Kamila (Kesabaran Menembus Batas)

Kamila (Kesabaran Menembus Batas)
Laporan Terhadap Wanita Itu


__ADS_3

"Tahan sebentar, ya, Kamila. Bunda oleskan cairan antiseptik dulu pada lukamu," ujar Bu Indri yang membantu Kamila mengoleskan cairan antiseptik yang diberikan oleh pak Wiguna.


"Pelan pelan saja, Bun. Itu pasti perih sekali. Memang keterlaluan anak itu. Tega-teganya menyerang Kamila sampai terluka." Pak Wiguna yang segera bergegas datang dari puskesmas, setelah ditelpon oleh bu Indri, tampak merasa geram pada Utari, yang telah melukai calon menantunya itu.


"Iya, Nak Wiguna. Ibu juga merasa sangat terkejut dengan kedatangan Utari. Ibu menyangka, bahwa Kakeknya lah yang datang, dan menggedor pintu dengan keras. Tapi ternyata bukan. Ibu tak bisa berbuat apa-apa. Ibu sangat cemas mendengar keributan yang terjadi di luar rumah. Untung saja, Nak Indri menyelamatkan Kamila. Kalau Nak Indri tak kebetulan akan mampir kemari, entah apa lagi yang anak itu lakukan pada Kamila, cucuku." Nek Sumi menyambut perkataan pak Wiguna. Hatinya sangat terluka melihat cucu yang sangat dia cintai itu, disakiti oleh orang lain.


"Tenang saja, Bu. Kami pasti akan menindak-lanjuti kasus ini. Kami tak akan membiarkan gadis itu menganggap sepele dengan perbuatannya. Dia akan menyesali atas apa yang telah dia lakukan pada Kamila." Pak Wiguna berniat akan melaporkan tindak kekerasan yang sudah dilakukan Utari. Dia tak tenang, jika Utari melakukan hal buruk, tanpa ada ganjaran yang didapatkan olehnya.


"Pak, Kamila rasa, tak perlu melakukan itu. Kamila tidak apa-apa. Hanya terluka ringan. Kasihan Utari, jika harus berurusan dengan polisi, hanya karna masalah kecil," dengan mengejutkan, Kamila menolak niatan pak Wiguna yang akan melaporkan Utari kepihak berwajib.


"Tidak bisa begitu, sayang. Kamu sudah terluka. Dan luka ini, bukan luka kecil. Luka ini sudah menggores setengah dari wajah kamu, Kamila. Dengarkan Bunda, Nak. Bunda tau, Kamila gadis baik. Tapi kita tak bisa membiarkan perbuatan jahat begitu saja. Kita harus memberikan efek jera pada pelakunya. Kamila mengerti, kan?" Bu Indri menampik ucapan Kamila. Sembari mengusap kepala gadis itu, Bu Indri mencoba memberikan pengertian pada Kamila, yang mau tak mau, diikuti dengan anggukan gadis berhijab itu.


"Ya sudah, Bun. Ayah kembali ke Puskesmas, ya. Setelah pulang nanti, Ayah akan langsung ke kantor polisi, agar kasus ini ditindak-lanjuti."


Setelah usai memberikan pengobatan pada Kamila, pak Wiguna berpamitan untuk kembali bekerja, karna jam kerja masih berlangsung.


"Iya, Ayah. Bunda disini dulu menemani Kamila," sahut Bu Indri.


"Terima kasih, Nak Wiguna. Sudah mau repot-repot datang untuk mengobati Kamila," ujar nek Sumi pada calon mertua cucunya itu.


"Iya, Bu. Sudah kewajiban saya. Lagipula, Kamila akan menikah dengan putra kami. Dia sudah seperti putri kami juga. Kalau begitu, saya izin pamit, ya, Bu." Pak Wiguna mohon pamit pada nek Sumi, lalu bergegas kembali ke puskesmas, dengan mengendarai motornya.


"Kamila, ayo sayang, kita makan dulu. Bunda sudah masak buat Kamila dan Nek Sumi."


Setelah kepergian Pak Wiguna, Bu Indri membuka rantang yang dibawanya tadi. Dia mengajak Kamila untuk makan bersama.

__ADS_1


"Terima kasih, Bu. Kamila ambil piring dulu ke dapur," ucap Kamila pada bu Indri, dan beranjak akan mengambil peralatan makan sederhana mereka di dapur.


"Mulai sekarang, panggil Bunda saja, ya. Kan sebentar lagi, Kamila akan menikah dengan Setya, anak Bunda." Bu Indri meminta, agar Kamila memanggilnya dengan sebutan Bunda, sama seperti Setya.


"Iya, Nduk. Apa yang dikatakan Bu Indri itu benar. Kamu harus membiasakan diri memanggil Bu Indri, dengan sebutan Bunda." Nek Sumi mengiyakan perkataan Bu Indri, diikuti dengan senyuman dari wanita sepuh itu.


"Eh, iya, Bu. Eh, Bun." Kamila tersenyum, sembari menunduk malu. Dia harus membiasakan diri untuk memanggil bu Indri, dengan sebutan bunda. Wanita yang selama ini sangat dihormatinya, kini telah menjadi pengganti sosok ibu baginya.


Kamila kembali dari dapur dengan membawa peralatan makan, dan meletakkannya di atas meja. Bu Indri tampak membentang tikar anyam di lantai, untuk alas duduk mereka makan. Setelah tikar terbentang, Kamila lantas menurunkan peralatan makan, serta makanan dalam rantang yang dibawa oleh Bu Indri, ke permukaan tikar.


Empat susun rantang, yang berisi nasi serta lauk-pauk, sudah tersusun rapi di tengah tempat duduk mereka. Tak lupa pula, Kamila menghidangkan sayur daun singkong tumis, serta telur dadar yang sudah dimasaknya, pada bu Indri.


"Kamila, ini ada sup ayam untuk Nenek. Ayo ambil." Bu Indri menyodorkan rantang berisi sup ayam pada Kamila, yang tengah mengambil nasi untuk nek Sumi.


"Iya, Bunda juga makan. Bunda udah ngiler nih, sama tumisan sayur yang Kamila masak ini. Pasti enak banget." Bu Indri tampak mengambil secentong nasi, lalu menyendok daun singkong masakan Kamila.


"Cuma daun singkong, Bun. Kamila petik dari halaman belakang," ujar Kamila tersenyum melihat bu Indri menyuap nasi beserta daun singkong yang ia masak.


"Tuh, kan. Ini enak banget, Kamila. Bunda jadi malu, masakan Mila lebih enak, daripada masakan Bunda." Bu Indri memuji masakan Kamila, yang walaupun sederhana, tapi rasanya sangat lezat, dan pas di lidah.


"Alhamdulillah, kalau Bunda suka." Kamila yang khawatir, bu Indri tak suka masakannya, sedikit lega mendengar penuturan Bu Indri, yang ternyata menyukai masakannya.


Mereka bertiga kemudian melanjutkan makan dengan menuai pujian satu sama lain. Setelah selesai makan, dan membereskannya, mereka melaksanakan sholat dzuhur.


Bu Indri pun turut sholat di rumah nek Sumi. Dia masih berada di sana, sebab khawatir kalau Utari akan datang lagi, menyakiti Kamila. Maka dari itu, bu Indri memilih untuk tetap menemani Kamila dan nek Sumi, hingga sore hari.

__ADS_1


Seusai sholat, Kamila kembali membaringkan nek Sumi ke tempat tidur, karna neneknya itu tak tahan jika duduk dalam waktu lama. Pinggangnya akan terasa sangat sakit.


Kamila lalu mendengar dering ponselnya di atas nakas. Tertera nama Setya disana. Setya menelpon dengan panggilan vidio, ke ponsel Kamila. Kamila tampak gugup mengangkat panggilan itu. Kamila khawatir, jika Setya tak bisa menahan emosinya jika melihat wajah Kamila terluka. Dia sangat tau, bagaimana watak calon suaminya itu.


"Angkatlah, Nak. Setya sudah tau semuanya. Bunda yang memberi tahunya." Bu Indri menepuk pundak Kamila pelan.


Bu indri yang baru saja selesai sholat, dan masih mengenakan mukena, meyakinkan Kamila agar mau berbicara dengan Setya, dan diikuti oleh anggukan gadis itu. Karna sebelumnya, bu Indri sudah memberi kabar pada Setya, tentang apa yang terjadi melalui pesan singkat.


"Emm... hai," sapa Kamila gugup, setelah mengangkat panggilan vidio dari Setya. Dia kemudian mengarahkan kamera depan ke wajahnya.


"Kamila. Kenapa kamu tak memberitahu aku? Kalau bukan Bunda yang bilang, aku pasti tak tau jika kamu telah dianiaya Utari, gadis gila itu." Wajah Setya yang terlihat dilayar ponsel, nampak kesal melihat apa yang terjadi pada kekasihnya itu.


"Emm... aku tidak apa-apa, Setya. Kamu tidak perlu mencemaskan aku. Disini ada Bunda, Nenek, dan Ayah, yang menjagaku." Kamila berusaha menenangkan Setya yang tampak begitu marah.


"Tidak apa-apa, bagaimana? Jelas-jelas itu wajah kamu terluka, Kamila. Tadi Bunda juga bilang, bahwa kamu sempat menolak untuk melaporkan gadis gila itu kepolisi." Setya terlihat sangat khawatir melihat keadaan Kamila.


"Dengarkan aku, Kamila. Turuti apa yang dikatakan Bunda dan Ayah, ya. Jika mereka ingin menindak lanjuti Utari, aku mohon, kamu jangan coba untuk menolaknya. Biar gadis gila itu jera atas perbuatannya." Setya menegaskan sekali lagi pada Kamila untuk tak lagi merasa tidak enak untuk melaporkan Utari kepihak berwajib.


"Iya, Setya. Baiklah." Kamila mengangguk-angguk menandakan mengerti atas perkataan Setya.


"Ya sudah, aku tutup telpon dulu, ya. Aku ada janji dengan Rizki. Kamu baik-baik disana. Jaga dirimu. Assalamualaikum." Setya mengakhiri pembicaraannya, karna akan pergi melanjutkan pencarian Ibu kandung Kamila, dengan Rizki- sahabatnya.


"Waalaikumsalam." Kamila menjawab salam, sebelum kemudian Setya memutus sambungan telpon nya. Dan kemudian, Kamila menyusul bu Indri, yang sedang duduk diteras rumah mereka.


Bu Indri masih menemani Kamila dan nek Sumi. Menunggu sore hari. Menanti kedatangan Pak Wiguna- suaminya, yang sore ini juga, akan membuat laporan ke kantor polisi, atas apa yang terjadi pada Kamila.

__ADS_1


__ADS_2