Kamila (Kesabaran Menembus Batas)

Kamila (Kesabaran Menembus Batas)
Setya Mengetahuinya


__ADS_3

Setya duduk termenung diteras kontrakan tempatnya tinggal. Dia tengah menunggu kedatangan sahabatnya, untuk menelurusi lebih lanjut, tentang pak Jupri, yang mereka temui kemarin sore.


Setya masih belum bisa memecahkan teka-teki, siapa sebenarnya pak Jupri, dan apa hubungannya dengan bu Ratih, serta bangunan bekas kebakaran itu.


Kriiing.


Bunyi ponsel, membuyarkan lamunan Setya. Bunda Indri yang menelpon.


"Assalamualaikum, Nak." Suara Bu Indri langsung terdengar dari sebrang sana.


"Waalaikumsalam, Bunda." Setya menjawab salam sang Ibu.


"Setya, ada sesuatu yang ingin Bunda bicarakan, Nak. Ini mengenai Kamila." Bu Indri sepertinya ingin segera menceritakan apa yang terjadi pada Kamila, pada Setya.


"Ya, ada apa dengan Kamila, Bunda?" Mendengar suara sang Bunda, yang jelas terdengar sedang khawatir itu, membuat Setya menjadi tak tenang.

__ADS_1


"Tapi, Bunda mohon, kamu jangan tersulut emosi, Nak. Dan Bunda mohon, setelah mendengar masalah ini, jangan terburu buru ingin pulang ke desa. Fokus saja pada pencarian Bu Ratih, dan fokus pada kuliahmu, yang sudah disemester akhir." Bu Indri mewanti wanti, agar Setya tak mengambil keputusan tanpa pikir panjang, setelah beliau memberitahu tentang apa yang dialami oleh Kamila.


"Apa yang terjadi pada Kamila, Bun?" Setya semakin tak tenang mendengar penuturan Ibundanya itu.


"Kamu harus janji, jangan terbawa emosi, ya, Anakku." Bu Indri kembali mengingatkan Setya. Karna Bu Indri tau betul, jika putranya itu tak bisa mendengar gadis pujaannya disakiti oleh siapapun.


"Baiklah, Bunda. Setya janji. Katakanlah, Bunda. Apa yang terjadi?" Perasaan Setya sudah tak enak, mendengar semua perkataan Bu Indri, dan Setya ingin agar Bundanya segera memberi tahu, apa yang terjadi sebenarnya.


"Kamila, dianiaya oleh seseorang, Nak. Setengah wajahnya terkena cakaran dari kuku panjang orang itu, dan berdarah. Ayah sudah datang untuk mengobati, namun yang Bunda lihat, Kamila masih terlihat kesakitan." Bu Indri memberikan penjelasan pada Setya dengan pelan, agar Setya tak tersulut emosinya. Namun sudah diduga, Setya tetap saja tak terima, kala mendengar kabar tersebut.


"Tenanglah, Nak. Tenang. Kalau kamu tidak tenang, Bunda tak akan melanjutkan perkataan Bunda!" Bu Indri kembali memperingatkan Setya, agar tenang. Karna Bu Indri tak ingin putranya itu berbuat hal yang nekat. Setya bisa saja langsung pulang kedesa, dan memberikan pelajaran pada Utari. Jika Setya melakukan itu, semuanya akan menjadi tidak kondusif. Yang ada, malah Setya yang akan balik dilaporkan oleh keluarga Utari, karna kemarahannya yang tak terkendali.


"Hhhhh. Ya, Bunda. Setya tak akan macam macam. Katakanlah." Setya menghembuskan nafas dengan berat, sebelum kemudian, meminta Bundanya mengatakan siapa orang yang menyakiti Kamila.


"Kamu tau Utari, bukan? Gadis yang selalu berusaha mendekati kamu, Nak? Dia datang secara tiba tiba kerumah Nek Sumi, dan menyerang Kamila. Dia datang dengan amarah, dan menuduh Kamila merebutmu darinya." Jelas Bu Indri pada Setya, yang sedari tadi sudah tidak sabar ingin tau, siapa orang yang menyakiti Kamila itu.

__ADS_1


"Hah? Gadis gila itu? Berani beraninya dia! Bunda, Setya akan memberi pelajaran padanya! Lihatlah!" Rahang Setya mengeras, mendengar nama Utari, yang sejak awal, memang tak disukainya itu, karna selalu saja mencari perhatian Setya, sehingga membuat Setya tak suka pada gadis itu. Terlebih, ketika Utari pernah mengakui bahwa Setya berpacaran dengannya, kepada seluruh warga desa.


"Apa Bunda bilang, tenanglah! Semua tak akan selesai, jika kamu tersulut emosi, Nak. Bunda dan Ayah sudah mengurus semuanya. Ayah sudah membuat laporan kekantor polisi, dan sore nanti, mereka akan mendatangi rumah Utari. Jadi, tetaplah tenang disana." Bu Indri tak henti hentinya memperingatkan Setya, agar tak gegabah.


"Ya, baiklah, Bunda. Setya akan tetap disini. Setya percayakan semuanya pada Ayah dan Bunda. Terima kasih, karna sudah menjaga Kamila, Bun." Setya yang sudah mulai tenang, kemudian mengucap rasa terima kasihnya pada sang Bunda, yang telah dengan tulus menyayangi Kamila yang merupakan calon istrinya.


"Iya, Nak. Kamu tidak perlu berkata begitu. Kamila sudah seperti anak Bunda. Bunda dan Ayah, pasti akan menyelesaikan masalah ini secara hukum. Ya, walaupun tadinya, Kamila menolak untuk melaporkan Utari kepolisi. Tidak tega, katanya." Bu Indri bercerita pada Setya, bahwa Kamila sempat menolak untuk membawa permasalahan ini kejalur hukum.


"Setya sudah menduganya, Bun. Setya tak tahu, entah terbuat dari apa, hati Kamila itu. Bisa bisanya, dengan keadaannya yang sudah terluka, dia masih memikirkan orang yang sudah melukainya. Sekarang, Kamila ada dimana, Bun? Setya ingin bicara padanya." Setya yang tak habis fikir dengan Kamila yang menolak untuk melaporkan Utari, kemudian meminta izin pada Bundanya untuk berbicara pada Kamila.


"Kamila sedang mengambil air wudhu. Bicaralah padanya nanti saja,Nak." Ujar Bun Indri.


"Baiklah, Bun. Kalau begitu, Setya tutup dulu telponnya. Seusai sholat dzuhur, Setya akan menghubungi Kamila. Assalamualaikum." Setya akan menutup sambungan telpon dengan Bundanya.


"Iya, Nak. Waalaikumsalam." Bu Indri pun menutup sambungan telpon terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2