Kamila (Kesabaran Menembus Batas)

Kamila (Kesabaran Menembus Batas)
Persekongkolan Besar


__ADS_3

"Aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang, wanita ******. Aku akan merenggut semua yang sudah diberikan suamiku padamu. Aku akan menghancurkanmu, Ratih Andriana!" Ancam wanita yang sedang berbicara disebrang sana pada Ratih.


"Hans ada ditanganku sekarang. Aku tidak akan membiarkanmu bertemu dengannya lagi, pelac*r!" Wanita yang berbicara ditelpon itu, berteriak memaki Ratih, sebelum kemudian dia tertawa dengan keras.


Ya, itu adalah suara Lydia Sari. Ancaman keras yang dilontarkannya pada Ratih, membuat pikiran Ratih semakin kalut. Namun, kata katanya juga membuat Ratih merasa bingung. Apa yang dimaksudkan wanita itu? Mengapa dia berkata bahwa Hans berada ditangannya? Apakah Hans masih hidup? Semua pertanyaan itu mengitari kepala Ratih.


"Ratih, aku mengerti semuanya. Ini adalah sebuah konspirasi. Hans tidak meninggal. Ini berita palsu. Lupakan tentangnya dulu. Sekarang, selamatkan dirimu dan calon bayimu. Nyawamu sedang dalam bahaya." Jupri yang mendengar ancaman dari wanita yang menelpon Ratih tadi, membuat kesimpulan atas apa yang dikatakan oleh wanita itu. Jupri menyadari bahwa Ratih sedang dalam ancaman besar dari Lydia.

__ADS_1


"Maksudmu, Hans masih hidup? Lalu, dimana dia? Dan berita itu?" Ratih masih belum bisa mencerna tentang apa yang terjadi saat ini. Nasib baik, saat ini Jupri sedang bersamanya. Jadi, Jupri bisa menjelaskan tentang rencana busuk yang sedang mempermainkan kehidupan Ratih.


"Ya, Ratih. Kamu sudah dipermainkan. Mereka orang orang besar, yang bisa dengan mudah membayar media untuk berita palsu semacam itu. Yang terpenting saat ini adalah, selamatkan diri kamu terlebih dahulu. Kamu tidak bisa tinggal disini lagi. Mereka akan dengan mudah menemukanmu. Ikutlah denganku, aku akan membawamu ketempat aman." Jupri mengajak Ratih untuk pergi dari rumah itu. Tujuannya adalah, untuk keselamatan diri Ratih sendiri. Dan Ratih juga menyetujui apa yang dikatakan Jupri. Karna, dia sekarang tak hanya memikirkan dirinya sendiri. Ada janin yang sedang dikandungnya.


Setelah mengemasi barang barang, dan juga meminta asisten rumah tangganya untuk pergi dari rumah itu, Ratih pergi meninggalkan rumah yang bahkan belum sempat diinapinya.


Jupri membawa Ratih menuju sebuah rumah, yang ternyata adalah rumah Bibinya. Bibi Jupri juga sudah mengenal Ratih, meskipun dia tak tau bahwa Ratih sebelumnya adalah seorang wanita malam.

__ADS_1


"Ratih, kamu sementara tinggal disini, ya. Kamu jangan keluar rumah dulu. Kalau ada perlu sesuatu, bilang saja pada Bi Jum. Sekarang, istirahatlah. Jiwa dan ragamu pasti sangat letih. Aku akan pulang kerumahku. Besok, sepulang bekerja, aku akan mengunjungimu dan Bibi." Ucap Jupri yang akan pulang kerumahnya, pada Ratih yang dari tadi diam dan hanya mengangguk angguk pada lawan bicaranya.


"Bi, Jupri pamit pulang, ya. Titip Ratih. Assalamualaikum." Jupri mencium takzim punggung tangan wanita yang selama ini berperan sebagai pengganti almarhumah Ibu kandungnya itu.


"Baik, Nak. Bibi akan menjaga sahabatmu ini. Hati hati dijalan, ya." Bi Jum melepas kepergian Jupri darisana, dan menutup pintu rumahnya, sesaat setelah bayangan Jupri dan motornya sudah tak lagi terlihat diujung jalan.


"Bi, apakah Jupri sudah pergi?" Ratih akhirnya berbicara pada Bi Jum. Dia menanyakan perihal Jupri, yang sudah tak terlihat lagi. Sepertinya, sejak tadi, Ratih tak memperhatikan sekelilingnya. Hingga, dia juga tak menyadari kepulangan Jupri.

__ADS_1


"Sudah, Nak. Sekarang, kamu istirahat, ya. Ayo Bibi antar kekamar. Kasihan itu, bayi kamu. Jangan terlalu stres, ya." Bi Jum yang juga telah mengetahui perihal kehamilan Ratih dari Jupri, lantas menyuruh Ratih agar beristirahat, dan mengantar Ratih kekamar tamu.


"Bi, terima kasih. Bibi sudah membantuku." Ujar Ratih pada Bi Jum, yang dibalas dengan senyuman wanita paruh baya itu.


__ADS_2