanpa ekspersi


Athira melongo, Seumur-umur gue ga pernah dong sekolah di anter orang mau orangtua gue atau siapa ke... Batin Athira.


"Thira bisa sendiri," tolak Athira mentah-mentah, tapi ucapan nya tak di gubris dengan Aldeen melainkan tangan nya tetap di genggam dan di tuntun menuju dapur dimana orangtua Athira berada. lalu, Aldeen melepaskan tangan Athira dan berjalan menghampiri Orangtua Athira, ia mencium punggung tangan kedua orangtua Athira.


"Kami berangkat dulu tante, om. Assalamualaikum," pamit Aldeen lalu menatap Athira yang sedari tadi hanya diam.


"Oo-oh iya hehe. Ma, yah Thira berangkat dulu. Assalamualaikum." pamit Athira di bumbui dengan senyum manis lalu ia mencium punggung tangan kedua orangtua nya.


"Waalaikumussalam," Kata Ayah, Rudy Hendrik


"Iya Waalaikumussalam, hati-hati ya Nak Aldeen bawa mobil nya," kata Mama, Fadira dewi


Aldeen hanya senyum menanggapi nya, lalu ia meraih tangan Athira dan menuntun Athira masuk ke mobil nya


Di dalam mobil tak ada satu pun yang memulai pembicaraan melainkan suasananya sangat canggung dan menyeramkan, kini Athira kedinginan karena ac mobil Aldeen tetap di nyalakan sedangkan ini masih pagi dan suasananya sedang hujan. Ia sebisa mungkin menahannya


Aldeen menoleh ke arah Athira yang sedari tadi kedua tangan nya di gesek- gesek kan, seolah mencari kehangatan dari gesekan tangan nya. Aldeen yang dingin dan peka ini langsung saja mematikan Ac mobil dan kembali fokus menyetir.


Sesampai nya di Sekolah Athira hanya diam tanpa ingin keluar, Aldeen juga tak membuka suara Gitu aja teross ~ Author


"Ka Aldeen duluan aja, aku tunggu sepi," Alhamdulillah akhirnya ngomong juga 


Aldeen hanya diam tak menjawab, bahkan ia tak menoleh ke arah Athira sama sekali pun melainkan sibuk memainkan game online di hp canggih nya.


"Kaaa denger Thira nggak?" Thira Geram, diem diem canggung, kalau ngomong malah di diemin dasar orang utan kutub!. Umpat Athira dalam hati


"Kaa aldeen ish!" Athira menyenggol lengan Aldeen pelan menggunakan botol minum nya, yang di senggol menoleh ke arah Athira


"Kaka dulu-" belum sempat menyelesaikan ucapan nya malah di tikung oleh Aldeen


"Bareng." nada bicara Aldeen tegas.


"Kalau ada yang lihat gimana? kaka ini sok ga tau banget sih, udah tau tampan," celoteh Athira kesal


"Udah reda," ucap Aldeen sambil menatap lapangan sekolah nya yang kian basah di sebab air hujan.

__ADS_1


"Tau ah!" Athira makin geram lalu ia keluar dari mobil dan berjalan cepat menuju kelas nya, karena kondisi air hujan masih menyerang bumi meskipun tinggal rintik-rintik, tapi ia juga tak ingin telat.


*2 Minggu kemudian


tak terasa hari demi hari Sudah di lewatkan, hari ini adalah hari dimana Athira dan Aldeen akan menikah. Karena tak bisa ia tolak jadi ia pasrah saja pada jalan hidupnya mungkin ini yang terbaik untuk nya.


pernikahan ini hanya mengundang keluarga terdekat, tak mewah. Acara pernikahan di tambah makan malam bersama.


-Skip Selesai sah~


"Athira, kamu sama Aldeen istirahat saja dulu di kamar. Nanti kalau sudah malam bunda bangunkan," kata Bunda Aldeen, Chamita absyanah


"Eh? ah iy-iya bun, Athira naik dulu, permisi." pamit Athira di taburi senyum manis nya


Mita (Bunda Aldeen) tersenyum melihat menantu nya begitu manis dan sopan, lalu ia kembali ke kerumunan keluarga besar nya.


ATHIRA POV


gue masuk kamar dengan sangat hati-hati, padahal gue tahu kalau di kamar ga ada siapa-siapa. Ga nyangka bener deh,hadeuhh ...


Gue keluarin kaus putih polos dan rok pendek se lutut dari tas yang gue bawa dari rumah, lalu gue bawa alat mandi gue dan gue pun masuk kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai gue keluar dari kamar mandi, mata gue berkeliling mencari Aldeen.


"Suami gue dimana?" tanya gue bermonolog


Cklek...


Sontak gue noleh ke arah suara, dan ternyata Ka aldeen yang masuk


"Kaa Aldeen udah mandi??," tanya gue, saat melihat bahwa Aldeen sudah mengganti baju nya.


Aldeen hanya berdeham menanggapi nya, ck sebel deh baru aja tadi siang sah masa kaya gitu mulu sih.


"Kasur," balas nya singkat


"Oh, yaudah," kata gue lalu berjalan ingin keluar dari kamar.


"Kemana?" tanya nya saat baru ingin memejamkan matanya.


"Kemana aja boleh ...." kata gue bercanda, gini-gini gue masih tau cara bercandaan kok, dan baru saja ingin membuka pintu, tangan gue udah di tahan.


"Kenapa, ka?" tanya gue menatap nya


"Istirahat disini." Singkat Aldeen lalu menarik tangan gue.


"Tidur." perintah nya


karena emang capek banget, gue pun ngikut tidur di sampingnya.


(19.28)


Tok... Tok.. Tok..


suara ketukan pintu itu telah membangunkan gue, gue pun duduk di pinggiran kasur


"Iya masuk!" teriak gue dari dalam kamar, kini Aldeen masih tertidur


Cklek... Pintu kamar terbuka dan menampilkan sosok perempuan yaitu bunda Mita


dengan gelagap gue langsung kucek-kucek mata dan menguncir rambut gue yang berantakan.


"Ahm.. maa-maaf  bun ...." ucap gue, yahh gimana dong gue baru aja tinggal disini tapi ga sopan banget ih.

__ADS_1


"Loh, kenapa minta maaf?. Gapapa kalian kan emang kecapekan," kata bunda sambil tersenyum manis ke gue


gue pun membalas senyumannya, lalu bunda kembali berucap, "Maaf, seharusnya malam ini tidak ada makan malam bersama. tetapi, keluarga Aldeen jarang kumpul jadi lah makan malam, mumpung masih ada disini. Yaudah, nanti kamu bangunkan aldeen ya, bunda kebawah dulu bantu-bantu,"


"Iya,bun." jawab gue, lalu bunda mita pun pergi.


berhubung Aldeen masih terlelap, gue bersihin muka dulu biar pas bangunin Aldeen gue tinggal kebawah bantu-bantu nyiapin makan malam. Setelah dari kamar mandi, gue menguncir rambut kuncir kuda setengah biar poni panjang gue ga terlalu menggangu aktifitas. Lalu, gue membangunkan Aldeen.


"Ka ...." panggil gue sambil menggoyangkan pelan lengan Aldeen dengan guling,


"Kaa Aldeen," panggil gue sekali lagi lebih keras.


"Kaa Aldeen oi bangunn," gue pukul-pukul lengan nya dengan guling. gatau kenapa karena jarang megang cowo yang lebih tua atau yang setara gue jadi takut megang kulit cowo secara langsung.


sampai akhirnya ada pergerakan kecil dari Aldeen, tapi tetap belum bangun


'ih cowo ko ga cool si, masa bangun tidur aja susah.'


Gue loncat-loncat di kasur biar ranjang nya goyang-goyang kan biar tidur nya ke ganggu, pelan-pelan dulu lah daripada langsung Duaar bisa-bisa Aldeen jantungan.


"Aldeen Alfiandra," panggil gue lagi tapi dengan nama lengkapnya.


Sampai akhirnya Aldeen mulai ke ganggu dan mengucek-ngucek mata nya, lalu gue pun berhenti loncat-loncat dan duduk di pinggiran ranjang, membelakangi nya.


"Kaa Aldeen udah bangun?" tanya gue tanpa berbalik  badan.


Aldeen berdeham.


"Oke!, Thira kebawah duluan ya ka. Kaka jangan lupa kebawah," kata gue lalu berdiri dan pergi meninggalkan Aldeen, gue kebawah menghampiri Mertua gue, jadi hari ini tuh kayak bakar-bakar gitu loh. Ayah Aldeen ( Althan Alfiandra) punya taman belakang rumah yang luas dan aesthetic, gue suka bangettt.


"Eh?, Thira udah bangun," sambut Fika, adik kandung Ayah Al. Althan Alfiandra 3 bersaudara dari 4 bersaudara.


"Hehe, iya tante. Oh ya Thira bisa bantu apa??" tanya gue


"Oh! ini kamu bisa bawain piring-piring itu ga?" tawar Fika sambil menunjuk tumpukan piring bersih di atas meja makan.


"Bisaa dong ...." gue dengan senang hati karena ada kerjaan pun mulai membawa beberapa piring terlebih dahulu biar ga keberatan. pas udah gue angkut dan mau berbalik badan hampir saja gue jatuh, bukan masalah gue jatuh si, ini loh piring nya beling semua. Alvin, kaka kandung Aldeen.


Gatau deh ya dia kaya ga suka gitu dari awal gue masuk sini, tatapannya tuh nyeremin banget. Gue menunduk karena takut dengan tatapan nya


"Permisi,ka," ucap gue tersenyum kikuk, lalu berjalan melewati nya sambil membawa setengah piring-piring beling itu.


sesampai nya di taman belakang, huaa rasanya pengen nangis. ini bagus banget:) Speechless


sambil berjalan mendekati meja panjang yang berada di pojokan, gue pun menaruh piring-piring itu di atas meja. Baru mau berbalik badan tiba-tiba ada yang nabrak gue, anak kecil gitu. Yang gue ramal itu anaknya Tante fika.


Gue tersenyum melihat anak kecil itu, lalu anak kecil itu berlari pergi sambil tertawa senang.


TBC.


(: Terimakasih yang sudah membaca :)


-Nadiaalyazh.


 


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2