
"Sebuah rumah mewah dikawasan Jalan Setia Agung, ludes terbakar api. Tidak ada korban jiwa disana, namun diduga, kebakaran tersebut adalah sebuah kesengajaan. Saat ini, polisi masih menyelidiki penyebab kebakaran yang melalap rumah yang lagi lagi, masih diduga adalah milik pengusaha terkenal Hans Hermawan, yang baru saja meninggal dunia kemarin sore," berita yang dibawakan oleh seorang News Anchor disiaran televisi pada pagi itu, sontak membuat jantung Ratih berdegup kencang. Bagaimana tidak, rumah yang dimaksudkan itu, adalah rumah yang ditinggalkannya malam tadi.
"Sayang banget, ya, rumahnya. Memang ada ada saja kejahatan manusia saat ini. Untung saja, tidak ada orang didalamnya," ujar Bi Jum pada Ratih, yang tidak tau bahwa rumah yang dimaksud, adalah milik Ratih. Namun, ketika melihat ekspresi wajah, dan keringat dingin didahi Ratih yang duduk disampingnya, juga nafas Ratih yang tersengal sengal karna merasa sangat panik, perhatian Bi Jum langsung tertuju pada Ratih.
"Loh, Nak, ada apa? Kamu kenapa, Ratih?" Tanya Bi Jum heran, sembari menyeka keringat yang bercucuran diwajah Ratih, dan memberi segelas air minum padanya.
"Bi, kalau saja aku masih berada disana, pasti aku dan calon anakku akan terbakar hangus disana," Ratih yang sudah mulai tenang, kemudian mulai bercerita pada Bi Jum, perihal rumah itu.
"Astaghfirullah, Nak. Syukurlah, Jupri tidak terlambat membawamu kesini," Bi Jum menarik Ratih kedalam pelukannya. Setelah mendengar pengakuan Ratih, Bi Jum juga sama paniknya dengan Ratih.
__ADS_1
"Sekarang, tenanglah, Nak. Kamu aman berada disini," Bi Jum menenangkan Ratih, dan mengelus rambut Ratih.
Kejadian demi kejadian dialami oleh Ratih. Membuat Ratih menjadi sangat takut. Beruntung, Jupri dan Bi Jum selalu mendukung, dan menyemangatinya. Enam bulan sudah Ratih tinggal dirumah Bi Jum. Dan sejak itupula, hidup Ratih tak tenang. Selalu ada saja yang meneror nya dan calon bayinya melalui panggilan telepon, maupun pesan singkat. Ratih merasa, menyetujui permintaan Hans, untuk menikah dengannya, adalah sebuah keputusan yang salah besar. Meskipun sebelumnya, Ratih bekerja sebagai wanita malam, hidup Ratih tak pernah seterganggu ini. Dia menjalaninya hidupnya dengan tenang sebelum ini.
"Ratih, ini semakin berbahaya, Ratih. Mereka semakin mengancam keselamatanmu," Jupri yang datang mengunjungi Ratih dirumah Bi Jum, memperingatkan Ratih akan ancaman besar padanya.
"Tidak, jangan bicara seperti itu, Ratih. Keputusan kalian berdua saat itu sudah benar, untuk mengesahkan hubungan kalian. Yang salah, adalah dalang yang berada dibalik rencana rencana jahat ini," Jupri menyangkal perkataan Ratih, yang sepertinya menyalahkan Hans atas semua yang terjadi padanya.
"Aku sangat yakin, ini adalah ulah dari istri pertama Hans, dan juga keluarganya. Mereka punya kuasa dikota ini. Lihatlah, bahkan mereka tak segan untuk membuat berita palsu atas kematian Hans sendiri," ujar Jupri yang sangat yakin, bahwa apa yang terjadi pada Hans dan Ratih, adalah ulah dari Lydia.
__ADS_1
"Jupri, bagaimana kalau aku lapor polisi untuk meminta perlindungan? Anakku akan segera lahir. Aku sangat yakin, bahwa target utama mereka, adalah bayiku. Oleh sebab itu, mereka membiarkanku tetap hidup sampai saat ini," Ratih sangat mengkhawatirkan keselamatan anak yang akan dilahirkannya.
"Jangan konyol. Kamu tidak boleh lupa, bahwa mereka orang berkuasa, Ratih. Melapor kepada polisi, sama saja kamu menyerahkan diri kamu dan anakmu pada mereka. Aku sangat yakin, ada oknum polisi yang berkomplot dengan mereka, untuk menghabisimu. Ingat itu!" Jupri dengan logikanya yang selalu saja benar, mencegah Ratih untuk datang kepada polisi, dan meminta perlindungan pada mereka. Karna, seperti yang dikatakan Jupri, tak pernah ada yang tau, siapa saja yang sedang mengincar Ratih saat ini.
Sedang berbincang dengan Jupri, Ratih tiba tiba saja merasakan sakit yang tak biasa diperutnya. Ratih mengalami kontraksi, dan sepertinya akan segera melahirkan. Jupri langsung memanggil Bidan kerumah Bi Jum, untuk membantu persalinan dari Ratih. Awalnya, Jupri ingin membawa Ratih ke Rumah Sakit. Namun, karna takut Ratih ditemukan oleh Lydia dan anak buahnya, maka Jupri memutuskan untuk memanggil Bidan saja.
Hari itu menjadi hari yang sangat bahagia sekaligus menyedihkan bagi Ratih. Dia sangat bahagia melihat Putrinya yang lahir dengan selamat. Namun, dihati kecilnya, dia merasa sangat sedih, karna Ayah dari Putrinya yaitu Hans, tak sempat melihat kelahiran dari bayi yang sangat diidamkannya itu.
Lantas, dimana sebenarnya Hans berada?
__ADS_1