Kamila (Kesabaran Menembus Batas)

Kamila (Kesabaran Menembus Batas)
Menemui Kembali Bapak Pos


__ADS_3

Setya masih merasa marah, atas apa yang telah terjadi kepada Kamila. Dia tak berhenti mengkhawatirkan Kamila. Hingga, suara dari sepeda motor Rizki membuyarkan perhatiannya.


"Wah, itu muka kusut banget. Ada masalah apa?" Rizki yang baru saja sampai, dan belum turun dari motor, lantas mencecar Setya dengan pertanyaan.


"Turun dulu, dan duduk disini. Melepas helm aja belum, udah langsung nyari topik." Setya belum menjawab pertanyaan Rizki yang masih nangkring diatas motor, diiringi tawa kecil Rizki yang menyadari kebenaran dari perkataan Setya tadi.


"Ya, iya. Nih, udah turun. Tapi itu muka, gak usah ditekuk juga, kali," ujar Rizki dengan muka tengilnya, menggoda Setya yang sedang kelihatan sedang tak ingin bercanda itu.


"Kamila, Ki. Dia terluka. Wajahnya dicakar Utari." Setya mulai membuka pembicaraan pada Rizki, yang kini sudah duduk disampingnya.


"Ha, Utari? Siapa lagi itu?" tanya Rizki yang memang tidak mengenal gadis berambut pirang itu.


"Ya, dia gadis dari desaku juga. Sebaya denganku dan Kamila. Dia mendengar kabar, bahwa aku dan Kamila akan menikah, lalu dia datang kerumah Kamila, dan menyakiti Kamila," jelas Setya.


"Hah! Dasar gadis tidak waras. Jadi, bagaimana? Apa tidak dilaporkan ke polisi saja?" tanya Rizki yang masih tak habis fikir dengan gadis itu.

__ADS_1


"Sudah diurus oleh ayah dan bunda, Ki. Mudah-mudahan segera ditindak," sahut Setya.


"Oh, syukurlah. Rumit sekali kisah ini, Setya. Aku saja sampai pusing memikirkannya. Jangan menyerah, ya." Rizki menepuk-nepuk pundak Setya, dan menyemangati sahabatnya tersebut, serta diikuti oleh anggukan kecil dari Setya.


"Kamu udah siap-siap? Kita jadi pergi, 'kan?." Rizki mengingatkan Setya pada tujuan mereka hari ini.


"Ya. Kita langsung saja ke tempat pak Jupri. Takutnya, kalau terlambat, dia keburu pulang," ajak Setya pada Rizki.


---


Beberapa menit perjalanan, mereka sampai di kantor pos tempat pak Jupri bekerja. Pak Jupri yang sudah membuat janji pada mereka, pun, tampak masih menunggu di area beranda kantornya.


"Tidak masalah, Nak. Bapak juga baru saja keluar kantor," sahut pak Jupri yang tampaknya sangat ikhlas ingin membantu Setya.


"Ayo, kita langsung kerumah bapak saja. Kita ngobrol disana, biar lebih enak. Kalian ikuti bapak, ya," ajak pak Jupri pada Setya dan Rizki, yang disambut anggukan dari kedua pemuda itu.

__ADS_1


Mereka sampai di rumah pak Jupri. Tidak terlalu jauh dari kantor pos tempatnya bekerja. Hanya saja, daerah perumahannya terlihat sedikit sepi, untuk area perkotaan. Tak terlalu banyak rumah.


Setelah memarkirkan kendaraan mereka, pak Jupri langsung mempersilahkan Setya dan Rizki untuk masuk, seusai ia membuka kunci pintu rumahnya.


"Pak Jupri tinggal sendirian?" Rizki langsung bertanya pada pak Jupri, ketika melihat pak Jupri membuka kunci rumahnya sendiri.


"Iya, Nak. Bapak sekarang sendirian. Anak dan istri bapak sudah meninggal dunia sejak lama," jawab pak Jupri sembari menyunggingkan senyuman.


Sepertinya, dia sudah sangat berdamai dengan keadaannya saat ini. Dan hal itu, justru membuat Rizki merasa sedikit bersalah dengan apa yang ditanyakannya.


"Oh, maafkan saya, Pak. Saya tidak bermaksud apapun," ujar Rizki yang terlihat kikuk, dan melihat ke arah Setya.


"Kamu, sih." Setya menyenggol Rizki dengan sikunya.


"Maafkan Rizki, ya, Pak," sambungnya meminta maaf pada pak Jupri. Setya takut, pak Jupri tersinggung atas pertanyaan Rizki barusan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nak. Wajar saja, kalian kan belum mengenal Bapak. Tidak apa, santai saja." Pak Jupri tampak tak tersinggung sama sekali dengan ucapan Rizki. Karna mereka pun belum saling mengenal, dan baru bertemu dua kali.


"Ayo, masuk. Kita ngobrol didalam."


__ADS_2