
"Ayo, masuk. Kita ngobrol di dalam," ajak pak Jupri pada Setya dan Rizki, yang masih berdiri di ambang pintu.
Merekapun masuk ke dalam rumah pak Jupri, dan duduk di kursi bambu yang terletak di ruang tamu rumahnya.
"Nak Setya, dan Nak Rizki, mau minum apa? Biar Bapak bikinin." Pak Jupri menawarkan.
"Tidak usah, Pak. Kami baru saja minum tadi. Iya kan, Setya," tolak Rizki halus, seraya melihat ke arah Setya, agar juga menolak tawaran minum dari pak Jupri. Karna sejujurnya, Rizki masih menaruh curiga pada pak Jupri. Dia takut, pak Jupri akan mencelakai dirinya dan juga Setya.
"Eh, iya, Pak. Tidak usah minum. Bapak duduk di sini saja. Banyak yang ingin kami tanyakan pada bapak." Setya yang langsung mengerti dengan kode yang diberikan oleh Rizki, lantas mencegah pak Jupri untuk menyuguhkan minuman pada mereka.
"Oh, ya sudah. Bapak mengerti." Pak Jupri mengangguk-anggukkan kepalanya, seakan tau tentang Rizki yang menaruh curiga padanya.
"Baiklah, bapak akan mulai menceritakan tentang bapak, dan Ratih." Tak menunggu Setya bertanya, pak Jupri langsung membuka topik tentang Ratih, yang menjadi alasan dari kedatangan kedua pemuda ini ke rumahnya.
---
*Kilas balik masa muda Ratih dan Jupri*
"Oh, ya, suratku kemarin kira-kira sudah sampai atau belum, ya, Jupri?" Ratih yang akan mengirim surat lagi pada keluarganya, bertanya terlebih dahulu tentang surat yang dikirim sebelumnya pada pegawai kantor pos itu.
__ADS_1
"Sudah dibawa sama kurir, sudah sampai barangkali. Mau kirim lagi?" tanya Jupri pada Ratih, yang kini sudah duduk di sampingnya.
"Iya, aku kangen sekali dengan ibu," ucap Ratih dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kamu tidak pulang kampung saja barang sebentar?" usul Jupri pada Ratih yang tampaknya sangat merindukan ibunya itu.
"Mana diizinkan aku pulang. Aku sudah terjerat di sini, Jupri. Aku sangat tertekan sejujurnya. Tapi, demi keluargaku, aku harus bertahan." Ratih menjelaskan ulang pada Jupri, yang sebenarnya memang sudah sangat tau tentang kehidupan Ratih.
Ratih dan Jupri berteman baik, sejak Ratih kerap berulang ke kantor pos tempat Jupri bekerja, untuk mengirimkan surat pada keluarganya di desa. Sikap Ratih yang periang, dan mudah bergaul pada orang lain, membuat Jupri nyaman berteman dengannya. Begitupun dengan Ratih, yang melihat Jupri adalah seorang pendengar yang baik untuknya, membuat Ratih menjadikan Jupri sahabat baginya. Mengingat, bahwa Ratih memang tinggal jauh dari keluarganya. Dan dikota besar seperti ini, hanya Jupri lah tempatnya berkeluh-kesah.
"Keluar saja dari sana, Ratih. Aku sudah berulang kali mengingatkanmu. Cari pekerjaan lain saja." Untuk kesekian kalinya, Jupri menasihati sahabatnya itu.
"Udah, deh, kamu tidak usah bahas soal itu lagi. Aku takut, kamu yang dicelakai sama orang-orang itu. Nih, aku bawakan kamu bubur ayam. Tadi, aku beli di simpang jalan sana. Belinya pake uang halal kok, tenang saja," lanjutnya, sembari menyodorkan bungkusan berisi bubur ayam pada Jupri.
"Ngomong apa sih kamu ini. Memangnya aku pernah tanya, soal status uang kamu itu kalau kamu membelikanku sesuatu? Dasar, gadis aneh." Jupri menoyor pelan kepala Ratih, yang diiringi tawa kecil dari gadis berkulit putih itu.
"Sini, pas banget, aku belum sarapan." Jupri pun lantas menyambar bungkusan makanan yang dibawa oleh Ratih.
"Jupri, kemarin, ibu bos bawa anak baru." Ratih bercerita pada Jupri yang tengah menyantap bubur ayam yang dibawanya tadi.
__ADS_1
"Lah, terus? Kenapa lapor sama aku?" tanya Jupri heran.
"Ih, kamu ini! Dia cantik banget, tau. 'Harganya' juga mahal, kata bu bos. Kamu tidak mau kenalan?" Ratih yang antusias bercerita, justru mendapatkan ledekan dari Jupri.
"Wah, wah. Berarti sekarang, ada saingan kamu dong. Kamu bukan lagi yang paling cantik, di sana. Haha." Jupri terus menertawakan Ratih, dan membuat gadis itu membuat ekspresi lucu di wajahnya, yang justru malah membuat Jupri semakin tertawa.
"Huh, kamu ini membuatku kesal saja. Tadinya aku mau meledekmu, malah kamu yang berbalik mengejekku." Ratih yang masih saja memajukan bibirnya, kini berbalik membelakangi Jupri.
"Cup..cup..cup. Jangan ngambek, ya, sahabatku yang cantik. Sini, sini. Aku cuma bercanda, kok. Kamu itu, tetap yang tercantik di mata aku." Jupri membujuk Ratih, sembari mengelus rambut indah wanita di hadapannya itu.
"Hmm. Iya, deh. Aku gak marah, kok. Hehe. Ya sudah, ya. Aku mau kembali ke sana. Nanti diamuk bu bos. Serem." Ratih beranjak dari tempat duduknya, dan berniat akan kembali ke tempatnya bekerja.
"Iya, sayang. Hati-hati, ya," goda Jupri pada Ratih.
"Dasar nakal, kamu." Ratih mencubit lengan Jupri, dan langsung melangkah pergi dengan payungnya.
Jupri tersenyum melihat bayangan Ratih yang sudah mulai menjauh.
"Padahal, aku benar menyayangimu, Ratih," batin Jupri.
__ADS_1