
Rintik hujan menghiasi pemandangan di luar jendela kamar Setya. Usai mengerjakan pekerjaan yang ditugaskan oleh om Ilham, Setya tak kunjung merasa lelah dan mengantuk. Sementara, jam dinding sudah menunjukkan pukul satu dinihari. Seharian, Setya tak menerima kabar dari Kamila. Dan dia pun, tak berusaha untuk menghubungi Kamila. Bukan karna dia enggan, namun, kesibukannya dari pagi hingga sore, membuatnya tak punya luang untuk menghubungi Kamila.
Setya menatap layar ponsel pintarnya, lalu memandangi poto Kamila, yang dijepret secara diam-diam olehnya, dengan kamera ponsel miliknya.
Potret Kamila yang tengah membaca buku itu, terpajang manis menghiasi layar depan ponsel pemuda itu. Rasa rindu, lantas menyeruak dalam hatinya. Jika tak mengingat jam yang sudah sangat larut, Setya ingin sekali menghubungi Kamila.
"Kamila. Bersabarlah, sayang. Aku pasti akan mencari keberadaan ibu," lirihnya sembari menatap gambar diri Kamila. Malam itu, Setya benar-benar tak bisa memejamkan matanya. Malamnya diisi dengan sholat malam, dan berdoa pada yang maha kuasa, agar segala urusannya dipermudah.
---
Fajar telah menyingsing, dan perlahan menunjukkan sinar mentari ke langit pagi yang terlihat cerah. Selesai melaksanakan ibadah sholat shubuh, di Masjid yang berada tak jauh dari kontrakannya, Setya bersiap akan berangkat menuju kampus.
Setelah melalui masa magang, kini Setya harus berjuang penuh untuk skripsi yang disusunnya, agar mendapat hasil yang baik pula.
Tiba di kawasan Universitas Negri tempatnya berkuliah, Setya segara memakirkan motornya. Di sana dia bertemu dengan Rizki. Dan mereka, lantas berjalan bersamaan menuju kelas.
"Gimana, skripsi? Aman?" Rizki memulai percakapan dengan Setya, menanyakan perihal tugas akhir mereka.
"Hmmm. Insya Allah, Ki. Pikiran lagi kalut. Semoga semua sesuai dengan yang diinginkan dosen, ya," ucap Setya, sembari memijat pelipisnya. Kepalanya terasa sedikit pusing, karna tak tidur semalaman.
"Itu mata kamu, kelihatan lelah banget, Setya. Kamu gak tidur semalaman, ya?" Rizki tampak memperhatikan raut wajah sahabatnya itu.
"Iya, nih. Pikiranku tak lepas dari perkataan Pak Jupri itu. Bagaimana, jika yang dikatakannya benar, bahwa Bu Ratih sudah tiada. Apa yang harus kukatakan pada Kamila?" Setya bercerita pada Rizki, tentang apa yang mengganggu pikirannya, hingga tak tertidur malam tadi.
"Ya, ada benarnya juga, sih. Kamila pasti merasa hancur, mendengar kabar itu. Tapi, Pak Jupri pun juga belum begitu yakin, jika Bu Ratih meninggal, kan? Karna jenazahnya tak ditemukan." Rizki berusaha meyakinkan Setya, bahwa masih ada harapan kalau bu Ratih masih hidup.
"Semoga saja, ya, Ki. Hati kecil ku juga merasa, Bu Ratih masih hidup. Tolong bantu aku menemukan kebenarannya, ya." Setya merasa sedikit lega atas ucapan Rizki. Dan meminta Rizki, agar tetap membantunya dalam upaya pencariannya ini.
"Tenang saja. Aku selalu dukung kamu, kok." Rizki menepuk pundak Setya, dan berbelok memasuki ruangan kelas mereka.
----
Ting.
Ponsel Setya berdenting, menandakan ada pesan yang masuk ke ponselnya.
Kamila. Nama pengguna yang dibuatnya, tampak bertengger di layar ponsel miliknya itu. Kamila mengirimkan pesan singkat melalui aplikasi hijau, padanya.
[Assalamualaikum. Setya, bagaimana kabarmu?] Tulis Kamila dalam pesan singkat tersebut.
Setya yang sudah sejak malam tadi ingin menghubungi Kamila, melebarkan senyumnya, kala membaca pesan itu.
[Waalaikumsalam, Kamila. Alhamdulillah aku baik. Bagaimana denganmu? Tak ada yang mengganggumu, bukan?] Balas Setya pada gadis pujaannya itu. Setengah hatinya, khawatir jika kakek Parmin menyakiti Kamila lagi.
__ADS_1
[Tidak. Aku baik. Kakek Parmin sudah dua hari tidak pulang. Bagaimana dengan pencarian Ibu? Apa kamu sudah menemukan petunjuk, tentang keberadaan Ibu?]
Kamila menerangkan bahwa dirinya baik-baik saja. Dia tampak ingin tau, apa ibunya sudah berhasil ditemukan, apa belum.
[Baguslah jika Kakekmu itu tidak pulang. Setidaknya, aku bisa tenang, karna tak ada yang akan menyakitimu. Tentang Ibu, aku sedang berusaha, Kamila. Aku akan terus mencari keberadaan Ibu saat ini. Kamu tenang saja, ya, sayang.] Balas Setya.
Meski dari jauh, dia tak melewatkan kesempatan untuk menggoda gadis itu dengan cara, menuliskan kata sayang, dan membubuhkan emoji hati diakhir tulisan pesan singkatnya itu. Yang membuat Kamila, tampak lama sekali membalas pesannya. Sepertinya, gadis bermata indah itu, tengah tersipu malu membaca pesan dari Setya.
[Terima kasih, karna kamu mau bersusah payah mencari Ibu, Setya. Jaga diri kamu, disana. Jangan sampai, karna sibuk mencari Ibu, kamu mengabaikan kesehatanmu. Aku tak ingin, ada hal buruk menimpamu.]
Kamila akhirnya membalas pesan Setya. Dia mengingatkan, agar Setya juga menjaga dirinya sendiri, dan tak hanya sibuk memikirkan Ibu Kamila.
[Karna kamu, mencintaiku, bukan? Hehehe.]
Setya yang tersentak membaca pesan Kamila, kembali menggodanya.
Setya sadar, bahwa semenjak sibuk mencari ibunya Kamila, Setya jadi tak tentu jam makannya. Bahkan, dihari pertama pencarian kemarin, Setya tak makan seharian, jika tak diingatkan oleh Rizki. Hatinya semakin mencair melihat perhatian Kamila yang begitu besar padanya.
Mendapati tulisan nakal dari Setya, Kamila memutuskan untuk tak membalas lagi pesan dari Setya. Dia hanya tersenyum mendapati tulisan sayang dari Setya, untuknya.
----
Kamila dan nek Sumi tampak sedikit tenang, dalam dua hari belakangan ini. Sebab, Kakek Parmin tak pulang ke rumah sejak mendapatkan uang dari Setya. Dia bahkan tak menunjukkan batang hidungnya di sekitar desa. Entah kemana dia pergi menghabiskan uang itu.
Pintu rumah nek Sumi digedor kuat dari arah luar. Mendengar hal itu, nek Sumi langsung memanggil Kamila yang tengah berada di dapur.
"Mil, coba lihat, siapa yang datang, Nak?" Nek Sumi memanggil Kamila.
"Iya, Nek. Mila kesana," sahut Mila dari arah dapur. Sementara itu, daun pintu tak henti-hentinya digedor dari luar. Kamila mengira, bahwa itu adalah kakek Parmin.
"Sebentar, Kek," ucapnya dari dalam, sembari tergopoh menuju pintu.
Kreek.
Deritan pintu berbunyi, kala tangan Kamila meraih pegangan pintu. Baru setengah daun pintu terbuka, tiba-tiba tangan Kamila ditarik dengan kasar keluar rumah.
"Sini kamu, gadis tak punya Ayah." Perempuan yang tampak sebaya dengan Kamila itu, berujar tidak sopan, dan menarik Kamila dari dalam rumah.
"Berani-beraninya kamu, mau menikahi Setya. Ngaca dulu kamu itu. Wajah tak seberapa, berpendidikan rendah, mau mimpi menikahi pangeran impianku. Gak malu sama nasib, ha?" Gadis itu berbicara dengan nada tinggi, dan terus-terusan menghina Kamila.
"Tenanglah, Utari. A--apa sebenarnya yang kamu maksud?" Kamila tampak begitu kagetnya, mendapati Utari yang merupakan putri dari bu Rima, menghujamnya dengan kata-kata yang sangat tajam.
"Halah, pura-pura tidak tau kamu ini, ya. Apa kurang jelas perkataanku tadi, ha? Beraninya kamu akan menikahi Setya. Beraninya kamu merebutnya dariku. Aku yang pantas bersamanya, bukan kamu, perempuan udik!" Utari terus saja mencaci-maki Kamila.
__ADS_1
Perempuan dengan tubuh semampai, berambut pirang, serta selalu memakai pakaian kurang bahan itu, mengejek penampilan Kamila yang dianggapnya udik.
Meskipun berasal dari desa yang sama dengan Kamila, Utari lebih banyak menghabiskan waktu dikota, karna berkuliah di sana. Dia pergi ke kota setelah lulus Sekolah Menengah Atas.
Sejak SMA, Utari sangat menyukai Setya. Berada disekolah yang sama, dan menjadi adik kelas Setya, Utari sudah sejak lama ingin mengambil hati Setya.
Namun, yang terjadi, Setya selalu saja mengabaikannya. Bahkan, berbicara dengannya saja, Setya enggan. Teman wanita Setya, hanya Kamila. Setya tak pernah dekat dengan gadis lain, selain Kamila. Sebab itu pula, Utari sangat membenci Kamila dari dulu. Terlebih saat ini, mendengar kabar bahwa Setya akan segera menikahi Kamila. Kebenciannya pada Kamila memuncak, hingga membuatnya kehilangan akal, dan melabrak Kamila.
"Utari, duduklah. Bicaralah dengan baik. Agar aku mengerti, apa permasalahan yang sebenarnya. Jangan seperti ini, Utari. Ayo, masuklah. Aku akan membuatkan minum untukmu." Kamila dengan lemah lembut, meminta Utari bertenang, dan duduk bersamanya untuk berbicara baik-baik. Dia bahkan ingin menyuguhkan minuman pada wanita yang telah menarik tangannya dengan keras, hingga terasa sakit itu.
"Tidak usah banyak omong kamu, gadis kampung!" Tanpa aba aba, Utari mencakar wajah Kamila dengan kuku-kukunya yang panjang. Sehingga menggores wajah Kamila dengan luka bekas cakaran. Luka itu juga tampak mengeluarkan sedikit tetesan berwarna merah. Meskipun tak banyak mengeluarkan darah, namun, luka goresan itu sangat membuat pedih di wajah Kamila.
"Awww. Astaghfirullah, Utari. Apa yang kamu lakukan?" Kamila meringis kesakitan, sembari memegangi pipinya yang terkena cakaran dari kuku Utari.
"Pake nanya, lagi. Rasakan ini!" Tak habis sampai disitu, Utari kembali mendekati Kamila, lalu menarik jilbab Kamila ke belakang, sehingga nyaris terbuka.
"Tolong, jangan, Utari. Tolong lepaskan aku." Kamila berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman Utari, sembari menahan jilbabnya agar tak terlepas. Namun, pegangan Utari yang begitu kuat pada kepalanya, membuat Kamila tak kuasa melepaskan diri.
"Hei! Hentikan!" jerit Bu Indri dari arah jalan yang terlihat sepi, karna sebagian warga pasti sedang bekerja di sawah, dan aktivitas lainnya dipagi menjelang siang hari.
Bu Indri berusaha menghentikan penganiayaan yang dilakukan oleh Utari terhadap Kamila. Bu Indri yang memang akan menyambangi rumah Kamila, lantas berlari tergopoh menuju teras, dengan rantang berisi makanan di tangannya, yang memang akan ditujukan pada Kamila, serta nek Sumi.
"Apa apaan ini. Lepaskan. Hentikan. Jangan sakiti Kamila lagi." Setelah meletakkan rantang yang dibawanya ke lantai teras, Bu Indri melepaskan tangan Utari, dari Kamila, serta mendorong Utari menjauh dari Kamila.
"Astaghfirullah, Nak. Kamu terluka, Nak." Bu Indri mengangkat wajah Kamila, dan tentu saja, wanita itu terkejut melihat luka cakaran di wajah cantik calon menantunya itu.
"Apa yang merasukimu, ha? Hingga kamu tega menyakiti Kamila. Kamu ini anak dari Bu Rima, bukan? Lihatlah, saya akan mengadukan perbuatan kamu ini kepada orang tua kamu. Sekarang, cepat pergi dari sini!" tegas Bu Indri pada gadis yang diketahuinya sebagai anak dari bu Rima, meski tak tau siapa nama gadis itu.
Bu Indri menunjuk kearah Utari. Darahnya mendidih, melihat Kamila disakiti, tepat di depan matanya. Jika tadi dia tak datang kerumah Kamila, entah apa yang akan terjadi pada gadis lugu itu. Neneknya yang terbaring di kamar, juga sangat cemas mendengar kericuhan karna suara Utari.
"Tunggu saja kamu, ya, gadis kampung! Urusan kita belum selesai!" Utari menatap tajam pada Kamila, dan melontarkan kalimat ancaman padanya. Sorotan matanya, tampak seperti seekor singa lapar. Gadis yang tak tau sopan santun itu, menghentakkan sebelah kakinya, dan pergi meninggalkan rumah Kamila.
---
"Ya Allah, Nak. Ayo, masuk kedalam. Bunda akan menelpon Ayah, dan menyuruhnya kemari, agar lukamu diobati." Bu Indri menuntun Kamila yang jilbabnya tampak berantakan karna direnggut oleh Utari itu, menuju kursi kayu di ruang tamu nek Sumi, dan menuntun Kamila untuk duduk.
Sembari menunggu kedatangan pak Wiguna, bu Indri menyiapkan air hangat di dapur rumah nek Sumi, dan mengompres luka Kamila dengan menggunakan kain bersih. Nek Sumi yang telah dibawa bu Indri dari kamar menggunakan kursi roda, kini duduk di sebelah Kamila, dan memegang tangan cucunya itu.
"Apa yang terjadi, sebenarnya, Nduk. Siapa yang sudah berbuat kasar padamu seperti ini, Nduk." Nek Sumi bertanya pada Kamila. Dia tak menyangka, bahwa akan terjadi hal seperti ini pada cucunya itu. Karna, yang dia tau, Kamila tak memiliki satupun musuh.
"Utari, Nek. Anaknya Bu Rima. Dia tiba-tiba saja menarik tangan Kamila, dan mencakar wajah Kamila. Dia bilang, Kamila merebut Setya darinya. Dia marah setelah mendengar kabar pernikahan Kamila dan Setya, Nek." Kamila menjelaskan runtutan kejadian pada nek Sumi, yang membuat wanita tua itu, kembali berucap kaget.
"Astaghfirullah. Tega sekali anak itu menyakitimu, Nduk. Maaf, Bu Indri, apa Setya pernah punya hubungan khusus dengan anaknya Rima?" Nek Sumi meminta kejelasan pada Bu Indri.
__ADS_1
"Bu, setau saya, Setya tak pernah dekat dengan wanita manapun, kecuali Kamila. Bu Sumi tau sendiri, bukan, Setya pemuda seperti apa. Bahkan, jika pulang dari kota seminggu sekali, dia hanya menemui Kamila." Bu Indri yang memang tak tahu menahu, dan tau betul bagaimana sifat putra tunggalnya, berusaha menjelaskan sebenar-benar yang dia ketahui, pada Nek Sumi, yang diikuti anggukan dari wanita itu.