
Triing..
Bunyi pesan yang masuk ke ponsel Jupri.
[Jupri, temui aku di taman kota. Aku ingin bicara, penting!] isi pesan dari Ratih itu, lantas membuat Jupri tidak tenang. Dan sesuai yang diminta oleh sahabatnya, Jupri langsung bergegas menuju taman kota dengan motornya.
Tak lama, Jupri pun sampai di sana. Karna jarak taman kota dengan rumah Jupri tidak terlalu jauh. Dia menyisir sekeliling taman, mencari keberadaan Ratih. Dan akhirnya, dia menemukan Ratih sedang duduk di bangku taman yang agak jauh dari keramaian. Melihatnya, Jupri pun langsung menghampiri sahabatnya itu.
"Hei, Ratih. Ada apa?" Jupri menepuk pundak Ratih, dan membuat gadis itu menoleh ke arahnya. Namun, tanpa berbicara sepatah katapun, Ratih langsung memeluk Jupri.
Jupri yang sejak mendapat pesan dari Ratih tadi bertanya-tanya, semakin heran dengan sikap Ratih saat ini. Ratih yang terlihat gusar, membuat Jupri membiarkannya menangis di pelukan Jupri. Jupri menenangkan Ratih sembari mengelus lembut rambut gadis itu.
"Kamu sudah merasa sedikit lega?" tanya Jupri pada Ratih yang isak tangisnya sudah mulai mereda.
__ADS_1
"Apa yang membuatmu menangis? Ceritakan padaku." Jupri mulai bertanya pada Ratih, tentang apa yang sedang terjadi padanya.
"Jupri, aku hamil." Dengan suara bergetar, Ratih mulai bercerita pada Jupri.
"Hmmmmm." Jupri menarik nafasnya dalam dalam, sembari mengusap kasar wajahnya.
"Aku sudah berulang kali memperingatkanmu, bukan?" Jupri berbicara pelan sembari mengangkat wajah Ratih yang tengah tertunduk dengan sisa tangisannya.
"Apa yang harus aku lakukan, Jupri. Aku tak ingin menyingkirkan anak ini. Dia tidak bersalah." Ratih kembali menangis di hadapan Jupri.
"Belum, aku tidak memberitahu siapapun tentang hal ini," jelas Ratih.
"Baguslah. Jangan pernah katakan ini pada siapapun. Aku akan mencari jalan keluar." Jupri mendekap Ratih ke dalam pelukannya.
__ADS_1
"Apa kamu tau, siapa ayah bayi ini?" Jupri dengan hati-hati kembali bertanya pada Ratih. Dia sangat takut, jika hati sahabatnya itu terluka.
"Tentu saja! Aku tak berhubungan dengan pria manapun selama beberapa bulan ini. Hans Hermawan, pengusaha terkenal di kota ini, sudah membayarku pada bu bos selama satu tahun. Aku yakin sekali, bahwa ini adalah anak dari hasil hubunganku dengannya." Ratih mengungkap tentang siapa ayah dari anak yang ada dikandungannya pada Jupri, yang membuat Jupri sedikit terkejut mendengarnya.
"Hans Hermawan? Ratih, dia sangat terkenal di kota ini. Dia bahkan sudah punya istri." Jupri memijit pelipisnya. Tampaknya, Jupri juga sama gusarnya seperti Ratih. Dia sangat memikirkan tentang sahabatnya itu.
"Ya, aku tau akan hal itu. Berulang kali dia memintaku agar menikahinya, dan memberikannya keturunan. Tapi, aku selalu menolak. Karna aku tau, dia tak mungkin akan menikahiku. Itu hanya omong kosong. Mengingat, bahwa istrinya juga putri dari orang terpandang di kota ini. Tapi aku tak menyangka, bahwa dia akan bertindak licik seperti ini." Ratih mengepalkan tangan, dan menghentakkannya ke bangku taman tempatnya duduk. Raut wajahnya yang tadinya terlihat sedih, kini berubah menjadi sangat marah.
"Tenanglah. Aku akan memikirkan ini lagi. Ini sudah larut malam, kamu kembalilah ke rumah itu. Kita bicara lagi besok. Dan kamu harus berjanji padaku, untuk tak melakukan apapun pada janin itu. Jangan pernah berfikir untuk menyingkirkannya. Kamu ingat?" Jupri mengajak Ratih untuk pulang, karna malam yang sudah semakin larut.
"Ayo, naiklah. Aku akan mengantarmu." Jupri memerintah Ratih, agar naik ke atas motornya, dan akan mengantar Ratih pulang.
Diperjalanan, Jupri berhenti di depan gerobak bakso. Dia membeli sebungkus bakso untuk Ratih.
__ADS_1
"Nih, nanti sampai sana, kamu makan. Ingat, bahwa kamu tak sendirian. Ada malaikat kecil di perutmu yang harus kamu pikirkan juga," ucapnya sembari menyerahkan bungkusan bakso kepada Ratih, yang diikuti anggukan gadis berlesung pipi itu.