
"Sayang, aku harus pergi sekarang. Kamu disini, bersama asisten rumah tangga kita, ya." Hans yang baru saja selesai menerima telpon dari istri pertamanya itu, tampak terburu buru, dan akan pergi meninggalkan Ratih, yang baru beberapa jam dinikahinya.
"Ya, pergilah." Ratih yang sadar akan posisinya saat itu, tak mencegah Hans sama sekali.
"Aku akan segera kembali, sayang. Jaga diri kamu, dan juga calon anak kita. Semua keperluan kamu, sudah aku siapkan disini. Dan, ini, kalau kamu bosan, dan mau pergi jalan jalan, pakailah kartu ini. Ada uang didalamnya. Kamu bisa pakai semau kamu." Ujar Hans, sembari menyerahkan sebuah kartu debit ketangan Ratih, yang disertai anggukan kecil dari wanita itu.
"Kalau begitu, aku pergi dulu. Aku akan segera kembali. Aku mencintaimu." Hans mencium kening Ratih, dan bergegas pergi meninggalkannya.
Ratih yang saat itu tak ingin berniat pergi kemanapun, hanya merebahkan dirinya dirumah baru miliknya itu. Kehamilannya juga membuat dirinya malas bergerak terlalu banyak.
Hari terlihat sudah mulai memasuki waktu malam. Ratih yang hanya tinggal berdua dengan asisten rumah tangga yang disiapkan Hans dirumah itu, merasa sedikit takut. Mengingat, rumah yang ditempatinya, lumayan besar. Lalu Ratih berinisiatif menghubungi Hans dengan telpon genggamnya. Dia mengirim pesan kosong kepada Hans. Untuk berjaga jaga jika Hans sedang bersama istri pertamanya, agar istri pertama Hans tidak curiga.
Karna tak ada respon atas pesannya, dan mulai merasa bosan, Ratih menyalakan televisi yang berada dikamarnya. Ratih duduk diatas kasur, sambil menikmati acara televisi, untuk menghilangkan kejenuhannya saat itu. Namun, begitu terkejutnya Ratih, kala melihat sebuah nama yang tak asing baginya, sedang ditayangkan diberita utama.
__ADS_1
Mata Ratih membelalak, ketika melihat foto dan nama suaminya menjadi judul besar berita itu. Hans Hermawan, pengusaha besar dikota itu, dikabarkan telah meninggal dunia dalam kecelakaan tunggal.
"Tidak mungkin!" Ratih bergumam dalam hati, dengan menutup mulutnya dengan sebelah tangan. Tubuh Ratih terasa kaku. Dia seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Disela kekalutan Ratih, Jupri yang juga sudah mengetahui berita tersebut, langsung menghubungi sahabatnya itu.
"Ratih, bagaimana denganmu? Apa kau baik baik saja? Ratih, bicaralah." Jupri lantas bertanya tentang keadaan Ratih, sesaat setelah panggilan teleponnya diangkat oleh Ratih.
"Tetaplah tenang, Ratih. Sekarang kau ada dimana? Apa kau tidak ikut bersama Hans?" Jupri kembali bertanya tentang keadaan Ratih. Khawatir, jika Ratih juga berada dalam kecelakaan itu, bersama Hans.
"Tidak, aku berada dirumah. Jupri, tolong bawa aku kepada Hans. Aku ingin melihat Ayah dari calon anakku itu, untuk terakhir kalinya." Pinta Ratih pada Jupri. Nada bicaranya sangat datar. Tak ada tangisan disana. Namun bisa dipastikan, bahwa jiwa Ratih sangat terguncang saat itu.
"Baiklah, aku akan menemuimu. Tunggu aku." Setelah menutup sambungan telepon, Jupri langsung bergegas menuju kediaman Ratih.
__ADS_1
Setelah sampai disana, Jupri memencet bel rumah Ratih. Dan pintu dibukakan oleh asisten rumah tangganya. Jupri mendapati Ratih sedang duduk diruang tamu. Ekspresi wajahnya tidak bisa bohong. Ratih terus menatap disatu arah. Pandangannya kosong.
"Ratih, apa kau baik baik saja?" Jupri yang sudah berada disamping Ratih, menanyakan perihal kondisi dari sahabatnya itu.
"Bagaimana aku bisa baik, Jupri. Takdir sedang mempermainkanku. Aku baru saja sekejap merasakan kebahagiaan. Tapi lihatlah, apa yang sedang takdir perbuat padaku. Ini sangat tidak adil. Mengapa Tuhan melakukan ini padaku?" Tangis Ratih pecah seketika. Dia memukul mukul kepalanya. Ratih sepertinya sangat terpukul dengan apa yang sudah terjadi saat itu.
"Ratih, hentikan! Jangan menyakiti dirimu sendiri. Berhenti melakukan ini." Jupri menghentikan Ratih yang sedang berusaha menyakiti dirinya sendiri. Jupri mencengkram kedua tangan Ratih, agar tak terus terusan memukuli dirinya sendiri. Jupri merangkul Ratih kedalam pelukannya, membiarkan gadis itu menangis.
"Jangan pernah menyalahkan Tuhan, Ratih. Percayalah, pasti ada rencana lain dari Tuhan, dibalik kejadian ini." Jupri berusaha menenangkan Ratih yang masih terus saja menangis didekapannya. Sampai saat sebuah nomor tak dikenal, melakukan panggilan keponsel miliknya.
"Aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang, wanita ******. Aku akan merenggut semua yang sudah diberikan suamiku padamu. Aku akan menghancurkanmu, Ratih Andriana!" Ancam wanita yang sedang berbicara disebrang sana pada Ratih.
Mungkinkah dia?
__ADS_1