Kamila (Kesabaran Menembus Batas)

Kamila (Kesabaran Menembus Batas)
Menebus Ratih


__ADS_3

"Ini, uang senilai lima puluh juta. Serahkan Ratih padaku. Bebaskan dia!" Selang sehari setelah menghabiskan malam bersama Ratih, Hans datang kepada Maya-Bos mucikari tempat Ratih selama ini menjajakan diri. Dia meletakkan tas berisi uang senilai lima puluh juta dihadapan Maya, untuk membawa Ratih pergi dari tempat itu.


"Wow, benarkah? Apa uang ini untukku, Tuan?" Maya yang masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, membelalakkan kedua matanya. Tentu saja, karna uang senilai lima puluh juta, sudah sangat besar nilainya pada masa itu.


"Ya, benar. Aku ingin Ratih. Setelah aku membawanya dari sini, kamu dan anak buahmu, tidak boleh mencari dan menggangu Ratih! Dan, satu lagi, kamu harus tutup mulut tentang hal ini. Jangan pernah katakan pada siapapun, bahwa aku membawa seorang gadis dari tempat ini. Kalau tidak, kamu akan tau sendiri akibatnya!" Hans menunjuk kearah wajah Maya. Dengan sedikit ancaman, Hans mengingatkan Maya agar tidak berkata apapun pada orang orang. Karna Hans sangat tau, bagaimana watak Maya yang sangat licik itu. Dia akan melakukan apapun demi uang.


"Tenang saja, Tuan. Saya tidak akan bicara pada siapapun. Rahasia Tuan, aman bersama saya." Ucap Maya, tanpa melihat kearah Hans. Dia sibuk dengan uang banyak yang ada dihadapannya saat ini.


"Sekarang, dimana Ratih?" Tanya Hans padanya.

__ADS_1


"Ada dikamarnya. Panggil saja!" Jawab Maya, yang masih saja sibuk dengan uangnya itu.


"Dasar, wanita serakah. Kalau sudah melihat uang, langsung lupa segalanya." Hans mengumpat pada Maya, lalu berjalan meninggalkan wanita itu, menuju kamar Ratih.


Tanpa mengetuk pintu, Hans langsung membuka pintu kamar Ratih yang memang tidak terkunci.


"Hmm, mau kemana memangnya?" Ratih menjawab dengan nada malas, dan berbalik kearah Hans yang sudah duduk disampingnya.


"Calon istriku, bangun tidur saja pun, masih terlihat begitu cantik. Siang nanti, kita akan menikah, sayang. Aku sudah mempersiapkan semuanya. Bangunlah. Aku akan membawamu pergi dari tempat ini. Kita akan bahagia, bersama calon anak kita." Hans mengelus lembut dahi Ratih, dan mengecup kening wanita pujaannya itu. Namun Ratih, yang terperanjat akan pernyataan Hans, lantas dengan cepat berubah posisi menjadi duduk. Matanya yang tadinya sangat sulit untuk terbuka, kini membulat sempurna, karna mendengar ucapan Hans.

__ADS_1


"Ha? Secepat ini? Bagaimana dengan Bu Bos? Dia pasti akan menghabisiku jika aku pergi dari sini, Hans. Lalu, keluargamu? Istrimu? Bagaimana?" Ratih yang masih tidak percaya dengan ucapan Hans, mencecar Hans dengan rentetan pertanyaan.


"Kamu ini, kenapa cerewet sekali, sih? Aku sudah mengatur semuanya. Tidak ada yang perlu kamu pikirkan. Sekarang, ayo! Jangan banyak bertanya." Hans menarik pelan lengan Ratih, agar segera beranjak dari tempat tidurnya.


"Iya, tapi, aku harus membawa pakaianku. Tunggulah sebentar, aku akan memasukkannya kedalam tas." Ratih akhirnya menuruti perkataan Hans.


"Tidak perlu, aku sudah menyiapkan semuanya dirumah kita. Kamu tidak perlu membawa apapun dari sini." Cegah Hans. Dia memberi tahu Ratih, agar tak perlu membawa satu pun barang barangnya. Karna, dia sudah menyiapkan semua keperluan Ratih, dirumah yang baru dibelinya. Rumah yang akan Ratih tempati nanti.


"Baiklah, Tuan. Sesuai perintah anda." Ratih membungkukkan badannya didepan Hans, seperti yang dilihatnya di drama kolosal. Dan lagi lagi, tingkah polosnya membuat Hans tertawa.

__ADS_1


__ADS_2