Kalau Jodoh Pasti Dapet

Kalau Jodoh Pasti Dapet
“Emosi”


__ADS_3

“Hati yang terasa campur aduk, nafas yang tertahan, kepala yang panas, dan pikiran yang berapi-api, membuat seseorang yang biasanya tenang menjadi monster.” -Author


...\~...


Di pagi hari, udara yang sejuk burung burung beterbangan, tupai-tupai meloncat dari pohon satu ke pohon yang lainnya begitulah pemandangan setiap hari di Universitas ini. Miken sudah siap dengan semua perlengkapan untuk MOS, dan sepertinya hari ini agak sedikit melelahkan.


Rena sudah bersama Miken sekarang dan melekat seperti perangko, dia ingin menjadi teman Miken karena Miken sangat baik dan sangat keren menurutnya. Miken tau Rena tulus ingin berteman dengannya jadi Miken membiarkan Rena melekat padanya.


Rena : “Miken.. tau ga Kemaren kamu viral bangett.. semoga aja tuh kating ga cari masalah lagi..”


Miken hanya menjawa “Hmmm” saja.


Rena yang tau dengan sifat Miken, memaklumi jawabannya yang tidak kaget.


Sekarang para MABA berkumpul lagi di aula prodinya, dan Kating pun mulai menjelaskan susunan acara yang akan mereka lalui. Setelah dijelaskan, para MABA disuruh untuk membuat kelompok dan memulai kegiatan tersebut. Tidak ada yang aneh sepanjang acara tadi, dan sekarang sudah masuk jam istirahat, para MABA dipersilahkan untuk makan atau mau ke kantin juga bisa. Rena mengajak Miken untuk ke kantin, karena Rena tidak bekal nasi dan perutnya lapar sekarang.


Di kantin, banyak yang sudah menempati meja nya.


Rena : “Miken cari dulu tempat duduk ya, mau nitip aja hemm?”


Miken : “Nasi soto dan Ice Lemon gula dikit..” sambil menyodorkan uang kepada Rena, dan Rena pun mengambilnya karena Rena bukan dari keluarga yang mampu banget, buat jajan aja Rena ngumpulin dari SMA, karena uang jajan Rena dari orang tuanya tergolong sedikit.


Miken : “Abisin aja uangnya, gaperlu kembalian..”


Rena : “Hah?, jadi kembaliannya buat pedagangnya? Oke deh.. aku pergi dulu ya..” langsung meninggalkan Miken.


Miken yang merasa Rena salah paham dengan ucapannya tadi hanya menatap heran, Miken bermaksud agar uangnya pakai juga untuk membayar makanan Rena, tapi gapapa.. Rena memang sangat polos.


Miken mulai mencari tempat untuk duduk, dan akhirnya menemukannya, saat sudah duduk datanglah Siska dan teman-teman satu gengnya.”


Siska : “Heh anak songong!!, ini tempat lahan kita, MABA gaboleh duduk disini!.”


Miken mengabaikan perkataan Siska dan malah mendengarkan lagu berjudul Alone dari Alan Walker menggunakan earphone nya.


Siska sangat emosi karena Miken mengabaikan perkataannya, sekaligus ia malu karena disisinya ada teman-teman sosialita nya.


Siska : “Sialan!! Kamu jangan main-main ya sama saya!”


Teman Siska 1 : “Ini bocah perlu dikasih pelajaran gak sih sis??!!!”


Siska : “Oh jelas lah!”


Datanglah Rena dengan membawa makanannya, melihat itu Miken melepaskan Earphone nya.


Rena : “Miken totalnya 47 ribu, kembaliannya udah aku kasih rata ke pedaganya..”


Miken hanya mengangguk, dan di pinggirnya Siska menahan amarah.


Siska : “Datang lagi nih bocah pahlawan kesiangan, mau aja disuruh-suruh sama si songong ini! Apa jangan-jangan kamu emang babu nya ya? HAHAHAHA” tertawa dengan teman-temannya yang lain.


Rena yang emosi dengan kata ‘babu’ alias pembantu pun langsung berbicara.


Rena : “Maaf ya kak, saya emang miskin. Tapi kata 'babu' itu terlalu kasar menurut saya, dan lagi saya bersedia untuk melakukan ini, dan Miken pun tidak diam aja, dia mencari bangku untuk kami. Mohon jaga kata-kata Kaka.”

__ADS_1


Siska : “Oh berani ya, kamu sama saya!” Siska menghampiri Rena dan mendorong bahu kanannya.


Siska : “Girlss!! Pegang kedua tangannya!” Mereka pun mematuhi Siska dan menahan kedua tangan Rena.


Miken masih terdiam, ia sangat muak tapi jika Miken bertindak sekarang itu mungkin akan menjadi tidak adil karena sekalinya Miken melawan akan jauh lebih parah, tunggu Siska sangat keterlaluan, baru Miken bangkit.


Siska : “Liat si songong ga bantuin kamu tuh, masih mau jadi babu nya?!”


Rena : “Cukup, aku bukan babu!!!”


Siska : “Hahahaha dasar babu murahan..” saat mau menampar Rena, tangan Siska ditarik oleh Miken.


Siska : “Oh berani ya ngelawan kita?”


Miken : “Murahan.”


Siska : “APA?!!! SIAPA ANDA BERANI BERANINYA BILANG SAYA MURAHAN?! Keparat!!”


Miken : “Miken” langsung menampar Siska dengan tenaga sedikit keras, tapi itu berhasil membuat Siska mendapatkan lebam di pipinya dan ujung bibirnya berdarah.


Siska : “Anjing kau! Sialan!! Girls lepas in babu itu, urus satu ini!” Mereka semua hendak mau menyerang Miken, tapi mereka salah orang. Karena Miken bukan orang yang lemah, dan bisa mengalahkan mereka bertubi-tubi.


Miken menampar kepada kedua teman Siska, Siska yang sedikit ketakutan mundur beberapa langkah tapi Miken mendekatinya. Dan yapp, Miken menampar Siska bertubi-tubi 5-7 kali, sampai pipinya benar-benar memar dengan besar dan hidungnya mimisan.


Miken : “Ini akibat kalau berani sama saya, dan menghina orang saya.” Dengan nada tajam.


Siska : “Udah cukup, awas kamu nanti aku laporin ke Papah aku!!”


Miken tidak memperdulikan mereka yang lari terbirit-birit, sekarang Miken menghampiri Rena yang menangis menahan malu.


Rena : “Miken.. ak.. aku.. ma.. luu” sambil menangis terisak-isak


Miken : “Udah udah, ayok jajan eskrim..” Miken merangkul badan Rena dan membawanya ke toko Eskrim di dekat Prodi Teknik.


Sambil memakan es krim, Rena sambil menceritakan keadaan keluarganya dari dulu. Bapak Rena adalah seorang pedagang bubur ayam, dan ibu nya hanya buruh rumah tangga, Rena memiliki 3 adik yang harus ia urus ketikan sudah bekerja nanti, bahkan sekarang dia mencari kerjaan part-time. Berhasil masuk universitas ini adalah suatu kebanggaan besar keluarganya, mengandalkan kepintaran Rena dan akhirnya mendapatkan beasiswa full karena kepintaran Rena ini.


Mendengar hal itu Miken tidak merasa iba, karena dia yakin Rena pasti akan sukses dan bisa membawa martabat dan kekayaan keluarganya menjadi tinggi. Mungkin Miken sekarang berfikir setelah lulus kuliah, akan menjadikan Rena sebagai sekretarisnya kalau Rena berkenan, tapi Rena harus berusaha dulu sebelum Miken memberitahunya.


Setelah mereka memakan es krim, mereka langsung ke gedung Prodi mereka lagi, tapi saat hendak masuk ke aula nya. Miken disuruh Mita untuk ke kantor rektor, terlihat muka Yuni khawatir ke arah Miken, mungkin terjadi sesuatu sehingga mereka nampak khawatir.


Yuni : “Miken hati-hati, dan tetap semangat. Aku suka gayamu dalam membalas perbuatan Siska..” ucap Yuni sambil menepuk pundak Miken.


Miken pun pergi tanpa berbicara apapun lagi, Rena mengikuti Miken karena khawatir Miken akan kenapa-kenapa. Dia tidak mau teman barunya itu, sampai terkena masalah besar untuk membelanya, dan Miken nampak santai menghadapi semua ini, tapi Miken memberi pesan lewat WA kepada salah satu ajudannya untuk datang ke ruangan rektor. Siapakah ajudannya? Apakah orang penting?


Setelah sampai di ruang rektor, Miken masuk ke dalamnya disusul oleh Rena, mereka melihat ada Siska dan 4 orang laki-laki. Yang miken tau, yang satu adalah Rektor universitas ini, menggunakan kacamata dan jas, ada 1 laki-laki lagi sudah tua memakai jas, tapi tak setua Kepala Rektor disini, dan dua orang laki-laki berbadan gagah masih muda. Dapat disimpulkan, orang yang sudah tua itu ayah dari Siska, dan kedua orang berbadan gagah adalah pengawalnya.


Kepala Rektor mempersilahkan Miken untuk duduk, dan Siska mulai mengomel.


Siska : “Pahh!!! Dia orangnya pahh!! Aku dibully sama diaa!!!” Sambil menunjuk-nunjuk Miken.


Papah Siska : “Anda berani-beraninya membully anak saya?! Memangnya anda siapa?!”


Rena : “Maaf pa, tapi Miken ga ngebully siapapun..”

__ADS_1


Siska : “Dia bohong lah, aku babak belur gini ulahnya..”


Saat Rena hendak mengangkat suara, Miken menepuk tangannya untuk diam. Biarkan Miken yang berbicara.


Miken : “Saya hanya memberi pelajaran kepada anak Bapa, atas dasar menghina teman saya dan mengambil hal bangku kantin saya..”


Siska : “Bohong pah bohongg!!!”


Papah Siska : “Anda hanya kaum rendahan berani memberi pelajaran kepada Putri saya? Kurang ajar!! Kamu mau saya keluarkan dari Universitas ini? Saya sponsor di universitas ini!”


Kepala Rektor hanya bisa pasrah dengan semua ini, dia tau Miken itu lebih kuat dari Ayah Siska, karena latar belakang keluarga Miken yang pasti hanya menyebutkan nama Ayahnya saja, 1 pulau ini akan ketar-ketir mendengarnya.


Miken : “Saya tak peduli jika anda salah satu sponsor disini, yang saya pedulikan, seharusnya anda mendidik putri anda dengan benar. Tapi melihat sifat anda yang angkuh tadi, sudah menjelaskan bahwa sifat kalian turun menurun.”


Papah Siska : “Heh kamu! Masih anak Kemaren sore, berani sama saya?! Pengawal, tampar muka dia, seperti dia menampar putriku, bahkan harus lebih parah!!!


Mereka pun menuruti apa yang tuanya perintah, saat mereka hendak berjalan menghampiri Miken, berbelas-belas orang masuk kedalam ruangan, dengan tampilan berjas dan berkacamata hitam. Salah satu dari mereka maju, dan mah memperkenalkan diri, tapi Papah Siska sudah tu siapa orang tersebut, langsung berubah menjadi sok akrab..


Papah Siska : “Eh.. ada Pa Iwan.. sedang apa pa disini? Ada yang bisa saya bantu!”


Pa Iwan : “Saya mau menjemput nona saya, katanya ada yang mencari masalah dengannya”


Ayahnya Siska pun terkejut setengah pingsan, ternyata anak yang sudah ia maki-maki adalah anak dari keluarga yang sangat kuat di pulau ini, bukan dari segi perusahaannya, tapi dari segi kegelapan pun alias mafia, keluarganya lah yang kuat, walaupun ada mafia yang lebih kuat dan paling ditakuti di seluruh Asia.


Papah Siska : “A-a..pa?!!”


Pa Iwan mengabaikan Ayahnya Siska dan memberi hormat kepada Miken..


Pa Iwan : “Maaf nona, kamu terlambat..”


Perlu kalian ketahui, Miken tidak tau bahwa ayahnya tidak meninggalkan perusahaannya saja yang terkuat di pulau ini, tapi juga organisasi mafia yang terkuat juga di pulau ini. Kalian kan tau bahwa Miken tidak mau berurusan dengan Mafia, maka dari itu Miken memang tidak tau ayahnya juga memiliki kekuatan dalam dunia kegelapan alias mafia. Pa Iwan mengurus perusahaan utama Ayahnya, dan Miken tau bahwa Papah Siska hanya perusahaan kecil yang tidak ada apa-apanya dibanding perusahaan ayahnya yang sudah meninggal dunia.


Miken : “Urus ini semua, aku muak.”


Pa Iwa : “Siap nona..”


Miken pergi meninggalkan ruangan rektor dan ayahnya Siska masih syok dengan kenyataan tersebut, Siska mengomel karena Miken berhasil kabur, dia marah kepada ayahnya, tapi ayahnya malah lebih marah kepada Siska.


Siska : “Paah!!! Itu Miken kok dibiarin gitu aja!!”


Papah Siska : “Diem kamu! Beraninya nyari masalah sebesar ini!, kamu gabisa dari sini papah hukum!!”


Siska hanya menunduk malu, dan kesal karena tidak bisa melawan Miken, entah kenapa Miken selalu lebih unggul darinya, dari segi diperhatikan oleh Jino, bahkan dari segi kekuatan dalam keluarga..


Pa Iwa : “Jadi saya mau tau, kenapa nona bisa semarah itu.. tolong jelaskan pa rektor..”


Di dalam ruangan rektor masih panas, dengan ayahnya Siska yang tak bisa berbuat apa-apa hanya permintaan maaf yang ia lontarkan terus menerus. Dan disisi lain, Miken dan Rena pulang ke tempatnya masing-masing, acara MOS keburu selesai jadi mereka juga pulang. Tak ada yang tau apa yang terjadi di ruang rektor, dan Jino pun baru tau tentang Miken yang dibawa ke ruang rektor, dan cerita saat di kantin tadi.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2